Blogger news

Searching...

Kabut Kasumi (cerpen jepang ceritane)


KABUT KASUMI
Oleh Dian Nafi

Kasumi menatap Isao dari kejauhan. Sepupunya itu kelihatan gagah dan tampan. Biasanya pun seperti itu. Apalagi sekarang, saat lelaki yang baru saja merayakan  ultah yang kedua puluh itu akan mengadakan upacara pernikahan Shinto.
Shinto hanya dihadiri oleh keluarga dan kerabat dekat mereka saja. Hanya ada sekitar tiga puluhan orang dari pihak lelaki, dan tiga puluhan orang juga dari  pihak perempuan. Isao sendiri konon yang memilih untuk mengadakannya di altar suci ini dipimpin pendeta Shinto, dibanding ke hotel atau restauran yang juga dilengkapi dengan sebuah ruangan khusus bagi upacara pernikahan. Kuil Daijingu di Chiyoda Tokyo ini memang terkenal sebagai tempat pertama dilangsungkannya Sintho sebelum akhirnya tradisi ini menyebar ke seluruh Jepang. Selain Isao, ternyata banyak pasangan lain yang juga mengikat janji hari ini. Mungkin karena ini salah satu dari hari-hari keberuntungan tertentu dalam kalender Jepang.
“Kamu kelihatan pucat, Kasumi”
“Aku nggak apa – apa, bu” gadis itu menundukkan kepalanya demi menutupi  raut sedih dan cemburu yang bercampur jadi satu.
Kasumi memegangi dadanya, menyembunyikan perihnya, sejak awal upacara pernikahan saat Isao dan pengantin perempuan dimurnikan oleh pendeta Shinto. Ada yang berteriak dalam dada Kasumi saat Isao dan perempuan itu melakukan ritual san-sankudo. Selama ritual ini, mempelai perempuan dan pria bergiliran menghirup sake, sejenis anggur yang terbuat dari beras yang difermentasikan, Isao menghirup sembilan kali dari tiga cangkir yang disediakan, pun demikian dengan perempuan di sisinya. Kabut di mata Kasumi makin tebal. Hatinya menjerit nyeri. Seharusnya dia yang ada di sisi Isao. Atau semestinya Isao tidak ada di sini. Seharusnya Isao mati.
Saat mempelai perempuan dan Isao saling berhadapan untuk mengucap janji, keluarga mereka juga saling berhadapan. Kasumi yang hadir sebagai bagian dari keluarga Isao sebenarnya merasa tak kuat lagi memendam perih batinnya. Namun adat dan sopan santun tetap menjadi prioritasnya, sehingga dia mencoba bertahan.
Setelah ucap janji, anggota keluarga dan kerabat dekat dari kedua mempelai saling bergantian minum sake, menandakan persatuan atau ikatan melalui pernikahan. Kasumi yang seharusnya juga meminumnya, hanya membasahi sedikit bibirnya dengan sake itu. Takkan masuk ke dalam perut jika dia paksakan, karena yang terjadi mungkin dia malah akan memuntahkannya.
Selesai upacara, Kasumi bersama saudara yang lain mengeluarkan sesaji berupa ranting Sakaki, sejenis pohon keramat, yang ditujukan kepada Dewa Shinto.
“Semua ritual Shinto ini untuk mengusir roh-roh jahat dengan cara pembersihan, doa dan persembahan kepada Dewa” bisik ibunya saat Kasumi menanyakan hal ini.
Prosesi pernikahan sebenarnya singkat dan sederhana juga sangat khidmat. Apalagi maknanya memang untuk memperkuat janji pernikahan dan mengikat pernikahan fisik kedua mempelai secara rohani. Tapi semuanya terasa lama, panjang dan menyiksa bagi Kasumi.
Baginya semua ini seperti mimpi buruk.  Nama  Isao – sepupu dari garis ayahnya itu- sebenarnya berarti kehormatan. Dengan pernikahan ini, semakin terhormatlah dia, semestinya. Tapi Kasumi menyimpan kisah yang perih dan menyakitkan tentang Isao. Pedihnya masih terasa sampai kini, dan entah sampai kapan.

