Semakin Mudah Dan Murah

Alhamdulillah, sekarang buku-buku saya sudah memiliki format digital. Mereka bisa ditemukan di toko-toko buku online yang menjual buku-buku digital semacam Google Play,  Gramediana, Wayang Force, Qbaca, .

Bagi teman-teman yang kesulitan mencari beberapa buku saya, terutama terbitan lama, silakan membeli di sana. Selain harganya lebih murah, membaca format digital juga menyenangkan terutama kalau kita sedang dalam perjalanan.  And btw, buku digital sebenarnya juga lebih ramah lingkungan.

ini dia link-nya :
http://gramediana.com/en/search/search_result?utf8=%E2%9C%93&query=dian+nafi&search_type=general&button=

https://www.wayang.co.id/index.php/toko/buku/semua/baru_terbit/semua/dian_nafi

http://www.getscoop.com/books/author/dian-nafi
http://www.getscoop.com/buku/mesir-suatu-waktu-22648

http://www.getscoop.com/books/just-in-love
http://www.uzone.co.id/book/detail/book/MZN1_RMAHBUKU00000795_01




Selamat membaca :)

[Catatan dari Sharing Kepenulisan #2] Where Is The Oase?




Bagaimana rasanya kalau kamu tiba di sebuah medan yang sama sekali kamu tidak ketahui sebelumnya? Selain  terbersit kekhawatiran dan kecemasan, tentulah membumbung harapan dalam dada. Harapan akan adanya oase terutama karena tempat yang kita tuju itu punya kesamaan 'bentuk' dengan tempat-tempat yang biasanya memberikanmu oase. 

So, ketika  pada akhirnya kamu tidak langsung begitu saja mendapatkan oase yang kamu idam-idamkan, segera saja cemas membekap dirimu. Ada apa nih? Apa yang salah? Seharian itu aku mencari-cari, sampai semalaman saat aku beranjak ke peraduan, belum juga kutemukan. 

Betul, aku mendapatkan banyak hal selama dalam perjalanan menuju kemari dan juga selama beberapa jam aku tinggal di tempat ini. Tapi bentuknya adalah wawasan, pengetahuan, ilmu, pengalaman, kegembiraan karena bersilaturahim, kesenangan karena berbagi dan semacamnya. Tapi mana oase itu? aku terus menerus mencari, dan aku terus menerus cemas... 


bersambung ya...........:D


Profil Dian Nafi di Koran Sindo


jadi ceritanya, hari minggu 26 Oktober 2014 kemarin, profilku alhamdulillah dimuat di media nasional Koran Sindo. versi korannya sendiri aku belum dapat, tapi ada follower yang mention di twitter dan memberi tahu ada link artikel ini nih : nasional.sindonews.com/read/915506/18/identitas-spiritualisme

berikut ku-copas dari sana:


Dian Nafi termasuk salah satu perempuan penulis paling produktif di Indonesia. Sejak 2008 hingga kini, dia telah merilis 18 novel dan terlibat dalam 84 buku antologi. Melalui berbagai tulisannya yang kuat dari segi spiritual, insinyur teknik arsitektur dari Universitas Diponegoro ini tak hanya berbagi kisah, tapi juga inspirasi dan motivasi.

Dian Nafi mencitrakan dirinya sebagai pecinta purnama dan penikmat hujan. Bagi dia, purnama sering membuat dirinya teraktivasi sehingga menjadi "high" sementara hujan membawa nuansa romantis dan unspoken moment. Dan menulis bagi Dian adalah cara terbaik menuangkan perasaan-perasaan tersebut sepuasnya. Berikut wawancara dengan pemenang lomba menulis kisah inspiratif Indiva ini.

Latar belakang Anda adalah arsitektur. Sedangkan saat ini Anda lebih aktif sebagai penulis. Apakah Anda vakum dari aktivitas sebagai arsitek?

Saya masih menerima pesanan mendesain rumah tinggal dan bangunan lainnya walaupun tidak sebanyak dulu saat masih fokus bekerja di perusahaan konsultan arsitektur. Ada banyak ilmu arsitektur yang saya dapatkan yang bisa diaplikasikan dalam penulisan. Misalnya, perancangan, perencanaan, teknik presentasi, analisis, logika, dan keseimbangan. Itu semua berguna untuk menulis.

Sulit mana, merancang bangunan atau "merancang" cerita?

Sejak dulu sebenarnya saya aktif menulis tapi saya simpan sendiri. Perkenalan dengan tulis menulis bermula saat ayah menghadiahkan sebuah buku harian saat ulang tahun Ke-8 saya. Beliau yang mendorong saya untuk menulis. Semasa sekolah dan kuliah, saya aktif di redaksi majalah dinding dan buletin kampus. Bagi saya, menulis itu mudah-mudah sulit, sulit-sulit mudah. Mudah karena idenya bisa ditemukan dan didapatkan dari mana dan kapan saja. Sulit karena menulis itu bukan saja seni bagaimana kita merasa, tapi juga lebih kepada proses berpikir. Writing is thinking.

Saya mendapat inspirasi menulis dari banyak hal, mulai dari peristiwa di sekitar saya, kisah orang-orang dekat sampai curhatan teman, sahabat, kenalan dan dari buku-buku non-fiksi seperti biografi dan kisah-kisah inspiratif. Hal sulit lainnya adalah bagaimana mengeksekusi ide menjadi tulisan yang bernas, mengalir, menyentuh, danmencerahkan. How to convey the message, the idea? Bagaimana menyampaikan pesan dengan cara yang tepat, baik dari gaya bahasa, pilihan kata, maupun emosinya dengan cara tidak menggurui. Itulah yang menjadi pekerjaan rumah terus-menerus sepanjang waktu.

Bagaimana tulisan-tulisan Anda kemudian dibukukan dan menjadi komersial?

Saya menggemari menulis sejak lama namun tidak pernah menyangka bahwa pada akhirnya akan berkecimpung lebih dalam dan lebih jauh di dunia tulis menulis. Pada 2008 saya harus menjalani masa iddah, tinggal dalam rumah selama empat bulan sepuluh hari karena suami saya meninggal dunia.

Dalam masa senggang sekaligus duka itu mulailah saya bersinggungan dengan Facebook dan banyak menulis curahan hati. Di saat berkabung seperti itu, menulis seperti terapi bagi saya. Beberapa teman di dunia maya akhirnya mendorong saya untuk mengikuti lomba menulis. Sekali menang, kedua kali menang lagi, ketiga kali menang lagi, dan akhirnya kecanduan hingga sekarang. Pada 2009, saya baru menulis untuk publik dan pada 2010 saya merilis novel debut berjudul Mayasmara. Dulu, menulis hobi saya namun untuk sekarang sepertinya menulis jadi karier he he he......

Bagaimana proses kreatif Anda dalam menulis cerita?

Setelah mendapatkan konsep dan premis, saya selalu membuat outline terlebih dahulu. Dari kerangka tersebut, saya menjadi tahu bahan-bahan apa saja yang harus saya riset jika belum punya bahannya dan mana yang bisa dikerjakan terlebih dahulu terutama jika saya sudah menguasai bagian itu. Jadi saya bisa memulai dari mana saja. Saya juga aktif menulis puisi, cerita pendek, cerita panjang, dan beberapa kisah inspiratif. Berbagai karya saya dibukukan bersama tulisan penulis lain. Sudah ada 84 buku antologi.

Pernah stucksaat menulis?

Jika terjadi kemacetan dalam menulis, saya sering brainstormingdengan guru-guru saya. Saat brainstorming, mereka dengan senang hati melempar pertanyaan-pertanyaan bernas dan bermutu yang kadang-kadang memancing jawaban dari bawah sadar saya. Atau jika saya memang belum punya jawabannya, dari sanalah saya bergerak untuk melakukan riset lanjutan.

Hal apa yang membuat Anda ingin terus menulis?

Ada banyak sekali ide cerita yang ingin saya tuliskan. Benih cerita-cerita dalam kepala itu mendorong saya untuk terus menulis. Alhamdulillah tidak habis-habis. Sebagian ide yang belum sempat saya kembangkan saya tuliskan dalam buku khusus ide dan plot. Ada juga yang berserakan di notes-notes kecil yang saya bawa dalam perjalanan kereta atau bus. Sebagian lagi bahkan saya tulis dalam bentuk singkatan-singkatan karena media yang sempit, post-it.

Apa asiknya atau puasnya menulis bagi Anda?

