Proses Kreatif Penulisan Novel LYMITMHW




Semua dimulai dari keberuntungan memenangkan salah satu even Lelang Novel.di sebuah penerbit mayor. Cerpen saya terpilih, alhamdulillah. Selanjutnya sinopsis dan outline saya ajukan. Dan seusai disepakati, saya mengembangkannya menjadi sebuah novel.

Cukup lama penulisannya. Karena saya selingi dengan menulis naskah lainnya. Kalau saja saya tidak sungguh-sungguh duduk kembali dan menempelkan badan saya di tempat duduk depan laptop, mungkin naskah ini masih terus menunggu ditulis.

Alhamdulillah, setelah bersusah payah merangkai kata akhirnya naskah ini selesai dan saya kirim ke penerbit. Beberapa waktu kemudian datang catatan revisi, dan saya kembali harus berkutat dengannya.

Kisah ini tentang Faisal, developer dan kontraktor yang kewalahan menghadapi istrinya-Alin-seorang pengusaha pengadaan barang-barang interior yang memiliki over-sex dan high ekspetation dll. 

Yang paling berkesan saat penulisan LYMITMHW ini adalah saya berupaya memasukkan unsur kontemplasi sekaligus puitis dalam ceritanya. Buat saya, bermain-main dan bereksperimen selagi diperbolehkan agaknya menjadi sebuah kesenangan lain di samping mencipta karya. Karena di sana, kita mungkin mendapatkan jenis pembaca-pembaca baru bagi tulisan kita.

Sekarang, Novel LYMITMHW masih ada dalam urutan antrian untuk rilis resminya. Mohon doanya semoga semuanya lancar. Dan mari kita sama-sama tunggu dengan sabar. Terima kasih :)

Lomba Foto “Indonesia Ku”

Lomba Foto “Indonesia Ku”|DL:13Agustus2014|Total Hadiah Jutaan Rupiah

LOMBA FOTO “INDONESIA KU” Ketentuan Lomba Foto :
1. Terbuka untuk umum. (Dewan Juri dan keluarganya tidak diperkenankan mengikuti lomba)
2. Peserta tidak dipungut biaya.
3. Tema Lomba “INDONESIA KU”
4. Obyek foto : ALAM INDONESIA (lanskap, arsitektur) dan BUDAYA
5. Foto adalah hasil karya sendiri.
6. Foto dikirimkan dalam bentuk digital (softcopy).
a.Foto dikirim dalam CD ke alamat : Shao Galeri , Lt. Ground 19, Grand City Mall Surabaya, Telp. 0878 514 79196 atau email ke: nusantaraphotoclub@gmail.com. atau npc.gg03@gmail.com..
b. format foto : JPEG 8 bit, ukuran image : 1024×768 pixel sisi terpanjang 1024. r resolusi 300 dpi, besarnya filesize minimal 5MB.
c. Penulisan nama file sbb : No. urut_judul foto_nama peserta_alamat_No.HP.jpeg. Contoh sbb: 01_mystymorning_tina_jalanlangitno.5jakarta_081xxxxxx.jpeg
7. Jumlah foto yang dikirimkan maksimal 5 (lima) foto untuk setiap peserta.
8. Keputusan dewan juri mutlak dan todak dapat diganggu gugat.
9. Dengan mengirimkan karya foto berarti peserta telah dianggap menyetujui semua persyaratan dan semua ketentuan yang telah ditetapkan oleh panitia.
10.Jadwal lomba :
a. Pendaftaran lomba foto ditutup pada 13 Agustus 2014.
b. Penjurian akan dilakukan pada tanggal 14 Agustus 2014.
c. Penyerahan hadiah dan pameran dilaksanakan pada tanggal 16 Agustus 2014. Grand City Mall – Surabaya
11. Hadiah :
Juara 1 : Rp 10.000.000,
Juara 2 : Rp 7.500.000,
Juara 3 : Rp 5.000.000
Juara Harapan (3 Pemenang)

Ciri Sukses & gagal Puasa Ramadhan

20 Ciri Sukses dan Gagal Ramadhan
Ramadhan hanya datang sekali dalam setahun. Jangan biarkan Ramadhan berlalu sia-sia. Apa yang harus kita lakukan? Terapkan 20 cara meraih sukses Ramadhan dan hindari 20 ciri gagal Ramadhan berikut ini.

