Mbak Dee, BEWF dan Sinau Fotografi

Mbak Dee, BEWF dan Sinau Fotografi


Sudah banyak ngomongin mbak Dee di beberapa postingan sebelum ini, tapi masih nggaaaaak habis-habisnya ngomongin lagi tentang Mbak Dee

Nah, ini dia salah satu yang juga menggelitik. Jadi setiap harinya mbak Dee menulis dua halaman di waktu subuh. lalu pagi setelah menulis itu, mbak Dee pergi ke pasar!

Nah lho, siapa nih  yang juga ke pasar seperti mbak Dee? Emang ada? Paling juga padha milih ke supermarket atau mall, ya kan?

So, apa sih simpulannya selain mbak Dee juga manusia seperti kita. Selain karena humble-nya, mungkin di pasar mbak Dee makin bisa melakukan risetnya akan tingkah dan bahasa tubuh manusia, mungkin juga dari situ jiwa eksotismenya terasah. Dan mungkin juga cara berpikir kreatif yang dia bilang hanya bisa kita dapatkan kalau kita mau keluar dari zona nyaman, antara lain  juga bisa via pasar ini, Pemandangannya, baunya, auranya, nuansanya, suaranya, dan lain sebagainya.

Terus, kalau menilik seri coaching berikutnya  yang mbak Dee kawal, sepertinya makin   dalam dan aplikatif. Tentu saja coaching sebelumnya memberikan bekal buat mbak Dee membuat coaching berikutnya jadi lebih canggih. Alhamdulillah.

Yang belakangan ini, mbak Dee menyinggung tentang personifikasi ide dan keluar dari zona nyaman.

Terkait dengan belajar dan coaching, alhamdulillah kini aku sedang mendapat mentoring juga di BEWF 2015. Membuka cakrawala lebih luas, aplikatif dan sekarang sedang mengerjakan PR-PR-nya.

Terus  tadi siang aku berkesempatan juga belajar fotografi di Sriboga Centre. Penting banget  buat nulis blog dan ngisi artikel sebagai kontributor web travel dan  tour. Meskipun dulu di kampus arsitektur pernah belajar Teknik Presentasi yang antara lain juga diajarkan Fotografi, tapi ini seperti bukan saja pengingat kembali tetapi juga jadi mengenal jenis-jenis kamera, lensa dan teknik-teknik baru.
Yeay! Alhamdulillah senang banget. Semoga bermanfaat dan berkah. Karena seperti yang kubilang di fesbuk,
Belajar, tidak saja penting apa & bagaimana materi itu kita terima, tapi juga seberapa berkahnya. Bukan saja apa& bagaimana energi yang kita peroleh. Tapi seberapa baik kita bertransformasi dengannya. Dan di antara cara-cara mendapat keberkahan ilmu ada di kitab ta'lim.

Metode Lima Kali Draft


Metode Lima Kali Draft


Berbagi Selalu Menyenangkan. Kemarin rumah kedatangan tamu yang selama ini hanya komunikasi via twitter. Dan karena sharing kelihatannya memang merupakan salah satu passionku di samping nulis, jadi mengalirlah apa yang ada dalam kepala ketika pertanyaan-pertanyaannya datang.

Beberapa hal yang kadang lewat saat sedang ada di sesi sharing bersama dalam kelas besar, malah keluar saat bertatap muka seperti ini. Mungkin karena sifatnya yang lebih intim, intens dan pribadi gitu ya? Sehingga simpanan-simpanan dalam kepala yang didapat dari bacaan atau pengetahuan terbarupun jadi ikut mengalir keluar dengan lebih bebas dan jernih.

Btw, berikut sedikit hal yang kemarin sempat kubagikan. Bahwa sebenarnya dalam proses menulis buku, kita membutuhkan setidaknya 5 draft yang berbeda.


1. Draft Sampah

Ini yang pertama kali kita selesikan. Karena jika tidak ada yang sampah ini, tidak akan ada yang bisa kita revisi bukan?


2. Draft Struktur


Benarkah ini yang mau kita sampaikan, apakah sudah bagus cara kita menuturkan dan merunutkannya? apakah ini pantas dibaca?




3. Draft Pertama


Kita periksa lagi, apakah ini logis? makes sense?


4. Draft Bedah


Kita tanya teman, editor, first reader, untuk kemudian naskah itu kita bedah, potong, tambah, dst.


5. Draft Terakhir


Leonardo DaVinci bilang, “Art is never finished; it is only abandoned.”
So, kita poles lagi karya seni kita ini supaya lebih cantik dan ciamik serta siap disajikan.