Naoko, perempuan yang entah beruntung atau justru rugi karena dipersunting Isao, kulitnya dicat putih dari kepala hingga ujung kaki. Konon itu melambangkan kesucian, sekaligus menyatakan status kesuciannya kepada para dewa. Yach, nama Naoko artinya anak yang baik dan terhormat. Kini dia benar – benar telah terhormat karena sampai di pelaminan, tempat mengikat janji suci. Dengan selamat, tanpa kecelakaan sebelumnya seperti pada umumnya anak – anak muda jaman sekarang.
Sedangkan aku? Aku adalah Kasumi, sebuah nama yang artinya  adalah kabut, bisik hati Kasumi dengan kesal. Seperti itulah dirinya, berkabut pilu dan kematian jiwa sementara raganya masih ada.
Tragisnya Naoko -yang entah beruntung atau merugi itu- kemarin sempat meminta pendapat Kasumi di saat disuruh memilih oleh periasnya, mana yang dia pilih di antara dua topi pernikahan tradisional. Satu adalah penutup kepala pernikahan berwarna putih yang disebut tsuni kakushi, yang secara harafiah bermakna menyembunyikan tanduk. Dipenuhi dengan ornamen rambut kanzashi di bagian atasnya.
“Tudung ini untuk menyembunyikan "tanduk kecemburuan", keakuan dan egoisme dari ibu mertua - yang sekarang akan menjadi kepala keluarga. Kita, masyarakat Jepang percaya bahwa cacat karakter seperti ini perlu ditunjukkan dalam sebuah pernikahan di depan mempelai pria dan keluarganya” jelas sang perias saat Naoko menanyakannya.
Kasumi dengan hati yang berantakan, menyilangkan tangan bersedekap di dadanya yang serasa remuk.
“Penutup kepala yang ditempelkan pada kimono putih mempelai perempuan, ini juga melambangkan ketetapan hati untuk menjadi istri yang patuh dan lembut dan kesedian untuk melaksanakan peran dengan kesabaran dan ketenangan.” Sang perias memasangkan topi itu di kepala Naoko agar mereka sama – sama bisa melihat tampilannya.
“sudah jadi kepercayaan tradisional kita bahwa rambut sebaiknya dibiarkan tidak dibersihkan, sehingga butuh mengenakan hiasan kepala untuk menyembunyikan rambut “ perias itu tertawa kecil melihat reaksi Kasumi dan Naoko yang sama – sama bergidik.
“Bagaimana menurutmu yang ini?” Naoko menghadap ke arah Kasumi.
“Coba yang satunya” meski enggan, toh Kasumi tidak boleh menampakkannya. Dan lagi kekesalannya bukan pada Naoko kan. Tapi pada Isao.
Hiasan kepala tradisional lain yang dapat dipilih mempelai perempuan adalah wata boushi.
“Dengan ini, wajah mempelai perempuan benar-benar tersembunyi dari siapapun kecuali mempelai pria. Menunjukkan kesopanan sekaligus mencerminkan kualitas kebijakan yang paling dihargai dalam pribadi perempuan” sang perias melepas topi yang tadi, diganti dengan alternatifnya.
“Gimana?”  alis Naoko naik, menunggu komentar Kasumi yang menahan keluh.
“Yang ini oke” dicobanya untuk mengukir senyum, tapi Kasumi gagal.
Kesopanan, kebijakan, kehormatan. Taek. Kasumi ingin teriak marah. Tak pernah bisa pupus dari benaknya, bayangan kejadian kala itu. Saat dirinya masih enam tahun, dan Isao mungkin tiga belas atau empat belas tahun. Isao menindihnya di kamar depan rumahnya.
Entah apa yang diajarkan Isao waktu itu padanya, tapi ada rasa dalam hati Kasumi bahwa dirinya tidak lagi terhormat dan berharga. Dia berharap Isao akan membayar perbuatannya itu suatu hari. Tapi hari ini, kenyataan menyatakan tidak
Sekarang, Isao di depan sana, mengenakan kimono pernikahan berwarna hitam. Ibu sang mempelai perempuan menyerahkan anaknya dengan menurunkan tudung Naoko. Setelah tadi ayahnya mengikuti tradisi berjalan mengiringi anak perempuannya menuju altar seperti yang dilakukan para ayah orang Barat.
Kasumi menarik diri dari kerumunan keluarga. Disandarkannya punggung pada dinding dekat meja penerima tamu. Beberapa tamu yang datang belakangan tampak memasukkan goshugi atau uang pemberian dalam amplop ke dalam wadah yang disediakan. Meski ada juga yang memberikannya sesudah upacara pernikahan langsung pada pengantin. Diedarkannya pandangan menyapu ruangan. Ke meja – meja bundar  dengan para tetamu duduk melingkarinya. Sajian makanan mulai dihantarkan oleh panitia ke hadapan mereka.
Cerita – cerita dari keluarga dan teman – teman kedua belah pihak, lelucon, juga nasihat – nasihat para tetua mulai diperdengarkan dan dinikmati semua tamu yang hadir. Semua orang tampak berbahagia. Kecuali dirinya, Kasumi.
Beberapa orang bahkan juga menyumbang lagu, menyanyikan tembang – tembang romantic untuk pengantin dan tamu. Kasumi merasakan ada yang meleleh dari kedua ujung matanya. Semestinya kebahagiaan ini juga milikku, bisik hatinya terdalam. Saat Isao dan Naoko didaulat menyanyi oleh para tetamu dan mereka menyambutnya dengan menembangkan sebuah lagu, Kasumi langsung memalingkan wajahnya. Lagu itu bahkan lagu yang sangat kusukai karena aku mendengar untuk pertama kalinya waktu itu dari Isao.