1. Mengobarkan rindu Ramadhan, meluruskan niat, dan memancangkan tekad untuk meraih berbagai keutamannya.
2. Membuat rencana (planing) yang matang dalam mencapai target-target ibadah dan amal shalih Ramadhan, serta target mengikis kebiasaan jahiliyah.
3. Memperlambat sahur dan mempercepat berbuka puasa.
4. Tidak berlebih-lebihan dalam bersahur dan berbuka puasa (ifthar), serta membiasakan mengkonsumi kurma atau makanan yang manis lainnya.
5. Menunaikan zakat fitrah, harta, profesi, dan lain-lain, serta banyak berinfaq dan sedekah.
6. Berusaha tilawatul Qur'an (membaca Qur'an) sampai khatam (selesai) serta menghapal dan mentadabburinya.
7. Tingkatkan pemahaman agama dengan membaca berbagai tulisan dan buku tentang Islam, khususnya tentang puasa, baik segi fiqih maupun maknawiyahnya.
8. Meningkatkan disiplin dan muraqabatullah (perasaan bahwa Allah mengawasi kita), karena puasa melatih disiplin.
9. Hidupkan malam dengan shalat tarawih atau qiyamullail dan targetkan harus bisa penuh 30 malam.
10. Menjauhkan diri dari sebab-sebab yang dapat mendekatkan diri pada kemaksiatan seperti perilaku, pergaulan, bacaan, tontonan, dan konsumsi (misalnya rokok) yang sia-sia untuk selama-lamanya.
11. Memberikan makanan berbuka kepada orang-orang yang melakukan puasa, terutama bagi mereka yang kesulitan, seperti fakir miskin dan orang yang berada dalam perjalanan.
12. Banyak berdzikir, minta ampun dan berdoa pada setiap kesempatan (duduk, berdiri, dan berbaring).
13. Memberikan skala prioritas terhadap segala aktivitas yang dapat mendekatkan diri pada Allah SWT.
14. Memperbanyak aktivitas yang berhubungan dengan kegiatan amal sosial bagi kaum dhuafa serta kegiatan dakwah.
15. Berusaha untuk saling menjaga hati, lisan, dan sikap untuk menyempurnakan puasa serta menjaga pandangan. Bagi wanita yang belum menutup aurat harus memulai menutup aurat untuk seterusnya.
16. Berusaha keras untuk bisa menjalankan i'tikaf (berdiam diri di masjid dengan tujuan mendekatkan diri pada Allah dan menyempurnakan amal ibadah kita) pada 10 malam terakhir dengan tekad meraih lailatul qadar dan memperbaiki diri.
17. Menghindari amalan yang bid'ah di bulan Ramadhan.
18. Memperhatikan dan berusaha mempraktikkan betul rambu-rambu Ramadhan, seperti hal-hal yang makruh atau haram.
19. Menyambung Ramadhan dengan melakukan puasa sunah 6 hari di bulan Syawal.
20. Tidak berlebih-lebihan dalam menyambut idul fitri dengan berbangga-bangga dalam hal makanan, pakaian, atau hal-hal duniawi lainnya.

