White Campaign

Masukan atau ide dalam melakukan dakwah Islam saat ini di tengah kedinamisan peri kehidupan bangsa Indonesia termasuk di dalamnya perkembangan internet & smartphone, media televisi, dan media sosial.

White Campaign
oleh Dian Nafi

Sudah cukup rasanya kita menyaksikan twitwar antara para pemeluk agama Islam sendiri. Miris lihatnya :(
Daripada malu-maluin Islam dengan gaya dan cara-cara yang menjijikkan seperti itu alangkah baiknya jika kita beralih melakukan white campaign.

Sebagai penerus tradisi Ahlussunnah wal jamaah yang meneladani Walisongo dan ingin menjadikan Indonesia Mercusuar Dunia, sebaiknya tahan diri dari keinginan untuk memojokkan orang lain. Lha wong Rasulullah saja justru mendoakan orang-orang yang mencelakai beliau. Allahummahdina qouman laa ya'qiluun. Ya Allah, berilah hidayah pada mereka, karena mereka belum mengetahui.

Maksimalkan  cartel alias jaringan yang sudah mulai dirintis ini. Antara lain www.cyberdakwah.com – Media Islam Terdepan, www.muslimedianews.com – Voice of Moslem, www.nu.or.id – Website resmi Nahdlatul Ulama, www.habiblutfi.net – Dakwah teduh dan cinta tanah air, www.streamingislami.com – Streaming dakwah Islam terlengkap.

Isi dengan content yang tidak saja benar dan bagus menurut dasar keislaman, tetapi juga kontekstual. Tawarkan solusi-solusi bagi permasalah masyarakat dan umat. Pancing kekritisan mereka atas segala sesuatu yang tengah berkembang dan bahkan beyond the future,  agar umat tidak jadi jumud, beku dan kaku.

Penuhi dengan content yang mengandung kebaruan, sehingga tidak basi dan dianggap tidak class oleh kalangan yang punya standar tinggi. Atau mungkin bisa juga dibuat dua kartel/ jaringan, untuk mereka yang ada di akar rumput, dan untuk mereka yang 'sosialita', 'cendekia' dan seterusnya.


Oh ya, yang juga bagus difollow-up-i adalah penerbitan buku-buku dan majalah digital seperti yang dikembangkan Savic Ali, juga komik digital seperti yang dibuat putranya Gus Mus, serta games-games yang berkaitan dengan dakwah ini keren juga kali ya :))

Grebeg Besar Dan Semacamnya

Contoh dakwah Islam yang dilakukan Walisongo yang sukses mengajarkan Islam secara damai ke bumi Nusantara serta peran membangun peradaban kehidupan negeri Indonesia hingga dapat bertahan sampai kini.

Grebeg Besar dan Semacamnya
oleh Dian Nafi


Kita tak bisa melepaskan diri dari Walisongo saat menceritakan sejarah nusantara. Sejarah penyebaran Islam di tanah Jawa  oleh para Wali terbukti berhasil mengajak masyarakat Jawa masuk Islam secara suka rela. Bahkan Walisongo juga berhasil mentransfer ajaran Islam ke dalam kehidupan masyarakat kita. Pengaruh kecemerlangan dan kesuksesan  dakwah Walisongo masih dapat kita rasakan sampai saat ini.

Lihat saja, ada banyak tradisi yang sedikit banyak merupakan ajaran Islam yang diinseminasikan ke dalam budaya lokal. Seperti Grebeg Maulid, Grebeg Besar, Selametan Nujuh Hari, Nyatus, Nyewu, Nyadran dan masih banyak lagi.

Selain karena kedalaman ilmu agamanya, Walisongo adalah pendakwah yang dikenal punya kemampuan berdialog dengan seni dan budaya. Tiap seni dan budaya, dalam pandangan Walisongo tak boleh diberangus begitu saja, sebab bisa jadi melukai hati masyarakat. Budaya boleh tetap lestari, asal tak bertentangan dengan syari’at Islam. Ajaran Islam harus mampu menjadi spirit dan pijakan dari pelaksanaan tiap budaya yang berjalan.


Dalam berdakwah, Walisongo bahkan tak segan memanfaatkan seni dan budaya sebagai media dakwah. Sejarah mencatat, bahwa beberapa Wali bahkan memiliki andil besar dalam perkembangan seni dan budaya masyarakat Jawa. Sebut saja misalnya nama Sunan Giri. Wali bernama asli Raden Ainul Yaqin ini dikenal sebagai penggubah lagu-lagu jawa bernafaskan dakwah. Beberapa judul lagu gubahan Sunan Giri yang masyhur diantaranya adalah Jamuran, Cublak-Cublak Suweng dan Gula Ganti.


Ada juga sunan Kalijaga. Wali dengan segudang talenta seni. Sunan Kalijaga adalah seorang dalang wayang yang handal, seorang disainer brilian perancang baju ‘takwa’, juga seorang pencipta lagu. Lagu Lir Ilir hasil gubahannya bersama Sunan Giri bahkan masih terus dinyayikan hingga sekarang.


Talenta seni Walisongo belum habis. Masih ada nama besar Sunan Bonang. Dalam berdakwah, putra Sunan Ampel bernama asli Raden Makdum Ibrahim ini kerap memanfaatkan alat musik ‘bonang’ untuk menarik simpati rakyat. Oleh sebab kepandaiannya bermain bonang ini jugalah, Raden Makdum memperoleh gelarnya sebagai Sunan Bonang. Selain mahir memainkan bonang, Sunan Bonang juga adalah seorang pencipta lagu handal. Lagu ‘tombo ati’ yang kembali dipopulerkan oleh penyanyi religi Opick, adalah satu diantara lagu ciptaan beliau.


Karakter Dakwah Walisongo
Dakwah dalam Islam haruslah dilakukan cara yang santun dan baik. Al Qur’an memberi tiga jalan untuk melakukan seruan ke jalan Allah sebagaimana terdedah dalam QS. An-Nahl : 25


“ Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah, dan mau’izhah (pelajaran yang baik), dan bantahlah mereka dengan cara yang terbaik “ (QS. An Nahl : 25)


Jalan pertama dalam berdakwah adalah hikmah, yakni dengan kebijaksanaan, langkah yang tepat dan efektif dan pendekatan kemasyarakatan yang penuh keteladanan. Selanjutnya, jalan dakwah kedua adalah mau’izhah, yakni nasihat-nasihat yang baik yang menyejukkan, mampu menggugah, meninggikan semangat untuk beramal baik, serta menumbuhkan kesadaran dan keinsafan. Dan jalan yang ketiga, adalah mujadalah yakni lewat jalan berdialog, berdiskusi, berbantah, saling bertukar argumen dengan cara yang baik.


