Detoksifikasi Selama Ramadhan

Pada saat kita melaksanakan segala hal dalam Ramadhan, kita harus memastikan untuk membersihkan segala aspek dalam hidup kita. Banyak dari kita yang sholat malam untuk memohon pengampunan, membaca Al-Qur’an dan berurai air mata, dan melakukan banyak kegiatan amal. Tetapi ada satu area yang harus kita perhatikan, yaitu urusan emosional. Apa pentingnya menghadapi permasalahan emosional kita? Selama kita melaksanakan puasa, sholat, membaca Qur’an, sedekah, bukankah cukup? SALAH. Kondisi emosional dan psikologis memberikan pengaruh yang besar pada perbaikan spiritual. Jika kita merasa depresi, tegang, menahan marah, merasa kecemburuan, saat itu lah kita berada dalam kekacauan secara emosional – fokus dan perhatian kita akan lebih terarah pada masalah-masalah sehingga kita tidak akan melaksanakan ibadah secara sepenuh hati, kita hanya terarah pada masalah-masalah kita. Untuk menjadikan diri kita bersih dari racun emosional, kita butuh detoksifikasi emosional untuk membersihkan diri dari banyaknya beban emosional yang berbahaya dan justru bisa berpotensi mematikan jiwa kita.
Detoksifikasi Emosional Selama Ramadhan
Detoksifikasi Emosional Selama Ramadhan
Racun #1 Memendam Amarah/Kebencian
Apakah ada seseorang di dalam hidup kita yang menyakiti kita, membohongi kita, mencampakkan, atau memperlakukan kita dengan kejam dan kita memendam amarah? Apakah kita merasa marah dan depresi karena semua hal itu? Pada saat kita dalam kondisi ditekan oleh orang lain, kita memiliki pilihan yaitu menjadikan diri kita korban atau mengasihani diri sendiri atau sekedar menerimanya dan move-on. Kemarahan/kebencian seperti halnya koper yang berat yang kita bawa ke mana-mana, mereka akan membebani kita. Belajarlah untuk membebaskan diri kita dari kebencian dan kemarahan.
Tidak peduli betapa lengahnya kita, betapa egois atau merosotnya hidup yang dijalani, selalu ada harapan untuk membuat perubahan. Pertama-tama, maafkan kesalahan kita di masa lalu – ingatlah tidak ada batasan dari ampunan Allah-karena pintu taubat selalu dibuka.
Hadith Qudsi: “Wahai anak cucu Adam, bilamana dosamu mencapai awan di langit dan kamu memohon ampunan pada-Ku, aku tentu akan memaafkanmu.” (HR Tirmizi)
Maafkan orangtuamu, pasanganmu, saudaramu, atau siapapun yang pernah membuat kita merasa sedih. Daripada malah marah-marah, sadari lah bahwa selalu tersimpan kebijksanaan dari-Nya di dalam apapun yang kita hadapi. Merupakan hal yang sulit di dalam hidup untuk membentuk kitadan membuat kita menjadi orang yang lebih kuat. Rangkul lah masa depan dan masa sekarang agar kita bisa membebaskan diri kita secara utuh.
Siapapun yang terluka dan memaafkan, Tuhan akan menaikkan statusnya ke derajat yang tinggi dan menghapuskan salah satu dosanya. (HR Tirmizi)
Seperti halnya menonton pertandingan antara nafsu (ego) – berjuang lah untuk melawan kejahatan untuk membersihkan dan memurnikan hati kita. Atasi keinginan untuk memendam amarah/kebencian/merasakan dendam. Rasulullah SAW menginspirasi kita dalam sunnah-nya dalam hadits berikut:
“Allah telah memerintahkanku untuk mempertahankan tali silaturahmi dengan orang-orang yang telah memutus tali silaturahmi denganku, untuk memberi kepada mereka yang menjauh dariku, dan memafkan kepada orang-orang yang menindasku.”
Rasulullah dengan para sahabat telah melampaui altruism. Mereka memiliki kemurahan hati yang tidak terukur kepada orang-orang yang telah menyiksa mereka dan mereka memaafkan dan memberikan kebaikan kepada para penindas yang terburuk. Esensi dari rasa maaf yang sesungguhnya adalah melupakan. Tidak mengungkit-ungkit kesalahan masa lalu seseorang merupakan hal yang paling bermartabat dan dewasa yang bisa kita lakukan.
Coba pikirkan tentang seseorang yang telah dijanjikan surga karena dia memaafkan setiap orang sebelum tidurnya – betapa mudahnya hal itu? Tidak butuh biaya apapun, dan tidak butuh pula usaha. Kita hanya butuh keputusan untuk meaafkan.