20 Ciri Gagal Ramadhan
Sebagai sebuah medan training (tarbiyah), Ramadhan punya indikator keberhasilan. Bagaimana mengukurnya? Yang paling mudah adalah dengan melihat ciri kegagalannya berikut ini.
1. Tidak mempersiapan diri semaksimal mungkin jauh hari sebelum Ramadhan.
Persiapan diri tersebut meliputi,
pertama, persiapan hati (al-isti'dad al-ruhiy) dengan kerinduan dan kegembiraan' menyambut kedatangannya serta dengan berdoa agar bisa dipanjangkan umur sampai ke Ramadhan.
Kedua, persiapan keilmuan (al-isti'dad al-fikriy) dengan menguasai ilmu dan hakikat Ramadhan.
Ketiga, persiapan fisik (al-isti'dad al jasadiy) dengan menjaga kesehatan dan membiasakan tubuh untuk berpuasa sunnah di bulan Sya'ban.
Keempat, persiapan logistik (al-isti'dad al-maliy) dengan menyiap bekal untuk sedekah. dan
kelima, kondisikan lingkungan.
2. Gampang mengulur shalat fardhu.
Sa'id bin Musayyab mengelompokkan orang yang tak segera mendirikan shalat tepat pada waktunya ke dalam tarkush-shalah (meninggalkan shalat). Orang yang berpuasa Ramadhan sangat disiplin menjaga waktu shalat, karena nilainya setara dengan 70 kali shalat fardhu di bulan lain.
3. Malas menjalankan ibadah-ibadah sunnah.
Termasuk di dalamnya menjalankan ibadah shalatul lail Hadits Qudsi mengatakan, "Dan hamba-Ku masih mendekatkan diri kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunah sampai Aku mencintainya."
4. Kikir dan rakus pada harta Benda.
Takut rugi jika mengeluarkan banyak infaq dan sedekah adalah tanda gagal Ramadhan. Sebab; salah satu sasaran utama shiyam adalah membuat manusia mampu
mengendalikan sifat rakus pada makan, minum maupun pada harta benda.
5. Malas membaca al-Qur'an.
Ramadhan juga disebut Syahrul Qur'an (bulan al-Qur'an). Orang-orang shalih di masa lalu menghabiskan waktunya siang dan malam Ramadhan untuk berinteraksi dengan al-Qur'an.
6. Mudah mengumbar amarah.
Ramadhan adalah bulan kekuatan. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam (SAW) bersabda, "Orang kuat bukanlah orang yang selalu menang ketika berkelahi. Tapi orang yang kuat adalah orang yang bisa menguasai diri ketika marah."
7. Gemar bicara sia-sia dan dusta.
Umar ibn Khattab RAberkata, "Puasa ini bukanlah hanya menahan diri dari makan dan minum saja, akan tetapi juga dari dusta, dari perbuatan yang salah dan tutur kata yang sia-sia." (Al Muhalla VI: 178).
8. Memutuskan tali silaturahim.
Ketika menyambut datangnya Ramadhan, Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa menyambung tali persaudaraan (silaturahim) di bulan ini, Allah akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya. Barang siapa memutuskan kekeluargaan di bulan ini, Allah akan memutuskan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya."
9. Menyia-nyiakan waktu.
Termasuk gagal Ramadhan adalah lalai atas karunia waktu dengan melakukan perbuatan sia-sia, kemaksiatan, dan hura-hura. Disiplin waktu selama Ramadhan semestinya membekas kuat dalam bentuk cinta ketertiban dan keteraturan.
10. Labil dalam menjalani hidup.
Labil alias gamang, khawatir, risau, serta gelisah dalam menjalani hidup adalah tanda gagal Ramadhan. Bila seseorang meraih berkah bulan suci ini, jiwanya mantap, hatinya tenteram, perasaannya tenang dalam menghadapi keadaan apapun.
11. Tidak bersemangat mensyiarkan Islam.
Salah satu ciri utama alumni Ramadhan yang berhasil ialah ketaqwaannya semakin kuat. Salah satu wujudnya adalah semangat mensyiarkan Islam.
12. Khianat terhadap amanah.
Shiyam (puasa) adalah amanah Allah SWT yang harus dipelihara (dikerjakan) dan selanjutnya dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya kelak. Orang yang terbiasa memenuhi amanah dalam ibadah sirr (rahasia) tentu akan lebih menepati amanahnya terhadap orang lain, baik yang bersifat rahasia maupun yang nyata.
13. Rendah motivasi hidup berjamaah:
Ramadhan seharusnya menguatkan motivasi untuk hidup berjamaah. Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam saatu barisan yang teratur, seakan-akan mereka seperti bangunan yang tersusun kokoh." (Ash-Shaf [61]: 4)
14. Tinggi ketergantungannya pada makhluk.
Hawa nafsu dan syahwat merupakan pintu utama ketergantungan manusia pada sesama makhluk. Jika jiwa seseorang berhasil merdeka dari kedua mitra syetan itu setelah Ramadhan, maka yang mengendalikan dirinya adalah fikrah dan akhlaq.
15. Malas membela dan menegakkan kebenaran.
Ramadhan adalah bulan dakwah dan jihad. Maka, di tengah gelombang kebathilan dan kemungkaran yang semakin merajalela saat ini, para jebolan akademi Ramadhan seharusnya semakin gigih membela dan menegakkan kebenaran.
16. Tidak mencintai kaum dhuafa.
Ramadhan adalah bulan kasih sayang. Karena itu, rasa cinta kita terhadap orang-orang yang paling lemah di kalangan masyarakat seharusnya bertambah.
17. Salah dalam memaknai akhir Ramadhan.
Khalifah Umar ibn Abdul Aziz memerintahkan selurah rakyatnya supaya mengakhiri puasa dengan memperbanyak istighfar dan memberikan sedekah, karena istighfar dan sedekah dapat menambal yang robek-robek dari puasa.
18. Terlalu sibuk mempersiapkan lebaran, sementara i'tikaf diabaikan.
Banyak yang lupa bahwa 10 malam terakhir merupakan saat-saat genting yang menentukan nilai akhir kita di mata Allah SWT dalam bulan berkah ini Jadi fokuslah ke sini, tidak kepada urusan dunia.
19. Menganggap dan menjalani Idul Fitri sebagai hari kebebasan berbuat jahiliyah lagi.
Makna Idul Fitri antara lain berarti " kembali ke fitrah." Namun kebanyakan orang memandangnya sebagai hari dibebaskannya mereka dari "penjara" Ramadhan. Akibatnya, hanya beberapa saat setelah Ramadhan pergi, ucapan dan tindakannya kembali jahiliyah.
20. Tidak mengalami peningkatan keharmonisan dalam keluarga.
Berbagai ibadah di bulan Ramadhan adalah sarana yang sangat tepat untuk membangun keharmonisan dalam keluarga. Jangan biarkan keluarga kita tidak berhasil meraihnya.
Wallahu a'lam bish shawab.**