Setiap jalan dakwah dalam Islam selalu menekankan kebaikan. Tak ada ruang untuk kata-kata kotor, cacian, hujatan dan ikrah atau paksaan. Demikianlah Allah Swt menggariskan prinsip dakwah untuk hambanya.


Akan halnya dengan Walisongo. Ada apa dibalik rahasia kegemilangan dakwah para wali ini. Jurus macam apa yang dipergunakan walisongo, hingga agama Islam bisa dipeluk oleh mayoritas orang di bumi pertiwi.


Sejarah mencatat, bahwa faktor utama kesuksesan dakwah Walisongo tak lain adalah kekukuhan para Wali dalam memegangi prinsip dakwah Islam itu sendiri. Prinsip dakwah sebagaimana diteladankan oleh Baginda Rasulullah SAW.


Secara lebih rinci, menurut hemat penulis, kesuksesan dakwah Walisongo didasari oleh empat karakter utama berikut ini.


Karakter pertama. Walisongo menerapkan model dakwah sebagaimana model dakwah yang Allah gariskan dalam QS. An Nahl : 25. Yakni al-hikmah (kebijaksanaan), mau’izah (nasehat yang baik) serta al mujadalah billati hiya ahsan (berbantah-bantahan dengan jalan sebaik-baiknya).


Dalam menyampaikan dakwahnya, Para Wali selalu mendahulukan aspek keteladanan pada umat, memberikan nasehat dalam bahasa yang santun dan sejuk, dan bila memang diperlukan sebuah diskusi atau perdebatan, Walisongo membingkai diskusi itu dalam suasana yang ahsan. Berdebat bukan untuk saling menjatuhkan dan pamer kepandaian, tapi untuk menunjukkan kebenaran yang nyata.


Karakter kedua, Walisongo memahami benar pentingnya media dalam medan berdakwah. Para Wali tak canggung memanfaatkan media seni dan budaya seperti gamelan, wayang, dan lagu daerah yang kala itu tengah digandrungi masyarakat. Para Wali tidak saja mampu menggunakan berbagai instrument seni, bahkan menjadi tokoh kunci dalam perkembangan seni tersebut di kemudian hari.


Karakter Ketiga. Walisongo berdakwah dengan damai serta lewat pendekatan kemasyarakatan yang baik. Tak pernah ada pemaksaan atau adu kanugaraan untuk mengajak pada Islam. Para wali mengajak masyarakat kepada Islam dengan santun dan sabar. Walisongo berdakwah dengan setahap demi setahap. Hal ini nampak jelas pada dakwah Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik. Ketika baru tiba di tengah masyarakat, Maulana Malik Ibrahim tidak secara frontal menyampaikan ajaran Islam. Beliau lebih dulu berbaur dengan masyarakat, memperkenalkan dirinya secara perlahan. Baru setelah itu mulai mengenalkan ajaran Islam dan kemudian mengajak serta masyarakat masuk Islam.


Karakter Keempat, Walisongo menyasar seluruh kalangan sebagai obyek dakwahnya. Tanpa pandang bulu. Walisongo tak pernah memilah-milah sasaran dakwah. Seluruh kalangan mulai dari petinggi kerajaan hingga rakyat jelata didatangi. Untuk kepentingan dakwah, Para Wali juga tak segan menduduki jabatan strategis. Seperti yang dilakukan Sunan Ampel sebagai penasehat kerajaan Islam Demak.


Karakter Kelima. Walisongo membangun kaderisasi dakwah lewat Pendidikan yang berkualitas. Walisongo adalah peletak batu pertama berdirinya model pendidikan Pondok Pesantren. Sebuah model pendidikan yang sebelumnya belum pernah ada di nusantara. Sejarawan, Ahmad Mansur Suryanegara menampik anggapan bahwa model pendidikan Pesantren adalah adobsi model pendidikan peninggalan agama hindhu dengan dalih tidak diketemukannya pendidikan serupa Pesantren di daerah Bali hingga kini.Para wali adalah pendiri sekaligus pengasuh Pondok Pesantren generasi pertama. Dari Pesantren-pesantren pertama inilah, agama Islam bisa kian tersebar di nusantara. Para santri gemblengan Walisongo dikirim keberbagai pelosok nusantara untuk menjadi pendakwah.


Jangan pernah sekalipun berani-berani untuk melupakan sejarah, sebab Ia ibarat seorang guru bijak yang tak bosan memberikan pelajaran. Ada begitu banyak pelajaran dan hikmah yang bisa kita petik kita membaca dan mengingat ulang sejarah. Dalam sejarah Islam nusantara, tentu saja kajian sejarah tentang Walisongo bukan saja harus diketahui, dimengerti, diceritakan kembali, tapi juga harus diteladani.

Di tengah tantangan dakwah yang kian keras, agaknya pembacaan ulang sejarah Walisongo menjadi kian penting dilakukan. Bukan saja untuk mengingat kembali, tapi juga menjadikannya sebagai pelajaran amat berharga sebagai bekal dakwah masa kini. Demi menjaga tetap berkibarnya bendera Ahlussunnnah Wal Jama’ah. Wallahu A’lam. ( In’am Al Fajar, Ma’had Aly 2008).

Ahlussunnah wal jamaah, Walisongo, Indonesia Mercusuar Dunia

www.cyberdakwah.com – Media Islam Terdepan

www.muslimedianews.com – Voice of Moslem

www.nu.or.id – Website resmi Nahdlatul Ulama

www.habiblutfi.net – Dakwah teduh dan cinta tanah air

www.streamingislami.com – Streaming dakwah Islam terlengkap

Ada yang mau bantu milihin siapa yang dapat hadiahnya?

Terima kasih teman-teman yang sudah ikutan kuis dalam syukuran lahirnya novel Just In Love ya :)
http://diannafi.blogspot.com/2014/04/quiz-giveaway-berhadiah-buku.html

@ekayuliiy

@febriandia

@TeenNews14

@f3a_septiani

@reysamudra

@Heruka131

@aii_vitri

@AntikaAnis

@anispsari

@Hamsahps

@kettyhusnia

@Dinar_Arisandy

@asysyifaahs

@feicloudsm

@RMP2982

@gie_author

Ada yang mau bantu milihin siapa yang dapat hadiahnya?  Ditunggu ya :))

Hendak Eksport?