Rasanya plong, seakan-akan ganjalan cerita yang mendesak-desak minta dikeluarkan dari dalam kepala dan hati akhirnya mengalir. Rasanya seperti sukses membayar utang janji pada diri sendiri. Selama proses penulisan, saya menjadi memahami diri sendiri dan orang lain dengan cara lebih baik lagi. Rahasia-rahasia serta hakikat kejadian dan peristiwa seperti dibukakan oleh-Nya pada mata hati saya yang sebelumnya tertutup ego, persepsi sendiri, atau persepsi orang lain.

Bagaimana sensasinya membuat theatre of mindyang masuk logika fiksi?

Saya suka was-was juga, takutnya malah terkesan mengada-ada, klise, atau malah dianggap tidak logis. Jadi terkadang, saya membuat beberapa alternatif adegan atau kejadian untuk dipilih yang terbaik. Tak jarang juga saya brainstormingdengan teman atau mentor mengenai kemungkinan- kemungkinan adegan sebab akibat. Dalam perjalanan editing, seringkali datang tambahan ide untuk improvisasi agar lebih logis dan tidak terjadi plot-hole atau semacamnya. Kadang-kadang, kita perlu membebaskan diri untuk tidak terlalu “kaku” pada plot yang telah disiapkan. Dengan begitu, seiring proses akan ditemukan kejutan yang tidak terduga.

Menurut Anda, di mana kekuatan tulisan Anda?

Latarbelakang keluarga saya yang berasal dari keluarga santri. Saya sendiri juga aktivis kerohanian Islam dan kehidupan haroki semasa kuliah. Hal ini membuat saya memiliki sudut pandang religius tapi berusaha tidak hanya ada hitam dan putih. Saya suka sekali memasukkan kontemplasi dan perenungan dalam tulisan dan cerita saya. Teman-teman pembaca menyukai dan menganggap spiritualisme yang hampir selalu mewarnai tulisan saya ini sebagai identitas dan ciri khas.

Apa garis merah di setiap tulisan Anda?

Saya punya bagan besar yang menjadi cikal bakal banyak tulisan dan cerita saya. Terinspirasi dari novel Para Priyayi karya Umar Kayam, namun saya membuatnya lebih ke versi kehidupan dan dunia pesantren yang memang juga sama kuat akarnya serta mempunyai pengaruh signifikan pada personal-personal di dalamnya. Berbagai karakter itulah yang kemudian menggerakkan cerita-cerita ini.

Apakah Anda mempunyai obsesi dalam menulis?

Saya masih punya pekerjaan rumah dari salah seorang penulis kelahiran Indonesia yang tinggal di Amerika. Dia sudah lama sekali ingin menerbitkan tulisan saya, tapi saya masih belum bisa setorkankepadanyasampaisaat ini. Terbayang, saya menuliskan novel berlatar Demak berbau sejarah seperti Gadis Kretek, punya nilai filosofis yang tinggi tapi juga sekaligus up to date untuk masa sekarang. Kisah yang bisa mencerahkan dan menggerakkan banyak orang menuju hal-hal yang lebih baik sekaligus membawa nama Demak ke dunia internasional lebih jauh lagi.

Jika memungkinkan, tulisan ini akan dibuatdalamgenre eksistensialisme karena Ahmad Tohari pernah berpesan pada saya demikian. Beliau berpesan agar saya terus menulis seperti novel debut saya, Mayasmara (2010), yang beliau sebut sebagai novel eksistensialis.

Peluang apa saja yang Anda dapatkan dari menulis?

Dari menulis, saya sering diundang untuk mengisi sharing kepenulisan di sekolah, kampus, dan pesantren. Selain itu, saya juga menerbitkan bukubuku penulis lain melalui Hasfa Publishing, penerbitan sendiri, dan menjualnya melalui distributor ke toko buku. Peluang sampingan lainnya adalah menjual buku-buku secara online baik buku sendiri atau buku terbitan Hasfa. Saya sempat berjualan kaos yang berkaitan dengan literasi dan buku yang kami terbitkan untuk membantu korban bencana alam. Ke depannya, mungkin berjualan suvenir dan pernak pernik berkaitan dengan berbagai karakter dalam cerita-cerita yang saya tulis.

[Catatan dari Sharing Kepenulisan 25-26 Oktober] The Art Of Journey

Alhamdulillah, akhirnya roadshow novel #Gus dan sekaligus sharing kepenulisan di kota pertama sudah berlangsung selama dua hari kemarin, 25-26  Oktober 2014 di Purwokerto.

Wah, seru banget pokoknya kalau kerja sambil jalan-jalan. 
(jadi inget semboyannya pak presiden kita pak Jokowi nih: kerja, kerja, kerja)
Tadinya aku mau naik kereta sore harinya supaya malam hari sudah siap di sana, tapi aduh lha kok pas 1 Muharram ya, kan nggak enak suro-nan di jalanan. hehe. jadilah aku naik travel sebelum subuh..ahay :D

Dus, sebelum berangkat jadi kelilingan bersama travelnya jemputin satu persatu penumpang. Semestinya capek dan kesel kan ya? Tapi aku menikmati jalan-jalan gratis ini, karena malah akhirnya bisa masuk-masuk ke tempat-tempat yang kalau dalam kondisi biasa alias berkendara sendiri, mungkin belum tentu diberi ijin masuk. Karena beberapa perumahan memang ketat banget pengamanannya, tapi serunya di dalam perumahan itu semua rumah tidak berpagar. Jadi suasananya asyik bangeets.

Begitu juga waktu sampai Purwokerto dan sekitarnya untuk menurunkan satu persatu penumpangnya (semuanya ada 7 orang termasuk diriku). Aku jadinya melihat tempat-tempat yang selama ini bahkan belum sempat kubayangkan akan kukunjungi. Jadi bisa masuk ke mess batalyon Purbalingga, menyaksikan kehidupan yang berbeda di dalam sana meski hanya sempat selintasan, tapi langsung terbayang cerita dalam kepala. (xixi..dasar penulis:D)

Terus jadi jalan-jalan kelilingan Purwokerto, menikmati kotanya, rumah sakitnya, Unsud-nya dan gerai-gerai yang menggoda hati (halagh dasar perempuan:D)

Setelah berusaha sabar, karena menahan gerutu kok nggak sampai-sampai, akhirnya tibalah diriku ke pesantren mahasiswa yang diasuh oleh lulusan pesantren Krapyak Jogja ini.
(to be continued ya....kita selingi dengan tugasku menggarap PR dulu :D)

Oh ya, nggak lupa dong sambil pamer bentar cover novel Gus-nya nih :D

baca sambungannya di sini >> http://diannafi.blogspot.com/2014/10/catatan-dari-sharing-kepenulisan-where.html

Kerja Bersama Sahabat Dan Allianz

Wohoooo...cerita tentang Allianz jadi malah mengingatkanku pada mantan. Haghag. #NoMention ya, tapi kalau yang merasa ya sudahlah. Jadi, ceritanya aku sempat gabung menjadi salah satu nasabah asuransi Allianz. Sebabnya tentu saja karena mantanku kerja di perusahaan itu. *aduh duh*
Oke oke, sebaiknya kita tidak menyebutnya sebagai mantan, kita tulis saja di sini dia sebagai sahabat. Dan memang dia sahabatku sih, sahabat dekat, sahabat baik banget.

Jadi ceritanya, aku musti pontang panting membagi waktu antara bekerja dan mengasuh kedua anak yatimku sepeninggal ayah mereka dalam kecelakaan. Mendesain arsitektur bangunan, mengawasi proyek di lapangan, meeting dan bertemu serta presentasi di hadapan klien, mengajar para santri mengaji Alquran dan mengasuh kedua anakku yang masih kecil, sendirian tanpa pendamping.

Untung sahabatku ini datang dan membantuku menangani proyek properti maupun desain arsitektur. Dulu aku mengerjakannya bersama suami. Sepeninggal suamiku tentu saja sulit mengerjakannya sendirian. Dia  datang dan meminta bantuanku untuk merintis kembali jalannya di bidang arsitektur. Karena selama ini  bertahun-tahun dia bekerja di perusahaan asuransi. Aku pinjamkan portofolio proyek-proyek yang sudah pernah kukerjakan untuk menjadi portofolio CV baru atas namanya dan namaku. Bahkan nama perusahaan baru ini adalah kependekan dari nama kami berdua. Semuanya atas ijin dan restu suamiku juga.

