[cerpen] Mawar Berapi

Perempuan tiga puluh tahunan itu tak bisa menyembunyikan kepedihan hatinya. Satu lagi kabar menampar wajahnya yang tak telah lama kehilangan raut bahagia. Hati berasap, kepala menyala. Panas. Sementara itu mentari kian menungku, kian lama kian lepas baranya. Hingga pada lubuk hari bongkah bara mematang. Angin datang mengibas. Bara terserpih, meratak.
Sebuah fitnah menusuk tajam telinganya. Padahal ia telah berusaha sekuat tenaga bersembunyi. Bukan sembunyi karena salah atau malu. Tapi demi menjaga harga diri dan kehormatan suaminya.

**

Di suatu waktu yang entah, kepalanya menjadi sangat pening. Didahului geletar dan gelepar dari dalam diri. Matanya nanar. Tidak untuk alasan apapun ia jadi ingin menyentuh apa saja dengan lebih lembut. Mendengarkan apa saja serasa ia terasuk. Yang mengejutkannya, ia bahkan merasakan sesuatu hasrat yang aneh, hendak mencumbui siapa saja yang tertangkap matanya sekalipun itu pembantunya sendiri, yang juga seorang perempuan seperti dirinya.
Sejak itu ia sadar, ia tak normal. Ia tersiksa. Terkadang sedemikian rupa karena tak bisa mengendalikan diri dan nafsunya, ia hampir selalu mencari tempat-tempat tersembunyi untuk berswadaya dan semacamnya. Ia sadar itu dosa tapi gelegak dalam dirinya begitu kalap. Untuk alasan itulah terutama kemudian ia bersegera menerima pinangan lelaki yang paling duluan hadir.
Ternyata siksaan belum berakhir. Lelaki yang diharapkannya menjadi obat, menjadi penawar, menjadi pemberhentian, ternyata tak cukup sepadan. Sehingga kemudian ada  masa – masa darahnya menggelegak, naik sampai ke ubun-ubun. Membuat kepalanya semakin pening. Dada mengencang, debar jantung bertalu, nafas memburu. Begitu menyiksa.
Daripada kabur. Dipilihnya bersyukur. Menyelesaikannya dengan tidur. Kadang hanya bisa terpekur. Mengambil jarak akan dirinya sendiri. Berharap segera bertemu mentari. Agar segera sibuk akan banyak hal dan terlupa kebutuhannya sendiri. Hingga kemudian seketika ia terkejut, sepenggala pagi terkatup kabut, gelap menyelimut.

**

“Maaf, Silvi. Aku lelah” 
Lelakinya dengan lembut menampik. Gelisah dan merah segera menerkam apinya. Kadang tiap usai peluk erat suami, gigil menikamnya perlahan. Tak peduli betapa hangat dan bahkan panas dirinya. Lelaki itu seringkali bergeming. Membuatnya semakin resah dan sulit bernafas. Ada yang menggelegak dalam dirinya. Tapi lelakinya tiada peduli. Sibuk sendiri. Melanglang dalam alam mimpi. Tak tersentuh, tak mudah dipahami.
Bulan separo subuh ini buat nafas terengah. Ia dilingkari warna ungu kemerahan. Awan tipis menyikapi planet bercahaya di barat daya dengan arakan pelan. Mata perempuan itu mengalirkan bening, mengarsir pipi putih dengan tulangnya yang tinggi. Ia berjingkat mengambil air suci. Tiada pelarian sejati kecuali Ilahi Robbi. Ke sana ia bergegas pergi.

**

Bertubi tuba jatuh ke pendengarannya. Tentangnya yang jalan dengan daun muda.
“Nggak tahu malu.”
Tentang lelakinya yang tak bisa melegakan dahaganya.
“Kasihan bu Silvi ya..”
Tentang apa lagi yang ia sebenarnya tak ingin peduli.
“Untunglah suaminya baik”
Dorongan hati terdalam ingin memberontak dan diri ingin terbela. Namun urung jua ia membuka suara. Tak layak baginya melepas rahasia. Cukuplah dia dan  Maha penggenggam segala tersembunyi  yang tahu. Harapnya melangit tinggi. Hanya kebaikan yang akan ia daki. Meski perih merintih, jiwa mengkerut repih. 