Masukan atau ide tentang kemungkinan berdakwah Islam khas Nusantara di negara-negara Jazirah Arab dan Afrika yang mayoritas beragama Islam namun mengalami kegoncangan kemanusiaan.

Hendak Ekspor?
oleh Dian Nafi

Mungkin nggak ya jika dakwah Islam khas Nusantara diterapkan di negara-negara Jazirah Arab dan Afrika yang mayoritas beragama Islam namun mengalami kegoncangan kemanusiaan ini?
Sedangkan di dalam negeri sendiri saat-saat terakhir ini ada banyak sekali kendala. Ada banyak sekali pihak yang merecoki dan membuatnya menjadi seolah tak penting dan tak relevan dengan jaman sekarang. Dengan dalih memurnikan ajaran agama.

Bahkan saya sendiri pernah baca status twitter yang mencemooh, katanya kenapa NU memakai politik dua kaki dalam pilpres ini, konon katanya demi agar posisi menteri agama tetap jatuh ke tangan nahdliyyin sehingga paham Ahlussunnah wal jamaah bisa tetap berlangsung.
Hei! Spontanitas saya teriak, ada apa dan kenapakah memangnya kalau Aswaja tetap dijaga dan dipertahankan? Saya sampai tak habis pikir bagaimana pandangan aneh serta kesalahpahaman seperti itu bisa muncul? Astaghfirullah.

Tapi  okelah, siapa tahu justru di luar negeri, di negara-negara Jazirah Arab dan Afrika yang mayoritas beragama Islam namun mengalami kegoncangan kemanusiaan, justru dakwah Islam khas Nusantara  bisa diperkenalkan dan diterapkan.
Apalagi kita tahu bahwa cikal bakal Walisongo justru dari negara luar. Sebagian mengatakan dari Yaman, sebagian mengatakan dari Champa Cina, dari India  dan berbagai versi lainnya.

Namun tentu saja naif jika kita melakukannya demi agar menjadikan Indonesia Mercusuar Dunia. Kayaknya egois gitu ya? :D Yach, pokoknya kita melakukannya karena Islam Rahmatan Lil alamiin. Gitu aja sih.

Nah sekarang apa idenya? Gimana kira-kira caranya? Ya perbanyak saja cerita dan kisah keteladanan Walisongo dengan dakwah khas Nusantaranya ini. Kemudian suarakan ke berbagai media sosial. Apalagi kita sudah punya www.cyberdakwah.com – Media Islam Terdepan, juga www.muslimedianews.com – Voice of Moslem. Ada lagi www.nu.or.id – Website resmi Nahdlatul Ulama, www.habiblutfi.net – Dakwah teduh dan cinta tanah air, bahkan www.streamingislami.com – Streaming dakwah Islam terlengkap.

Agar menarik dan berkelas internasional, gunakan translasi dalam bahasa Inggris dan bahasa Arab juga. Supaya implementatif dengan negara yang bersangkutan, tentu saja masing-masing negara harus menyesuaikan dengan kontekstual serta budaya di tempatnya.  Karena demikianlah dulunya walisongo memberi teladan. Asimilasi terhadap budaya setempat.

Dengan dakwah yang santun dan lembut, bahkan mengkolaborasikan dengan budaya Jawa maka Islam  pun berkembang dengan pesatnya. Para ahli sepakat dan sependapat bahwa  Islam masuk ke Indonesia tidak melalui cara-cara kekerasan, melainkan dengan cara yang damai. Pendekatan dakwah yang dilakukan para dai yang datang dari Jazirah Arab, khususnya dari Hadhramaut ini menggunakan pendekatan kultural. Sehingga  masyarakat nusantara, pun terutama di tanah Jawa tidak merasa terusik dalam masalah sosial budaya. 

Begitulah kira-kira dakwah ala Nusantara bisa ditawarkan untuk negara Jazirah Arab dan Afrika. 
Seperti Islam yang masuk ke Indonesia dengan damai. Yang kala itu dibawa oleh pedagang dari India dan Gujarat, memberikan warna baru bagi tatanan sosial kemasyarakatan Indonesia. Sehingga meski dominasi agama pada saat itu adalah Hindu dan Budha, namun metode dakwah yang santun dengan tidak asal terjang dan menabrak, menjadikan Islam mudah diterima bagi masyarakat Indonesia. 

Apakah itu artinya menyudahi perang dan 'jihad'? Sementara para kafir terus menggencet? Mungkin ini situasinya lain. Bagaimana menurutmu?





Mengintip Wajah Mesir

Judul Buku      : Mesir Suatu Waktu
Penulis           : Dian Nafi dan Rabiah Adawiyah
Penerbit         : PT GRASINDO
Tahun Terbit   : 2013
Tebal Buku      : vii + 128 Halaman
ISBN               : 978-602-251-138-0


Universitas Al-Azhar menjadi pintu utama penulis menjelajah Mesir dan segala isinya. Berbekal keberanian dan keinginan memperdalam ilmu Syariah Islam, penulis memilih menimba ilmu ke negeri orang. Menjejakkan kaki ke sebuah universitas tertua di dunia. Mengasah otak bersama para mahasiswa lain dari berbagai belahan dunia. Meninggalkan keluarga di Demak, menitipkan rindu untuk mereka melalui sebuah doa.


Penulis mengajak kita mengenal Mesir lebih dalam, tak sekadar padang pasir dan onta. Tapi lebih bagaimana roda kehidupan di sana. Bagaimana adaptasi sebagai mahasiswa dan penduduk baru. Yang tentunya tak mudah dan butuh waktu. Rasa kekeluargaan dan persabatan sesama mahasiswa Indonesia mengikis itu semua. Mereka ada untuk berbagi.
Ngupret menjadi kenangan dan pengalaman tersendiri bagi penulis. Mengenali sejarah dan seluk beluk Cairo lebih dalam. Bersama anggotangupret penulis menelusuri rute yang telah ditentukan dengan jalan kaki.

Pengalaman lain penulis ketika menjelajahi Alexandria. Backpacker pertama kalinya bagi penulis. Mengelilingi kota kecil bersama sahabatnya dan tersesat saat mencari Alexandria National Museum. Menghabiskan waktu berjam-jam demi museum tersebut.