Tooku de iki wo shiteru
toumei ni natta mitai
Kurayami ni omoeta kedo
mekakushi sareteta dake
Inori wo sasagete
atarashii hi wo matsu
Azayaka ni hikaru umi
sono hate made ee~
Hito no kokoro wa utsuri yuku
nukedashitaku naru
Tsuki wa mata atarashii shuuki
de mune wo tsureteku
Tabi wa mada tsuzuiteku
odayaka na hi mo
Tsuki wa mata atarashii shuuki
de mune wo terashidasu
Inori wo sasagete
atarashii hi wo matsu
Azayaka ni hikaru umi
sono hate made
Unmei no fune wo kogi
nami wa tsugi kara tsugi e to
Watashi-tachi wo osou kedo
sore mo suteki na tabi ne
Dore mo suteki na tabi ne…

Tak ada yang tahu siapa aku sebenarnya
Aku tidak pernah merasakan sehampa ini sebelumnya
Dan jika aku membutuhkan seseorang untuk menemaniku,
Siapa yang akan membuatku nyaman, dan menjagaku tetap kuat?
Kita semua mendayung perahu nasib
Ombak terus datang dan kita tak dapat lari
Tapi jika kita tersesat
Ombak itu akan memandumu melewati hari yang lain
Jauh, Aku bernafas, seakan-akan aku tak terlihat
sepertinya aku dalam kegelapan, tapi sebenarnya hanya mataku saja yang ditutup
Aku berdoa sembari menanti hari yang baru
Bersinar terang hingga ke pinggir laut
Tak ada yang tahu siapa aku sebenarnya
Mungkin mereka sama sekali tak peduli
Tapi jika aku membutuhkan seseorang untuk menemaniku
Aku tahu kau akan mengikutiku, dan menjagaku tetap kuat
Hati orang berubah dan mencoba berlepas diri
Bulan dalam perputarannya memandu perahu ini lagi
Dan tiap kali aku memandang wajahmu
Laut yang bergelombang mengangkat hatiku
Kau membuatku ingin mempertahankan dayung ini, dan segera
Aku dapat melihat ombak itu
Oh, Aku dapat melihat ombak itu
Kapankah aku melihat ombak itu?
Aku ingin kau tahu siapa aku sebenarnya
Aku tak pernah mengira aku merasakan hal ini padamu
Dan jika kau membutuhkan seseorang untuk menemanimu,
Aku akan mengikutimu, dan menjagamu tetap kuat
Dan perjalanan tetap berlanjut dalam hari-hari yang sepi
Bulan dalam perputarannya yang baru di atas perahu ini
Aku berdoa sembari menanti hari yang baru
Bersinar terang hingga ke pinggir laut
Dan tiap kali aku memandang wajahmu
Laut yang bergelombang mengangkat hatiku
Kau membuatku ingin mempertahankan dayung ini, dan segera
Aku dapat melihat ombak itu

“Kasumi. Ayo bantu yuk” seorang bibi yang menangkap basah dirinya sedang menghapus air mata,  malah meminta dirinya ikut sibuk dengan panitia lagi. Menyiapkan tandamata atau hikidemono berisi permen, peralatan makan dan pernak-pernik pernikahan. Yang sudah dipersiapkan malam sebelumnya, dimasukkan ke dalam sebuah tas.
“Nanti kamu ikut bagikan ke para tamu sesudah resepsi selesai untuk mereka bawa pulang” Kasumi hanya mengangguk mengiyakan petunjuk bibinya, sembari terus berusaha menghilangkan kabut dari kedua matanya.
Bagaimanapun dan apapun yang terjadi, dia tidak boleh terlihat sedih di depan Isao. Kasumi tidak pernah bisa membenci sepupunya itu. Isao banyak mengajarinya segala hal. Nilai  - nilai Kasumi yang cemerlang di sekolah juga karena  banyak bimbingan dari Isao. Yang ada tadinya sebenarnya hanyalah harapan dan harapan. Tetapi harapan itu sekarang telah pupus.
Kasumi tidak ingin melihat Isao jatuh jika dia menghinakannya dengan mengungkit kejadian waktu itu. Karena itu sama saja dengan menghinakan diri Kasumi sendiri. Karena tak ada yang tahu sejak itu, saat Kasumi semakin beranjak remaja,dia juga melampiaskannya pada mereka yang lebih kecil dari dirinya. Semua seperti lingkaran setan yang dimulakan oleh Isao. Lelaki di depan sana itu, yang sekarang sedang tampak menyalami tetamu yang memberikan selamat, adalah gurunya. Dan sebagai murid yang setia dan berbakti, Kasumi akan ikut berbahagia saja atas kebahagiaan gurunya meski hatinya perih. Pedih dan nyeri.

#cerpen #jepang #diannafi



0 komentar:

Poskan Komentar

 
badge