Saat suami meninggal, keberadaannya seolah sebagai penolong karena membantuku wara-wiri. Aku mereferensikan teman kami yang lainnya untuk membantu kami semasa aku iddah. Karena aku tidak boleh keluar rumah selama empat bulan sepuluh hari. Jadi aku mengerjakan tugas-tugasku mendesain dan menghitung budget RAB dari rumah. Dua rekanku ini yang mengkoordinasikan di lapangan baik dalam proyek renovasi  interior dan desain rumah tinggal yang saat itu sedang kami tangani.

Sekitar tiga tahun kayaknya sih kami sama-sama dalam perintisan usaha konsultan desain arsitektur, konstruksi  dan properti ini. Dari tahun 2008 sampai 2011 awal, karena pada akhirnya kami harus jalan sendiri-sendiri karena aku ditarik kembali ke kota kecilku sehingga jarak yang jauh tidak memungkinkan mobilitasku seperti kemarin-kemarin. 

Dan selama aku bernaung di perusahaan bersama kami ini, sahabatku itu mendaftarkanku di asuransi Allianz. Aku pikir tadinya buat apa? Aku sempat sampaikan juga hal ini padanya meski dalam bentuk selipan di tengah pembicaraan lainnya. Lalu dia menjelaskan kalau ini penting buat aku. Aku banyak berada di jalan raya-saat berangkat dan pulang kerja ke kantor ataupun ke proyek-proyek yang lokasinya berjauhan. Dan ada banyak hal yang bisa terjadi juga di lapangan dan area proyek.

Aku jadi ingat almarhum suamiku dulu juga pernah mengalami beberapa kecelakaan kecil di proyek, tapi aku dan suami memang belum sempat mendaftarkan asuransi untuk diri kami sendiri waktu. Hingga meninggalnya, suami belum pernah terdaftar dalam asuransi.

Dus, atas bujukan dan pengertian yang diberikan sahabatku, aku akhirnya menandatangani formulir asuransi Allianz. Jadi kalau sampai terjadi sesuatu pada diriku, ada pertanggungan yang Allianz berikan untuk kedua yatimku. Sahabatku juga atas nama perusahaan mendaftarkan semua karyawan kami ke Allianz ini. Untuk keselamatan, kenyamanan dan kesejahteraan kerja.


So now you know, kalau asuransi itu ada pada setiap aspek kehidupan. Demikianlah Allianz melayani para klien dan nasabahnya :)



[New] Novel Lelaki Pertama

Alhamdulillah akhirnya novel Lelaki Pertama dipublish juga.
Berikut beberapa petikan/teaser dalam novelnya, cekidot :

·
tiap kali melihat kamu,aku merasa melht diriku sendiri.bhkn sampai stlh belasan tahun tak bersama lagi #LelakiPertama
 
Aku menuliskannya sbg tanda bhw kt pernah ada&mengada.Memulainya dari akhir yg bahagia sblm membangkitkan memori yg plg luka #LelakiPertama

menyalahkn sy?Tuhan mengkaruniai kemampuan jth cinta berkali2 mgkn utk menjaga kewarasan &agar sy tdk kehilangan semangat hdp #LelakiPertama


Ku d sini skrg.Jgn lari2 lagi.Kt sdh tdk ckp bodoh utk baca tandaNya.If u're not mine then why does your heart return my call #LelakiPertama

Kita ini jengki,slalu,dr dulu.Ujung atapmu d atas ujung atapku.jendela kita tidak sejajar.Komposisi tdk simetris.Tp indah #LelakiPertama

Mmg dibthkn takikan utk m'buat kita bersatu dg kuat.&takikan tak bs ada tanpa melukai.Bisa gunakan baut,tp juga bth melubangi #LelakiPertama

Bhkn bulan pun malu mengurai kisah kt.tak sanggup,tak berani.sedemikian indah,shg semesta menyimpan rahasia itu utk kita saja #LelakiPertama

Kalimat pertama dtg dr kejujuran.Marah dtg dr ketdkpuasan.Doktrin2 #LelakiPertama itu trus dipelukny bersama tedybear cklt yg dibw ke mana2

Kesetiaan itu dibgn.Tdk dtg dr langit.Utk apa menimbun sekian nama.Apa yg sdg kau coba buktikan,May.Kapal ini hy bth 1nakhoda #LelakiPertama

Apa ia d sorga msh berkenan menerimaku jk mlh bersamamu kulalui hari?smtr kt tak jua mgkn bersatu krn tlah ada yg mdampingimu #LelakiPertama

Bersalah&rasa bersalah tdk sama.Jgn biarkan keduanya berkelindan,menenggelamkan kecemerlanganmu sementara jalanmu msh panjang #LelakiPertama

Knapa kau titip pd ke2 shbtku u/menjagaku.knapa tak kau jaga sendiri hatiku yg luruh,runtuh.oleh kesembronoanku sndri&ketdksbrnmu lagi #LP

aku yg melukaimu namun aku yg perih&remuk krn luka itu.jk sj waktu bisa diputar kembali&kesalahan masa lalu bisa dihindari. #LelakiPertama

aku rindu slg berbagi cerita mimpi denganmu. saling mengingatkan untuk saling mendoakan.Rindu kemarahan2mu&celaan2mu yg indah #LelakiPertama

ingin bercerita mimpi yg kau bagikan waktu itu,tapi aku lupa.Aku malu bertanya.&Lagi memangnya kau ingat apa yg kau bagikan waktu itu? #LP

Bukan dosa yg manis,itu cinta. Bukan cinta yg salah,itu dosa. Kita, dosa&cinta berkelindan tak habis2.
·  Tapi sudah diputuskannya, seorang gadis yang berkali–kali mematahkan hatinya krn bermain api dengan pria lain hrs dilupakan. #LelakiPertama

Mungkinkah jalan takdir tertukar jika mereka pernah bertemu sebelumnya? Atau memang jalan takdir tak pernah tertukar? #LelakiPertama

Inti dlm hbgn adl pkrn positif&rendah hati,mk smua bisa dipahami.Slama semua dpt dimengerti,mk enteng dilalui #LelakiPertama