sumber:internet

Pemimpin Kultural

Menarik sekali apa yang dicuitkan Surya pagi ini di timeline. Dia bicara tentang pemimpin kultural.
Pagi tweeps. Saatnya kultwit lg. Kini sy mau angkat tema ttg . bahwa jd pemimpin tak slalu bth jabatan. Simak ya
1/15 punyakah Anda rekan kerja atau teman yg slalu didengar, dan diikuti saran2nya? Ciri2 tuh
2/15 ciri lainnya, khadiran slalu dtunggu, dan perintahnya diikuti scara sukarela. Pdhl dia bukan atasan.
3/15 tak jarang justru atasan yg minta pendapatnya scr khusus dan atasan tsbt mengikuti arahan beliau.
4/15 trnyt tak slalu harus punya jabatan utk jd pemimpin. Kita jg bs jd , dan ns memimpin siapapun dmanapun
5/15 saat kita jd , kita jd bd punya peran lbh besar d masyarakat, tmpt kerja, dsb
6/15 ide2 kita didengar, pendapat kita dihargai, dan kita jd andalan. krn dlm hati tiap orang, kitalah pemimpinnya.
7/15 cenderung lbh cepat promosi d tmpt kerja lho. Krn dianggap siap menempati Pemimpin Struktural.
8/15 gmana dong cara jd ? Sy bagi tipsnya. Mau mau mau???
9/15 prtama, kompetensi kita perlu mumpuni, shingga jd tmpt bertanya. Caranya? Ya belajarnya perlu plg kencang.
10/15 kalo yg lain cm sdiakan 3 jam perminggu buat blajar, kita perlu 6 jam perminggu dst.
11/15 kdua, sering2 brbagi ilmu kpd rekan krja/organisasi/masyarakat. Bagi ilmunya gratis dan sukarela, tanpa bayaran ya.
12/15 inilah cara mmbuat org lain "berhutang" pd kita tanpa harus bagi2 duit.
13/15 ktiga, hargai yg lbh "rendah", baik scara ekonomi, status, ilmu, dsb.
14/15 mnghargai yg lbh "rendah" akan mmbuat kita "tinggi" meski tanpa jabatan.
15/15 cobalah 3 tips itu. Insya Allah Anda akan jd , dan mampu mmberikan pngaruh bsar dlm masyarakat Anda.


Kalian mengenal seseorang atau beberapa orang yang punya kualifikasi #PemimpinKultural seperti di atas? Siapa? Mengapa dan  Bagaimana? Share di komentar ya?