Cerita lain yang tak kalah seru kala penulis berburu beasiswa. Ingin meringankan beban sang ibu, penulis mengajukan beasiswa ke universitas tapi gagal karena kuota penuh. Alih-alih mencoba ke salah satu instansi pemberi beasiswa terbesar pelajar asing di Universitas Al Azhar dan ternyata lolos. Kesabaran penulis berbuah manis, nominal beasiswanya lebih besar daripada beasiswa dari universitas.

Paling berkesan dari novel ini (hal 35)

 Berhaji menjadi impian penulis sejak dulu. Berkat dorongan dan doa sang ibu penulis berhaji lewat Mesir yang persyaratannya lebih rumit. Semua itu tak mematahkan langkah penulis. Usaha dan doa tak pernah lepas. Hingga akhirnya penulis berhasil haji lewat Mesir. Dan tahun itu adalah tahun terakhir mahasiswa Indonesia boleh berhaji lewat Mesir. Tahun selanjutnya jika berhaji harus mengikuti kuota negara masing-masing.

Demo menuntut presiden Mubarak turun membuat Mesir rusuh dan kisruh. Bagaimana penulis merasakan ketakutan, dicurigai warga Mesir, petugas sipil, hingga melonjaknya harga bahan makanan. Kerusuhan yang terus berlanjut membuat semua mahasiswa Indonesia dievakuasi. Seharusnya penulis mendapatkan jatah evakuasi kolter kedua tapi ditolak. Penulis masih ingin tinggal di Mesir. Jiwanya tak bisa jauh dari negeri para nabi ini. Hingga akhirnya penulis tak kuasa menolak lagi. Mau tak mau harus kembali ke Indonesia. Ini adalah kedua kalinya penulis pergi meninggalkan Mesir. Dari lubuk hati terdalam, penulis tetap ingin kembali ke Mesir suatu saat nanti. Kembali menjamah tanah haram.

sumber : http://lestarotarmoth.blogspot.com/2014/05/mengintip-wajah-mesir.html

Dua Wajah Mesir

Judul Buku: Mesir Suatu Waktu
Penulis: Dian Nafi dan Rabiah Adawiyah
Penerbit: PT. Grasindo
Tebal: VIII 126 halaman
ISBN: 9786022511380
mesir
Memoar ini mengupas Mesir dari dua sisi. Kumpulan catatan perjalanan salah satu penulis, Rabiah, selama kuliah di fakultas Syari’ah Islamiyah Universitas Al-Azhar Cairo. Bersama sang kakak, Dian Nafi, Rabiah menceritakan kembali pengalamannya selama merantau di Mesir.
Entah harus merasa beruntung atau buntung karena Rabiah menginjakkan kaki ketika gejolak Mesir bertabuh. Demonstrasi menjadi pemandangan setiap hari. Suara tembakan juga kerap kali mengiringi langkah.
“Sudah beberapa hari ini, sejak demo yaum al-ghodob, tiap malam kami mendengarkan tank-tank tentara berjalan pelan melewati jalan besar dekat imarah kami menuju Hay Asyir (hal. 102).”
Suasana kian memanas ketika tiada akses informasi, persediakan makanan dan minuman yang menipis, hingga akhirnya jalur evakuasi warga Indonesia pun dibuka. Namun, Rabiah lebih memilih menetap dahulu di wilayah konflik, dan memberikan ‘jatah’nya kepada kawan yang sangat panik. Hhhmmm saya akui itu bukan keputusan yang umum.
Di bab lain, penulis juga menggelontorkan eksotisme wisata Mesir. Melalui buku ini, saya jadi tahu kalau di Cairo ada komunitas Kupretist du Caire, adalah komunitas yang terbuka untuk umum bagi pendatang yang ingin menjelajah sejarah Cairo. Komunitas yang mengajak Rabiah menginjakkan kaki di Masjid Sayyidah Aisyah, masjid kembar yaitu masjid Sultan Hasan dan Rifa’I, sampai Amir Thaz Palace.
Pengalaman paling unik Rabiah adalah menunaikan haji yang berangkat dari Mesir. Untungnya, tahun tersebut adalah batas akhir bagi jamaah haji yang datang bukan dari negaranya sendiri. Dalih Rabiah masuk akal, karena jauh lebih murah.
Di akhir buku, penulis menutup cerita dengan membeberkan tip perjalanan ke Mesir. Contohnya, bulan apa yang tepat untuk mengunjungi Mesir, apalagi udara setempat terkadang kurang sesuai dengan kulit orang Indonesia. Selain itu, ada pula tip memilih akomodasi yang terpercaya, sampai cara menyesuaikan makanan setempat yang identik dengan roti dan bumbu tersendiri.
Buku yang tidak hanya memaparkan cerita jalan-jalan, tetapi pengalaman Rabiah mengenai kehidupan di Mesir dengan dua wajahnya. Penulis pun seolah-olah mengajak saya berkelana di negeri piramida

sumber : http://wurinugraeni.wordpress.com/2013/12/27/dua-wajah-mesir/

Menelusuri Mesir Lewat Mesir Suatu Waktu

Menelusuri Mesir Lewat Buku Mesir Suatu Waktu

Dear Temans,

Alhamdulillah, Jumat tanggal  13 September, saya bisa menghadiri acara bedah buku Mesir Suatu Waktu, karya Mbak Dian Nafi dan adiknya, Rabiah Adwiyah di Gramedia Pandanaran Semarang. Kedua penulis asal Demak ini nampak segar dan cantik dengan setelan birunya. 

Sayangnya, saya datang agak terlambat. Buku Mesir Suatu Waktu ini adalah buku memoir atau pengalaman ketika adik mbak Dian, Rabiah berkuliah di Al Azhar, Mesir jurusan Syariah Islamiyah dan lulus tahun 2011. Rabiah berhasil mencapai impiannya yang juga cita-cita sang ayah, ingin kuliah di Mesir. 

Ditulis bersama sang kakak yang penulis kawakan, buku ini terasa asyik dibaca. Oh iya, buku ini memenangkan PSA Award, ajang pencarian naskah yang diselenggaraka oleh Penerbit Grasindo, Jakarta. Keren ya.

