Bagaimana Cara Berjualan Online Metode Membaca Alquran

Bagaimana Cara Berjualan Online Metode Membaca Alquran


Makin pesat pengembangan berbagai metode mengajar Alquran, dari yang dulu kita kenal Iqro, lalu qiroati,   dan sekarang Yanbua, serta berbagai metode/thoriqoh lainnya.

Alhamdulillah, hari ini aku berkesempatan hadir di Lajnah Muroqobah Yanbua. Yai Ulil Albab Arwani mengampu dari awal sampai akhir acara baiat dan penjelasan  pengajaran Alquran dengan metode Yanbua. Dari jam 8 pagi sampai 4 sore. Ada 250 pengajar  yang hadir dari 10 kabupaten, ada juga yang dari Sumatra. Acara ditutup dengan sesi pertanyaan dan peng-Ijazah-an dari Yai yang langsung dijawab dengan qobiltu  ijazaka oleh semua peserta.

Nah, pas malamnya ketemu bulikku dan kami saling bertukar cerita  dan aku cerita Lajnah Muroqobah Yanbua hari ini, eh beliau malah jadi curhat. Ceritanya beliau menemukan metode baru pengajaran Alquran untuk anak usia dini. Sudah berhasil merekamnya dalam CD dan mencetak bukunya serta mendistribusikan ke seluruh PAUD dan TK di kabupaten kami. Pas kemarin ada pertemuan di luar kota, ternyata ada banyak pengajar dari luar kota yang ingin juga memilikinya. Maka terpikirkanlah oleh beliau untuk menjual CD dan buku metodenya itu secara nasional dan online.

Gimana cara terbaiknya? Ada usulan teman-teman?


The Old City and The Young Man (cerpen)

THE OLD CITY AND THE YOUNG MAN
Oleh Dian Nafi

Memasuki kota tua ini, bayangan wajahnya semakin lekat dalam benak dan bahkan tampak nyata dalam pandangan mataku yang terpejam. Lesung pipitnya yang dalam, senyum yang khas dengan gigi gingsulnya, lengan kukuh dengan jemari lentiknya, bulu lembut di kulit coklatnya, kepasrahannya akan lekukanku yang luwes tiap pagi yang dingin dan senja yang meluruh. Lelaki muda itu, kukira aku yang mematahkan hatinya. Namun saat ini bisa kurasakan, akulah yang terbenam dalam ketidakadilan rekayasa ini. Aku yang terbujur kaku dalam kenangan yang tak mau sembunyi. Kental dan semakin mencengkeram kuat ketika diriku berada seinchi demi seinchi lagi memasuki kampung tempat tinggalnya, tempat aku pernah setahun menghisap kehangatan dan keluguannya.

**

“Apa artinya ini, mbak?”
Matanya yang sendu dan sayu mencari jawab dari rengkuhanku yang tiba-tiba begitu saja mengalun di bawah langit biru kota paling eksotik yang kukenal.
“Bukan apa-apa”
Tak mungkin menyembunyikan semburat malu di pipi karena bagaimanapun aku adalah perempuan. Meskipun usiaku lebih tua darinya empat tahun. Tapi bukan aku namanya jika tak mampu menutupi kebusukan  ‘gejolak muda berangkat dewasaku ‘.
Dia hanya mendesah. Mungkin menikmati. Mungkin merasa berdosa. Atau entah apalagi yang dipikirkannya, aku tak tahu. Dan karenanya segera kulepas rengkuhanku tapi ia malah menarik tanganku kembali.
“Mbak keberatan?” tanyanya takut-takut.
“Sudah siang. Aku masuk dulu ya. Kamu juga harus ke kampus kan? Jangan sampai terlambat. Terima kasih ya sudah mengantarku.”
Aku tetap menarik tanganku, bahkan turun dari boncengan motor gedenya dan mengusirnya secara halus. Garis wajahnya terbaca sekali, kecewa dan murung. Tapi ia bergegas melibasnya dengan senyuman manisnya.
“Aku yang terima kasih. Nanti sore mau dijemput jam berapa?”
Oh. Anak yang manis dan tawaran yang juga manis sekali.
“Tidak. Terima kasih. Aku pulang sendiri saja. Hati-hati di jalan ya”
Kulambaikan tanganku dan berharap ia segera pergi dan berlalu. Aku tak mau ia membaca isi kepalaku kalau aku hanya memanfaatkannya saja. Bagaimanapun ia anak yang sangat baik, lugu. Dan entahlah, membaca sikapnya, bisa kupastikan  mungkin aku wanita dewasa pertama dalam kehidupannya. Mungkin ia dulu hanya pernah mengalami cinta monyet saja karena aku pernah mendengar dari sepupuku yang tetangganya – aku tinggal bersama sepupuku ini- bahwa Radindra-nama cowok itu- pernah punya pacar yang tetangganya juga.
Radindra punya kriteria cowok yang aku sukai kecuali satu, ia terlalu muda. Dan jelas-jelas tidak masuk criteria bagi ibuku yang konservatif. Dan aku, tak pernah sekalipun menggugat ibuku dan aturan-aturannya karena aku gadis puritan. Di dalam diriku yang Nampak lincah, bebas, merdeka dan berpikiran moderat, sesungguhnya aku ada di garda depan pendukung pikiran –pikiran kuno perempuan ini. Yang kepadanya aku berhutang banyak, yang di telapak kakinya tersimpan surgaku.

**

Kuhirup udara kota tua yang tak pernah tidur ini. Dari setiap sudutnya, setiap jalan yang kulalui, setiap pohon dan kafe –kafe itu, semua kenanganku akannya tersembul menggoda. Padahal aku datang kembali bukan untuknya. Kami datang untuk acara buka bersama di rumah nenek yang kutinggali bersama sepupuku sewaktu aku bekerja di kota ini.
Aku beserta seluruh keluargaku menempuh jarak tujuh puluh kilometer untuk buka puasa bersama keluarga besar. Hal yang mulai ditradisikan agar ikatan kekeluargaan tetap terjalin meski kami tinggal berjauhan. Biasanya kami datang hanya pada acara-acara penting saja. Seperti setahun yang lalu, saat pemakaman nenekku.
Saat itu lelaki muda yang pernah kukelabui perasaannya- Radindra- juga hadir. Ia yang tinggal bersama ayah ibunya di rumah yang hanya selisih delapan rumah dari rumah nenekku bahkan ikut sibuk dalam upacara penghormatan sampai pemakaman. Aku bisa menangkap kerinduan di matanya ketika tak sengaja kami sesaat bersirobok pandang. Namun hanya luruh yang mungkin dirasakannya karena aku  duduk bersama seorang pria yang tak kalah tampan darinya. Gery, tunanganku.
Ia, lelaki muda yang lembut hatinya itu, merasa terkelabui sekali lagi.
Yang untung lagi-lagi aku. Karena  Gery memperlakukanku  begitu istimewa setelah ia tahu ada seorang muda ganteng yang begitu menggilaiku. Sepupuku-Lily- yang menceritakannya setelah tunanganku itu mempertanyakan keganjilan yang ia tangkap dari bahasa tubuh dan sorot mata seorang lelaki muda di tengah kedukaan hari itu.

