Tips Nulis Seno Gumira

“Menulis adalah suatu cara untuk bicara, suatu cara untuk berkata, suatu cara untuk menyapa—suatu cara untuk menyentuh seseorang yang lain entah di mana. Cara itulah yang bermacam-macam dan di sanalah harga kreativitas ditimbang-timbang.” 
― Seno Gumira Ajidarma

Belajar menulis adalah belajar menangkap momen kehidupan dengan penghayatan paling total yang paling mungkin dilakukan oleh manusia.” 
― Seno Gumira Ajidarma

“Apa boleh buat, jalan seorang penulis adalah jalan kreativitas, di mana segenap penghayatannya terhadap setiap inci gerak kehidupan, dari setiap detik dalam hidupnya, ditumpahkan dengan jujur dan total, seperti setiap orang yang berusaha setia kepada hidup itu sendiri—satu-satunya hal yang membuat kita ada.” 
― Seno Gumira Ajidarma


1. Langkah pertama untuk menjadi seorang penulis adalah memiliki sebuah ide.
2. Adanya sebuah ide yang hendak disampaikan ini penting sekali bagi seorang penulis, karena, jika seseorang itu tidak memiliki ide, maka sebaiknya jangan menjadi penulis.
3. Ide tersebut harus sudah matang.
4. Jika seseorang bercita-cita menjadi penulis, tapi lingkup sosialnya menghalangi, misalnya mengatakan bahwa tulisannya jelek atau dia tidak punya bakat menjadi seorang penulis, maka janganlah putus asa! Bakat, dalam hal ini, bukan yang paling penting, karena yang terpenting adalah,”Menulislah terus, kalau perlu, sampai mampus!”
5. Jangan pula putus asa jika setelah menulis tiada henti tapi tulisannya masih dibilang kurang bagus, karena, dari seribu tulisan yang dihasilkan, pastilah salah satunya ada yang bagus.
6. Jangan lupa juga bahwa bagus tidaknya tulisan seseorang bukan dinilai oleh orang lain melainkan oleh dirinya sendiri. Asalkan seseorang itu, dengan kemampuannya sendiri, telah mencurahkan seluruh inderanya, kemampuan terbaiknya, untuk menghasilkan sebuah tulisan, maka itu adalah tulisan yang baik dan bagus.
7. Jika tulisan yang sudah baik dan bagus itu ternyata tidak juga berhasil dimuat oleh media massa, misalnya tidak dimuat oleh Kompas, tidak perlu berkecil hati karena itu namanya merendahkan diri sendiri. Kita, sebagai penulis, tidak perlu memakai yang umum sebagai ukuran.
8. Niat untuk menjadi seorang penulis harus dibedakan dengan niat seseorang untuk mencari nafkah dengan menulis. Jika niatnya menjadi seorang penulis lebih kepada keinginan untuk mencari nafkah, ya mau tidak mau harus berpikir secara praktis, dan mencari tahu, mempelajari tulisan macam apa yang dibeli orang.
9. Kunci terpentingnya adalah dengan banyak membaca.
10. Karena good writing comes from good reading. Jadi, adalah omong kosong jika ada seseorang yang ingin menjadi penulis tapi tidak suka membaca.

Bagaimana Anda bisa berkarya di satu sisi bercorak realisme magis tapi di sisi lain tetap ber-genre realis?
“Itu tergantung kebutuhan,” ungkapnya, menegaskan kembali sikapnya dalam menelorkan karya-karya tulisannya.
“Jadi ketika saya ingin membicarakan persoalan orang banyak, demi kepentingan mereka juga, nah saya tidak menggunakan bahasa saya.”
Dalam situasi seperti ini, lanjutnya, “Saya meminjam wacana yang dikenal.”
Kalau kebutuhannya adalah ide-ide saya pribadi, ya saya tidak peduli dimengerti atau tidak. Tapi kalau urusannya persoalan orang banyak, demi kepentingan orang banyak, maka saya tentu menggunakan bahasa yang sebisa mungkin pasti dimengerti."
Dengan kata lain, kata Seno, dia punya “semangat tukang” untuk menggeluti dan mendalami semua corak (genre) penulisan.
“Tukang itu terima semua pesanan. Jadi, saya belajar menulis puisi, tapi belajar juga menulis esai, dan belajar juga bikin berita.
“Nah, saya katakanlah berusaha untuk mengungkapkan dengan segala cara itu, tergantung kepada gagasan apa yang sedang ada, momentum apa yang sedang membuat saya menulis,” jelasnya.