Di sore cerah itu, Rabiah membagikan pengalamannya mengapa ia menulis memoir itu. Tak sekedar menceritakan kisah berkuliahnya, tapi ia sedang di Mesir ketika kerusuhan di Mesir pecah. Halk itulah yang ia ingin bagikan dengan pembaca. Bagaimana ia dan teman-temannya mengalami ketegangan dan ketakutan saat bahaya mengancam.  Bagaimana ketegaran seorang Rabiah yang mendahulukan teman-temannya yang ketakutan untuk pulang ke tanah air. 

Mbak Dian juga memberikan tips bagaimana menulis memoir. Kata beliau, harus ada sesuatu yang bisa dipetik pembaca. Kalau hanya menulis pengalaman kuliah di Al Azhar, banyak orang Indonesia yang kuliah disana.  Atau berguru di Tibet,  memang itu tujuan orang kesana. Atau perjalanan ke Paris, Thailand, dll, semua bisa mengalaminya.  Harus ada suatu kejadian atau pengalaman yang menginspirasi. 

Buku ini tidak tebal, hanya sekitar 122 halaman, tapi cukup padat, ada tips perjalanan ke Mesir juga foto-foto pemandangan dan lanskap Mesir yang indah memesona. Beberapa peserta nampak antusias untuk bertanya. Ingin mengetahui tips menulis memoir, dan sebagainya. 

Selesai acara, anggota IIDN Semarang meminta tanda tangan dan berfoto bersama ehm, seperti biasa narisis akut hihi, bersama para penulis. Selamat ya mbak Dian dan Rabiah, bukunya keren dan inspiratif. Bikin aku ingin kuliah lagii..:)

sumber : http://dewirieka.blogspot.com/2013/09/menelusuri-mesir-lewat-buku-mesir-suatu.html

Cairo, Rumah Keduaku





Judul Buku : Mesir Suatu Waktu


Penulis : Dian Nafi dan Rabiah Adawiyah
Penerbit : PT. Grasindo
Perancang sampul : Innerchild Studio
Jumlah Halaman :124
Cetakan pertama : Juli 2013
ISBN 10 : 978-602-251-138-0




Melanjutkan studi di luar negeri memang memiliki tantangan tersendiri, apalagi kendala bahasa yang terus menghadang. Tak cuma Bahasa Inggris yang menjadi keharusan untuk dikuasai apabila ingin sekolah di luar negeri. Bahasa Arab juga penting.

Dengan bahasa, kita bisa menguasai ilmu dan tanpanya kita akan berada dalam kegelapan (kebodohan) - hal. 16

Itulah yang dialami oleh Rania saat awal mengikuti kuliah Syariah Islamiyyah di Universitas Al-Azhar, Cairo. Meskipun sudah memiliki dasar penguasaan Bahasa Arab saat bersekolah di Aliyah, Rania tetap mengalami kendala bahasa saat mengikuti kuliah. Rupanya sang dukturah (dosen perempuan) menggunakan Bahasa 'Amiyah, bahsa pasaran yang digunakan orang Arab, khususnya Mesir dalam pemakaian sehari-hari. Bahasa ini tidak sesuai dengan Bahasa Arab Fusha, Bahasa Arab fasih yang disesuaikan dengan Al-Quran.

Beruntung sekali Rania memiliki kakak-kakak senior yang berperan besar dalam membantu adaptasi bahasanya. Tak sekadar dalam perkuliahan saja uluran tangan mereka itu, berbagai aktivitas Rania selama masa perkuliahan pun makin berwarna dengan campur tangan mereka. Mulai dari menjadi kru redaksi buletin informatika, berburu minhah (beasiswa), ngupret (jelajah sejarah), bahkan hingga berangkat haji dari Mesir pun bisa dilakukannya. 

Rania sungguh berjuang untuk menyelesaikan kuliah di Al-Azhar demi memenuhi harapan ibunda tercinta. Ibu yang setiap bulan mengirimkan uang untuk biaya hidupnya yang tidak sedikit selama tinggal di Mesir. Oleh karena itulah Rania berusaha sekuat tenaga dan pikiran untuk mendapatkan beasiswa. Meski gagal mendapatkannya dari Al-Azhar langsung, dia tidak putus asa. Dicobanya taqdim (pengajuan permohonan)al-minhah (beasiswa) ke salah satu instansi pemberi beasiswa terbesar pada pelajar asing di Universitas Al-Azhar. Nama istansi itu adalah Bait az-Zakat al-Kuwayty, milik negara Kuwait sebagai pengelola dan penyalur zakat pada pelajar.

Selain serius kuliah, Rania tidak menyia-nyiakan waktu yang dimilikinya selama berada di bumi Kinanah. Berjalan-jalan hingga Alexandria dilakukannya bersama teman-teman.Mulai dari Bibliotheca Alexandrina, Planetarium, Fortress of Qaitbey, Roman Aphitheater, Montazapalace Gardens, Pompey's Pillar, Catacombs of Kom Es-Shoqafa, hingga ke Alexandria National Museum. Dengan dana terbatas, Rania harus pandai memilih sarana transportasi dan alternatif akomodasi.



Saat kakak-kakaknya pergi berhaji, Rania pun mendapatkan kesempatan untuk pergi ke Baitullah dengan cara yang sangat unik. Berawal dari keinginan sang ibu agar Rania bisa berhaji barengan dengan kakak tercintanya. Mumpung ada di Mesir, tak jauh dari Mekah dan Madinah bila dibandingkan dari Indonesia. Meskipun cukup ribet persyaratan yang harus dipenuhi, akhirnya Rania bisa juga berangkat.

Kerusuhan yang terjadi di Mesir seiring dengan gerakan untuk menurunkan Presiden Mubarak dari tampuk pimpinan sangat mempengaruhi perjalanan studi Rania. Berbagai demonstrasi terjadi, kantor polisi dibakar, penjarahan dimana-mana. Sungguh situasi yang mencekam. Warga negara Indonesia pun secara bertahap mulai dievakuasi.

Bagaimana dengan Rania dan masa depannya? Tuntaskah kuliahnya dengan kondisi negara yang rawan tersebut?

***

Kisah Mesir Suatu Waktu ini banyak memberikan wacana, tak hanya seputar lika-liku persiapan studi ke negara berbasis bahasa Arab. Berbagai tips perjalanan wisata pun ada di buku ini. Traveling ala backpacker yang kini kian digemari secara tak sengaja dipaparkan di sini.

