TAK LENGKAP TAK BERARTI TAK BAHAGIA

TAK LENGKAP TAK BERARTI TAK BAHAGIA


“Kok cuma bertiga? Mana ayahnya nih?”
Ini entah pertanyaan yang keberapa sejak kami bertiga berangkat dari Demak menuju Bali. Sampai seminggu di Ubud untuk UWRF pun, tak henti-hentinya orang bertanya. Dari Mr. John Mc Glynn, mas Garin Nugroho, mbak Kamila Andini,  mbak Dewi Lestari, mbak Leila Chudori sampai mas Ahmad Fuadi dan masih banyak yang lainnya bertanya-tanya. Dan jawabannya sama dong, oh ayahnya anak-anak sudah meninggal dunia. Dus, responnya sama juga, maaf dan ikut bela sungkawa. Hehe, paling aku meringis karena sudah terbiasa. Dan berterima kasih.
Kali inipun saat kami bersantai di bagian Food and Beverages di The Bay Bali, seorang pengunjung lain juga dengan ramah dan perhatian menanyakan hal serupa. Dan seperti biasanya, respon pertamaku adalah tersenyum. Kemudian menjelaskan singkat bagaimana suamiku meninggal dalam kecelakaan di tol Cikampek enam tahun lalu.
“Wah seru ya jalan-jalan bertiga begini. Apa nggak repot tuh?” seorang perempuan paruh baya yang sangat stylish membelai lembut rambut anak lelakiku. Si sulung itu meski biasanya selalu menghindari sentuhan-sentuhan, kali ini cuek saja. Mungkin karena sedang asyik menikmati salad buah di hadapannya. Berebut dengan si bungsu seperti biasanya. Bungsu? Apa nggak ingin punya anak lagi?
“Apa nggak ingin menikah lagi?” perempuan di depanku ini sama juga pertanyaannya dengan banyak orang lain.
“Biar nambah lagi anaknya,” sambungnya sembari tersenyum menggoda.
“Hehe…” aku meringis sejenak, ini sungguh pertanyaan yang sulit jawabannya.
“Sempat ingin sih, dulu….pas awal-awal usai masa berkabung selesai. Tapi ke sini-sini kok kayaknya asyik-asyik saja ya single lagi,” tawaku tak kuasa berderai.
Perempuan manis itu tertawa bersamaku. Dia menerawang langit The Bay Bali yang biru cerah, tanpa mendung.
“Kenalkan, aku Dewi,” dia mengulurkan telapak tangannya yang langsung kusambut hangat.
“Dian,” kataku pendek memperkenalkan diri.
Kami lalu berbincang hangat tentang banyak hal. Tentang perceraiannya dengan sang suami yang masih disesalinya hingga kini. Tentang salah seorang anak mereka yang tak tentu rimbanya. Tentang kesepian dan rasa ketaklengkapan, ketaksempurnaan dan ketakbahagiaannya.
“Maaf ya jadi curhat gini,” Dewi nyengir memperlihatkan gigi geliginya yang putih bersih.
Seorang perempuan yang sangat cantik dan tampak terawat begini, sekilas pasti banyak  orang mengiranya sebagai salah seorang warga yang berbahagia. Tapi kenyataannya tidak.
“Tapi entah kenapa, pergi ke The Bay Bali selalu membuatku menemukan sesuatu. Suasananya membawaku tak perlu merisaukan apapun,” cetus  Dewi merapikan anak rambutnya yang tertiup angin laut Bali.
“Seperti saat ini. Bertemu denganmu membuatku merasa ada yang salah dengan diriku jika aku tak bercermin. Kalian juga bukan keluarga yang tidak lengkap. Tapi kalian sama sekali tidak tampak tidak berbahagia,” sambungnya lagi sambil mengamati anak-anakku satu persatu.
“Bukannya kami tidak punya masalah. Tapi ya gitu deh. Semuanya dibikin santai dan tidak jadi masalah. Daripada berdiam diri di rumah, merenungi nasib. Aku memilih jalan-jalan ke mana-mana bersama mereka. Dari sekarang dan bukannya menunggu mereka besar dulu. Ntar aku keburu tua dong dan loyo nggak kuat jalan-jalan,” selorohku disambut tawa Dewi yang berderai.
“Iya, bener juga. Aku cukup lama menahan diri untuk tinggal di rumah saja. Sekarang baru memutuskan jalan-jalan, tapi anak-anak sudah kadung besar, ada yang berumah tangga dan mereka lebih memilih pergi sendiri,” kembali kabut menutupi wajahnya.
“Ups! Tadi katanya sudah nggak mau sedih lagi,” aku menyenggol bahunya dan dia tersenyum sembari mengelap bening yang menitik dari kedua ujung matanya.
“Iya, deh. Kita senang-senang aja ya. Habis dari sini mau ke mana?” dia mengalihkan pembicaraan sembari menghabiskan dessert-nya hingga tandas.
“Mau antar anak-anak berenang. Ikutan?” aku mengangkat kedua alisku,  menunggunya berpikir sejenak.
“Kamu renang juga, nggak? Aku ingin sih, tapi nggak bisa renang,” bisiknya malu terdengar tamu yang duduk dekat meja kami.
“Hihi…memangnya aku bisa? Aku juga belum bisa renang,” akuku sembari berbisik pula.
“Yang bener?! Terus ngapain ke Bali?” mimik mukanya lucu membuatku ingin tertawa terpingkal-pingkal.
“Oh! Kenapa memangnya?” kurasa mataku membulat sempurna.
“Ya nggak apa-apa sih. Biasanya orang ke Bali itu ingin ke pantai, berenang, berseluncur, menyelam….” kalimatnya menggantung, membuatku menunggu.
“Seperti itu juga ya mungkin kita ini. Biasanya orang berbahagia itu yang lengkap keluarganya, yang sempurna kehidupannya….tapi kalaupun tidak lengkap, tak berarti tak boleh berbahagia kan?” sambungnya menyadari metafora kehidupan yang baru saja dia ketemukan.
Aku hanya mengangguk-angguk mengiyakan, membenarkan.




*Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Proyek Menulis Letters of Happiness: Share your happiness with The Bay Bali Get discovered!

0 komentar:

Posting Komentar