**

Tapi siapa yang tahu jalan takdir. Gery  yang menyayangiku sepenuh hatinya malah pergi tanpa pamit. Ditinggalkan Gery begitu saja, tak ayal membuatku limbung. Aku gadis penakluk dan pematah hati. Jadi kepergian Gery sama sekali jauh dari dugaan dan perkiraanku. Kami hanya tinggal beberapa minggu menuju pelaminan. Tapi Tuhan merengkuhnya sebelum aku.
Tak harus memakan waktu lama untuk menyembuhkan luka ternyata. Berkunjung kembali ke kota tua ini tiba-tiba sebersit harapan timbul. Secercah cahaya menyinari relung kalbuku yang gelap beberapa waktu lalu. Aku masih punya Radindra. Radindra yang menggilaiku. Ia mungkin menungguku untuk kembali padanya.
**
Seusai berbuka bersama, langkah kakiku ringan menuju masjid di seberang rumah nenek. Sholat berjamaah maghrib dilanjut sampai Isya dan tarawih di masjid AlFurqon akan menyenangkan sekali kurasa. Karena semuanya lagi-lagi akan membawa kembali kenanganku bersamanya.
Ia yang rajin mengajar TPQ di masjid ini, menjadi muadzin yang paling rajin, dari kompor semangatnya para remaja rajin berjamaah dan meramaikan masjid dengan berbagai acara. Burdah  tiap malam jumah, latihan khitobah bergantian setiap jumat malam, majalah dinding, diskusi juga kajian rohani dan latihan rebana setiap minggu pagi setelah kerja bakti bersih-bersih lingkungan masjid.

**

Remaja masjid yang dipelopori Radindra mengadakan rihlah di suatu akhir pekan saat aku masih anyar tinggal di lokasi ini. Ia yang menjadi teman pertamaku di tempat baru mengajakku ikut serta dan aku tak kuasa menolak. Radindra telah dengan baik hati mengantarku ke kantor beberapa kali. Kadang dengan vespa tuanya, kadang dengan motor gedenya.
Di pantai Baron Yogya, aku tak bisa menahan keliaran-keliaranku. Berjalan berdua dengannya di tepi pantai yang indah dan langit biru yang cerah, mungkin itulah penyebabnya.

“Belum pernah ke sini, mbak? Indah kan?” tanyanya lugu.
“Belum. Memang indah sekali. Seandainya aku datang ke sini dengan seorang kekasih, betapa lebih indahnya” jawabku spontan.

Satu komentar kecil nakalku itulah yang kukira membangkitkan sesuatu yang tidur dalam dirinya. Aku bisa menangkap dari bahasa tubuhnya yang tak mau jauh-jauh dariku padahal teman-temannya yang sama-sama muda mengajak berlarian, bermain dan beraktifitas lainnya. Ia memilih duduk denganku yang paling tua dalam rombongan ini, di atas pasir putih dengan pemandangan pantai serta laut yang eksotik, membincangkan apa saja dari yang remeh temeh sampai hal-hal yang agak berat.
Bisa ditebak gunjingan teman-temannya sepulang rekreasi itu. Si jangkung idola sekampung berwajah manis serupa artis itu kepincut hatinya dengan seorang pendatang baru di kampung mereka yang usianya lebih tua dan dari lagak perempuan dewasa itu bisa menarik sekaligus beberapa pria. Itu karena ketika perjalanan rekreasi sampai di Malioboro, Radindra kehilangan jejakku dan aku berhasil ditemani Divo yang tinggi besar dan seorang pemain band. Berburu batik, souvenir dan bakpia pathok. Waktu singgah di pantai Kukup, adik lelaki Radindra- Yahya- yang menemaninya mencari kerang dan kerakal yang bagus-bagus untuk dibawa pulang.
Efek dari akhir pekan kontroversial itu langsung terwujud Senin ketika ia mengantarku ke kantor. Pagi itu ia seperti seorang penderita obsesif kompulsif, menghujaniku dengan banyak pertanyaan aneh, mempertanyakan kedirian dan kemauanku, ke mana arah anginku. Dan aku tak bisa menjawab kecuali dengan rengkuhan dari arah punggungnya. Mungkin hanya untuk menutup mulutnya yang tiba-tiba ceriwis dan menggangguku, mungkin juga karena tiupan dingin angin pagi yang menampar wajah dan tubuhku di boncengan motor gedenya yang melaju di bawah langit biru kota tua yang eksotis.

**

“Aku harus pulang”
Kusentakkan lembut tangannya yang mencoba menghalangiku pergi. Ibuku membutuhkanku di kampung halamanku sendiri sepeninggal ayahku yang terenggut bersama penyakit jantungnya.
Radindra menatapku perih. Aku resign dari kantor secara tiba-tiba dan melepasnya begitu saja dari rutinitasnya mengantar-jemputku tiap pagi dan sore karena kampusnya searah dengan kantorku. Ia akan kehilangan momen-momen bersama tanpa kejelasan hubungan yang pasti. Dan aku bahkan seperti menemukan jalan untuk melarikan diri.

**
“Mbak, aku sudah sampai depan rumah”
Suara dari seberang telpon yang kuangkat siang itu kukenali dengan mudah. Suara resah mendesah pemilik lelaki muda yang tak pernah lelah menjamah angkuhku yang jengah. Rumah siapa? Pikirku. Lalu kudengar suara ketukan di pintu rumahku.
Oh!
“Radindra!” teriakku kecil.
Ia yang basah kuyup oleh hujan berdiri dengan tegap di hadapanku. Setelah telpon dan sms-nya tak pernah kujawab. Aku baru akan mengucapkan kalimat pengusiran halus tetapi kalah cepat oleh suara ibuku.
“Radindra! Masuk, nak. Kok hujan-hujanan begitu? Sendirian?”
Ibu yang mengenalinya sebagai  tetangga nenek di kota tua, menyuruhnya masuk. Mengambilkannya handuk, membuatkannya teh hangat, menyuruhnya mandi dan berganti baju yang disiapkan ibu, menemaninya duduk dan bercakap. Bahkan memintanya menginap.
Apa –apaan ibu? Pikirku. Bukankah ibu menjodohkan aku dengan Gery? Meski aku belum sepenuhnya setuju dengan pilihan ibu karena aku yang terbiasa seperti elang terbang di lautan bebas belum siap untuk berdiam dalam satu sarang.
  Lalu kenapa ibu sedemikian baik dengan Radindra? Padahal ibu tahu persis cerita dari sepupuku Lily dan juga sedikit bocoran dariku bahwa Radindra sangat mungkin sekali menaruh hati denganku.
“Radindra tahu apa yang harus dipersiapkan untuk menuju pernikahan?” tanya ibu sampai pada suatu paragraph setelah berbanyak busa antaranya dan Radindra, lelaki muda yang sedang berjuang mencari dan mengambil hati orang tua di depannya.
“Saya akan lulus tahun depan dan segera mencari pekerjaan” jawabnya mantap. Aku hanya mengangkat bahu di samping ibuku yang tersenyum. Entah apa arti senyumnya. Karena pagi harinya, sesaat setelah lelaki muda itu berpamitan, ibu masih tetap dalam keputusannya untuk menjodohkan aku dengan Gery. Dan aku terpaksa menuruti ibu untuk memutuskan semua kontak dengan Radindra. Ganti nomer ponsel sesudah secara jelas dan tegas menyampaikan fakta  kepadanya bahwa aku sudah dijodohkan dengan orang lain sehingga tak ada peluang untuknya mendekatiku lagi.