Tokoh di dalam kisah ini, Rania, memberdayakan segala yang ada dalam dirinya untuk menjalani kehidupan anak kampus yang tidak biasa-biasa saja di negeri orang. Tekadnya untuk meringankan beban orang tua membuatnya berusaha sekuat mungkin mendapatkan beasiswa. Dengan dana beasiswa itulah Rania bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari, bahkan sanggup pula mengalokasikan dana yang ada untuk menjelajah Mesir.

Saat diundang oleh Mba Etik seniornya untuk berkunjung ke Alexandria, Rania menangkap kesempatan yang mungkin tak akan terulang lagi. Setelah berhitung dengan cermat, Rania memutuskan untuk memenuhi undangan tersebut. Berbagai penghematan dilakukannya saat bepergian ini, mulai dari memilih kereta ekonomi dengan harga karcis paling murah, hingga mempersiapkan bekal sebelum berangkat. Yah, seperti trik para backpacker pada umumnya, bila di salah satu unsur persiapan perjalanan harus mengeluarkan biaya tinggi, paling tidak di pos yang lain harus bisa dipangkas untuk menyesuaikan dengan budget yang terbatas.

Agar bisa mengunjungi berbagai tempat yang harga tiket masuknya cukup mahal, Rania melakukan berbagai pengiritan di sana-sini. Untunglah teman-teman seperjalanannya mendukung. Mereka semua backpacker handal menurut saya. Perlu dicontoh nih :)

Buku traveling ini tak semata-mata memberikan panduan bagaimana untuk sampai ke suatu tempat, kisaran biaya dan pernak-pernik lainnya. Sisi lain sang tokoh juga dieksplor dengan kuat. Penguasaan setting sangat membuat saya kagum. Berbagai istilah dengan Bahasa Arab, yang jujur saja membuat saya harus bolak-balik membuka lembar buku, ditampilkan tanpa berkesan sok. Ada kan ya beberapa buku yang menyelipkan berbagai istilah bahasa asing agar tampil modern ;)  Di buku ini selipan istilah itu justru makin memperkuat jalinan kisah yang ada.

Misalnya saja saat di bab awal, saat mengisahkan kehidupan Rania di kampus dengan berbagai masalah yang dihadapinya. Pemakaian kata dukturah, Tansiq, syahadah, Mabna Jadid, maddah dan lain sebagainya, membuat kisah ini kian nyata. Menyatu sekali dengan penggambaran tempat berlangsungnya cerita. Lumayan lah, sedikit-demi sedikit saya jadi tau juga bahasa Arab :)

Ruz bil basal, nasi putih berbumbu yang dicampur dengan sedikit mie berpotongan kecil-kecil dan dibaburi kacang-kacangan, adas dan bawangya  goreng. hal 50

Pemakaian istilah dengan Bahasa Arab ini juga dilakukan saat Rania melakukan perjalanan wisata maupun haji. Salah satunya saat menceritakan makanan khas di Mesir, ruz bil bazal. Saya sampai kepo mencari di search engine tentang makanan ini :)

Buku ini sangat recommended untuk para penggila jalan-jalan. Tak hanya Eropa dan Amerika saja loh yang memiliki tempat-tempat menawan yang layak dikunjungi. Ada Mesir di bumi Afrika yang tak kalah eksotisnya. Ada patung, sphinx, pilar, peti dari bebatuan, berbagai monumen bersejarah yang ditemukan di laut Alexandria, semua disajikan dengan indah di Roman Amphitheater dan Umudu as-Sawary (Pompey's Pillar), sebuah museum terbuka. 

Biaya perjalanan juga disebutkan dalam buku ini meski tidak berupa tabel-tabel harga :)  Jauh lebih hidup karena dikemas dalam satu rangkaian kisah. Bagaimana si tokoh begitu mencintai Cairo sebagai rumah keduanya ternarasikan dengan begitu halus di buku ini. Saya jadi bisa membayangkan utuhnya kehidupan seorang mahasiswa yang harus menyelesaikan berbagai problematika kuliah di luar negeri, berpadu dengan hangatnya kisah perjalanan yang dilakukan sang tokoh saat bepergian ke berbagai tempat, baik untuk kepentingan wisata maupun berhaji. Buku ini sangat layak untuk dikoleksi 

- See more at: http://resensibuku-uniek.blogspot.com/2014/05/cairo-rumah-keduaku.html#sthash.IPf6AoTS.dpuf

Kuis Just In Love

Hai teman-teman?
Apa kabar? Semoga Cinta selalu melindungi kalian sepanjang waktu ya...Aamiin.
Terima kasih buat teman-teman yang sudah mengikuti giveaway #JustInLove di blog maupun GA-nya di goodreads. (sst...yang di goodreads, masih ada waktu buat ikutan tuh :))

Tengkyu very much also buat teman-teman yang sudah menyempatkan diri membeli dan mulai membaca novelku yang ke-9 ini :)

Sebagai apresiasi bagi teman-teman pembaca, aku adain #KuisJustInLove di twitter @ummihasfa
Simak caranya di bawah ini ya :)

 
1/ upload twitpic kreasi kamu brg novel plus tulis petikan bagian novelnya yg kamu sukai :) 

2/ajak teman2mu utk ikutan follow twitter &  

3/ Twitpic ditunggu s/d 12 Juni 2014,pengumuman 20Juni

4/ Mention beri hashtag

5/ hadiah adalah paket buku senilai Rp 500rb utk 2 orang pemenang. (jadi masing-masing dapat paket buku senilai Rp 250 ribu)

Aku tunggu twitpic-nya ya. Tararengkyuuu :))

Oh ya, yang belum punya twitter, boleh ikutan juga lho. Bisa upload gambarnya di facebook masing-masing. Lalu upload ke fb page : Dian Nafi https://id-id.facebook.com/DeeNafi

Saya tunggu ^_^




Oh ya, selain bisa didapat di toko buku Gramedia dan lainnya, #JustInLove bisa juga diperoleh via toko buku online.
http://www.bukukita.com/Buku-Novel/Romance/124875-Just-In-Love.html
http://www.bukabuku.com/browse/bookdetail/2010000237779/just-in-love.html
http://www.angelzon.com/komik-novel-novel-baru-terbit-mei-2014-novel-just-in-love-dian-nafi-p-33524.html

yang versi digital alias e-booknya bisa diperoleh di http://www.getscoop.com/books/just-in-love

Dekadensi Moral: Air Kopi Vs Air Putih

Keprihatinan dan masukan solusi atas kondisi masyarakat Indonesia saat ini yang memerlukan teladan dalam melakukan dakwah Islam karena dekadensi moral.