Berenang dan memotret

Ketika pencapaiannya dalam dunia menulis sebagian sudah tertuntaskan, tentu ada pertanyaan menggoda yang penting dijawab oleh Seno Gumira, yaitu bagaimana dia menjaga energinya – sehingga banyak tulisan lahir dari dirinya hingga kini.
“Ya, menjaga antusiasme saya terhadap dunia,” katanya, agak filosofis.
Seno punya kiat untuk menyiasati kondisi seperti itu, yaitu membagi secara seimbang antara kehidupan di dalam rumah (atau kantor) dan kegiatan di luarnya (outdoor).
“Jadi saya mengembangkan fotografi.... kamera itu membuat saya pergi keluar, membuat mata saya memandang, membuat mata saya bekerja”, jelas Seno yang meraih gelar magister Ilmu Filsafat, Universitas Indonesia (2000).
Kiat lainnya? Seno mengaku olah raga renang secara rutin untuk mengimbangi kegiatan duduk berjam-jam saat membaca.
“Saya usahakan (berenang) tiga atau dua kali seminggu… (Tapi) saya tidak menghitung berapa kali lap. Yang penting, saya sudah merasa olahraga, sudah cukup…”

Pengembaraan ala Karl May

Di usia sekitar enam atau tujuh tahun, Seno Gumira kali pertama berkenalan dengan karya-karya penulis terkenal asal Jerman, Karl May.
Melalui sang ibu, yang membacakan kisah petualangan tokoh-tokoh seperti Old Shatterhand dan kepala suku Apache, Winnetou, karya-karya Karl May (yang lahir di Jerman, 25 Februari 1842) akhirnya “merasuki” Seno – hingga sekarang.
“Bukan hanya memotivasi, tetapi merasuki saya dan menjadikan saya sebagai orang yang menganggap, pengembaraan adalah tujuan hidup manusia,” tegas Seno Gumira, dengan gamblang.
Penulis cerita petualangan Karl May (lahir 1842) merasuki Seno Gumira sehingga membuatnya bertujuan hidup mengembara.
Dalam sebuah tulisannya, Seno menggambarkan Karl May mahir menjelaskan keadaan hutan, mengendus jejak, sampai menguliti binatang. “Bahkan secara detil, dia dapat menggambarkan jarak antara satu desa dengan desa lainnya, sekaligus bahasa yang dipakai suku-suku itu…” tulis Seno.
Semenjak membaca buku-buku Kar May itulah, Seno terpikat luar biasa pada kata mengembara. “Lah wong di sampulnya tertulis ‘Wasiat Winnetou, Kisah pengembaraan Karl May’… Jadi, (saat itu) kata pengembaraan itu sudah ada di kepala saya”.
“Dia memberikan nilai sangat amat tinggi, sangat berharga pada traveling(perjalanan)”.
Dari perjalanan panjang perkenalannya dengan Karl May dan karya-karyanya itulah, Seno Gumira kemudian berkata “saya ingin selalu pergi mengembara”.
"Bukan hanya memotivasi, tetapi merasuki saya dan menjadikan saya sebagai orang yang menganggap, pengembaraan adalah tujuan hidup manusia."
“Nah, memotret maupun menulis itu hanya, katakanlah, kebetulan. Jadi kalau saya nggak bisa memotret atau menulis, apapun pekerjaan saya, saya kira, saya ingin selalu pergi mengembara”.
Karenanya, tidak sedikit kemudian laporan-laporan yang menyebutkan bahwa pengembaraan Seno sudah sampai ke Medan, Sumatra Utara, ketika dia masih remaja tanggung.
Keinginannya untuk selalu “mengembara” itu tetap tidak lekang, walaupun belakangan dia mengetahui bahwa Karl May tidak pernah pergi kemana-mana ketika menuliskan kisah Old Shatterhand. “Saya marah ketika tahu dia cuma mengarang” katanya agak tergelak.
“Tapi sudah terlanjur....”
Bagaimanapun, demikian pengakuan Seno, imajinasi Karl May itu mengilhaminya ketika membuat cerita pendek sekitar peristiwa kekerasan di Dili, Timor Leste.
Dia mengaku, saat tulisan-tulisan itu lahir dan mengalir dari tangannya, dia tidak berkunjung ke Dili sama sekali.
“Kalau Karl May bisa berimajinasi, saya boleh dong,” akunya, yang diiringi ledakan tawanya.