**

Sudah lama berlalu tetapi tatapan penuh kerinduan miliknya masih kusimpan erat dalam ingatanku. Dengan Ulin-sepupuku yang lain- yang tinggal di kota tua ini aku berbincang menjelang berbuka bersama di sudut kamar tamu. Aku mencoba mencari tahu kabar Radindra. Hanya sedikit-sedikit saja sentilanku di antara percakapan hal lainnya karena kuatir dicurigai dan diledek. Itupun ternyata tertangkap Ulin dan ia akhirnya meledek juga.
“Aku kirimkan salam untuk dia ya mbak” godanya sambil cengengesan.
“Eh…jangan…jangan…” malu hati juga aku. Tapi aku tahu Ulin hanya bercanda. Ia cuma meledekku.

**

Seusai sholat maghrib, mataku berkeliling mencari sosoknya yang sangat kukenal. Biasanya dulu dia yang mengumandangkan adzan dan iqomah. Mungkin setelah berlalunya waktu ada banyak mereka yang lebih muda yang menggantikannya. Jarak antara jamaah pria dan wanita agak jauh. Meski demikian pandangan bebas karena terpisah oleh pintu kaca full dari ambang atas sampai bawah.
Aku berusaha tenang dalam dudukku yang gelisah. Tetapi mataku tetap bergerilya. Ada banyak wajah-wajah lama. Nenek –nenek tua yang selalu kami hormati dengan mencium punggung tangannya. Wajah-wajah baru bermunculan termasuk seorang gadis cantik yang duduk di dekatku. Aku dulu belum pernah melihatnya di lingkungan ini. Mungkin sama sepertiku dia sedang berlibur di rumah neneknya untuk suatu acara atau apa. Tampaknya ia sangat pendiam sehingga aku tak mengajaknya berbincang. Apalagi orang-orang tampak khusyu dan alasan lainnya adalah aku akhirnya melihat sosok yang kucari. Radindra. Masih setampan dulu, setegap dulu. Aku bisa mencium bau tubuhnya dari jarak yang jauh dan terhalang pintu pintu kaca itu. Terendus begitu saja. Hanya tampak samping belakang, tapi cukup mengobati kerinduanku. Astaganaga, apa kubilang? Nhah! Ternyata aku juga merindukannya.
Dia sekarang harapanku. Setelah pernikahan yang gagal dengan Gery, setelah limbungku, tak ada salahnya kembali pada Radindra. Peduli amat dengan peraturan ibu tentang suami yang harus lebih tua dari istri. Aku mungkin akan menentangnya kali ini. Kebahagiaan akan tercapai jika kita menikah dengan orang yang mencintai kita, begitu kata-kata bijak yang sering kita dengar.
**
Turun dari jamaah sholat tarawih, aku berjalan pelan. Dan benar seperti dugaanku, Radindra menemukanku.
“Mbak. Apa kabar?” tanyanya menghentikan langkahku. Kini kami berdiri  berhadapan di depan teras rumah nenek yang berseberangan dengan masjid.
“Alhamdulillah, baik. Kamu apa kabar?” aku menyembunyikan getar di balik suaraku yang menahan kerinduan.
“Alhamdulillah sehat. Kapan datang, mbak?”
“Tadi sore.”
Hening. Kami seperti tercekam, terseret kenangan saat-saat kami bersama.
“Masih sering nyinom ?” tanyaku memecah kebisuan. Dulu ia biasa memimpin remaja masjid dan juga remaja kampung untuk menjadi tim pramusaji di acara kondangan dan perhelatan pesta yang banyak digelar di kota tua ini. Sungguh anak muda yang berdedikasi tinggi. Pekerjaan yang sering dianggap rendahan itu dikerjakannya dengan rapi dan penuh senyum keramahan. Dikerjakannya penuh cinta, seolah nyinom melayani menghidangkan sajian bagi tamu-tamu ini seperti sebuah pekerjaan seni yang agung.
“Alhamdulillah, masih. Tapi seringnya hanya berada di balik layar dan meja, mbak. Teman-teman bisa dilepas sendiri, saya mengatur jadwal dan lobi-lobi saja” jawabnya santun, khas dirinya. Rendah hati.
Rupanya ia sudah naik pangkat jadi manajer dan mungkin kantornya sendiri dengan armada tim yang kompak karena telah ia pimpin dan kelola sejak ia masih mahasiswa. Ini berita bagus buatku.  Akan jadi poin tambahan jika aku mengajukannya nanti di hadapan ibu.
“Eh, Yahya juga kebetulan pas pulang. Ia kerja di Jakarta. Itu dia..” telunjuknya yang lentik menunjuk ke  seorang pemuda, tampak siluet  Yahya di lorong jalan kampung yang gelap pada beberapa sisi.
“Kupanggilkan ya….” Ia menawarkan sesuatu. Apa ia masih menyimpan cemburunya pada Yahya karena selama setahun waktu di sini dulu diam-diam aku juga sering berboncengan dengan Yahya. Double kencan buatku biasa. Tetapi mengencani dua kakak beradik ini memang pengalaman excited bagiku. Gila benar memang, adrenalin terpacu dan main petak umpet yang nyaris sempurna. Mungkin baru ketahuan setelah aku pergi meninggalkan kota tua ini waktu itu. Mungkin mereka berdua berbagi cerita dan ah, itu pasti menggelikan dan sekaligus tragis.
“Nggak usah ah. Aku senang bertemu kamu lagi” aku langsung menandaskan ini supaya ia tahu bahwa hatiku tetap lebih cenderung padanya disbanding adiknya.
“Aku juga” pendek kalimatnya cukup menghentikan waktu. Seakan dikungkung awan pekat hangat, aku terpaku. Kurasa pipiku memerah, untung tersembunyi di bawah langit gelap karena lampu jalan kampung hanya temaram. Mata dan tatapan kerinduannya menusukku. Harum tubuhnya dalam jarak dekat ini menerbangkanku ke langit ketujuh. Hari –hari indah bersamanya di masa mendatang menggoda jiwa. Radindra. Akhirnya waktu mempertemukan kita kembali.
“Yuli…sini. Ini mbak Fina” cowok itu memanggil seorang gadis yang tampak turun dari masjid, dengan isyarat tangan menyuruhnya mendekat.
Keningku berkerut, dadaku berdegup. Cewek yang mencium punggung tanganku ini ternyata gadis cantik yang duduk di dekatku waktu sholat tarawih tadi. Dari sikapnya kepadaku kini kentara sekali  kalau ia menaruh hormat dan simpati padaku. Entah apa yang diceritakan Radindra tentangku padanya. Dan yang lebih penting lagi, siapakah gadis ini? Sepupunya yang tinggal sementara di rumah keluarga Radindra kah?
“Saya pulang dulu…” gadis yang dipanggil dengan nama Yuli itu berpamitan, terutama kepada Radindra kurasa. Ada sedikit cemburu menyelip di dadaku. Gadis itu cantik, muda. Ia lebih cocok untuk Radindra dibanding aku.
“Yo wis, ya sudah sana….” Jawab Radindra dengan gerakan tangan mengusir gadis itu pergi. Bagus, pikirku. Setengah jam berbincang di pinggir jalan depan rumah nenekku kini bisa berlanjut berdua saja dengan Radindra.
“Siapa itu?” tetap saja keingintahuanku harus terjawab. Aku siap bersaing sehat.
“Siapa? Yuli? Istriku, mbak” jawabnya tanpa dosa, lugu seperti dulu.
Aku segera berpamitan. Meninggalkan Radindra tergugu di tepi jalan karena ia tampak masih ingin melanjutkan obrolan denganku tetapi aku memutuskan pergi sebelum menangis.
Bergegas aku masuk ke dalam rumah nenekku dengan tergesa-gesa. Menghambur ke dalam kamar tamu dan menemukan Ulin masih tiduran di sana.
“Kamu jahat ya Lin. Kenapa tidak bilang kalau ia sudah menikah?” ucapku lirih kuatir terdengar banyak orang.
“Siapa? Siapa yang menikah?” tanya Ulin pura-pura polos. Lalu tersenyum tengil.
“Mbak kan nggak tanya ia sudah menikah atau belum?”
Kutonyo kening sepupuku dengan pelan pura-pura marah sambil menahan tangis dan luka di dadaku. Kota tua ini dan lelaki muda itu, ah perihnya.