Bisa dibeli di http://www.bitread.co.id/book_module/book/view/248/lelaki_pertama

Salah tafsir thd Revolusi Mental Jokowi

Oleh: Radhar Panca Dahana
Sejujurnya sangat menjenuhkan—bahkan menggelikan—untuk berpikir atau menulis mengenai hal yang hari-hari ini menjadi tren atau semacam trending topic dalam media sosial.
Sebuah kecenderungan yang menyuburkan tumbuhnya fashioned atau fad intellectual. Semacam pemikir atau pengamat yang menggunakan kelincahan literer dan pelisanan, bukan pikirannya, sekadar sebagai gincu untuk mengikuti isu publik seperti kita tergiur oleh busana dan gadget terbaru hanya karena renda-renda atau fitur tambahan yang lucu.
Namun, itulah yang harus saya lakukan, sekali lagi, membahas sebuah frasa pendek “revolusi mental”, produk politik yang bagi saya lebih menghebohkan, lebih besar, bahkan berpeluang lebih mampu menciptakan perubahan fundamental, ketimbang kursi kekuasaan (kepresidenan) yang akhirnya dimenangi seseorang lewat proses yang melodramatik dan sarat preseden. Kedua hal itu berhulu kepada seorang pengusaha mebel yang tidak punya latar elitis atau kelas penguasa dalam dimensi apa pun, seorang dengan kesederhanaan begawan: Joko Widodo (Jokowi).
Peluang menciptakan perubahan fundamental, satu bentuk perubahan yang secara instingtif diharapkan masyarakat banyak, itulah yang menurut saya perlu dikawal, jika dapat dibantu secara maksimal, sekurangnya menghindarinya dari pendangkalan makna, reduksi dari tujuan-tujuan idealnya, bahkan penyelewengan dari intensi dasarnya. Hal ini menjadi urgen ketika ternyata banyak salah tafsir terjadi pada ide itu, berangkat dari salah tafsir tentang empunya ide itu sendiri, Jokowi. Impresi, harapan palsu, hingga ilusi terhadap sosok Jokowilah harus dicegah karena tidak saja merugikan Jokowi sendiri, pada gilirannya ia akan merugikan signifikansi hingga implementasi dari “revolusi mental” yang menjadi tag line kekuasaan yang kini digenggamnya.
Kecerdasan tradisional
Hal pertama dan utama adalah pencitraan stigmatik yang menganggap Jokowi memiliki kecerdasan—katakanlah—sebagaimana yang kita bayangkan ada pada Obama atau tokoh dunia lain. Bahkan juga apabila dibandingkan dengan seorang direktur atau eksekutif sebuah organisasi/perusahaan pun, performa Jokowi sesungguhnya di bawah standar atau kategori-kategori canggih manajemen-performatif modern. Karena itu, Anda akan merugi jika mengharapkan, misalnya, Jokowi dapat mempresentasi konsep atau ide-ide (kenegaraan atau pemerintahannya) laiknya seorang eksekutif andal.
Pelisanan atau retorikanya sungguh tak cakap, diksinya miskin, bahasa tubuh kaku, paralingual tak mampu dimainkan untuk memperkuat pernyataannya sendiri, bahasa Inggris tak fasih, bicara simbol atau visual display tidak mahir, dan seterusnya. Kualitas mediokratik presentasinya mungkin ada pada tingkatan middle-manager. Jokowi tentu saja tidak sama sekali tak cerdas. Dalam standar atau paham kecerdasan yang, misalnya, kita dapatkan dari seorang Habibie, Gus Dur, apalagi Soekarno, bahkan ahli-ahli retorika yang silih ganti tampil di layar datar televisi. Namun, mengapa ia begitu hebat? Mengapa ia bisa menaklukkan lebih dari separuh rakyat negeri ini, dan menjadi seorang pemimpin tertinggi, menumbangkan begitu banyak tokoh cerdas, berpengalaman, bermodal besar, berjaringan luas, dan sebagainya?
Jawabannya cuma satu: Jokowi “cerdas”. Bukan cerdas dalam pengertian modern yang akademik, saintifikal, atau berbasis pada rasionalisme-materialistik atau logosentrisme oksidental, sebagaimana tokoh-tokoh kita sejak masa pergerakan awal dulu. Jokowi “hanyalah” sarjana strata satu kehutanan, tidak lebih. Apa yang dimiliki Jokowi adalah semacam ”kecerdasan” tradisional, bisa juga primordial, yang dia dapatkan semata dari penghayatannya yang tulen pada sumber pengetahuan yang ada di dalam nature atau alam bawah sadarnya sebagai bagian organik dari suku Jawa. Inilah satu bentuk kecerdasan yang tak pernah dan mungkin tak bisa dipetakan, disistematisasi, difalsifikasi atau diteorisasikan oleh pelbagai bentuk epistemologi yang ada saat ini.
Kecerdasan ini memang tidak “disadari” (“sadar” dalam pengertian akal yang sistematikanya dikelola oleh rasionalisme positif), tetapi ia eksis atau mengendap begitu saja dalam diri kita. Kita umumnya, tidak hanya tidak “menyadari”, tetapi juga tidak “mengetahui” karena kecerdasan itu sejak kanak kita tutupi (cover) dengan satu bentuk kultur/adab dengan kecerdasan yang sangat lain/berbeda. Kultur/adab kontinental yang kita internalisasi sejak PAUD hingga posdoktoral.
Kapasitas dan kapabilitas dari kecerdasan tradisional ini, jika tidak seimbang, saya kira, lebih ampuh ketimbang kecerdasan rasional modern. Kapabilitasnya dalam mengidentifikasi masalah, menemukan substansi, mengkreasi solusinya yang inovatif, dan mengimplementasikannya dalam praksis (kebijakan) hidup sehari-hari. Kecerdasan ini tidak bermain di atas meja, dalam angka-angka, eksposisi ilmiah atau simpulan-simpulan spekulatif yang reduksionistik, sebagaimana hasil riset-riset sejumlah laboratorium sosial.
Kapasitas mental
Kecerdasan tradisional Jokowi membutuhkan telinga, mata, hidung, peraba, hingga bulu tengkuk yang meremang, darah yang menggejolak, atau jiwa yang empatik untuk melahirkan gereget bagi sebuah finding tentang—katakanlah—substansi dari sebuah masalah. Karena itu, menurut saya, tanpa blusukan, Jokowi tak bisa berbuat banyak, bahkan akan menjadi “bukan apa-apa”, selain seorang penguasa dan takhta belaka. Kecerdasan semacam ini mengintegrasikan beberapa bagian fundamen manusia yang selama ini dilupakan bahkan dinafikan oleh adagium klasik cogito ergo sum, yakni badan dan perasaan (jiwa, nurani, dan lain-lain). Kecerdasan ini membuktikan bahwa bukan hanya “aku berpikir”, tetapi juga “aku merasa” dan “aku bermetabolisme” adalah penanda dasar atau argumen fundamental dari esksitensi, dari adanya: “aku”.
Kecerdasan holistik atau komprehensif, yang didaur dari kultur/adab tradisional/primordial inilah yang saya kira dimaksud oleh Jokowi dalam term kontroversial itu: mental. Pandirnya, dalam seruan ini, bukan kapasitas akali yang perlu diubah dan dikembangbiakkan, tetapi justru kapasitas itu harus dikendalikan, dan sebaliknya kapasitas “mental” (dalam signifikansi valuatif seperti terjelas di atas) yang dibutuhkan, tidak hanya sebagai penyeimbang dari kemajuan rasionalisme positif, tetapi juga untuk mengoreksi kekeliruan-kekeliruan (fallacies) dari produk budaya oksidental itu.
Dengan cara berpikir ini, cara berpikir yang tidak dikerangkeng atau dikurung dalam boks logosentrisme european—yang celakanya sudah dianggap given oleh umumnya kaum terpelajar Indonesia—inilah kita akan dapat memafhumi bahwa “revolusi mental” yang dimaksud tak lain adalah sebuah abstraksi atau—boleh jadi—transendensi dari figur Jokowi sendiri. Dari abstraksi ini, sebaiknya kita tidak berharap berlebihan kepada Jokowi untuk mengkreasi istilah atau term-term ilmiah-populer yang bisa mengangkut semua pemahamannya tentang dunia kawruh, tentang ngelmu dadi kalaku, tentang hakikat dan eksistensi dari bagian fundamental–bahkan ilahiah—manusia yang selama ini ditelantarkan pemikiran modern: rasa (batin/spirit) dan tubuh.
Karena itu, saya menulis ini untuk mendahului perkiraan saya akan munculnya serangan cukup mematikan (yang syukurnya belum dilakukan) dari lawan atau pesaing Jokowi terkait dengan “revolusi mental” ini. Serangan yang hanya berisi dua pertanyaan: “Apa dan siapa yang dimaksud, atau contoh dari revolusi mental itu?” dan “Apa Anda sendiri (Jokowi) sudah melakukan revolusi itu sehingga Anda punya posisi untuk mengimbau atau memerintah orang lain melakukan hal yang sama?” Saya perhitungkan, penyerang dengan dua pertanyaan di atas akan mendapatkan kemenangan, setidaknya secara retorik. Namun, kemenangan retorika bukankah hasil tertinggi dari kerja/upaya politik? Karena di situlah sesungguhnya suara juga kekuasaan diperoleh. Karena itu, sangat tak fair jika kita menuntut Jokowi menjelaskan satu hal yang memang dalam bahasa ilmiah tak pernah dan tidak bisa dijelaskan, bahkan bagi kecerdasan tradisional itu sendiri mungkin tidak perlu dijelaskan, tetapi dibuktikan.
Lahir Jokowi lain
Di titik inilah, urgensi dari pemikiran trendi ini memiliki posisi argumen fundamentalnya. Revolusi mental, sekali lagi, tidak akan dapat diselenggarakan hingga ke tingkat praktis atau kebijakan politis jika hanya mengacu pada perhitungan-perhitungan akali yang diproduksi sekumpulan ahli ilmu sosial (sosiologi, psikologi, statistik, manajemen, politik, dan sebagainya). Ia juga harus menyertakan yang kita sebut—dan salah tafsirkan—dengan kearifan lokal, bukan sekadar “kearifan” melainkan juga gugusan pengetahuan yang luas, kaya, dan dalam dari tradisi/adab lokal yang dibangun dan dikembangkan oleh etnik dan ratusan subetnik di seluruh persada negeri, bukan hanya ratusan, melainkan ribuan tahun selama ini.
Kita harus melahirkan Jokowi-Jokowi lain sebanyaknya. Karena Jokowi yang bukan mantan pengusaha mebel itu banyak sekali, mungkin 230 juta lebih jumlahnya. Jokowi yang presiden terpilih sebenarnya tidaklah terlalu istimewa karena banyak potensi “Jokowi” sejenis yang bisa jadi lebih genial dari presiden terpilih. Keutamaan dari presiden baru ini cuma satu: ia mengetahui kecerdasan itu dan mampu mengaktualisasikannya. Inilah kemampuan “mental” yang sangat langka.
Bayangkan jika, tak usah 230 juta, tetapi 230.000 saja, satu per mil saja, yang mampu berevolusi mental menjadi “Jokowi”? Saya tak bermimpi, tetapi saya “yakin” (ini bukan term ilmiah) tak ada bangsa mana pun mampu menaklukkan, bahkan menyaingi bangsa ini. Bagaimana menyaingi apalagi menaklukkan sebuah bangsa yang dalam sejarahnya mampu melahirkan lebih dari 350 etnik/sukubangsa, lebih dari 400 bahasa—setengahnya diakui PBB/UNESCO—yang hingga kini tak satu pun orientalis atau indonesianis mampu memahami secara penuh dan komprehensif?
Bagaimana semua itu bisa dilaksanakan, direncanakan? Tentu saja itu rahasia kecil karena itu porsi tim Jokowi dan pokja-pokjanya untuk merumuskan. Dan satu imperasi dalam perumusan ini: semestinya ia dilakukan oleh mereka yang sudah lebih dulu (mampu dan mau) melakukan revolusi mental itu pada dirinya sendiri, menjadi manusia yang hidup tidak hanya mengandalkan rasionalisme-positif-materialistiknya. Yang selalu terjerat dalam perhitungan-perhitungan praktis, pragmatis, dan cenderung oportunistis, sebagaimana para teknokrat pemerintahan-pemerintahan sebelumnya.
Bagaimana mungkin sebuah revolusi dalam jenis ini, dirancang, diatur, dan dioperasikan oleh mereka yang justru belum terevolusi mentalnya? Apakah kita hendak memainkan dusta atau dunia yang virtual-artifisial? Jokowi, tuan dan puan, saya kita tidak berdusta, dan bukan makhluk artifisial.
(Radhar Panca Dahana, Budayawan)
Artikel ini sudah tayang di Harian Kompas edisi 17 Oktober 2014.

