Kematian, Jejak, Surga dan Siroh

Kematian, Jejak, Surga dan Siroh


Pada hari yang sama dengan hari kematian guru SDku yang sangat kucintai, aku sebenarnya sedang bergulat dengan berbagai referensi kisah-kisah shahabiyah untuk sebuah tugas menulis. Segera kutinggalkan untuk bisa memberi penghormatan terakhir pada beliau. salah satu guru terbaikku yang menyayangiku seperti anaknya sendiri. Di pojokan rumahnya  itu air mataku luruh. Kematian selalu menyakitkan. Perpisahan selalu terasa getir dan memilukan.

Terbayang kembali keindahan saat-saat kami bersama dulu. Elusan tangannya, nasihat-nasihatnya yang menyejukkan, pujian nya yang tidak berlebihan, dorongan dan kepercayaannya.

Siapa yang menyangka guru selembut itu bisa terkena tekanan  darah tinggi dan stroke, hingga koma dan  ajal menjemputnya. Lahal fatihah.


Pulang dari takziyah, aku berpapasan dengan beberapa kawan lama yang juga takziyah. Aku bisa membaca cinta di mata mereka. Kebaikannya akan selalu kami kenang. Seperti juga kebaikan  yang ditinggalkan Gus Alex Komang yang beberapa hari lalu  juga berpulang.

Kematian sungguh pelajaran yang sesungguhnya bagi kita.
Apa yang akan kita tinggalkan sebagai jejak nantinya. Obituari  apa yang akan orang-orang tulis tentang kita sepeninggal nyawa dan tubuh ini.


Membaca-baca siroh yang sebenarnya memang inspiratif  juga makin memperlihatkan bagaimana sebuah kematian dan warisan ini dipersiapkan (terkadang kita memang musti dipaksa untuk mau baca  siroh dan belajar dari sana)

Orang-orang mulia itu pernah ada dan tertuliskan sejarahnya dengan nyata. Manusia-bukan malaikat-bisa semulia itu jika mau berupaya dan memohon pertolonganNya.


0 komentar:

Posting Komentar