Hutang Setahun Dibayar Ngopi Sehari



Hutang Setahun Dibayar Ngopi Sehari
Oleh Dian Nafi

Aku menghindari dan tidak menghadiri undangan ngopimu setahun ini tanpa kusadari. Permasalahannya bukan karena aku tidak suka kopi. Aku bahkan kecanduan banget. Tetapi aku merasa tidak siap bertemu denganmu.
Tengah tahun itu, kita sedang sama-sama berada di Jakarta untuk kepentingan dan acara yang berbeda. Aku penulis yang menghadiri sebuah acara award di Palmerah. Kamu pengusaha yang ikut pameran di PRJ. Kamu terus berusaha menghubungiku. Untuk secangkir kopi, katamu? Itu malah membuatku takut. Aku ingat aku menghubungimu via inbox fesbuk beberapa  malam sebelumnya. Apa yang membuatku tertarik padamu adalah kesaksian seseorang yang sempat dekat denganku selama satu minggu di sebuah Mei. Dari matanya aku menangkap kebesaran jiwa dan karismamu. Membangkitkan benih kekagumanku sendiri setelah kekagumannya.

Lalu ajakan ngopi darimu datang bertubi-tubi sejak itu. Terus menerus setiap bulan sekali. Juli di Jogja kamu mengadakan ngopi bareng seluruh rekanan. Seharusnya aku datang karena kita akhirnya bekerja sama, tapi aku absen. Agustus di Semarang saat perusahaanmu ikut pameran, kamu mengajakku ngopi juga tapi aku menghindar lagi. September di Jogja, Oktober di Semarang, November di Jogja, Desember di Jakarta lagi. Dan aku masih juga ‘lari-lari’, ketakutan sendiri. Karena dalam masa itu kita lambat laun menjadi sepasang ‘kekasih’ maya sebab komunikasi yang intens via black berry. Dan aku kuatir akibatnya jika harus bertemu atau kopi darat. Takut jika aku terbuai dan jatuh dalam pelukanmu, sementara sudah ada seorang istri setia di sisimu.
Januari kamu masih mencoba lagi mengajakku bertemu dengan modus yang sama, ngopi. Aku lagi-lagi berhasil menghindar. Februari kamu mengganti modus. Dengan alasan ingin bekerja sama denganku, ajakan ngopi itu datang lagi. Aku yang makin rapuh saja merasa akan jatuh terkulai padamu jika menyerah saat itu, jadi aku sengaja membiarkan ajakanmu itu tak berjawab. Maret, April, Mei dengan sesekali kamu memasang status betapa nelangsanya ajakan ngopi yang tak pernah bertaut. Aku hanya tersenyum geli membacanya.
Kemudian kejutan sebelum Ramadlan itu datang. Setelah akhir Juni kuhabiskan di Jakarta dengan kamu dari jarak jauh masih terus mengawasiku, Juli datang. Aku yang baru saja turun dari Jakarta ke Semarang, merasa harus menggunakan kesempatan sempit hari itu untuk pergi ke Jogja. Setelah lelah terus menerus menghindarimu, aku merasa mungkin ini saatnya berani bertemu. Karena candu yang dulu kurasai padamu pastilah sudah berkurang seiring bertambahnya waktu.
Kupikir kita akan bertemu di Jogja saja dalam satu kesempatan sepeminuman kopi seperti yang selama ini kamu todong. Tapi Tuhan berkenan lain. Kamu juga sedang di Semarang pagi itu, jadi langsung menawarkan diri untuk bersama-sama ke Jogja.
Di sinilah aku dan kamu, dalam mobilmu. Menempuh lima jam perjalanan dari Semarang Jogja. Akhirnya ngopi juga berdua di kafe Banaran di tengah perjalanan. Dan bahkan kamu mengantarku berkeliling kampus UGM untuk kepentingan survey setting novelku. Menungguku dengan sabar di parkirannya ketika aku berkeliling. Lalu mengantarku kembali dengan mobilmu ke pool travel, sehingga aku bisa kembali pulang ke Semarang dengan nyaman.
That is unpredictable moment. Dari rencana bertemu sepeminuman kopi di Juni tahun lalu, kita malah bersama-sama dalam delapan jam. Ternyata aku akhirnya membayar hutang ajakan ngopi setahun itu dalam pertemuan seharian. Hohoho. Ajaibnya.