Film-film Baru Reza Rahardian

Wah wah aktor serba bisa kebanggaan kita, mas Reza Rahardian, sedang produktif-produktifnya kayaknya. Lihat aja di FTV masih main juga, di layar lebar dia main bertubi-tubi. Ini di antaranya yang terbaru dan coming soon, cekidot:
RR jadi Tjokro

RR di KTJC jadi pelukis lagiiii setelah jd pelukis di emak ingin naik haji, kali ini jadi pelukis pasir

RR di Pendekar Tongkat Emas ketemu Nicholas Saputra!!!
RR dan Acha ketemu lagi di Strawberry Surprise :)

Nah! ternyata RR mirip dengan Adipati Dolken kan kalau pas begini :D

Kompetisi Menulis Novel Komedi


Dahulu kala, ada seorang putri bernama Jelita di Kerajaan Tawa Sentosa. Setiap kali ia tertawa, orang-orang yang melihatnya akan ikut bahagia. Seperti masuk ke dalam dunianya yang menyenangkan.
Belakangan, Jelita terlihat begitu murung. Pada bening matanya tidak ada keceriaan, hanya ada kekosongan dan kehampaan. Kesedihan begitu nampak pada air mukanya. Sesekali, orang-orang terdekatnya menanyakan penyebabnya, tapi bukan penjelasan yang mereka dapat, hanya umpatan kecil berbunyi…, “KAMFRET!”
Kune yang mendengar kabar itu ikut heran. KAMFRET?! Apa yang sebenarnya ingin Putri sampaikan?  Setelah menghabiskan weekend dengan bertapa di bawah plafon kantor, Kune pun mendapatkan wangsit. Ah…, KAMFRET ini pasti Kompetisi Asyik Menulis Fiksi Remaja Terkocak!
Setelah itu, Kerajaan Tawa Sentosa mengumumkan Sayembara KAMFRET! Tujuannya? Apa lagi kalo bukan untuk mengembalikan senyum sang putri. Yok, bantu Kune untuk mengembalikan tawa sang putri. Berikut ini adalah syarat-syarat sayembara itu:

KOMPETISI ASYIK MENULIS FIKSI REMAJA TERKOCAK KAMFRET!
Segera wujudkan mimpimu menjadi penulis muda berbakat!
  • Naskah merupakan karya asli, bukan terjemahan atau saduran, dengan genre komedi untuk remaja.
  • Lomba dibagi menjadi dua kategori usia penulis, yaitu
  • Kategori Penulis Remaja usia 10 s/d 18 tahun
  • Kategori Penulis Dewasa usia 19 s/d 28
  • Elemen utama yang dikedepankan dalam novel komedi remaja adalah cerita lucu/kocak/menggelitik tentang seorang/sekelompok tokoh utama yang tentunya tidak klise. Cerita berlatar keluarga, traveling ke lokasi unik, tempat bermain, sekolah, atau kuliah, dengan usia tokoh berkisar 12—24 tahun.
Untuk referensi naskah novel komedi remaja ini, kamu bisa juga membaca Jomblo (Adhitya Mulya), Lontang-lantung (Roy Saputra), Past and Courious (Agung Satriawan).
  • Cerita tidak mengandung SARA dan pornografi.
  • Naskah belum pernah dipublikasikan di media cetak maupun elektronik dan tidak sedang diikutsertakan dalam sayembara lain.
  • Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia, dengan panjang naskah 60—120 halaman A4, 1 spasi, 12 pt, Times New Roman.
  • Pengiriman naskah dimulai 20 April 2014 dan batas penerimaan 31 Agustus 2014 15 November 2014 (cap pos).
  • Kirimkan naskah (print out), sinopsis cerita, biodata beserta nomor kontak yang bisa dihubungi, ke:
Panitia Sayembara Menulis Novel Komedi Remaja Bukune
Penerbit Bukune
Jalan H. Montong No. 57 Ciganjur-Jagakarsa
Jakarta Selatan, 12630
Telp: 021-7888 3030
  • Sertakan Formulir dan Surat Pernyataan yang bisa di-download di sini.
  • Jalan lupa tuliskan "KAMFRET" di pojok kiri atas amplop.
  • Naskah ditunggu selambat-lambatnya 31 Agustus 2014 15 November 2014 (cap pos).
  • Keputusan juri tidak dapat diganggu gugat.
  • Pemenang akan diumumkan di website resmi Bukune pada 1 Desember 2014.

Hadiah menarik menunggu pemenang!
Juara I      Rp5.000.000, kontrak penerbitan, paket buku & goodie bag dari Bukune
Juara II     Rp3.000.000, kontrak penerbitan, paket buku & goodie bag dari Bukune.
Juara III    Rp1.500.000, kontrak penerbitan, paket buku & goodie bag dari Bukune.
10 Naskah Terpilih akan mendapatkan kontrak penerbitan, paket buku dari Bukune.
Kami mencari novel komedi remaja  dengan ide, konflik, dan (tentunya) komedi yang unik, segar, serta karakter tokoh yang kuat dan inovatif. Tulis novelmu dan bikin pembaca tak ingin meletakkan bukunya sampai halaman terakhir.
Dan, jadilah penulis komedi berbakat bersama Bukune!

Kesempatan Di Tengah Kesempitan

Hohoho..judulnya gitu banget ya. Hehe, jadi ceritanya ini postingan yang telat banget, karena aku sempat hadir di acaranya Loreal Indonesia ini sekitar tengah September lalu. Ceritanya aku pas ke Jakarta karena dapat undangan dari Mizan dan punya waktu beberapa jam sebelum jadual naik keretaku pulang ke Semarang. Dus, seorang sahabat baikku menggelandangku ke acara ini. Tajuknya Woman Of Worth- Loreal Indonesia. Sempat tidak kuposting beberapa saat lalu cerita ini karena eh halllloooo.. temen baikku itu nge-cuit sekali aja bayarannya satu juta bok, sekali posting di blog bisa sampai 5 jt-an. Nah lhoo...kok mau-maunya ya kita posting yang tanpa sadar mengiklankan brand tertentu tanpa dibayar. Haghaghag...mata duiten banget sih. Setelah kupikir-pikir, sudahlah kalau mau upload postingan mah posting aja, jangan mikirin untung rugi dan duitnya.  Gitchuuu..

Woman Of Worth_ Loreal Indonesia
 Aih, prolognya panjang amat ya dan nggak penting juga (penting nggak sih?:D)

Intinya Loreal cerita tentang perjalanannya dalam membranding dirinya dari sejak awal berdiri hingga sekarang. Nah! Tahun ini dia ganti tagline tuh ceritanya, menjadi Woman Of Worth. Dan bergantian Dian Sastro dan Maudy Kusnaedi yang merupakan grand ambassador-nya menceritakan siapakah wanita yang menurut mereka sangat berarti dan berkesan bagi mereka.

Duh, cakep banget videonya yang dibikin sama mbak Paquita Wijaya yang juga hadir hari itu. So touching...aku sampai ikutan nangis karena terharu.