Jadi, yuk kita perbaiki draft kita supaya jadi lebih baik lagi, lebih keren, lebih memuaskan dan membanggakan :))





Puisi Adalah Kendaraan

Puisi Adalah Kendaraan


Bahkan kalau dalam buku puisi Mantra Asmara, disebutkan bahwa:

puisi adalah satu-satunya kendaraan, yang mau mengantarkan kesedihan mencapai kenangan menuju jauh ke dalam dirimu, berpaling dari masa depan. (hlm. 46)


Berikut lebih lengkap lagi review dan resensi buku puisi ini dari pandangan  teman kita, Luckty.

Konon, orang yang sedang jatuh cinta, bisa memicu seseorang untuk menulis kata-kata romantis maupun kata-kata menye sekalipun. Mau kata-kata yang bikin meluluhlantakkan hati atau malah bikin mules. Saya jadi teringat sekitar dua tahun lalu, seorang siswa yang kena lumayan stress akut gegara ditolak cintanya, tapi puisi yang dibuatnya bagus loh, isinya ya siapa lagi kalo bukan buat cewek yang ditaksirnya itu yang beda sekolah. Saya sampai bengong saat menemukan kertas puisi itu di kotak sampah perpustakaan :D#CintaMemangBikinGila


Buku ini adalah kumpulan puisi yang bisa disebut mantra asmara yang ditulis oleh Usman Arrumy. Ada puluhan puisi. Dan beberapa diantaranya, ini yang favorit:


1. BUKU


Dalam sebuah perjalanan kadang aku ingin menjadi buku


Sebagai guru yang mampu mengencerkan benda beku


Sesekali seluruh indra tak mengenali aku, sadarkah kamu? (hlm. 13)


1. CENDERAMATA


Pundakmu adalah pelabuhan terakhir dari pelayaranku sebab seluruh yang kutemu bersumber dari mataairmu dan andai pada tiap kataku ini mampu kububuhkan ke dalam puisimu


Seumpamamu perahu berhulu; tanpa rentang ruang dan derap waktu (hlm. 15)


1. FATWA CINTA


Ia memilihku menjadi sunyi yang berderet di celah hurufmu


Dititahkan aku sebagai doa yang melayang jauh membawa takdirmu


Ia memilihku menjadi hening yang teruntai di sela aksaramu


Ditugaskan aku sebagai mantra yang memanggul seluruh nasibmu


Ia memilihku menjadi sepi yang menjulur ke setiap inci abjadmu


Diperintahkan aku sebagai harapan yang memandu cita-citamu


Ia memilihku menjadi makna yang mendekam di balik katamu


Diamanatkan aku sebagai puisi untuk mengelus kegelisahanmu


Ia memilihku menjadi jarak yang membuka jalan rindumu


Dibebankan aku sebagai kenangan untuk memelihara dendammu


Ia memilihku menjadi rahasia yang mendengung dalam cintamu


Diutuskan aku sebagai duta demi menyampaikan suara batinmu


Ia memilihku menjadi jantung ruang tempat imanmu menggeliat


Diserahkan jiwamu kepadaku agar dapat kurawat sesuntuk hanyat


Ia berfatwa kalau kau adalah hadiah terbaik dalam hidupku


Disatukan kau dan aku setelah sekian ribu waktu saling tunggu (hlm. 29)


1. HURUF CINTA


Huruf demi huruf bergelora dan bergerilya berdenyut diujung pena lalu leleh jadi kata airmata kita pelihara dari masa ke sangkala agar manakala sudah tiada, tak cuma kita tapi semuanya bisa merasakan kesunyian yang sejauh ini kita bina.


Aku sudah cinta sebelum huruf pertama dicipta ketika kau belum mengenai udara dan cahaya saat semua benda masih berwujud tanda tatkala kehidupan belum punya usia (hlm. 39)


1. INSOMNIA


Kau tahu apa insomnia?


Semacam cinta yang berjaga di malam yang buta


Kau tahu apa itu insomnia? Semacam kangen yang tabah berdoa agar kelopak mata senantiasa terbuka


Kau tahu darimana datangnya insomnia?


Dari kantuk yang tak menemui nasibnya (hlm. 41)


1. KATA CINTA


Bagaimana kau hendak menyampaikan arti dan maksud bila cinta yang kau pelihara tak bisa sepasrah biola

jangan baca aku melalui kata-kata bila getarku sudah mewakili semuanya. (hlm. 42)



**

Jika  kesulitan cari buku ini di Gramedia dll, karena mungkin sudah habis masa tayangnya, sila langsung pesan ke 085701591957 atau email hasfriends57@gmail.com atau inbox ummihasfa
  

Sebentar Lagi Ramadhan

Sebentar Lagi Ramadhan

Apa yang sudah kita persiapkan? Hati, jiwa, mental, ruhani?
Siapkan juga bacaan-bacaan yang bermanfaat ya. 

