Cairo, Rumah Keduaku





Judul Buku : Mesir Suatu Waktu


Penulis : Dian Nafi dan Rabiah Adawiyah
Penerbit : PT. Grasindo
Perancang sampul : Innerchild Studio
Jumlah Halaman :124
Cetakan pertama : Juli 2013
ISBN 10 : 978-602-251-138-0




Melanjutkan studi di luar negeri memang memiliki tantangan tersendiri, apalagi kendala bahasa yang terus menghadang. Tak cuma Bahasa Inggris yang menjadi keharusan untuk dikuasai apabila ingin sekolah di luar negeri. Bahasa Arab juga penting.

Dengan bahasa, kita bisa menguasai ilmu dan tanpanya kita akan berada dalam kegelapan (kebodohan) - hal. 16

Itulah yang dialami oleh Rania saat awal mengikuti kuliah Syariah Islamiyyah di Universitas Al-Azhar, Cairo. Meskipun sudah memiliki dasar penguasaan Bahasa Arab saat bersekolah di Aliyah, Rania tetap mengalami kendala bahasa saat mengikuti kuliah. Rupanya sang dukturah (dosen perempuan) menggunakan Bahasa 'Amiyah, bahsa pasaran yang digunakan orang Arab, khususnya Mesir dalam pemakaian sehari-hari. Bahasa ini tidak sesuai dengan Bahasa Arab Fusha, Bahasa Arab fasih yang disesuaikan dengan Al-Quran.

Beruntung sekali Rania memiliki kakak-kakak senior yang berperan besar dalam membantu adaptasi bahasanya. Tak sekadar dalam perkuliahan saja uluran tangan mereka itu, berbagai aktivitas Rania selama masa perkuliahan pun makin berwarna dengan campur tangan mereka. Mulai dari menjadi kru redaksi buletin informatika, berburu minhah (beasiswa), ngupret (jelajah sejarah), bahkan hingga berangkat haji dari Mesir pun bisa dilakukannya. 

Rania sungguh berjuang untuk menyelesaikan kuliah di Al-Azhar demi memenuhi harapan ibunda tercinta. Ibu yang setiap bulan mengirimkan uang untuk biaya hidupnya yang tidak sedikit selama tinggal di Mesir. Oleh karena itulah Rania berusaha sekuat tenaga dan pikiran untuk mendapatkan beasiswa. Meski gagal mendapatkannya dari Al-Azhar langsung, dia tidak putus asa. Dicobanya taqdim (pengajuan permohonan)al-minhah (beasiswa) ke salah satu instansi pemberi beasiswa terbesar pada pelajar asing di Universitas Al-Azhar. Nama istansi itu adalah Bait az-Zakat al-Kuwayty, milik negara Kuwait sebagai pengelola dan penyalur zakat pada pelajar.

Selain serius kuliah, Rania tidak menyia-nyiakan waktu yang dimilikinya selama berada di bumi Kinanah. Berjalan-jalan hingga Alexandria dilakukannya bersama teman-teman.Mulai dari Bibliotheca Alexandrina, Planetarium, Fortress of Qaitbey, Roman Aphitheater, Montazapalace Gardens, Pompey's Pillar, Catacombs of Kom Es-Shoqafa, hingga ke Alexandria National Museum. Dengan dana terbatas, Rania harus pandai memilih sarana transportasi dan alternatif akomodasi.



Saat kakak-kakaknya pergi berhaji, Rania pun mendapatkan kesempatan untuk pergi ke Baitullah dengan cara yang sangat unik. Berawal dari keinginan sang ibu agar Rania bisa berhaji barengan dengan kakak tercintanya. Mumpung ada di Mesir, tak jauh dari Mekah dan Madinah bila dibandingkan dari Indonesia. Meskipun cukup ribet persyaratan yang harus dipenuhi, akhirnya Rania bisa juga berangkat.

Kerusuhan yang terjadi di Mesir seiring dengan gerakan untuk menurunkan Presiden Mubarak dari tampuk pimpinan sangat mempengaruhi perjalanan studi Rania. Berbagai demonstrasi terjadi, kantor polisi dibakar, penjarahan dimana-mana. Sungguh situasi yang mencekam. Warga negara Indonesia pun secara bertahap mulai dievakuasi.

Bagaimana dengan Rania dan masa depannya? Tuntaskah kuliahnya dengan kondisi negara yang rawan tersebut?

***

Kisah Mesir Suatu Waktu ini banyak memberikan wacana, tak hanya seputar lika-liku persiapan studi ke negara berbasis bahasa Arab. Berbagai tips perjalanan wisata pun ada di buku ini. Traveling ala backpacker yang kini kian digemari secara tak sengaja dipaparkan di sini.