Racun #2 Kemarahan
Kemarahan adalah emosi natural manusia yang bisa memotivasi diri kita untuk melaksanakan sebuah tindakan. Jika kemarahan tidak disalurkan secara benar, kemarahan mampu membawa kita pada masalah kesehatan dan psikologis yang serius, kekerasan, dan bahkan perpecahan. Belajarlah untuk mengontrol kemarahan kita atau kemarahan kita akan mengontrol kita.
Rasulullah SAW bersabda, “Orang kuat bukanlah orang yang memiliki kekuatan fisik yang kuat, tetapi orang yang mampu mengontrol amarahnya.” (HR Bukhari)
Beberapa hal biasanya dikaitkan dengan rasa marah. Pada saat kita menerima nasib kita dan menyadari bahwa apa yang telah terjadi pada diri kita sekarang adalah hal yang terbaik yang kita terima, maka dari itu kita akan mudah mengontrol kemarahan kita. Hal dan unsur yang terpenting dalam menahan dan menghadapi kemarahan kita adalah memiliki kepemimpinan secara emosional dan bersikap dewasa setiap saat. Akan sangat mudah dan kritis untuk sebuah kemarahan mengambil alih peraasan kita dan berhentilah untuk menyalahkan orang lain. Kita sendiri lah yang memiliki kekuatan untuk memutuskan marah atau tidak. Jika kita memiliki daftar panjang orang-orang yang mudah membuat kita marah – mulailah untuk tidak menunjukan rasa sensitif kita terhadap orang yang mudah menekan amarah kita.
Saat Rasulullah SAW ditanya soal nasihat, Rasulullah bersabda, “Jangan marah!” sampai tiga kali. Alasan Beliau menekankan agar orang-orang tidak cepat marah adalah karena kemarahan akan membawa kita kepada banyak masalah dan juga dosa. Pada saat seseorang marah, mereka akan mudah menyakiti perasaan orang lain, bergosip, menyakiti seseorang secara fisik, atau berperilaku secara merusak. Cara terbaik untuk mencegah marah adalah berhenti sejenak, ambil napas dalam-dalam, dan buatlah afirmasi positif pada saat kita berucap istighfar (meminta maaf).
Racun #3 Kecemasan
Bahaya dari merasakan kecemasan adalah saat rasa cemas tersebut mengonsumsi diri kita dan membuat kita terlarut di dalamnya. Pada saat seseorang terlarut dalam kecemasan, mereka akan sulit fokus, tidak merasa damai, atau kehilangan kepercayaan di dalam hati mereka masing-masing. Kecemasan dapat mempengaruhi keimanan seseorang dan produktivitas seseorang. Banyak kejadian orang merasa digerakan secara tidak sadar pada saat mereka merasakan kecemaasn. Banyak orang hidup dalam penyesalan masa lalu atau kekhawatiran akan masa depan yang pada akhirnya menciptakan kecemasan yang berlebihan. Satu-satunya cara untuk mencegah kecemasan adalah untuk hidup di masa sekarang. Jika kita fokus pada masa sekarang tanpa mengkhawatirkan masa lalu maupun masa depan, maka kita akan mulai merasakan nikmatnya hidup dan arti dari kehidupan. Untuk mencapainya, kita harus selalu senantiasa percaya bahwa Allah Maha Bijaksana. Apapun yang Allah kehendaki memiliki pelajaran, dan kita harus percaya pada Allah dan menerima takdir kita, dan Insya Allah kita akan dihilangkan oleh perasaan cemas. Ambil kontrol pada apa yang hendak kita ucapkan kepada diri kita sendiri, karena saat kita berbicara pada diri sendiri kita dapat membantu diri kita untuk mencapai kedamaian atau malah membawa kita pada kecemasan yang mendera. Daripada bicara, “Oh tidak, aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan,” katakanlah, “Aku tahu apapun akan bekerja dengan sangat baik dan aku mampu mengatasinya, Insya Allah.”
Saya memiliki seorang klien yang memiliki disorder kecemasan yang akut, dan orang lain yang memiliki ketakutan dan telah belajar bagaimana mengatasi kecemasan mereka dan menjalani hidup yang damai. Beberapa orang mengatakan: semua hal itu ada di dalam kepalamu—jika kita berpikri akan kehilangan sesuatu itu, kita akan kehilangannya, dan jika kita belajar untuk mengontrol dan tetap tenang, kita akan dijaga dan dapat menghadapi segala macam musibah. Cara paling baik adalah untuk menenangkan hati kita dan mencari pertolongan Allah dengan cara berdoa agar lebih bersabar. 
Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu. (QS Al-Baqoroh 2:45)
Racun #4 Rasa Depresi
Kebanyakan orang merasa depresi karena beberapa hal tidak bekerja sesuai dengan apa yang mereka rencanakan. Mereka akan merasa tidak berdaya dan tidak ada harapan untuk mengambil kontrol dalam kehidupan mereka. Jika seseorang terlibat dalam perasaan depresi, mereka akan larut dalam kesedihan, rasa putus asa, dan apati. Mereka kebanyakan justru jadi tidak mampu melaksanakan apapun untuk mereka sendiri dan mereka tidak mampu untuk berkonstribusi pada masyarakat. Depresi mengambil kontrol dalam kehidupan seseorang dan membuat mereka tidak produktif dalam berbagai cara.
Kebanyakan klien saya merasa deperesi dan cara saya membantu mereka adalah dengan cara fokus pada banyaknya anugrah yang diterima dan menambahkan rasa bersyukur dalam keseharian mereka. Pada saat mereka mulai merasa bersyukur, saya mengajarkan mereka cara untuk menerima keberadaan mereka. Tidak peduli betapa sulitnya situasi yang dihadapi, saya memberi tahu mereka bahwa ini hanyalah ujian dan mereka harus lah menerimanya untuk lulus dari ujian tersebut.
Cara paling baik untuk menghalau deperesi adalah untuk memaksakan diri kita ke dalam sebuah aktivitas bahkan pada saat kita tidak memerlukannya. Bergaul dengan teman, olahraga setiap hari, dan mengisi kelas. Cara-cara ini menjamin kita untuk menghindari spiral depresi. Cara tercepat untuk menghadapi depresi adalah dengan cara membantu mereka yang memerlukan. Semakin sering dan semakin banyak kita terlibat dalam membantu orang-orang yang kurang beruntung, kita akan semakin bersyukur pada hidup kita.
Racun #5 Rasa Pesimis
Jika kita memilih untuk menatap hidup kita dari kacamata pesimisme, semuanya akan mencegah kita dalam menghargai setiap nikmat yang kita dapatkan dan membuat kita menjadi seorang pengkomplain yang kronis, yang pada akhirnya akan membuat kita dan orang-orang di sekitar kita merasa sengsara. Pada saat kita menjadi seorang yang pesimis, kita akan mulai mencari kesalahan dari apapun dan siapapun, kita akan kehilangan harapan dan tidak antusias terhadap masa depan. Seorang yang beriman akan merasa optimis karena mereka percaya kekuatan dari Sang Pencipta dan segala hal diatur secara baik. Mereka tidak akan mempertanyakan masa lalu dan masa sekarang, karena mereka tahu Allah Yang Maha Bijaksana tidak akan membiarkan kita tersiksa. Selalu cari apapun yang baik untuk situasi kita dan perbaikiliah pola pikir kita dan carilah makna dari setiap peristiwa.
Rasulullah bersabda, “Betapa luar biasanya orang-orang yang beriman, apapun yang menimpa mereka adalah kebaikan, dan hal ini tidak berlaku pada orang lain kecuali orang yang beriman. Jika ada sesuatu yang baik menimpa mereka, mereka akan bersyukur hal tersebut adalah baik untuk mereka. Dan jika ada keburukan yang menimpa mereka, mereka akan tetap bertahan dengan kesabaran dan hal tersebut adalah baik untuk mereka.” (HR Muslim)
Racun #6 Kecemburuan
Pada saat kita merasakan kecemburuan, akan ada api yang membakar hati kita sehingga menghalangi kita dari perasaan damai dan puas. Yang menjadi permasalahan dalam kecemburuan adalah pada saat kita mulai membandingkan diri kita dengan orang lain. Perbandingan ini akan membawamu dalam perasaan yang tidak pernah berkecukupan, merasa tidak menarik, miskin, merasa tidak beruntung, dan sedih. Siapapun yang merasakan kecemburuan tidak akan mengerti konsep qadr. Allah adalah satu-satunya yang membagikan kekayaan, kesehatan, status, dan apapun; tetapi jika kita merasa kecemburuan dan berharap diri kita mendapatkan hal-hal yang lebih dari orang yang kita cemburui, maka dari itu secara tersirat kita merasa lebih dari Allah SWT. Tidak ada seorang pun yang memiliki hak untuk mempertanyakan dan meragukan Allah, tetapi jika kita terus menerus mengeluh dan berpikir itu tidak adil, maka kita justru tengah mempertanyakan dan meragukan Allah.
Kecemburuan adalah penyakit hati yang harus kita atasi. Fokus pada banyaknya anugrah yang kita dapatkan dan berhentilah membandingkan diri kita dengan orang lain. Orang-orang yang harus kta bandingkan adalah orang yang lebih buruk keadaannya dari diri kita sehingga kita bisa mengisi hati kita dengan rasa bersyukur.
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS Ibrahin 14:7)
Pahami lah bahwa setiap anugrah pun adalah ujian. Pada saat kita merasa tidak memiliki sesuatu, bisa jadi justru itu adalah tanda kasih sayang Allah SWT. Mulai lah menunjukan rasa bersyukur dari apa yang belum kita miliki, karena bisa jadi jika kita sudah memilikinya… kita malah justru membangkang.
