parek

parek

iqomah sudah terdengar. sehingga dia akhirnya mengambil tempat terdekat dari dia keluar dari tempat wudlu. sebuah lokasi dekat jendela besar yang menghubungkan pandangan dari pawestren (tempat sholat putri) dengan tempat sholat yang ada di dalam. speaker di pawestren  yang mati dan riuhnya suara para pengunjung masjid yang bersliweran menuju tempat wudlu dan seputaran halaman masjid (maklum bulan ruwah) menyebabkan telinganya kesulitan menangkap suara imam. walhasil dia mengandalkan pandangan matanya yang bisa melirik gerak gerik para jamaah yang ada di dalam masjid.

sayangnya ketika ruku maupun sujud dan duduk setelah sujud, penglihatannya terhalang tembok/dinding yang memisahkan pawestren dan bagian ruang masjid. Sehingga gerakan sholatnya ada yang mendahului sang imam karena dia berdiri setelah sujud dengan hanya mengira – ngira saja waktunya, eh kecepetan.

Gini ini lho kalau jauh, tidak dekat/parek dari sumbernya langsung (sang imam). Jadi bisa sok tahu dan akhirnya keblinger, salah waktu salah gerakan. Demikian pula halnya untuk hal – hal lainnya. Bisa jadi kita melakukan sebuah amalan/laku dengan rasa/anggapan diri kalau yang kita lakukan oke – oke saja. Hmmm.... tapi apa iya? Kalau seperti kasus ini, kita ternyata cuma bisa meraba dan menduga –duga laku yang benar dan tepat padahal ternyata tidak ? hayo lhoh...


0 komentar:

Posting Komentar