25 Of The Best Ernest Hemingway Quotes



25 Of The Best Ernest Hemingway Quotes


“Happiness in intelligent people is the rarest thing I know.”
― Ernest Hemingway
“I love sleep. My life has the tendency to fall apart when I’m awake, you know?”
― Ernest Hemingway
“The best way to find out if you can trust somebody is to trust them.”
― Ernest Hemingway
“I drink to make other people more interesting.”
― Ernest Hemingway
“When people talk, listen completely. Most people never listen.”
― Ernest Hemingway
“Courage is grace under pressure.”
― Ernest Hemingway
“It is good to have an end to journey toward; but it is the journey that matters, in the end.”
― Ernest Hemingway
“There’s no one thing that’s true. It’s all true.”
― Ernest Hemingway
“Every man’s life ends the same way. It is only the details of how he lived and how he died that distinguish one man from another.”
― Ernest Hemingway
“Never confuse movement with action.”
― Ernest Hemingway
“The world breaks every one and afterward many are strong at the broken places.”
― Ernest Hemingway
“My aim is to put down on paper what I see and what I feel in the best and simplest way.”
― Ernest Hemingway
“The first and final thing you have to do in this world is to last it and not be smashed by it.”
― Ernest Hemingway
“Never to go on trips with anyone you do not love.”
― Ernest Hemingway
“The hard part about writing a novel is finishing it.”
― Ernest Hemingway
“In order to write about life first you must live it.”
― Ernest Hemingway
“you can’t get away from yourself by moving from one place to another.”
― Ernest Hemingway
“But life isn’t hard to manage when you’ve nothing to lose.”
― Ernest Hemingway
“All things truly wicked start from innocence.”
Ernest Hemingway
Always do sober what you said you’d do drunk. That will teach you to keep your mouth shut.
Ernest Hemingway
There is no friend as loyal as a book.
Ernest Hemingway
The only thing that could spoil a day was people. People were always the limiters of happiness except for the very few that were as good as spring itself.
Ernest Hemingway
What is moral is what you feel good after, and what is immoral is what you feel bad after.
Ernest Hemingway
Wine is the most civilized thing in the world
Ernest Hemingway
The world is a fine place and worth the fighting for and I hate very much to leave it
Ernest Hemingway
- See more at: http://quotesnsmiles.com/quotes/25-of-the-best-ernest-hemingway-quotes#sthash.6xTwz1Ej.dpuf

[Even] Lomba Menulis Cerita Pendek dan Pelatihan Menulis Cerpen


Lomba Menulis Cerita Pendek dan Pelatihan Menulis Cerpen oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) IDEA Fakultas Ushuluddin IAIN Walisongo Semarang dengan tema “Pemuda dan Lingkungan” 


Lomba Menulis Cerita Pendek 
 04 Agustus - 14 September 2014 (pengiriman naskah peserta) 

Pelatihan Menulis Cerpen

Hari/Tanggal : Selasa, 23 September 2014 

Jam : 08.30 WIB-selesai
Tempat : Fakultas Ushuluddin IAIN Walisongo Semarang
Acara : Sarasehan Kepenulisan
Pemateri : Dian Nafi  

Lomba Menulis "Aku dan Ramadhanku"

Menyambut datangnya bulan ramadhan, berbagi berkah dan hadiah, Penerbit Tiga Serangkai menyelenggarakan Lomba Menulis "Aku dan Ramadhanku". Punya pengalaman seru di bulan ramadhan? Gemar mengisi waktu luang puasa dengan membaca buku? Ayo ikutan Lomba Menulis "Aku dan Ramadhanku"Ketentuan Lomba

    WNI, usia tidak dibatasi
    Peserta membuat tulisan dengan tema "Aku dan Ramadhanku" bersama Tiga Serangkai
    Minimum tulisan adalah 300 kata
    Melakukan pembelian buku buku terbitan tiga serangkai di bulan ramadhan dan mencantumkan screen shotnya dalam tulisan tersebut
    Mencantumkan salah satu buku terbitan Tiga Serangkai dalam tulisan tersebut dan berkaitan dengan tema. Bisa menambahkan foto saat membaca buku-buku terbitan Tiga Serangkai.
    Tulisan di posting di blog, facebook notes, dan di share ke social media yang dimiliki.
    Jangan lupa cantumkan nama lengkap, alamat, No. Hp dan kirim url tulisan ke email : akudanramadhanku@gmail.com
    Cerita harus memilih salah satu kriteria berikut : A. Motivasi, B. Jenaka (lucu) tapi Sopan, C. Mendidik
    Cerita atau tulisan yang ditulis atau diikutsertakan berkaitan dengan ramadhan bersama Tiga Serangkai
    Cerita tidak boleh berunsur SARA / Pornografi
    Peserta share tulisannya yang di posting di facebook notes, atau blog ke jejaring sosial yang dimiliki.
    Waktu pengiriman adalah tanggal 28 Juni s/d 25 Juli 2014
    Pengumuman pemenang bisa dilihat di http://www.tigaserangkai.com pada tanggal 5 AGUSTUS 2014