Dekadensi Moral: Air Kopi Vs Air Putih

oleh Dian Nafi


Ngeri dan miris banget ya mendengar dan menyaksikan banyaknya kejadian kekerasan, pembunuhan, tawuran, korupsi sampai dengan pelecehan yang dilakukan di negeri tercinta ini. Sampai-sampai tidak tega dan bergegas mematikan televisi saat berita-berita seperti itu disiarkan.


Bagaimana ceritanya kok Indonesia bisa separah ini? Yang mencengangkan kemudian waktu kita sempat membaca link yang diunggah di twitter dan kemudian menjadi perbincangan, tentang negara lain yang justru lebih islami dibanding negara kita yang notabene penghuninya kebanyakan muslim. Indonesia? peringkat 140 dari seluruh negara di dunia. Wow! How come? Bagaimana mungkin?

Persoalannya mungkin karena kebanyakan kita hanya menyentuh aspek-aspek ritual semata, belum diimplementasikan dalam setiap langkah dan tindakan.

Keprihatinan ini tidak boleh berhenti hanya prihatin saja. Tetapi harus juga diiringi dengan masukan solusi atas kondisi masyarakat Indonesia saat ini yang memerlukan teladan dalam melakukan dakwah Islam karena dekadensi moral.


Bagaimana solusinya?

Seumpama air kopi yang hitam dalam sebuah gelas, bagaimanakah agar hitam dan butheknya itu hilang. Antara lain caranya adalah dengan menuangkan air putih sebanyak-banyaknya ke dalam gelas, sehingga yang hitam itu meluber keluar gelas dan hanya tersisa yang bening saja di dalam gelas.

Jadi seyogyanya bukan malah yang negatif ditayangkan terus menerus dalam berbagai media, termasuk pemberitaan pelecehan seksual dan semacamnya yang malah bisa ‘menginspirasi’ para penonton. Tetapi justru tauladan yang baik, kisah-kisah positif yang inspiratif harusnya lebih banyak disajikan dalam tontonan media massa ataupun bacaan-bacaan. Dalam seni budaya serta berbagai aspek lainnya.

Siapa yang harus menjadi teladan? Semoga bagian masyarakat. Terutama public figure yang memiliki banyak penggemar. Alhamdulillah, saat ini sudah mulai beberapa figur dan tokoh yang melakukannya.

Kita kenal ada Gus Mus (KH. Mustofa Bisri), Cak Nun (Emha Ainun Najib), Anies Baswedan dan masih banyak lagi. Siapa yang tidak kenal artis Inneke Koesherawati yang telah hijrah dari ‘kekurangbaikan’ menuju ‘kecemerlangan muslimah’. Disusul oleh Dewi Sandra dan lainnya. Bagaimanapun hadirnya mereka ini memancing umat untuk mengikuti jejak mereka dalam berhijab. Benar ini mungkin baru permukaan, tapi insya Allah dan mudah-mudahan dari sana mereka semua berangkat menuju pemahaman Islam yang lebih dalam, implementasi dalam kehidupan sehari-hari juga menuju hakikat sebagaimana yang Allah kehendaki dari kita, penghambaan padaNya.

Menyitir yang pernah disampaikan Gus Mus saat Festival Mahrojan Wali-Wali Jawi beberapa bulan lalu, kita sebagai ahlussunnah wal jamaah, sudah semestinya mengambil pelajaran dari Walisongo dalam mengajak dan mendidik umat. Agar tercapai kembali Indonesia Mercusuar Dunia seperti yang dulu pernah diraihnya. Cara-cara yang dipilih mustilah yang bijaksana, tidak memaksa, tidak menakut-nakuti.


Ada banyak sekali sekarang media yang telah menyajikan berbagai informasi dan bahkan bahtsul masail bagi umat. Beberapa alternatifnya adalah Media Islam Terdepan Voice of Moslem Website resmi Nahdlatul Ulama yang menyajikan Dakwah teduh dan cinta tanah air. Bahkan ada juga yang berbentuk audiovisual layaknya TV seperti Streaming dakwah Islam terlengkap

SEA Write Award

List of S.E.A. Write Award winners

1979-1989[edit]

Until 1984, ASEAN comprising IndonesiaMalaysiaThe PhilippinesSingapore and ThailandBrunei was admitted in 1984 and its first S.E.A. Write honoree was named in 1986.
YearBruneiIndonesiaMalaysiaPhilippinesSingaporeThailand
1979Sutardji Calzoum BachriA. Samad SaidJolico CuadraEdwin ThumbooKampoon Boonthawee
1980Putu WijayaBaharuddin Zainal(Baha Zain)Nick JoaquinMasuri bin SulikunNaowarat Pongpaiboon
1981Goenawan MohamadAbdullah HussainGregorio C. BrillantesWong Meng Voon 黄孟文Ussiri Dhammachote
1982Marianne KatoppoUsman AwangAdrian CristobalM. Balakrishnan(Ma Ilangkannan)Chart Korbjitti
1983Y. B. MangunwijayaAdibah AminEdilberto K. TiempoArthur YapKomtuan Khantanu(Prasatporn Poosusilapadhorn)
1984Budi DarmaA. Latiff MohidinVirginia R. MorenoWong Yoon WahWanich Jarungidanan
1985Abdul Hadi Wiji MuthariArena Wati(Muhammad Dahalan bin Abdul Biang)Ricaredo DemetilloNoor S.I. (Ismail bin Haji Omar)Krisna Asokesin(Sukanya Cholsuk)
1986Muslim Burmat(Haji Muslim bin Haji Burut)Sapardi Djoko DamonoKemala (Ahmad Kamal Abdullah)Jose Maria SisonParanan (C. Veloo)Angkarn Kalayanapong
1987Yahya bin Haji IbrahimUmar KayamNoordin HassanBienvenido N. SantosLee Tzu PhengPaitoon Thanya(Thanya Sangkapanthanon)
1988Leman Ahmad(Haji Leman bin Ahmad)DanartoAzizi Haji AbdullahRio Alma (Virgilio S. Almario)Leou Pei Ann(Chua Boon Hean)Nikom Rayawa
1989Adi Kelana (Haji bin Haji Muhamad Said)Gerson PoykSiti Zainon IsmailLina Espina MooreSuratman MarkasanChiranan Pitpreecha