Cerpen PAWASTRAN dimuat di koran Joglosemar


PAWASTRAN
Oleh Dian Nafi

Kau tahu kadang kematian menyapa seseorang dengan caranya sendiri. Menyapa sebelum datang. Mlipir mlipir, berjingkat sepanjang tepi-tepi. Karenanya pawastran yang didendangkan Gus Dur sedemikian menyentuh kalbu, menggores hati. Kita baru tahu bahwa itulah tembang saat sekarat beliau setelah kematiannya  benar-benar tiba dan kita hanya bisa mengenang, Oh ya, memahami, mengenang dan seharusnya mengambil pelajaran. Sampai sekarang pawastran Gus Dur masih sering terdengar dan bahkan makin sering banyak yang memperdengarkan. Begitu menyayat.
Dan semampang beberapa kali kudengar pawastran Gus Dur di toko yang kusinggahi, juga di sebuah madrasah dekat kantor pos, bahkan di beberapa warung pinggir jalan ketika kendaraanku melaju lambat, kemarin aku seperti membaca pawastran juga di dinding fesbuk seorang penyair. Kemarin juga sempat terlihat di dinding fesbuk ibu dari seorang sahabat. Seperti ada maut yang melambai-lambai. Membawa badai di dalam rasaku. Tiba-tiba aku merasa bahwa umurku mungkin takkan panjang. Mungkin masaku akan segera tiba, akan segera berakhir. Mungkin aku akan mati muda. Apakah aku yang terlalu paranoid?
Entahlah. Aku hanya belajar untuk menjadi peka. Karena tubuhku menjadi sering mudah lelah. Rasaku mudah galau. Terutama menghadapi suamiku-mas Alim- yang akhir-akhir ini nampak tidak bersemangat.
Seperti Minggu pagi ini, dia malah meringkuk di tempat tidur mertuaku padahal kami semua sudah bersiap pergi kondangan ke pesta pernikahan saudara. Dan seperti biasanya kalau kami pergi, mas Alim harusnya yang mengemudi mobil.
“Mas..sudah ditunggu banyak orang lho”
Dengan lembut, jemariku mengelus bahu kekarnya yang terlihat nglempuruk bersama tubuhnya yang akhir-akhir ini Nampak lemas.
“Mas sakit ya?”
Kuraba keningnya. Tidak panas.
“Mas ?”
Aku masih menunggu jawabnya tetapi dia hanya memeluk guling dan semakin mojok. Semestinya aku mulai panik seperti biasanya kalau suamiku tidak bergegas melakukan sesuatu yang menurutku harus dilakukannya. Seperti kali ini. Seharusnya dia sudah bersiap untuk pergi karena lokasi pernikahannya di luar kota. Reaksiku biasanya marah dan bergumam tak jelas. Tapi kali ini tidak. Inilah yang menggangguku. Aku ingat sekali ayahku yang pemarah menjadi lembut dan halus di hari – hari terakhirnya bersama kami, sebelum pergi selama-lamanya. Perlahan rasa ciut kembali hadir menyelisip ke dalam galauku, lagi dan lagi, Apakah ini artinya waktuku tak lama lagi.
Kunaikkan tubuhku ke ranjang ibu mertua yang empuk karena beliau rajin menjemur kasurnya. Mungkin mas Alim merasa tak enak hati meringkuk pagi-pagi di kamar kami, jadi ia pindah ke sini. Karena aku sudah lama menghilangkan kebiasaannya tidur lagi di pagi hari sejak tahun pertama pernikahan kami. Aku dengan warisan kedisiplinan dan ketegasan yang keras dari ayah ibuku, membantu suamiku memulai kebiasaan – kebiasaan yang lebih baik. Tapi pagi ini beda. Kubiarkan diriku mendekatinya, menempelkan tubuhku ke tubuhnya, memijat dengan lembut bagian – bagian yang aku tahu ia suka jika aku menyentuhnya.

“Ini pernikahan saudara dekat kita, mas. Aku ingin kita datang sama-sama” bisikku di telinganya.
Aku mulai melontarkan bujukanku. Mas semestinya tahu aku selalu mendapat semangat dan energi baru jika menghadiri pesta pernikahan, seperti mengenang saat-saat pertama kami dulu.
“Aku sedang tak ingin pergi” jawabnya lemah.
“Mas yakin?”
Aku menggigit kecil telinganya yang mulai memerah. Ia mulai tergoda. Tangannya mulai meraba-raba diriku dan galauku.
“Tutup pintunya,sayang..”
Pintanya setelah kami sadar apa yang sama-sama kami inginkan saat ini, melepaskan kegalauan.
Oh no!
Kami di dalam kamar mertuaku, ibunya, tapi sepertinya mas ingin kami melakukannya. Tapi aku melakukan permintaannya, semoga setelah short time ini mas Alim mau pergi bersama kami sekeluarga menghadiri undangan hari ini. Usai menutup pintu, kami melakukannya dengan indah dan kuusahakan tak terlalu panjang karena ibu mertua, kakak ipar dan istrinya sudah menunggu kami di teras rumah.
Seusai puisi manis kami terentang, kubisikkan sekali lagi bujukanku.
“Mas jadi pergi mengantarku kan?” bisikku lebih personal lagi, meski maksudnya adalah mengantar kami semua.
“Hmmm..” ia menggumam sedikit sambil terus menciumi aku.
“Tapi aku tidak mau nyetir ya” ia akhirnya setuju dengan mengajukan syarat.

Pembujukanku berhasil. Kami akhirnya berangkat  bersama hari Minggu itu. mas Alim duduk di sebelahku di jok paling belakang, dekat pintu belakang mobil kijang iparku. Sopir kami duduk di belakang kemudi, biasanya ia tak kami ajak dalam acara keluarga. Tetapi karena mas Alim tidak mau nyetir hari ini, kami membawanya turut serta.
Sepanjang perjalanan kami terus saling bergenggaman tangan, melanjutkan kenakalan kami tadi di kamar mertuaku. Sampai-sampai digoda oleh kakak iparku.
“Duh. Kayak pengantin baru ya, padahal anaknya sudah dua”
Ah ya. Aku bahkan hampir melupakan dua balitaku karena asyik bermesraan dan memperhatikan kekasihku. Si sulung – Asan- duduk bersama pakdhe-nya di kursi depan. Anak perempuanku- Atima- duduk bersama budhe dan simbahnya di jok tengah. Mas Alim menjawab candaan kakaknya dengan gayanya yang khas, humoris. Satu hal yang membuatku mengagumi dan menyayanginya. Meski suara dan tawanya agak terdengar lesu, tak seperti biasanya.

**

Dibanding mengkhawatirkan diriku dan galauku akan perasaan bahwa umurku mungkin tak lama lagi, sebenarnya aku lebih mengkhawatirkan mas Alim. Dia sedang tidak banyak mengerjakan proyek, bahkan hanya ada satu proyek yang sedang dikerjakannya. Itu juga tidak dengan bendera kami sendiri sebagai pemborong. Tetapi hanya subkontraktor, mengerjakan proyek kecil saja. Dan repotnya lagi bermasalah. Mas Alim mengomandoi mandor dan sekumpulan tukang untuk membangun jembatan di dekat hutan di sebelah kota kami. Dan naasnya hujan lebat dan aliran sungai yang sangat deras meruntuhkan sebagian jembatan yang telah hampir selesai pengerjaannya.
Kepalanya sering terkulai di bahu kanannya akhir-akhir ini. Dia akan duduk lama dengan posisi seperti itu di bangku teras, dengan mata sayu menatap kosong.
Kadang dia masuk keluar rumah dengan tujuan yang tak jelas. Saat mas Alim berpamitan tadi, aku tak menanyakan hendak ke mana perginya karena tak ingin membuat egonya terluka. Kuanggap ia hendak pergi menangani proyek jembatan itu.
“Aku pergi dulu, nok” ucapnya pendek.
Aku mencium takdzim punggung tangannya. Membawakan tasnya sampai ke pintu depan rumah. Kemudian kembali ke dapur untuk memasak, menyiapkan sesuatu yang istimewa untuknya saat makan siang nanti. Agar dia kembali bersemangat dan tidak layu seperti pemandangan yang kami serumah lihat tentangnya.