Tokoh di dalam kisah ini, Rania, memberdayakan segala yang ada dalam dirinya untuk menjalani kehidupan anak kampus yang tidak biasa-biasa saja di negeri orang. Tekadnya untuk meringankan beban orang tua membuatnya berusaha sekuat mungkin mendapatkan beasiswa. Dengan dana beasiswa itulah Rania bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari, bahkan sanggup pula mengalokasikan dana yang ada untuk menjelajah Mesir.

Saat diundang oleh Mba Etik seniornya untuk berkunjung ke Alexandria, Rania menangkap kesempatan yang mungkin tak akan terulang lagi. Setelah berhitung dengan cermat, Rania memutuskan untuk memenuhi undangan tersebut. Berbagai penghematan dilakukannya saat bepergian ini, mulai dari memilih kereta ekonomi dengan harga karcis paling murah, hingga mempersiapkan bekal sebelum berangkat. Yah, seperti trik para backpacker pada umumnya, bila di salah satu unsur persiapan perjalanan harus mengeluarkan biaya tinggi, paling tidak di pos yang lain harus bisa dipangkas untuk menyesuaikan dengan budget yang terbatas.

Agar bisa mengunjungi berbagai tempat yang harga tiket masuknya cukup mahal, Rania melakukan berbagai pengiritan di sana-sini. Untunglah teman-teman seperjalanannya mendukung. Mereka semua backpacker handal menurut saya. Perlu dicontoh nih :)

Buku traveling ini tak semata-mata memberikan panduan bagaimana untuk sampai ke suatu tempat, kisaran biaya dan pernak-pernik lainnya. Sisi lain sang tokoh juga dieksplor dengan kuat. Penguasaan setting sangat membuat saya kagum. Berbagai istilah dengan Bahasa Arab, yang jujur saja membuat saya harus bolak-balik membuka lembar buku, ditampilkan tanpa berkesan sok. Ada kan ya beberapa buku yang menyelipkan berbagai istilah bahasa asing agar tampil modern ;)  Di buku ini selipan istilah itu justru makin memperkuat jalinan kisah yang ada.

Misalnya saja saat di bab awal, saat mengisahkan kehidupan Rania di kampus dengan berbagai masalah yang dihadapinya. Pemakaian kata dukturah, Tansiq, syahadah, Mabna Jadid, maddah dan lain sebagainya, membuat kisah ini kian nyata. Menyatu sekali dengan penggambaran tempat berlangsungnya cerita. Lumayan lah, sedikit-demi sedikit saya jadi tau juga bahasa Arab :)

Ruz bil basal, nasi putih berbumbu yang dicampur dengan sedikit mie berpotongan kecil-kecil dan dibaburi kacang-kacangan, adas dan bawangya  goreng. hal 50

Pemakaian istilah dengan Bahasa Arab ini juga dilakukan saat Rania melakukan perjalanan wisata maupun haji. Salah satunya saat menceritakan makanan khas di Mesir, ruz bil bazal. Saya sampai kepo mencari di search engine tentang makanan ini :)

Buku ini sangat recommended untuk para penggila jalan-jalan. Tak hanya Eropa dan Amerika saja loh yang memiliki tempat-tempat menawan yang layak dikunjungi. Ada Mesir di bumi Afrika yang tak kalah eksotisnya. Ada patung, sphinx, pilar, peti dari bebatuan, berbagai monumen bersejarah yang ditemukan di laut Alexandria, semua disajikan dengan indah di Roman Amphitheater dan Umudu as-Sawary (Pompey's Pillar), sebuah museum terbuka. 

Biaya perjalanan juga disebutkan dalam buku ini meski tidak berupa tabel-tabel harga :)  Jauh lebih hidup karena dikemas dalam satu rangkaian kisah. Bagaimana si tokoh begitu mencintai Cairo sebagai rumah keduanya ternarasikan dengan begitu halus di buku ini. Saya jadi bisa membayangkan utuhnya kehidupan seorang mahasiswa yang harus menyelesaikan berbagai problematika kuliah di luar negeri, berpadu dengan hangatnya kisah perjalanan yang dilakukan sang tokoh saat bepergian ke berbagai tempat, baik untuk kepentingan wisata maupun berhaji. Buku ini sangat layak untuk dikoleksi 

- See more at: http://resensibuku-uniek.blogspot.com/2014/05/cairo-rumah-keduaku.html#sthash.IPf6AoTS.dpuf

0 komentar:

Posting Komentar