Tuduhan keji itu mampir begitu saja tanpa disangka. Hanya karena ia duduk di boncengan seorang pemuda yang adalah sepupu suaminya. Atas perintah suaminya sendiri lagi.
“Sofyan, antar mbak-mu ya,” ucap Arya sembari berlalu kembali menekuni utak utiknya pada mesin yang mungkin sudah tak bisa diutak utik lagi. Hanya alibi.
“Silvi. Biar Sofyan yang mengantarmu. Aku sibuk, nanggung,” ujarnya ringan. Menggerakkan jemarinya dengan gerakan memberi isyarat agar istrinya segera pergi dan tak perlu mengatakan sesuatu apalagi menolak perintahnya ini.
Arya-lelaki yang menjadi tumpuan hatinya- seolah menyerahkan dirinya kepada beberapa lelaki lain. Seperti siang itu ketika ia meminta suaminya mengantar dirinya untuk menemui klien.
“Mas, tolong antar aku ya,” bujuk Silvi.
Maksud hati ia ingin semakin dekat dengan suaminya. Arya malah merelakan perempuannya yang cantik dan berdarah panas duduk di boncengan motor seorang pemuda yang juga berdarah panas. Dan itu bukan sekali, bahkan dua tiga empat lima kali. Sampai memberikan keberanian bagi Sofyan yang tinggi atletis tampan berbau wangi itu untuk menggenggam jemarinya. Menarik dirinya agar bersandar di punggung lelaki muda yang melindapkan dan merasukkan hangat. Menelan kesunyian dan kedinginan yang selama ini ia rasakan. Tak bisa dirinya menolak atau berpura-pura marah. Ia pasrah.

“Atma. Tolong pijitin bulikmu setelah memijit aku,” kali lain Arya bahkan menyuruh keponakannya-Mahatma-untuk  memijit Silvi yang baru saja tergelincir.
Beberapa kali session, bahkan setelah pelintirnya sembuh. Dan justru bukan dengan tangannya sendiri, Arya memijit istrinya. Lelaki itu seolah tahu apa yang dibutuhkan perempuannya yang tak bisa ia berikan. Dan ia seperti hendak memberikan melalui orang-orang yang dikenalnya, orang-orang yang bisa ia kontrol dengan baik.
Mungkin dalam pikirannya, itu lebih baik daripada Silvi mendapatkan dari  sama sekali orang-orang lain yang tak dikenalnya. Pemikiran bodoh dan naïf sebenarnya. Karena dengan pancingan itu kemudian Silvi justru memanas, dan lagi Arya yang harus menanggung akibat. Perempuan itu sejak dulunya dan telah bertekad dalam hati untuk selalu memegang teguh ajaran agama dan kesopanan. Ia sejatinya perempuan puritan. Sehingga ia melarikan rindu dan apinya hanya pada suami yang sah miliknya.

Arya berusaha keras tapi tak cukup handal. Lagi-lagi hanya kecewa yang diperoleh perempuannya. Lelah dan kehampaan. Lalu hanya bisa mengarungi pelarian ke segala kesibukan yang melupakan riak riak dalam tubuhnya. Tenggelam dalam rancak dan gegap gempita irama tabuh rebana dan juga ritmis Laa IIaaha Illallah di komunitas pengajiannya. Apa saja yang membuatnya bisa kelelahan dan kehabisan energy sehingga api serta sekam dalam dadanya luruh, bisikan iblis di kepalanya melirih, ambruk dalam tidur yang bertasbih. 
Lelah. Tersiksa.
Karena meski sesaat hilang geletar dan gemetar. Ia masih merasa sasar. Kunang-kunang di mata tetap nanar. Api dalam tubuh tak berhenti menjalar.
Ia menutup semua jendela pintu rumah. Senja telah retak, teriris, lalu pecah. Tak ada bekas-bekasnya sama sekali karena esok hari senja juga utuh lagi. Entah dengan sinar yang mana, di ufuk yang sebelah mana.