“Assalamualaikum”
Suara bass-nya terdengar sampai ke dapur.
“Alaikum salam.”
Tergopoh aku berlari menyambutnya dengan cium tangan dan sedikit pelukan. Aku sungguh sangat ingin memberinya momen-momen istimewa di saat-saat aku mungkin tak lama lagi pergi, meninggalkan semua kefanaan dan carut marut dunia ini. Tak urung aku terkejut juga karena baru setengah jam yang lalu mas Alim pergi, tiba-tiba sudah kembali.
“Ada yang ketinggalan, mas?” tanyaku keheranan.
Dia hanya menggeleng lemah lalu memasuki kamar kami.  Aku dengan sigap mengikutinya, memijit kaki dan badannya. Heran juga aku pada diriku sendiri, karena untuk kondisi yang standar, aku akan nyerocos tidak karuan. Tapi entahlah, lagi-lagi aku mungkin mencoba melembutkan diriku untuk memberinya kesan terindah sebelum aku pergi. Aku ingin meresahkan kegalauannya, apapun itu. Akhirnya kubiarkan suamiku meringkuk kembali di tempat tidur meski sebenarnya secara fisik dia kelihatannya sehat.

**

Sikapku yang memanjakan dan menservisnya lebih dari biasanya terus berlangsung begitu saja. Dan aku menikmatinya. Termasuk perjalanan kami ke Jakarta Rabu itu. Serasa bulan madu yang kedua karena enam tahun lalu kami juga ke Jakarta untuk bulan madu di tengah tahun setelah pernikahan kami berlangsung sebulan sebelumnya.
Kami berangkat utamanya untuk urusan pekerjaan, aanwisjing proyek pabrik besi yang akan kami kerjakan. Tetapi perjalanan itu sendiri telah menjadi hadiah bagiku. Kepalaku terus menerus diraihnya dalam dadanya yang bidang. Kami duduk bersisian di jok tengah. Dia terus meremas dan menciumi tanganku, mengelus lembut kepalaku, mengabaikan sopir dan dua rekan kami yang turut dalam rombongan ini.

**

Sepulang dari Jakarta kemesraan kami semakin menjadi-jadi. Yang sebenarnya aku senang, bahagia namun sekaligus takut. Terlalu tenggelam dalam kebahagiaan yang seketika seperti gelombang dahsyat yang menggulung, bukankah itu seperti menyiratkan sesuatu?
Aku terus menghibur diriku sendiri bahwa semuanya akan baik-baik saja. Anak- anakku masih kecil, tiga dan satu setengah tahun, kasihan mereka jika sampai harus kehilangan ibunya. Aku menenggelamkan diri dalam kesibukan pekerjaan dan juga menambah sedikit lebih panjang doa dan sujud malamku.
Aku mulai meniru kebiasaan suamiku untuk membaca rathib, sebuah wirid yang diajarkan gurunya. Yang akhir akhir ini dibaca mas Alim dengan lebih khusyu’ setiap bakda maghrib. Sambil duduk ndepipis, mojok di kursi ruang tamu, dengan wajahnya yang bersinar-sinar meski nampak kuyu dan lusuh oleh beban hati dan pikirannya.
Tiga malam berturut – turut kami melalui malam yang sangat istimewa, malam-malam yang menggetarkan seolah waktu terhenti dan hanya ada kami berdua ditelan gelombang kebahagiaan. Seolah dunia dan kehidupan akan segera berakhir sehingga kami menikmati waktu tersisa dengan sebaik-baiknya.
Malam Ahad ketika mas Alim harus pergi kembali ke Jakarta untuk melanjutkan apa yang sudah kami sama-sama rintis beberapa hari lalu, aku melepasnya dengan berat.
Teman-temannya- tim kami-  di dalam mobil kijang yang ikut berangkat menggodaku.
“Wah, kayaknya mau ikut ke Jakarta lagi tuh” ujar bosnya.
Aku tersenyum kecil menyembunyikan merah dadu di pipi dan hangat di wajahku. Mas Alim menatap kedua bola mataku, mencoba mencari kemungkinan kalau kata – kata temannya itu benar. Aku semakin tersipu merasakan diriku terbakar oleh tatapan matanya yang meski sendu namun akhir – akhir ini memabukkan hatiku.
Aku mengangkat bahuku sedikit, dia paham.
“Dia ada pekerjaan di sini, bos. “ujarnya ke arah bosnya.
“Dia tidak bisa ikut meski ingin. Iya, kan? Ah, tidak apa. Kita cuma tiga hari” kali ini matanya melirikku nakal. Matanya beradu dengan mataku, yang terbakar, terbakar rindu bahkan sebelum berpisah.
“Aku hanya tiga hari, okey?”
Mas Alim kembali mengecup keningku. Jemarinya terus menggenggam erat jemariku. Tak dilepasnya hingga akhirnya kelingking kami saling mengkait sebelum kedua telapak tangan kami akhirnya harus berpisah.
Mas Alim duduk di jok belakang mobil kijang itu. Membalikkan tubuhnya sehingga wajah tampannya tersenyum dengan sangat lebar ke arahku yang berdiri beberapa meter di belakang mobil itu, di teras rumah kami. Tangannya melambai mesra, dengan kedipan matanya yang meluruhkan duniaku. Teman-temannya menggoda sekali lagi dengan suitan dan apalah yang tak begitu terdengar olehku karena duniaku terserap oleh magnetnya. Aku membalas lambaian Mas dengan rasa yang tak terkatakan.
Dan ternyata itu adalah lambaian yang terakhir.
Bukan, bukan lambaianku yang terakhir, tetapi lambaiannya.
**
Aku duduk tergugu. Bagaimana aku bisa mengira bahwa umurkulah yang akan pendek. Malaikat maut telah sedemikian dekatnya dengan kami dan aku kege-eran mengira akulah yang akan dijemput.
Bagaimana ketika pawastran itu begitu dekat denganku, tapi aku tak sempat membaca dan mengenalinya dengan baik. Lalu tiba-tiba suamiku pergi dan tak pernah kembali lagi. Berpulang ke alam cahaya.
*
Seharusnya saat itu tercium sesuatu. Mas Alim takut bepergian apalagi takut menyetir seminggu yang lalu itu mungkin karena dia sudah diberi isyaratNya. Tapi aku tak cukup peka, mungkin karena penciumanku tertutup oleh ciumannya.
Aku menangis bermalam-malam dengan lobang dalam rongga dadaku yang menganga. Dan semakin menganga.  

