City Branding

Kemarin hari Sabtu, 22 November 2014, aku dapat undangan dari
panitia rembug citybranding untuk Semarang. 
Dan surprised banget karena di sana akhirnya ketemu juga dengan dosen arsitekturku di Undip dulu, pak Uci. Yang memang concern juga di bidang perkotaan. Seandainya Prof Eko Budihardjo masih ada, mungkin juga beliau akan dengan senang hati urun rembug.
 Tiga puluhan orang yang hadir sore itu di venue, menempati hall-nya Telkomsel.com dipersilahkan memperkenalkan diri satu persatu. Beberapa wajah sudah pernah berjumpa juga, adik angkatanku di arsitektur yang sekarang aktif di klinikdesain.com, mas Sriyono dari seputarsemarang.com, mas Munif dari wisatasemarang, Pak Nanang dari Pemkot, beberapa pengusaha kuliner dan pariwisata, juga para pekerja kreatif, DKV dan agensi,serta Beni dari kreavi.com.
 Yang menarik, dalam kesempatan yang singkat di antara sela-sela waktu sebelum acara dimulai, eh ada lho seseorang dari semacam production house gitu yang dengan sigap dan cepat pitching ke Pak Nanang dari pemkot. Berbekal gadget dan video hasil kreasi PH-nya, dia mempertontonkan kebolehan dan kecakapan PHnya dalam memproduksi video untuk kebutuhan promosi wisata dan semacamnya. Hoho...hanya dalam 3 menit mungkin, dan that's enough. Pitching is done, mereka bertukar kartu nama. Dan bisa jadi di kemudian hari akan ada speak-speak, order, dan semacamnya. Who knows. That's the advantage of the meeting for some person. Meski bagi sebagian relawan yang hadir, pertemuan ini memang brainstorming as it should be. Pak Uci yang kayaknya sudah gatal mau menyampaikan pandangan dan wawasannya untuk Semarang City Branding, kulihat sabar banget nungguin gilirannya bicara. Hehe. Good, Sir :))
Satu persatu juga dishoot dalam video berdurasi 5 menit, untuk mengungkapkan gagasannya bagi Semarang City Branding. Semarang ini unik sekali padahal, ada 4 topografi sekaligus dalam satu kota. Ada gunung, perbukitan, daratan dan pantai. Pak Nanang juga menyinggungnya dan sempat bilang kalau yang pas untuk Semarang ini adalah Water Front City. Meski butuh perjuangan lebih jika memang ini yang mau diangkat. Karena we have to promise little, deliver much. Jangan sampai kita menawarkan Water Front City, terus wisatawan berbondong-bondong datang karena tertarik slogan itu, padahal dalam kenyataannya 'tidak segitunya' atau bahkan 'nol puthul'.
Beni mengangkat warag ngendog sebagai ikon Semarang. Pas banget juga sebenarnya dengan Semarang as diversity in culture, karena di Semarang itu ada empat budaya berakulturasi dengan baik, Jawa, Cina, Arab dan Belanda, yang tergambar dalam warag ngendog juga.
Menurutku sendiri, Semarang itu sering dianggap payah karena separoh-separoh. Kota bisnis juga enggak, kota wisata juga enggak. Yang dianggap sebagai kelemahan ini justru bisa diangkat sebagai kekuatan.  Jadi kita mungkin bisa menyebutnya sebagai VACAPPOINTMENT, The city where people can take vacation while get business appointment.



0 komentar:

Posting Komentar