‘Tidak ada yang orisinal’

"Tidak ada yang orisinal di dunia ini.. saya selalu dalam bayang-bayang Karl May, Hemingway atau Budi Darma sekalipun...," Seno Gumira mengungkapkan kalimat ini, ketika saya tanya siapa penulis lain yang menginspirasinya.
Penulis Amerika Serikat, Ernest Hemingway (1899 - 1961) banyak menginspirasi Seno Gumira.
Secara khusus Seno menyebut penulis asal Amerika Serikat Ernest Hemingway, yang tulisan-tulisannya yang “deskriptif dan penuh “ironi”.
Karya-karya penulis klasik Jepang, demikian Seno, ikut mempengaruhi gaya penulisannya. “Kalau penulis klasik Jepang itu detil dan juga penuh ironi…”
Di luar Hemingway dan penulis klasik Jepang, dia mengaku terinspirasi penulis-penulis lain. “Tapi saya secara sadar meniru dua orang itu”.
“Saya selalu ingin se-kualitas seperti Hemingway dan penulis Jepang itu...”
Bagaimana dengan penulis Indonesia? Seno kemudian menyebut beberapa nama, yang ikut mewarnai gaya penulisannya, seperti Umar Kayam, Budi Darma, atau Hamsad Rangkuti.
"Tidak ada yang orisinal di dunia ini.. saya selalu dalam bayang-bayang Karl May, Hemingway atau Budi Darma sekalipun."
“Jika kesulitan untuk memulai tulisan, saya biasanya membaca tulisan Putu Wijaya,” akunya.
“Untuk yang irasional, saya terpengaruh Danarto,” tambahnya.
Menyinggung sebagian karya-karya sastranya yang belakangan disebut “tidak mementingkan keindahan”, Seno Gumira membenarkannya.
Perubahan ini terjadi, ungkapnya, setelah dia menuntaskan magister Ilmu Filsafat, Universitas Indonesia (2000). “Dari sanalah, penulisan indah dan tidak indah, tidak lagi penting,” katanya.
“Boleh kering, asal ada ketajaman,” katanya menambahkan.
Dia mengaku, dengan pendekatan barunya itu, karya-karyanya sekarang barangkali tidak akan semudah dipahami seperti membaca tulisannya terdahulu.
“Tapi bukankah membaca itu sebuah perjuangan. Saya sendiri selalu tertantang untuk menaklukkan bacaan yang sulit sekalipun,” kata Seno.

Buku perjalanan

Seno Gumira saat ini tengah menyiapkan buku terbarunya yaitu isinya mengisahkan kisah perjalanannya (travelogue) ke Korea Utara, sekitar sepuluh tahun silam.
Buku ini akan berisi foto-foto hasil jepretannya tentang situasi Ibukota Pyongyang (dan orang-orangnya) dan beberapa kota lainnya.
Seno Gumira berencana menerbitkan buku tentang perjalanannya ke Korea Utara.
Dia mengaku, memotret di negara seperti Korut merupakan halangan terbesar. “Meski dibilangfree, tapi dilarang melulu,” katanya mengenang.
Namun Seno mengaku tidak mengambil peduli, dan terus memotret, walaupun sempat “dikasari” aparat Korut.
“Jadi saya makin dilarang, saya semakin melawan. Jadi saya memotret gila-gilaan pada akhirnya…”
Menurutnya, buku berisi foto-foto tentang kehidupan warga negara tertutup itu layak diterbitkan saat ini.
“Saya kira ketika masalah Pyongyang kini diramaikan, saya kira harus berbagi soal itu,” ujar Seno menjelaskan latar belakang penerbitan bukunya itu.
Sepuluh tahun silam, Seno berkunjung dan tinggal cukup lama di Korut, ketika dia dipercaya sebagai juri sebuah festival film “dunia ketiga”.
“Karena sebelum festival dimulai, saya harus melihat semua film, dan itu saya hayati benar,” ungkapnya. “Ini negara paling beda di dunia, paling unik dan bukan dalam pengertian yang turistik ya...”

0 komentar:

Posting Komentar