Kalau kamu? Siapa wanita yang inspiratif buatmu?

Menulis Cara Menyuarakan Banyak Hal



Menulis Cara Menyuarakan Banyak Hal

Dian Nafi menasbihkan dirinya sebagai pecinta purnama dan penikmat hujan. Lulusan arsitektur Undip Semarang ini, selain menulis juga mengelola PAUD, aktif di komunitas Hasfriend, dan Pimpinan Redaksi DeMagz. Tulisannya bertebaran di berbagai media cetak, dan acap memenangkan berbagai perlombaan penulisan. Ikuti bincang-bincang AlineaTV dengan penulis yang sudah menelurkan 14 buku ini.

Apa artinya menulis buat kamu?
Menulis mula-mulanya menjadi terapi, dari kesedihan kehilangan pasangan saat itu dan kehilangan banyak hal setelahnya, dari trauma masa lalu, dll. Kemudian lambat laun bergerak menjadi sebuah cara untuk menyuarakan banyak hal. Suara hati, suara lingkungan, dan suara dari teman-teman, saudara, atau kenalan yang akhirnya berdatangan curhat.
Sedekat apa masa kecil kamu dengan dunia menulis?
Almarhum ayah rajin membawakan kami banyak buku dan komik. Saya mendapat hadiah diari darinya di ultah saya yang kedelapan, beliau mengajarkan saya menulis buku harian. Sejak itu saya banyak menulis meski masih untuk konsumsi sendiri. Kelas empat SD saya dikirim mewakili sekolah untuk lomba menulis resensi tingkat kabupaten dan menang. Selanjutnya saya terus menulis tapi hanya untuk konsumsi sekitaran, jadi redaksi mading dan juga majalah almamater di SMP, SMA dan kampus.
Sejak kapan mulai menulis secara profesional?
Sejak 2010. Semua bermula saat saya harus iddah atau tinggal dalam rumah selama 4 bulan 10 hari karena suami meninggal awal tahun 2008. Di saat banyak waktu luang itulah saya bersentuhan dengan Facebook dan menuliskan banyak curhatan di sana. Lalu ikutan lomba-lomba menulis dan beberapa kali menang. Tulisan mulai diterbitkan dalam bentuk antologi sejak 2009. Semakin lama makin keranjingan ikut kompetisi menulis. Dari beberapa kali menang, akhirnya saya mulai mendapat tawaran menulis buku solo dari beberapa penerbit. Begitu seterusnya.
Bagaimana cara mengatur waktu menulis dan proses mencari ide-ide kreatif?
Biasanya saya menulis dari jam tujuh pagi sampai dua belas siang. Lanjut lagi jam satu sampai tiga sore. Malam nulis lagi jam sembilan sampai jam sebelas. Lanjut dini hari mulai jam dua sampai subuh. Tapi menulisnya ini selang seling dengan membaca. Sebulan saya biasanya membaca 5-12 buku. Ide kreatif saya dapatkan dari banyak mengamati yang terjadi di sekitar, dari beberapa kegiatan yang saya ikuti, dari peristiwa-peristiwa yang saya lihat langsung ataupun saya dapatkan dari curhatan teman-teman, saudara-saudara maupun orang-orang baru yang saya temui selama traveling dst. Buku-buku bisnis, leadership, psikologi, parenting, dan non-fiksi lainnya serta buku biografi seringkali juga menjadi sumber ide kreatif yang mendukung cerita-cerita yang embrionya sudah ada dalam kepala.
Menurut kamu, apa yang membedakan karya-karya kamu dengan penulis lain?
Background saya yang santri tetapi kuliah di teknik arsitektur mewarnai tulisan saya yang kadang paradoksal. Between freedom dan puritan, between modern dan tradisional, between setia pada tradisi dan suka melanglang ke mana-mana.
Apakah kamu mengalami kesulitan yang berarti saat mulai membuat karya?
Ide sangat banyak, tetapi seringkali kesulitan dan kedodoran dalam eksekusi. Ini yang masih saya terus pelajari dan latih. Bagaimana supaya tidak ada hole plot, bagaimana supaya lebih mengalir, bagaimana membuat tulisan yang bisa ‘menyihir’ pembaca tetapi sekaligus ‘diam-diam’ menginspirasi dan memberi pencerahan, itu yang selalu menjadi PR saya. Kepenasaran ini membuat saya semakin ‘larut’ dalam dunia kepenulisan. Seperti sebuah tantangan yang minta ditaklukkan.
Dari semua karya yang sudah diterbitkan oleh penerbit, buku apa yang paling berkesan saat merampungkannya?
Novel debut saya, Mayasmara, yang saya tulis bersama sahabat maya, butuh delapan bulan proses penulisannya tanpa bekal ilmu menulis sebelumnya. Saya hampir menyerah karena tidak tahu bagaimana menyelesaikannya. Tapi brainstorming yang intens akhirnya membawa kami sampai akhir. The Invisible Hand memberikan ‘wangsit’ sub-judul bagi novel ini. Saya mengalami banyak transcendence dalam prosesnya. Dan terkesan dengan ‘pesan’ Pak Ahmad Tohari pada saya usai membaca novel ini, agar saya terus menulis novel sejenis itu yang beliau sebut sebagai novel eksistensialis. Meski dalam perjalanannya kemudian saya menulis novel jenis lain, tapi masih terus terbayang pesan itu dan keinginan mewujudkan pesan beliau.
Tips menulis versi Dian Nafi?
Stimulasi diri sendiri dengan ikut banyak lomba, karena dari sana ada tema tertentu yang mendorong kita mencari dan menemukan cerita yang sesuai. Sembari menulis, banyak membaca buku berkaitan, sekaligus membaca tips-teknik menulis dan mengikuti workshop kepenulisan, sambil brainstorming bareng mentor dan sharing. Karena dengan sharing ilmu yang sudah kita ketahui, biasanya kita dianugerahi ilmu baru. Banyak jalan-jalan juga membantu kita menghadapi ‘writer-block’.
Apa pengalaman penyenangkan selama menjadi penulis buku?
Jadi sering jalan-jalan untuk riset ataupun event kepenulisan. Ketemu banyak orang baru baik via online atau ketemuan darat saat event launching/bedah buku/sharing maupun event lain. Menerima testimoni darpi pembaca via mention, inbox, email dan sms juga mengguratkan kesan tersendiri. Utamanya senang karena bisa bisa berbagi manfaat.
Target besar yang ingin kamu lakukan dalam dunia menulis?
Saya punya cita-cita suatu saat cerita-cerita yang saya tulis difilmkan. Pingin juga bisa keliling dunia dari menulis, dapat beasiswa kuliah creative writing dan ikut writing retreat/residence di luar negeri kayak mas Ahmad Fuadi/Asma Nadia dll. Terus pingin mendirikan Hasfa Writing College juga. Haha, banyak banget ya keinginannya?
[Anggi Septianto/Redaksi AlineaTV]

sumber :  http://www.alineatv.com/2014/10/dian-nafi-menulis-cara-menyuarakan-banyak-hal/

Jadi Author Of The Month

Halo, Mbak Dian Nafi, pertanyaan pertama sejak kapan mulai menulis?
Jawab : Menulis sejak ayah menghadiahi saya buku diary saat ultah ke-8. Kemudian saya  ditunjuk oleh guru untuk mewakili sekolah lomba menulis resensi. Setelah itu mulai menulis cerita-cerita, untuk konsumsi sendiri, dari SD, SMP. Tulisan saya mulai mejeng di mading dan majalah sekolah/kampus di SMA dan  Jurusan/Fakultas/Universitas. Tapi benar-benar menulis untuk public baru mulai tahun 2009. Ceritanya 2008 suami saya meninggal kecelakaan, dan mengharuskan saya iddah tidak keluar rumah 4 bulan 10 hari. Di situlah saya memanfaatkannya untuk menulis (yang ternyata juga bermanfaat sebagai terapi) mengirimkannya untuk lomba di penerbit dan menang. Beberapa kali menang, dan akhirnya kecanduan :D

Latar pendidikan Anda adalah Teknik Arsitektur, apakah profesi arsitek tetap digeluti?
Jawab : Masih. Kalau ada yang memesan desain arsitektur, masih saya layani.

 Menurut Anda, apakah ada persamaan antara profesi Arsitek dan penulis?
Jawab : Sama-sama memakai perencanaan, perancangan, kreasi dan imajinasi.

