Hendak Eksport?

Masukan atau ide tentang kemungkinan berdakwah Islam khas Nusantara di negara-negara Jazirah Arab dan Afrika yang mayoritas beragama Islam namun mengalami kegoncangan kemanusiaan.

Hendak Ekspor?
oleh Dian Nafi

Mungkin nggak ya jika dakwah Islam khas Nusantara diterapkan di negara-negara Jazirah Arab dan Afrika yang mayoritas beragama Islam namun mengalami kegoncangan kemanusiaan ini?
Sedangkan di dalam negeri sendiri saat-saat terakhir ini ada banyak sekali kendala. Ada banyak sekali pihak yang merecoki dan membuatnya menjadi seolah tak penting dan tak relevan dengan jaman sekarang. Dengan dalih memurnikan ajaran agama.

Bahkan saya sendiri pernah baca status twitter yang mencemooh, katanya kenapa NU memakai politik dua kaki dalam pilpres ini, konon katanya demi agar posisi menteri agama tetap jatuh ke tangan nahdliyyin sehingga paham Ahlussunnah wal jamaah bisa tetap berlangsung.
Hei! Spontanitas saya teriak, ada apa dan kenapakah memangnya kalau Aswaja tetap dijaga dan dipertahankan? Saya sampai tak habis pikir bagaimana pandangan aneh serta kesalahpahaman seperti itu bisa muncul? Astaghfirullah.

Tapi  okelah, siapa tahu justru di luar negeri, di negara-negara Jazirah Arab dan Afrika yang mayoritas beragama Islam namun mengalami kegoncangan kemanusiaan, justru dakwah Islam khas Nusantara  bisa diperkenalkan dan diterapkan.
Apalagi kita tahu bahwa cikal bakal Walisongo justru dari negara luar. Sebagian mengatakan dari Yaman, sebagian mengatakan dari Champa Cina, dari India  dan berbagai versi lainnya.

Namun tentu saja naif jika kita melakukannya demi agar menjadikan Indonesia Mercusuar Dunia. Kayaknya egois gitu ya? :D Yach, pokoknya kita melakukannya karena Islam Rahmatan Lil alamiin. Gitu aja sih.

Nah sekarang apa idenya? Gimana kira-kira caranya? Ya perbanyak saja cerita dan kisah keteladanan Walisongo dengan dakwah khas Nusantaranya ini. Kemudian suarakan ke berbagai media sosial. Apalagi kita sudah punya www.cyberdakwah.com – Media Islam Terdepan, juga www.muslimedianews.com – Voice of Moslem. Ada lagi www.nu.or.id – Website resmi Nahdlatul Ulama, www.habiblutfi.net – Dakwah teduh dan cinta tanah air, bahkan www.streamingislami.com – Streaming dakwah Islam terlengkap.

Agar menarik dan berkelas internasional, gunakan translasi dalam bahasa Inggris dan bahasa Arab juga. Supaya implementatif dengan negara yang bersangkutan, tentu saja masing-masing negara harus menyesuaikan dengan kontekstual serta budaya di tempatnya.  Karena demikianlah dulunya walisongo memberi teladan. Asimilasi terhadap budaya setempat.

Dengan dakwah yang santun dan lembut, bahkan mengkolaborasikan dengan budaya Jawa maka Islam  pun berkembang dengan pesatnya. Para ahli sepakat dan sependapat bahwa  Islam masuk ke Indonesia tidak melalui cara-cara kekerasan, melainkan dengan cara yang damai. Pendekatan dakwah yang dilakukan para dai yang datang dari Jazirah Arab, khususnya dari Hadhramaut ini menggunakan pendekatan kultural. Sehingga  masyarakat nusantara, pun terutama di tanah Jawa tidak merasa terusik dalam masalah sosial budaya. 

Begitulah kira-kira dakwah ala Nusantara bisa ditawarkan untuk negara Jazirah Arab dan Afrika. 
Seperti Islam yang masuk ke Indonesia dengan damai. Yang kala itu dibawa oleh pedagang dari India dan Gujarat, memberikan warna baru bagi tatanan sosial kemasyarakatan Indonesia. Sehingga meski dominasi agama pada saat itu adalah Hindu dan Budha, namun metode dakwah yang santun dengan tidak asal terjang dan menabrak, menjadikan Islam mudah diterima bagi masyarakat Indonesia. 

Apakah itu artinya menyudahi perang dan 'jihad'? Sementara para kafir terus menggencet? Mungkin ini situasinya lain. Bagaimana menurutmu?





2 komentar:

  1. Se7 banget mba, ayo maju terus! gpp orang blang mercusuar yang pentng nat karena Allah semata, inshaa Allah bisa!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin ya robbal alamiin. terima kasih kunjungan dan suntikan semangatnya :)

      Hapus