1990-1994[edit]

YearBruneiIndonesiaMalaysiaPhilippinesSingaporeThailand
1990Awang Mohd Salleh bin Abd. LatifArifin C. NoerS. Othman KelantanCarmen Guerrero NakpilRama KannabiranAnchalee Vivatanachai
1991Mohammad ZainSubagio SastrowardoyoJihaty Abadi(Yahya Hussin)Isagani R. CruzGopal BarathamMala Kamchan(Charoen Malaroj)
1992Awang Haji Abdul RahmanAli Akbar NavisIsmail AbbasAlfred YusonCheong Weng YatSaksiri Meesomsueb(Kittisak)
1993Pengiran Haji Mohd. YusufRamadhan K.H.Kamaruzzaman Abdul KadirLinda Ty-CasperMuhammad Ariff AhmadSila Komchai(Winai Boonchuay)
1994Yang Mulia Awang Haji Morshidi bin Haji Marsal (Mussidi)Taufiq IsmailA. Wahab AliBuenaventura S. Medina Jr.Naa GovindasamyChart Korbjitti

1995-1999[edit]

Vietnam joined ASEAN in 1995 and named its first S.E.A. Write honoree in 1996. Laos and Myanmar were admitted in 1997 and named their first honorees in 1998. Cambodia joined ASEAN in 1999, and named its first S.E.A. Write honoree that same year.
YearBruneiCambodiaIndonesiaLaosMalaysiaMyanmarPhilippinesSingaporeThailandVietnam
1995P.H. Muhammad Abdul AzizAhmad TohariSuhaimi Haji MuhammadTeodoro T AntonioDan Ying(Lew Poo Chan)Paiwarin Khao-Ngam
1996Pengiran Haji Sabtu bin Pengiran Haji Mohamad SallehW.S. RendraZaharah NawawiMike L. BigorniaMinfong HoKanokphong SongsomphanTo Huu
1997Awang Mohammad bin Haji TimbangSeno Gumira AjidarmaMuhammad Haji SallehAlejandro RocesElangovanWin Lyovarin
1998Badaruddin H.O.N. RiantiarnoThongkham OnemanisoneOthman PutehSinbyu-Kyun Aung TheinMarne L. KilatesAbdul Ghani HamidRaekham Pradouykham(Suphan Thongklouy)Ma Van Khang
1999Norsiah M.S.Pich Tum KravelKuntowijoyoMA.Chanthi DeuanesavanhKhadijah HashimKyaw AungOphelia Alcantara DimalantaCatherine LimWin LyovarinHuu Thinh

2000s[edit]

YearBruneiCambodiaIndonesiaLaosMalaysiaMyanmarPhilippinesSingaporeThailandVietnam
2000Pehin Dato Abdul Aziz bin JunedKong Bun ChhoeunWisran HadiSouvanthone BouphanouvongLim Swee TinDaw Yin Yin (Saw Mon Nyin)Antonio EnriquezTeoh Hee La 张曦娜Wimon SainimnuanNguyen Khai
2001Rahim M.S.(Awang Haji Ibrahin bin Haji Muhammad)Mao AyuthSaini K.M.(Saini Kosim)Somsy DexakhamphouZakaria AriffinHtin Gyi(Tekkatho Htin Gyi)Felice Prudente Sta. MariaK.T. M. Iqbal(Mohamed Iqbal)Chokchai Bundit(Chokchai Bunditsilasak)Nguyen Duc Mau
2002Rosli Abidin YahyaSeng Sam AnDarmanto JatmanViseth SvengsuksaAnwar bin RidhwanRoberto T. AñonuevoMohamed Latiff bin MohamedPrabda YoonNguyen Kien
2003Hashim bin Haji Abdul HamidKim PinunNh. DiniTheap VongpakayZakaria AliDomingo G. LandichoPhilip JeyaretnamDuanwad PimwanaBang Viet
2004Jawawi bin Haji AhmadChey ChapGus tf SakaiThongbay PhothisaneZurinah HassanCésar Ruiz AquinoSoon Ai Ling 孙爱玲Rewat PhanpipatDo Chu
2005Rahimi A.B.Miech PonnAcep Zamzam NoorBounseune SengmanyAbdul Ghafar IbrahimMalou JacobP. KrishnanBinlah Sonkalagiri(Wuthichat Choomsanit)Phu Tram
2006Sawal RajabVannarirak PalSitor SitumorangDouangdeuane BounyavongJong Chian LaiVictor Emmanuel Carmelo D. Nadera, Jr.Isa KamariNgarmpun VejjajivaLe Van Thao
2007Haji Moksin bin Haji Abdul KadirOurn SuphanySuparto BrataRatanavong HoumphanhProf. Rahman ShaariMichael CorozaRex ShelleyMontri SriyongTran Van Tuan
2008[3]Zairis M.S.Sin TouchHamsad RangkutiOthong KhaminsouHatta Azad KhanElmer Alindogan OrdonezStella KonVachara Sajasarasin(Vachara Phetchphromsorn)Nguyen Ngoc Tu
2009Hajah Norsiah binti Haji Abdul GaparFloribertus RahardiKhamseng SynonthongAzmah NordinAbdon Jr BaldeChia Hwee PhengUthis HaemamoolCao Duy Son

2010s[edit]

YearBruneiCambodiaIndonesiaLaosMalaysiaMyanmarPhilippinesSingaporeThailandVietnam
2010[4]Wijaya(Awang Mohd Jamil)Afrizal MalnaDara KanlayaZaen KasturiMarjorie EvascoJohar Bin BuangZakariya AmatayaNguyen Nhat Anh
2011[2]Mohd Zefri Ariff bin Mohd Zain AriffD Zawawi ImronBounthanong XomxaypholS.M. ZakirRomulo P. Baquiran Jr.Robert Yeo Cheng ChuanJadet Kamjorndej[5]Nguyen Chi Trung
2012[6]Pengiran Haji Mahmud bin Pengiran Damit(Mahmudamit)Oka RusminiDuangxay LuangphasyIsmail KassanCharlson Ong OngSuchen Christine LimWipas SrithongTrung Trung Dinh
2013[7]Haji Masri Haji IdrisSok ChanphalLinda ChristantySoukhee NorasilpMohamed Ghozali Abdul RashidMaung Sein WinRebecca T Anonuevo-CunadaYeng Pway NgonAngkarn ChanthathipThai Ba Loi
sumber : wikipedia