Hadiah Lomba

    Paket buku ramadhan Tiga Serangkai untuk 3 pemenang

Periode Lomba Menulis "Aku dan Ramadhanku" adalah 28 Juni s/d 25 Juli 2014


Ayo segera tulis cerita atau pengalaman seru kamu dengan buku di bulan ramadhan di Lomba Menulis "Aku dan Ramadhanku" !

Bersholawat Bersama Alam




Aku mulai bosan. Kanan kiriku tak lagi memberi pemandangan indah, hanya gundukan tanah berwana coklat dengan sedikit hehijauan. Perjalanan Semarang- Wonosobo ini bukan kali pertama untukku. Aku pernah studi ekskursi bareng teman-teman kampus sekitar tahun 1996, berarti lima belas tahun yang lalu. What?! Setua itukah aku?
Pandanganku lepas ke pemandangan yang sekarang beralih menjadi deretan rumah-rumah penduduk. Beberapa mustaka masjid nampak dominan di antaranya. Kota ini mengingatkanku pada Lombok yang terkenal dengan sebutan pulau seribu masjid, hmm..seribu atau sejuta ya?
Beberapa kali sms dari teman-temanku masuk. Mereka baik sekali mau menungguku padahal aku belum jelas kapan sampainya. Perjalanan kali ini memang penuh perjuangan. Aku mendapat ijin dari ibu hanya beberapa menit terakhir sebelum keberangkatan.
Ibu termenung melihatku yang sudah siap pergi, dengan suara tertahan ia bertanya “Jadi ke Wonosobo?”
“Iya, bu. Doakan ya bu.”
Aku tidak ingin pergi dalam keadaan tidak direstui. Jadi aku meski berhati-hati sekali meski jelas caraku pergi memaksa beliau tak punya pilihan lain. Aku bersikeras meski berulang kali ibu menyatakan keberatannya.
“Ya. Hati-hati.”
Oh yes!
Ternyata di terminal Terboyo Semarang, aku dihadang calo. Kuatir semakin kesiangan aku mengambil saja tiket yang ia sodorkan dan kubayar dengan segera. Well well ! Benar saja dugaanku, aku dioper ke bis lain ketika sampai di Bawen. Peduli amat dengan calo sinting dan kernet sialan yang ternyata mengoperku ke bis lain tanpa membayar kernetnya. Jadi aku terpaksa membayar lagi. Tapi aku takkan membuang energiku dengan mengomel, aku pergi untuk bersenang-senang.
Bis yang berjalan sangat lambat ini semakin membuatku tak sabar. Beberapa pesan pendek dari twin dan mas Gus bersahut-sahutan dengan balasan sms-ku. Beberapa kali twin juga menelpon. Ponsel berbunyi lagi saat tiba-tiba saja tanpa ada yang memberi tahu sebelumnya, bis berhenti. Sopir dan kernet turun untuk sarapan dulu di warung pinggir jalan.
“Sampai di mana? Kok lama sekali”
Suara temanku terdengar jelas mengkhawatirkan keadaanku, mungkin agak sedikit tercampur rasa tak sabar. Secara, perjalanan mereka yang seharusnya sudah dimulai satu jam yang lalu masih harus tertunda lagi sampai entah berapa menit lagi.
“Ini sopirnya sarapan dulu. Eh, aku naik ojek saja ya biar cepat,”
Aku langsung mengambil inisiatif meski tak tak tahu persis berapa kilometer lagi rumah temanku.
Aku benar-benar buta arah dan lokasi. Yang kuyakini hanya aku menyampaikan informasi yang benar kepada tukang ojeknya, bahwa aku minta diturunkan ke pangkalan ojek selokromo. Dan tukang ojek ini pastilah orang terpercaya karena ini bukan Jakarta. Jadi aku berusaha menikmati perjalanan di atas dua roda itu.
Angin hangat dhuha pegunungan menampar-nampar wajahku. Jajaran pohon membentuk dinding hijau yang bersela-sela dengan rumah-rumah. Beberapa kali aku melihat langit yang mulai berawan. Di kakinya tampak pegunungan dari kejauhan. Aku menghirup udaranya penuh-penuh. Kalau saja tasku tidak terlalu berat, mungkin aku  sudah berdiri dan merentangkan kedua tanganku bebas ke atas. Beraksi seperti Rose yang menaiki ujung dek Titanic bersama pacarnya.
Ternyata jauh juga selokromo itu. Sudut bibirku tertarik ke atas ketika nama dusun tempat tinggal twin terucap olehku. Teringat guyonan sopir bis tadi.
“Watu kawin, mbak?”
“He?” tanyaku tak mengerti apa maksudnya.
“Watu kawin,” dia mengulangi kata-katanya itu sampai tiga kali baru aku sadar dia bicara tentang apa.
“Hehehe…iya, pak. Bisa aja bapak ini.”
“Iya kan? Selo itu waktu, kromo itu kawin,” jelas pak sopir mengundang tawa para penumpang yang duduk di sekitar kursinya.