**

Puji dan sorot kagum mengepungnya. Ia tak bisa menampik. Pemberian dari Tuhan yang terbaik. Lehernya jenjang. Kakinya panjang. Mata bulat cerdas. Ringan langkah lincah trengginas. Lentik bulu mata. Senyum kemilau seperti cahaya. Kerling memikat seperti lezat coklat. Ia ternisbatkan dengan kasunyatan sebagai seorang yang terberkahi. Kesempurnaan. Kecantikan wajah, kemolekan wadag, kecerdasan akal dan nurani.
Namun tak banyak yang tahu kecuali dirinya sendiri. Mungkin juga ada sedikit sekali para tetua yang paham bagaimana membaca tubuh dan rahasianya. Bahwa air matanya lirih, hatinya pedih, jiwanya repih, ia tersiksa atas karunia yang orang lain menganggapnya sebagai kelebihan. Justru baginya semua itu adalah siksaan. Ada gelegak yang minta dialirkan dari dalam tubuhnya. Ada yang meronta ingin dilepaskan dari dalam jiwanya. Ada keliaran yang kadang tak bisa ia tahan.
Ia masygul bersama senja yang sekonyong muncul. Hujan tergesa menyusul. Awan hitam membungkus matari. Lalu membawanya lari. Sebentar kemudian hujan kembali meruntah.

**
Selendang malam mulai  menguap cepat dan akhir dari segalanya tak tampak sama sekali. Dalam sujud panjangnya ia bersimpuh. Mengadu dengan hati penuh. Pada yang Maha utuh. Akan segala keluh. Minta ampunkan segala peluh. Khilaf yang kambuh. Pun jua rapuh. Yang kadangkala jatuh. Di hatinya yang jenuh. Dan rindu yang menubuh.
Berbekal keyakinan. Kepada lelakinya ia rapatkan. Menghembuskan seluruh nyanyian. Dendang dan rayuan. Mereka berbincang. Menjarah malam. Membangkitkannya dengan apa saja. Wirid. Musik. Film. Buku. Apa saja. Untuk sampai.
Sedikit saja pun sudah disyukurinya. Selebihnya ia tinggal menjaga. Menyimpan sisa api dalam diri. Agar lekas mati . Jika pun tak mungkin. Setidaknya berada dalam jeruji. Sejak dini diruwati. Demi harga diri.

**

“Silvi. Maafkan aku.”
Konon lelaki sejatilah yang mudah meminta dan memberi maaf. Perempuan itu mengangguk, tersenyum. Untuk banyak hal, ia merasa sangat bersyukur. Lelakinya mapan, taat, pengasih, cerdas, santun, terhormat, setia. Apalagi yang diharapkan dari suami? Oh ya, itu. Itu juga lelakinya bisa. Hanya saja dirinya sendiri yang kelebihan energi, dirinya mungkin diciptakan dari mawar yang berapi. Hanya itu.
“Kamu pantas mendapatkan yang lebih baik dari aku, Sil,” lelah suaminya.
Perempuan itu menggeleng. Tak ada yang bisa memisahkan mereka kecuali maut, ia sudah berjanji pada dirinya sendiri.
“Tidak, sayang. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu sendiri, meski ada yang tak sampai. Itu bukan hal yang besar, darling. Maafkan dirimu,” bisik perempuan berambut ikal itu  lembut.
Lelakinya datar. Tidak tersenyum, tidak sedih. Tak mudah membaca pikirannya. Seperti juga tak mudah membaca hatinya. Ia serupa gerhana sekaligus matahari. Darinya perempuan itu menjadi gelap tetapi juga benderang.

**

Segalanya berpasangan. Hitam berada dalam putih.  Putih melahirkan hitam. Cahaya di dalam gelap. Gelap  melahirkan cahaya. Silvi menerima siksaan itu sebagai jalan baginya bertemu banyak kebaikan. Cahaya. Meski setiap lelah berakhir di persimpangan. Dan memungut tanda tanya. Apakah ia dengan ikhlas menjalankan pilihan-pilihannya atau ada sesuatu selainNya yang menjadi motivasi.