Gimana cara mencari ide tulisan karena banyak banget buku Anda dan terbit kadang dalam waktu bersamaan atau jedanya hanya sebentar?
Jawab : Saya cepat-cepat menuliskan ide yang berkelebat dalam buku bank ide, bank outline dan bank adegan. Mencatat curhatan-curhatan. Banyak ide cerita juga saya dapat setelah membaca buku-buku non fiksi.

Siapa penulis yg menginspirasi Anda selama ini?
Jawab : Dewi lestari, Ayu Utami, Ahmad Fuadi, Andrea Hirata, Laksmi Pamuntjak, Tasaro dll.

Berapa waktu yang rata-rata dibutuhkan untuk menulis buku fiksi dan non fiksi?
Jawab : Rata-rata sebulan. Pernah juga menulis novel butuh waktu selama 8 bulan bahkan 2 tahun dari sejak embrio idenya.

Apa kesulitan dan kemudahan menulis masing-masing tulisan, fiksi dan non fiksi?
non fiksi, kesulitannya kalau materinya belum dikuasai, harus byk riset dll

fiksi, kesulitannya kalau musti banyak-banyak menguras emosi, hiks capek juga, kadang-kadang takut hanyut pas nulis jadi jaga jarak, padahal kan supaya soulful kita memang harus 'kerasukan'. Trus ya itu, musti masih hrs belajar & berlatih trus dalam crafting story supaya believable dan bisa menyihir pembaca:D
Kemudahannya : jadi tersemangati kalau harus menyelesaikan tulisan-tulisan baru, yg itu artinya ada cover-cover baru

Kesulitan fiksi : bagaimana meramu cerita yang bisa menyihir, masih terus mempelajari caranya dan terus berlatih.
Kemudahan fiksi : bahannya banyak :D

Kesulitan non fiksi: bagaimana meramu berbagai bahan yang diperoleh dari riset menjadi satu sajian khusus yang khas dan unik.
Kemudahan non fiksi : idenya banyak :D

Lebih suka yang mana? Menulis fiksi atau non fiksi?
Jawab : Fiksi.

Anda mempunyai penerbitan sendiri, bagaimana ceritanya penerbitan itu bisa berdiri?
Jawab : Akhir tahun 2009, Alhamdulillah saya menyelesaikan novel debut saya berjudul Mayasmara. Ingin mengirimnya untuk uwrf, tapi kalau harus mengirim ke penerbit mayor, pasti akan butuh waktu berbulan-bulan untuk mendapat jawaban, padahal waktunya mepet. Sehingga akhirnya timbul keberanian menerbitkan sendiri. Diikuti penerbitan buku antologi puisi Tiga Biru Segi yang kami dedikasikan bagi korban bencana Wasior, Mentawai dan Tsunami. Resminya hasfa publishing lahir 25 oktober 2009.

Bagaimana triks menerbitkan buku di penerbit yang berbeda (selain penerbitan yang dipunya sendiri), mengirim naskah saja, atau ada trik tertentu misalnya : tulisan dibuat jelas pangsa pasar, sinopsis, dll atau kenal personal dengan editor atau pemillik penerbitan ?
Jawab : Caranya dengan mengikuti lomba di berbagai penerbit. kan otomatis dilirik editornya klo menang, trus diorder tulisan lain.

Bagaimana manajemen waktunya sehingga Anda bisa disiplin menulis dengan kesibukan sebagai seorang ibu dan juga owner penerbitan?
Jawab : Ada board jadual deadline PR-PR nulis, jadi targetin diri sendiri.
Saya manfaatkan waktu sebaik-baiknya. ketika anak-anak sekolah atau tidur, ya saya menulis.

Dari sekian buku Anda yang sudah terbit, buku apa yg paling berkesan. Mengapa?
Jawab : Mayasmara. Karena itu debut dan penuh perjuangan.

Tadi pertanyaannya buku yang paling berkesan buat Anda, kalau buku yang Anda banget buku karya Anda yang mana? Mengapa?
Jawab : Mayasmara. Karena orang-orang bilang itu bagus. Dan beberapa orang memanggil saya dengan nama Mayana :D

Sekarang pertanyaannya dari segi proses, dari kesemua novel yang telah terbit hingga saat ini, yang mana yang prosesnya paling berkesan? mengapa?
Jawab : Mayasmara. Karena itu novel debut, saya belum punya pengalaman dan bekal sama sekali.

Buku apa (selain karya Anda) yang berkesan buat Anda?
Jawab : Amba.

Apakah Anda konsisten menulis setiap hari? Berapa halaman yang Anda tulis setiap hari?
Jawab : Rata-rata sehari 2-10 halaman, tidak tentu.
Apakah ada target minimal halaman yang harus Anda tulis setiap harinya? Berapa halaman paling banyak yang pernah Anda tulis dalam sehari?
Jawab : Target hariannya justru membaca, menulis boleh apa saja, coret-coret outline atau mindmap saja juga tidak masalah.
Paling banyak sehari pernah menulis 40 halaman spasi 1,5.

Apakah Anda punya waktu produktif menulis? Jika punya jam berapa?
Jawab : Antara jam 01.30-03.30 WIB

Dengan produktivitas tinggi seperti Anda, apakah profesi penulis di Indonesia bisa menjadi profesi utama (bukan profesi tambahan/sampingan)?
Jawab : Hmm..tergantung kebutuhan dan gaya hidup ya :D

Saat menulis novel, apakah merampungkan satu novel dulu, atau bisa menulis 2-3 novel dalam satu waktu? kalau jawabannya yang kedua, bagaimana manajemen waktu dan emosinya?
Jawab : Seringnya satu-satu dulu. Tapi pernah juga, dua berbarengan, tapi yang satunya biasanya tinggal revisi, jadi tidak benar-benar dari awal.

Apa Anda biasanya menulis dengan membikin outline atau tidak?
jawab : Pakai outline.

Outline-nya per bab atau bagaimana?
Jawab : Iya, per bab.

Mana yang lebih Anda suka, menulis dengan happy ending atau sad ending?
Jawab : Menggantung :D

Membaca dan menulis adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Dalam sebulan Anda membaca berapa buku?
Jawab : Sebulan membaca 5-12 buku.

Apa yang memotivasi Anda dalam menulis,, apakah itu juga merupakan hobby yang berarti menulis saja, soal royalty & dikenal publik urusan nomor dua? Atau merupakan karir yang dipilih secara profesional dalam arti nulis & royalti nomor 1.
Jawab : Dulunya hobby, sekarang menjadi karir. Insya Allah.

Bisa diceritakan sekilas tentang novel Anda terbaru Just in Love?
jawab : Kisah Kemala, mahasiswi arsitektur tinggi hati yang jatuh cinta pada Yudhistira si anak dusun yang kerja di butik, tempat Kemala merenovasi desain interior dalam rangka kerja magangnya. Kisah cinta dan proyeknya ini sama-sama disabotase!


Dalam novel Anda yang terbaru Just in Love, Latarnya arsitektur dan Anda hati-hati sekali dengan hubungan lawan jenis, apakah setiap novel Anda mempertahankan "nilai2" tersebut?
jawab : Saya membayangkan novel itu akan dibaca anak-anak kita juga nantinya. Jadi sebisa mungkin pengaruh baiklah yang inginnya bisa terserap dari sana.

Novel Just in Love latar tempatnya adalah Klaten dan deskripsi kota Klaten di novel itu detail sekali, apakah Anda riset langsung ke Klaten atau pernah tinggal di sana?
Jawab : Iya, saya pernah tinggal di sana beberapa bulan.

Terakhir apa pesan Anda buat pembaca blog BaW?
Jawab : Terima kasih teman-teman yang telah, sedang dan akan membaca buku-buku saya. Semoga teman-teman diberi keberkahan. Mohon saran, kritik, juga doanya agar tulisan saya semakin baik, berkah dan bermanfaat. Aamiiin….