Motor ojek akhirnya berhenti. Aku memberikan uang sesuai yang dimintanya setelah turun. Segera aku memberi kabar via sms pada twin bahwa aku sudah sampai. Dan baterei ponselku hampir habis.
Nah! Sekarang benar-benar habis. Aku tak punya pilihan lain selain menunggu. Aku duduk cemas sambil mataku berkeliling mencari kamar kecil. Tapi pandanganku tertubruk tulisan besar di dinding tanggul sungai. BLAWONG. WHAT!! Aku minta diturunkan di pangkalan ojek Selokromo dan bukannya Blawong. Oh my! Oh my! Ambil nafas…ambil nafas. Allz is well. Tidak masalah kalau aku salah turun, aku bisa naik lagi ojek untuk pergi ke tempat yang benar. Jangan sampai twin menjadi kesal karena ketika menjemputku di tempat kami janjian, di pangkalan ojek selokromo, tapi aku justru ada di tempat lain, blawong.
“Pak..nyuwun sewu, nderek tangklet.”
“Pangkalan ojek selokromo puniko pundi njih?”
“Lha mriki niki, mbak.”
“Nyuwun pangapunten. Sebab wonten mriko seratanipun Blawong, pak. Sanes Selokromo.”
Dua orang tukang ojek yang duduk di bangku bambu pangkalan ojek itu tertawa renyah.
“Sami, mbak. Mriki niki nggeh pangkalan ojek Selokromo.”
Aku tersipu malu, tidak tahu persis bagaimana roman mukaku. Apakah culun atau nampak bodoh atau cemas. Entahlah.
“Matursuwun, pak.”
Lega karena aku ada di tempat yang benar. Aku segera duduk kembali di buk beton jembatan kecil yang menghubungkan jalan raya dan jalan kampung, melintasi parit lebar di bawahnya. Keinginanku untuk berkunjung ke rumah temanku terpaksa tertunda karena sepagi-paginya aku berangkat dari Demak, tetap saja paling banter aku sampai di Wonosobo jam sembilan atau sepuluh pagi. Sehingga tak ada waktu ke basecamp temanku dan keluarganya.
**
Wajahku  pasti tampak sumringah ketika mobil sampai di depan mata. Aku  cukup gelisah menunggu lebih dari seperempat jam di atas buk jembatan itu sendirian. Ditambah rasa bersalah, karena mereka terpaksa  menungguku tadi hampir dua jam.
Senangnya setelah tahu kalau ada teman-teman yang datang dari Solo, kota kelahiran moyangku. Semuanya menjadi lebih cair dengan pembicaraan pembuka ini. Dan aku bisa mengkorek beberapa ilmu dari senior kami sepanjang perjalanan dalam mobil. Kami berangkat berwisata alam juga berwisata sejarah menuju Kawah Sikidang dan Candi Dieng. Canda tawa  menjadi penghias sepanjang perjalanan.
Hanya saja hatiku bergejolak di tengah perjalanan. Apalagi saat mobil yang kami tumpangi melewati sekerumunan orang yang meluap memenuhi lapangan tempat diselenggarakannya acara pengajian bersama habib Syeikh. Betapa ironisnya, betapa mirisnya.
Hampir saja aku melompat dari dalam mobil dan memilih bergabung dengan jamaah habib Syeikh itu. Suara habib yang damai terdengar sayup dari kejauhan seolah memanggil-manggilku. Sungguh kontras dengan pemandangan yang terjadi dalam mobil. Karena aku justru berada dalam mobil bersama teman-teman yang entah bagaimana kondisi keimanannya, mengingat sepertinya agak-agak bebas pergaulannya.