Cerita Dari Book Fair

 Kayaknya memang tidak pernah bisa melewatkan pameran buku tanpa pernah membeli buku. Gitu deh. Sebel juga sih sebenarnya. Hehe. Soalnya tadinya bawa duit itu mau buat keperluan lain. Eh giliran masuk Gedung Wanita dan lihat-lihat buku di pameran buku kali ini, akhirnya uang melayang juga. hiks. nasib.

Eh, di sana ketemu teman-teman dari IIDN dan juga KI. Hoho..gak lupa deh terus foto-foto narsis seperti  biasanya :D

pas kebeneran ada yang pesan, jadilah beli Miss Backpacker Naik Haji di pameran


Ada Ayah, lelaki itu mengkhianatiku juga :)

seperti biasanya, stand diva press gedhe dan ada di bagian paling depan :)

Berlayar bersama buku. Keren ya konsepnya tahun ini. Ada kapal  Di Depan Gedung Wanita





Penjualan Buku-Buku Baru sudah dibuka!



PENJUALAN BUKU-BUKU BARU DIBUKA!

Toko buku online ini resmi, tersedia 20 buku-buku Dian Nafi (lengkap dan praktis) dengan diskon dan tanda-tangan. Toko berlokasi di Demak, sudah melayani ribuan pemesan (mulai dari Papua hingga Aceh, Singapura, Australia, Hongkong), insya Allah seluruh paket aman. Kami melayani pemesanan mulai dari 1 buku, hingga ratusan buku, diperlakukan sama pentingnya. Harap baca petunjuk pemesanan di bawah ini dengan detail, kirimkan sms sesuai contoh agar prosesnya lebih cepat. Selamat berbelanja.

Berikut buku-buku Dian Nafi:

(harga buku belum ongkir)
  1. ORES (Kode O), Rp 35.000 (harga online)
  2. TWINLIGHT (Kode T), Rp 25.000 (harga online)
  3. XALI (kode X), Rp 35.000 (harga online)
  4. UNDIMENSIONES (Kode U), Rp 25.000 (harga online)
  5. DEAR LOVE (DL) Rp 25.000 (harga online)
  6. MAYASMARA, Serial Mayasmara (M), Rp 35.000 (harga online)
  7. SEGITIGA, Ada Cerita Di Setiap Sudutnya  (S) Rp 25.000 (harga online)
  8. LELAKI KUTUNGGU LELAKUMU, Serial Mayasmara#2 (Kode LKL), Rp 25.000 (harga online)
  9. SARVATRAESA, Serial Mayasmara#3 (Kode SAR), Rp 30.000 (harga online)
  10. RUMAH TANGGA PENUH CINTA (Kode RTPC), Rp 25.000 (harga online)
  11. ANAKKU TERHEBAT (Kode AT),  Rp 27.000 (harga online)
  12. ENGKAU LEBIH DARI BIDADARI (Kode ELB),  Rp 25.000 (harga online)
  13. MISS BACKPACKER NAIK HAJI (MBNH) Rp 45.000 (harga online)
  14. MESIR SUATU WAKTU (MSW) Rp 35.000 (harga online)
  15. AYAH, LELAKI ITU MENGKHIANATIKU (ALIM) Rp 35.000 (harga online)
  16. JUST IN LOVE (JIL), Rp 35.000 (harga online)
  17. LELAKI PERTAMA (LP) Rp 40.000 (harga online)
  18. KABUT KASUMI (KK) Rp 40.000 (harga online)
  19. GUE TAKUT ALLAH (GTA) Rp 40.000 (harga online)
  20. GUS (GUS) Rp 40.000 (harga online)
 Ada juga buku-buku lainnya:

GENERASI COPY PASTE (kode GCP), Rp 65.000 (harga online)

Cara Pemesanan:
  • Kirimkan SMS/WA ke 085701591957, sebutkan kode judul buku yang dipesan, jumlah pesanan, NAMA, dan ALAMAT. Contoh SMS: Pesan 2 GUS, 1 JIL, pemesan Ahmad, Alamat Jl. Drupadi I/5, Semarang.
  • Kami akan reply sms berisikan total harga buku+ongkos kirim (kami menggunakan paket reguler POS atau JNE). Umumnya, 1 kilogram bisa untuk 4 buku, pemesanan 1 buku tetap dianggap 1 Kg (dibulatkan pihak POS/JNE). Untuk memudahkan perhitungan, maka kami selalu memakai patokan 4 buku = 1 kg. Agar ongkirnya efisien, kami selalu menyarankan pesan dengan kelipatan 4 buku.
  • Setelah menerima sms konfirmasi, Pemesan melakukan transfer sesuai jumlah sms yg kami kirimkan ke Bank Mandiri atau Bank BCA (Nomer rekening akan kami sms-kan) kirimkan sms pemberitahuan kalau sudah melakukan transfer. Transfer bisa lewat ATM bersama, e-banking, langsung ke teller, ataupun titip dari rekening orang lain (orang tua/kawan).
  • Buku akan kami paketkan setiap Senin &Kamis (2x seminggu), agar kami sempat memastikan stok tersedia dari penerbit.  Waktu pengiriman paket untuk kota-kota besar pulau Jawa biasanya hanya 2-3 hari. Sumatera, Kalimantan, dll 4-5 hari kerja. Silahkan cek website kurir untuk detail berapa lama waktu pengiriman.
  • Jika ingin mengetahui detail buku-buku tersebut bisa dilihat di https://www.goodreads.com/author/show/5159278.Dian_Nafi
  • Pastikan alamat kirim yang di sms sudah lengkap, nomor HP yg digunakan selalu aktif, agar kurir tidak bingung. Alamat lengkap itu minimal ada nomor rumah, RT/RW, nama jalan, desa, kelurahan, kecamatan, kabupaten, provinsi dan kodepos. Untuk kantor/asrama, mencantumkan nama gedung (jika ada), nama perusahaan, bagian, lantai (jika ada). Khusus utk alamat2 di pedesaan, kami menyarankan menggunakan alamat saudara/teman di kota terdekat, agar tidak ada masalah jika ternyata di luar batas antar, atau nanti terpaksa mengambil sendiri paketnya ke agen JNE terdekat. Kami menjamin setiap paket aman, hanya saja, karena melibatkan kurir, harap bersabar.
  • Biaya ongkos kirim termasuk biaya packing, biaya transport lokal, dll. Jika ada perbedaan ongkos kirim di resi dengan perhitungan kami, itu karena JNE memberikan fasilitas diskon (hingga 15%) yang menjadi benefit toko. Ongkos kirim dan lamanya pengiriman detail bisa di cek di www.jne.co.id (JNE).
  • Jika membutuhkan resi pengiriman bisa sms kami. Posisi paket bisa ditracking dengan no resi lewat website JNE: www.jne.co.id
  • Semua pesanan otomatis di tandatangani (hanya tandatangan; tidak bisa direquest hal lain, menulis pesan, nama, dsbgnya), jika pemesan menginginkan buku tetap di wrapping plastik, tanpa tanda tangan, harap disebutkan di sms pesanan. 
  • Karena nomor HP di blog ini sering menerima dan mengirim SMS maka ada kemungkinan ada SMS yang eror, tidak terkirim. Jika tidak ada reply dalam 12 jam, harap SMS ulang. Pastikan nomor yang dimasukkan tidak keliru. Jam buka toko online kami, 08.00 - 17.00 (Senin s/d Jum'at); sms yang kami terima diluar jam buka, akan masuk antrian untuk direply segera hari berikutnya. Sabtu-Minggu hanya untuk packing, restok, dll. Tetap bisa pesan, tapi baru direply Senin.
  • Selamat berbelanja :) 
Khusus untuk reseller/grosir:
  • Sementara ditutup.
Khusus untuk pemesanan Luar Negeri:
  • Sementara ditutup.