Terima kasih untuk waktu bincang-bincangnya, Mbak Dian Nafi.

sumber : blog be a writer

Nobel Sastra 2010 untuk Sastrawan Peru


Mario Vargas Llosa memenangkan Nobel sastra 2010
Mario Vargas Llosa
"Saya masih tidak percaya," kata Mario Vargas llosa. Ketika nama pemenang hadiah Nobel sastra tahun ini diumumkan, ia menganggapnya lelucon. Padahal Peter Englund, ketua juri Akademi Swedia, lebih dulu menyampaikan kabar gembira itu kepada sastrawan Peru tersebut, sebelum mengumumkannya secara resmi.
"Penghargaan Nobel bidang sastra 2010 dianugerahkan kepada pengarang Peru Mario Vargas llosa untuk pemetaannya akan struktur kekuasaan dan gambarannya yang tajam tentang perlawanan, pemberontakan dan kekalahan individu", kata Englund di hadapan para wartawan.
Llosa yang saat dihubungi berada di New York tengah menyiapkan bahan kuliah di Princeton, terdengar sangat, sangat gembira, kata Englund. Ketua juri Nobel itu memuji Llosa sebagai pencerita yang hebat, jadi tidak heran jika pengarang Peru itu menghasilkan beberapa karya besar.
Vargas Llosa, yang memiliki kewarganegaraan ganda, Peru dan Spanyol, membuat terobosan internasional tahun 1966, dengan novelnya "La Ciudad Y Los Perros", kota dan anjing, yang dalam bahasa Inggris diterbitkan dengan judul "The Time of the Hero".
Karyanya yang lain, 'Rumah Hijau', dan 'Siapa yang membunuh Palomino Molero'
Vargas Llosa yang lahir di Arequipa, Peru, tahun 1936, hidup dan mengajar di beberapa negara. Karya-karyanya berdasarkan pada pengalaman hidupnya di Peru, akhir tahun '40-an dan '50-an.
Ia mencalonkan diri sebagai presiden Peru tahun 1990, namun kalah dari Alberto Fujimori, yang pada akhirnya melarikan diri kemudian didakwa melakukan berbagai kejahatan.
Gambaran tokoh yang berwibawa bertebaran dalam karya-karya Vargas Llosa. Dalam "The Feast of the Goat", pesta para kambing, seorang perempuan 49 tahun kembali ke Republik Dominika, dihantui kenangan masa kecilnya ketika negara itu dipimpin diktator brutal Rafael Trujillo.
Buku itu menceritakan upayanya untuk mengatasi masa lalu yang traumatis.
"Tepatkan tindakanmu untuk kembali? Kau akan menyesal, Urania... kembali ke pulau yang kau sudah bersumpah tak akan menginjakkan kaki lagi di atasnya... " tulis Lliosa. "Untuk membuktikan pada dirimu sendiri bahwa kau bisa menapaki jalan-jalan di kota yang bukan lagi milikmu, mengembara di negeri yang asing ini, tanpa memancing kesedihan, nostalgia, kebencian, kepahitan dan dendam dalam dirimu."
Mario Vargas Llosa adalah pengarang berbahasa Spanyol pertama yang memenangkan Nobel sastra dalam dua dekade terkahir. Sebelumnya, sastrawan Meksiko Octavio Paz memenangkan hadiah serupa tahun 1990.

sumber : http://www.dw.de/nobel-sastra-untuk-sastrawan-peru/a-6093013

Penyair Swedia Tranströmer Raih Nobel Sastra 2011


Hadiah Nobel Sastra tahun 2011 diperoleh penyair Swedia Tomas Tranströmer. Demikian diumumkan komite hadiah Nobel di Akademi Kerajaan Swedia, Kamis (06/10) di Stockholm.
Tomas Tranströmer
Tomas Tranströmer lahir tahun 1932 di Stockholm. Ia mengambil kuliah psikologi, sejarah sastra dan agama pada tahun 1950-an. Kumpulah sajaknya sudah diterjemahkan ke dalam sekitar 30 bahasa. Sejak beberapa tahun terakhir ia sudah difavoritkan untuk memperoleh hadiah Nobel. Sajak karya Tomas Tranströmer antara lain 'Landscape with Suns', 'The Sorrow Gondola'.
Tranströmer terkenal akan karya surealisnya, tentang rahasia jiwa manusia. Sejak menderita serangan jantung pada tahun 1990, pria berusia 80 tahun itu hidup menarik diri di kota kelahirannya Stockholm. Terakhir pada tahun 2004, Tranströmer mempublikasikan kumpulan sajaknya Teka Teki Besar.
Hadiah Nobel Kejutan bagi Keluarga Tranströmer
Paula Tranströmer, anak perempuan penyair Tomas Tranströmer, mengatakan, penganugerahan Nobel Sastra kepada ayahnya merupakan hal yang benar-benar mengejutkan bagi seluruh keluarganya. Kepada kantor berita Jerman dpa di rumahnya keluarga Tranströmer di Stockholm, Paula Tranströmer mengatakan, "Bagi Papa para pembacanya yang paling penting." Lebih lanjut dikatakannya, "Kami sebagai keluarga sama sekali tidak mempersiapkan diri. Sekarang kami harus membeli vas bunga untuk semua bunga-bunga ini."
Pemenang Nobel di bidang sastra seperti peraih Nobel di bidang lainnya memperoleh hadiah berupa uang sekitar 1,1 juta Euro.  Hari Jumat (07/10) akan diumumkan pemenang Hadiah Nobel di bidang Perdamaian untuk tahun 2011.

sumber : http://www.dw.de/penyair-swedia-transtr%C3%B6mer-raih-nobel-sastra/a-15441914

Nobel Sastra 2012 untuk Realisme Halusinasi Mo Yan

Penulis Cina Mo Yan memenangkan hadiah Nobel untuk bidang kesusasteraan 2012. Panitia Nobel hari Kamis (11/10) memberi penghargaan kepada penulis yang mereka sebut memiliki kualitas “realisme halusinasi”.
Penulis Cina Mo Yan memenangkan hadiah Nobel untuk bidang kesusasteraan 2012. Panitia Nobel hari Kamis (11/10) memberi penghargaan kepada penulis yang mereka sebut memiliki kualitas “realisme halusinasi”.
Para juri memuji karya Mo Yan yang memiliki gaya “realisme halusinasi” dan menggabungkan cerita rakyat, sejarah dan kehidupan masa kini.
Penderitaan Sebagai Inspirasi
Mo Yan lahir dari keluarga petani. Dia meninggalkan sekolah semasa “Revolusi Kebudayaan“ untuk bekerja di sebuah pabrik minyak. Kehidupannya begitu miskin saat itu sehingga dia sering terpaksa makan kulit pohon dan gulma untuk bertahan hidup.
Mo Yan, yang kini berusia 57 tahun, menjadikan penderitaan yang dia alami itu sebagai inspirasi atas karyanya yang bicara tentang korupsi, dekadensi dalam masyarakat, kehidupan di desa serta program keluarga berencana paksa di Cina.
“Kesepian dan lapar adalah keberuntungan dalam penciptaan“, kata pengarang Red Shorgum itu suatu ketika. Mo Yan adalah penulis yang sering digambarkan sebagai “salah satu yang paling terkenal, sering dilarang dan dikenal luas banyak dicontek oleh para penulis Cina”.
Sosok Penuh Kontradiksi
Beberapa karyanya yang dilarang pemerintah Cina antara lain “Payudara Besar dan Pinggang Lebar” serta “Republik Wine”. Meski sejumlah karyanya dilarang, namun beberapa penulis lain menganggap Mo Yan “terlalu dekat“ dengan Partai Komunis Cina.
Karya Mo Yan sebagian besar berisi komentar sosial, dan dia sangat terpengaruh dengan kritik politik Lu Xun serta realisme magis ala Gabriel Garcia Marquez.
Mempesona, penuh kompleksitas dan sering berisi gambar kekerasan, Mo Yan menyedot pembaca ke dalam kisahnya tentang rangkaian perubahan semesta yang mengganggu sekaligus cantik. Mo menggunakan fantasi dan satir dalam banyak bukunya, yang diberi label oleh media yang pro pemerintah Cina sebagai "provokatif dan vulgar".
Jangan Bicara
Mo Yan sangat produktif. Dia menulis novel terakhirnya yang berjudul “Kehidupan dan Kematian yang Membuat Saya Lelah” hanya dalam waktu 43 hari. Dia menuliskan lebih dari 500 ribu karakter dalam naskah asli novel itu di atas kertas tradisional Cina dengan menggunakan pena bulu yang dicelupkan ke dalam tinta.
Mo Yan telah menerbitkan puluhan cerita pendek dan novel di Cina. Novel pertamanya adalah “Hujan Turun di Malam Musim Semi” yang dipublikasikan pada tahun 1981.
Mo Yan dalam bahasa Cina artinya “Jangan Bicara” adalah sebuah nama pena. Nama aslinya adalah Guan Moye. Dia mengaku memilih nama pena itu untuk mengingatkan dirinya sendiri agar tidak terlalu banyak bicara, karena dia dikenal sebagai orang yang sering bicara terbuka, sesuatu yang tidak bisa diterima dengan baik di Cina.

sumber : http://www.dw.de/nobel-untuk-realisme-halusinasi-mo-yan/a-16297978