“Contoh itu bu Silvi. Meskipun golongan jetset tetapi ia memilih berkumpul dengan kita disbanding pergi dengan komunitas yang biasanya menjadi ajang kumpul bagi orang berada,” selentingan ini pernah tak sengaja terdengar olehnya.
Oh, orang mengira dia baik dan alim karena rajin berkumpul jamaah pengajian. Ia meraba hatinya sendiri. Malu menelingkupi. Inginnya ia juga berada di komunitas hi-class itu. Ke mall, club dan semacamnya. Tapi jika diturutkan, ia bisa membayangkan kerusakan yang akan menimpa dirinya. Ia dengan darah panas dan gelegak tubuhnya pasti takkan mungkin bisa menahan godaan.
Dari sini ia belajar, apa yang dipikirkan manusia tentang kemauan dan keinginan kadang tidak selaras. Kenyataan yang diinginkan belum tentu sesuai dengan yang dimaui dan sebaliknya.

“Bu Silvi semakin cantik memakai hijab seperti ini. Seandainya ibu X, Y, Z juga sadar mereka tentu meninggalkan gaya berpakaian yang terbuka-buka seperti itu,” seorang teman memujinya senyampang mengkritisi pilihan ibu X, Y,Z yang juga teman-teman akrab Silvi.
Oh.
Perempuan matang yang cantik jelita itu meraba keikhlasannya lagi. Hijab ini menjadi busana pilihannya karena jika ia mengijinkan dirinya memakai pilihan yang bukan ini, tidak saja ia menggoda orang lain menatap nanar padanya tetapi juga darah dan gejolak tubuhnya sendiri akan bisa lepas dari kendali dan kekang. Karenanya ia memilih memasang dinding, memasang duri. Ia merasa tak layak akan segala pujian dari ibu-ibu dan mereka yang memandangnya dengan terhormat dan takjub. Mereka sesungguhnya tak mengetahui niatan asli dari pilihannya. Terlebih –lebih ia tersuruk malu kepada sang Maha mengetahui segala rahasia. 
Mau tak mau perempuan bermata tajam nan cerdas itu harus mengalami adegan-adegan pelik  dalam kehidupan.  Menerima ikhlas sebuah paradoks dalam sebuah kecenderungan langkah-langkahku. Mengenakankan dua topeng, satu untuk lakon tragedi dan satu lagi untuk lakon komedi.
Pun kala ia menahan lapar dan haus dengan rutin. Demi menahan apa yang berkobar dalam dirinya. Dan juga degup. Namun orang –orang melihat lakunya dengan takjub. Pujian itu lagi yang termaktub. Menampar dinding hatinya yang menguncup. Ikhlasnya belum cukup. Ia melakukannya bukan semata untuk Tuhan tetapi terlebih untuk dirinya sendiri yang gugup.
Lelakinya, yang semakin menua dan melemah itupun tak bisa berbuat banyak. meski memahami benar yang terjadi dalam diri perempuan mitra hidupnya. Mafhum saja sikap yang dipilihnya akan keadaan yang tak ada kemajuan ini. No reserve.
Biarlah kulakoni dengan sebisa dan semampuku, bisik hatinya.
Tak mau mundur atau berhenti karena hidup  terus berlangsung. Dan entah sampai kapan gelegak dalam diri mengepung. Mungkin ini memang caraNya mendukung. Agar pada semesta kebajikan dan cahaya ia bersarung. 

**

Tak ada lagi tempat sembunyi. Jika dalam keadaan darurat yang keparat ia tersumbat. Ke ladang jauh dari rumahnya ia melaju. Meneriakkan dan menggelontorkan resah yang tak berbaju. Teriak seteriak-teriaknya hingga pedih peri berangsur pergi. Meski sering melintas apa yang tak pantas. Sekuat tenaga ia hempas. Karena menurut jiwa spiritualnya kini. Swadaya pun baginya keji.
Senja mengarsir kaki langit. Ringan langkah kakinya berjinjit. Menyusuri pematang sempit. Bergegas membawa roda kembali ke rumah. Menemui kekasih yang dengannya ia mewah. Oleh pengertian dan maaf yang berlimpah.
Cinta meniadakan warna  lainnya. Ia menghanyutkan, menginfeksi kulit hingga saluran pernapasan,  sampai ke ujung-ujung rambut yang tidak bersaraf.
Tuhan Yang Maha Damai, terima kasih, cinta ini menjagaku, bisiknya kuat-kuat. 

0 komentar:

Posting Komentar