#ngemilbaca San Pek Eng Tay




Berkat bujukan yang jaga stand penerbit Oborpameran buku bertempat di Gedung Wanita Semarang kemarin, aku akhirnya membeli novel yang legendaris ini. San Pek Eng Tay. Promosinya yang jual sih, dia bilang cerita dalam novel ini beda banget dengan yang ada di sinetron, film maupun pementasan lainnya. Oke deh, akhirnya aku terbujuk :)

Dan di kata pengantarnya juga diceritakan bahwa Legenda dari Tiongkok ini diceritakan secara keliru. Karena lebih menekankan pada kisah percintaan keduanya dengan penggambaran Eng Tay sebagai perempuan yang setia mencinta sampai rela mati menyusul San Pek kekasihnya. Pdahal sejatinya cerita ini adalah tentang emansipasi wanita, yang mengejar supaya bisa sekolah bersama para lelaki meski sebenarnya dilaramg. Terpaksa Eng Tay menyamar sebagai lelaki untuk bisa berguru  dan menimba ilmu. 

Selama tiga tahun itu Eng Tay dan San Pek bersama-sama. Tanpa pernah ketahuan jati diri asli si gadis ini. Sampai akhirnya mereka berpisah dan mau kembali ke rumah masing-masing, barulah Eng Tay membuka jati dirinya. Asmara pun bertaut di antara keduanya. Dan  mereka pun berjanji akan terus bersama, sampai mati.

Sayangnya begitu sampai di rumah, belum lagi San Pek  dan orang tuanya yang miskin datang melamar, datanglah lamaran dari orang hebat yang langsung diterima ayahnya Eng Tay. 

Meranalah sepasang kekasih ini, hingga ajal menjemput. 

The moral of story dari kisah ini antara lain, ternyata however orang yang pertama kali ditemuilah yang memikat hati (jadi San Pek dan Eng Tay bertemu dalam perjalanan menuju perguruan)

Oh hei, nggak seneng banget deh lihat San Pek terlalu lembek gitu. Hey, man, kamu kan cowok. Kok cuma segitunya, terus menyerah, pakai sakit lagi sampai mati. Seharusnya kamu lebih gigih lagi memperjuangkan cinta kalian. Ihhhh gemes banget deh jadinya.

Cerita Dari Pembekalan Kelas Inspirasi

Cerita Dari Pembekalan Kelas Inspirasi

Pembekalan yang diselenggarakan di gedung Indosat semarang ini berlangsung sangat meriah. Ada puluhan relawan yang hadir,  dan semuanya antusias. Ruangan hall Indosat ini luas banget, dan sangat representatif. Rupanya salah seorang relawan KI adalah pejabat teras di Indosat Semarang, jadi begitulah ceritanya sehingga pembekalan bisa diselenggarakan di tempat ini.

Dua orang koordinator dari Jakarta memberikan garis besar apa saja yang harus relawan KI lakukan pada hari inspirasi. Yups, intinya kita harus bisa membangkitkan semangat anak-anak itu untuk bermimpi dan bercita-cita setinggi-tingginya dan berusaha keras untuk mencapainya. 
Yang menarik, dua orang ini bekerja di bidang yang sama denganku. Mas Dika bergerak di properti, sedangkan Bayu di konsultan arsitektur. Sempat ngobrol-ngobrol sama mereka usai acara dan bertukar nomor telpon juga. Selanjutnya obrolan sambung via WA. 


Dan tiga orang pengajar muda (PM) yang baru saja pulang dari pulau-pulau terpencil, memberikan beberapa teknik dan gaya mengajar untuk anak-anak SD. Mereka ini masih muda-muda banget, salah seorang di antaranya malah mengingatkanku pada salah satu adik angkatan di kampus yang dulu sama-sama aktif ikut tarbiyah. Hahay...jadi ingat bahwa di dunia ini konon ada enam orang kembaran alias punya wajah yang mirip.




 


Diriku juga sempat ketiban sampur untuk praktik mengajar di atas panggung.
Alamaaak.... 

Setelah itu semua berkumpul dalam kelompoknya masing-masing dan mulai membangun strategi dan persiapan perang menuju hari H.

Nah, cerita selanjutnya bisa dibaca di sini >> Kelas Inpirasi! Bangun Mimpi Anak Indonesia!


Haji, Camry Dan Mobil Impian

 Haji, Camry Dan Mobil Impian

Pertama kali kenal Camry beneran ya pas pergi haji tahun 2009. Jadi ceritanya waktu itu salah seorang saudaranya iparku menjadi petugas haji. Nah, ketika adikku dan istrinya (iparku itu) sore itu menemukan seorang nenek yang tersesat di jalanan, mereka menghubungi petugas ini. Dus, sampailah camry mulus itu di depan maktab kami di daerah Ummul Quro'. Untuk pertama kalinya kami naik kendaraan keren ini :D

Adikku yang meskipun seorang dokter tetapi punya bakat jurnalis sekaligus detektif ini langsung banyak bertanya. Tentang spek dan macam-macamlah berkaitan dengan mobil yang ditumpangi kali ini.

Tidak pernah menyangka kalau beberapa tahun kemudian, dia benar-benar keturutan bisa nyetir sendiri camry-nya, meski itu milik mertuanya. Lalu bertahun kemudian, dia malah bisa gonta-ganti mobil karena iparnya jualan mobil!

Duh! Gantian diriku yang suka kemecer kalau dia dengan istrinya datang ke rumahku bawa mobil, ganti-ganti. Halagh. Wis, pokoknya sekarang baru bisa berangan-angan dan berdoa saja, semoga suatu saat bisa kesampaian. Aamiin

Rahasia Membuat Cerita Hebat


Rahasia Pertama: Buat Karakter Utama yang Menarik

Rahasia Kedua: Tetapkan Tujuan Semenarik Mungkin


Rahasia Ketiga: Pastikan Tujuan Tersebut Memiliki Risiko


Rahasia Kelima: Tetapkan Akhir yang Memuaskan


Jadi cerita, adalah perjalanan KARAKTER UTAMA yang memiliki TUJUAN tertentu yang berRISIKO, mendapatkan berbagai RINTANGAN sepanjang jalan, hingga menemui AKHIR yang memuaskan.
Selamat membuat cerita hebat ya.
Jangan lupa buat dapatkan novel Just In Love terbitan Grasindo di toko buku terdekat kamu ^_^