Racun #7 Rendah Diri
Rendah diri dapat mempengaruhi hidup kita dengan cukup dahsyat. Jika kita tidak merasa baik tentang diri kita sendiri, kita akan merasa depresi dan kita tidak akan dapat mencapai tujuan kita. Terkadang kita bisa menjadi orang yang mengkritisi diri kita sendiri secara keras. Mulai meminimalisir pikiran-pikiran yang merusak. Setiap orang berbicara pada diri mereka sendiri sebanyak 600 kata semenitnya dan 85%nya negatif. Berikan pikiranmu sesuatu yang baik, perbaiki lah. Mulai lah berpikir positif dan kelilingi dirimu sendiri dengan orang-orang positif. Persembahkan dirimu dengan banyak kesempatan untuk mendapatkan pencapaian-pencapaian kecil dan merayakan kesuksesan.
Racun #8 Judgemental
Menghakimi orang lain bisa menjadi cara paling cepat untuk menjauhkan seseorang dari kita dan membuat sebuah jarak. Setiap kali kita melihat seseorang dari kacamata yang menghakimi, seperti mengevaluasi komitmen seseorang, cara berpakaian orang lain, bagaimana cara seseorang memilih model hijab dan aktivitas yang digelutinya, akan menciptakan sebuah pembatas. Seseorang yang kita hakimi tentunya akan sangat menolak apa yang kita ungkapkan dan mereka akan memberikan emosi negatif mengenai diri kita dan Islam. Cara efektif untuk merepresentasikan Islam adalah dengan cara menerima dan tidak menghakimi orang. Jangan lihat cloning spiritual diri kita dan melabelkan orang lain pecundang. Berusahalah sebaik-baiknya untuk menerima dan bertoleransi pada semua orang.
Sayangnya, semakin seseorang menjadi religius, justru membuat mereka semakin kritis dan menghakimi. Sangat memalukan dan menyedihkan jika kita merasa sombong karena merasa lebih religius daripada orang lain. Padahal menjadikanmu religius adalah bentuk kasih sayangnya karena membiarkan kita berada di jalan yang benar, dan Allah dapat mencabut semuanya dari dirimu secara instan jika kita terus melihat seseorang lebuih rendah dan bahkan membuat mereka akan jauh dari Islam dengan cara-cara kita yang kasar dalam menghakimi seseorang.
Racun #9 Berhubungan dengan Racun
Ada beberapa orang yang berhubungan dengan kita yang bisa menjadi racun untuk hidup kita. Orang-orang ini biasanya pesimis, tidak pedulian, atau benar-benar tidak memiliki tujuan dalam hidup mereka. Semakin sering menghabiskan waktu berasma orang-orang seperti ini, pelan-pelan kita akan terpengaruh oleh racun mereka dan terinfeksi seluruhnya. Cobalah hindari mereka dan batasi waktu untuk bergaul dengan mereka. Atau seimbangkan pengaruh negatif dari mereka dengan menyempatkan diri bergaul dengan orang-orang positif dan berkomitmen dalam hidup mereka. Jika orang-orang seperti ini adalah anggotal keluarga kita, cobalah untuk memahami bahwa ada kebijakan hidup mersama mereka dan batasi waktu bersama mereka tanpa harus menghindari mereka.
Racun #10 Kebencian
Jika kita memiliki racun di dalam hati kita, sebaiknya bersihkan perasaan-perasaan itu di Ramadhan. Menyimpan perasaan benci akan mengeluarkan racun dalam diri kita, membunuh semangat, dan membuat kita menjadi orang yang sinis. Pahami alasan di balik kebencian kita dan berusahalah sebisa mungkin untuk mengatasi perasaan kebencian ini dengan menerima takdir kita dan percaya pada rencana-rencana Allah. Ingatlah, pada saat kebencian mereda, di sana lah penyembuhan dimulai. Isi lah hati kita dengan cinta dan berdoa pada orang-orang yang tidak disukai agar kita mendapatkan hati yang lembut dan pahala.
Jadikanlah hal-hal ini sebagai tujuan pada Ramadhan, singkirkan racun-racun tersebut dengan melakukan detox emosional sehingga hati kita akan benar-benar bersih dan siap untuk menghadapi sisa tahun ini. Jika kita berusaha untuk menyingkirkan racun dari salah satu racun tersebut, kita akan memperbaiki diri kita lebih baik keseluruhan secara spiritual dan emosional selama kita terus memperbaiki hubungan kita dengan orang-orang, Insya Allah.
(diterjemahkan dari http://muslimmatters.org/2013/08/04/emotional-detox-during-ramadan/)

sumber : http://syaamilquran.com/detoksifikasi-emosional-selama-ramadhan.html

0 komentar:

Posting Komentar