Arggh!! Bagaimana aku yang dulunya aktivis ROHIS dan ibu nyai enom sebuah pesantren bisa terjepit dalam kemaksiatan seperti ini? Apakah aku benar-benar harus melepaskan diri dari rombongan ini dan bergabung dengan habib Syeikh?
Tapi pikiran warasku langsung bekerja. Aku tak mungkin turun di sini. Wonosobo bukan daerahku, aku sungguh buta dan mungkin tak tahu jalan pulang seandainya aku nekat. Pikiran warasku yang lain membisikiku, Tuhan tak mungkin membiarkan aku dalam situasi ini jika Dia tak ingin aku melakukan sesuatu. Iya kan? Tapi apa yang bisa kulakukan? Haruskah aku menegur mereka? Mungkin itu bukan sikap bijaksana. Bagaimanapun aku bukan yang dulu lagi, yang kurang matang dalam bersikap. Tuhan pernah menempatkan aku sedemikian rupa sehingga aku bisa memahami jalan pikiran  mereka.
Pandanganku lepas ke luar jendela mobil yang kubiarkan terbuka. Angin pegunungan menerpa wajahku,sejuk. Lukisan sang maha Kuasa di depan mata sejenak mengalihkan perhatianku pada debat dalam nuraniku.
“Wow! Subhanallah!” seruku hampir bersamaan dengan yang lainnya. Tampaknya semua yang ada di mobil takjub dengan hamparan sawah yang menghijau.
Klik klik.
Kamera kami sibuk mengabadikan  puisiNya yang sangat menawan. Hijau dalam keteraturan terasering yang apik. Berpadu dengan coklat bebatuan pegunungan menjadikannya harmoni seperti lagu merdu. Oh! Aku mendengarMu, Tuhan. Sungguh, Alam raya ini, lekuknya, sudutnya, lengkungnya. Bagaimanakah sampai aku mengira Engkau keliru menempatkanku di sini, bersama mereka. Mereka juga hambaMu seperti aku. Bahkan dengan kesetiakawanan  yang mereka tunjukkan dengan mau menungguku satu jam lebih tadi pagi, mungkin mereka bahkan lebih baik dariku. Jadi siapalah aku jika mau menyombongkan diri dan merasa bersih?
Sesampai di tempat wisata, hujan makin mengguyur, namun kami tak mundur. Kebersamaan begitu terasa, apalagi saat harus menggunakan satu payung untuk bertiga sampai berlima orang.
Teman-teman baruku ini ramah-ramah dan aku haru, basah dan larut dalam kebersamaan bersama mereka sejak kilometer pertama perjalanan kami. Kemudian menjadi basah beneran karena kehujanan sama –sama di Dieng, kawasan wisata yang kami kunjungi untuk wisata sastra kali ini.
Kami tertawa dan berpose bersama di depan kawah. Di antara bau belerang menyengat, bebatuan dan pasir berwarna coklat kekuningan. Di bawah langit yang kemudian gelap oleh awan hitam yang berarak. Lalu hujan turun dari rintik sampai deras, sebentar terhenti sebentar kemudian deras lagi. Aku benar-benar basah. Basah oleh air, juga basah oleh cinta dan persahabatan.Tak sia-sia aku menempuh hampir enam perjalanan dari rumah ke Wonosobo. Aku mendapatkan charge energi untuk jiwaku. Terima kasih Tuhan untuk karuniaMu dan caraMu yang tak biasa.

Selamat Harlah Kabupaten Wonosobo yang ke-189 tahun. Semoga makin seksi dan eksotis!

Postingan artikel ini diikutsertakan dalam Giveaway #HariJadiWonosobo189