Ini dia salah satunya, tentang renungan selama sebulan Ramadhan. 

Resensi Petitah kali ini ditulis oleh Luckty. Yuk kita simak!

Waktu yang tak pernah siuman, kecuali disadarkan, adalah kenisbian yang mengada. Sehingga hidup menjadi berada di ruang yang membentang seujung horizon berketerbatasan. Batas-batas kebebasan, yang membebaskan dalam batas yang tegas. Maka konsep lahir dengan tangis yang jelas, untuk membuat kehidupan mengembang dalam senyum hingga tertawa selebar bumi dan sejangkau kau mampu ke semesta. Adakah yang penting dalam hidup selain kesadaran waktu? Kemesraan ini mari kita nikmati dalam waktu dan ruang, sampai di mana? Tiga puluh hari saja. Ya, satu bulan. Satu matahari. Satu bumi. Satu hidup. Menghitung maju atau mundur? (hlm. 11)


Buku ini merupakan buah pemikiran selama bulan Ramadhan yang terdiri dari tiga puluh pemikiran. Di tiap pemikiran ada makna dan pesan yang bisa kita resapi dan kita renungkan. Ada beberapa pemikiran yang menarik untuk dibahas.


Pertama ada PUASA. Puasa adalah kegiatan personal, namun berbuka puasa telah menjadi kegiatan sosial. Bahkan menjadi upacara yang lebih sakral dari puasanya itu sendiri, sehingga ibadahnya dikerdilkan. Perlukah dipertanyakan, kenapa berpuasa bisa menyingkirkan begitu saja shalat dan ibadah lainnya? Bahasan di halaman 13-14 ini meski singkat tapi terasa #PLAAKKK banget. Ketika Ramadhan datang, bukannya kita menyambutnya dengan ibadah yang lebih dari hari biasanya; misalnya sholat tahajud, tadarus diperbanyak, shodaqoh juga diperbanyak, dan lain-lain. Ini biasanya kita malah sibuk dengan jadwal buka puasa ama grup ini, ama gitu, ama teman yang ini, ama saudara yang itu. Bisa dipastikan separuh puasa kita malah dihabiskan dengan acara jadwal berbuka puasa kesana-kemari. Yang ujung-ujungnya jadi melupakan shalat tarawih. Sudah beberapa tahun ini membatasi berbuka puasa di luar rumah, saya memilih beberapa undangan berbuka puasa yang kiranya memang sudah lama tidak bertemu dengan para undangan tersebut. Misalnya berbuka puasa angkatan SMA, yang dari tahun ke tahun saya selalu menjadi panitia inti. Ini bukan buka puasa satu kelas SMA loh, tapi satu angkatan. Bisa dibayangkan akan betapa banyak bertemu teman SMA yang biasanya cuma ketemu setahun sekali ini. Sudah beberapa tahun ini meminimalisir berbuka puasa yang sebetulnya tidak perlu. Bukannya apa-apa, tapi ya itu tadi kalo kebanyakan acara berbuka puasa ujung-ujungnya menghadapi Ramadhan kurang optimal. Yang kayak gini biasanya yang masih ababil kayak adik. Bisa dipastikan tiap minggu dan seminggu terakhir bakal minta uang dengan dalih buka puasa bersama. Boros, Kakak… :D


CINTA = ILMU. Pilihan bahasan favorit kedua. Di halaman 16 disebutkan jika ilmu dan cinta tidaklah perlu diduakan, tapi sangat perlu berduaan. Kehidupan menjadi ruang keduanya. Awali dengan ilmu, tuntaskan dengan cinta, kira-kira demikian, tidak demi apa pun. Untuk mendatangkan ilmu, hanya ada satu alas asal, belajar, dalam segala bentuk dan implementasinya. Dalam belajar, tak ada tersirat waktu atau pun tempat. Belajar adalah perlintasan keberanian dan kerja keras yang sangat terasa menerabas dimensi ukuran. Maka jangan pernah mencoba mengukurnya, sebelum hasilnya itu menjadi ilmu.


JAMAAH SUBUH vs JAMAAH TARAWIH. Di bulan Ramadhan kita dapat menyaksikan jika umat Muslim berbondong-bondong ke masjid/ mushola terdekat. Minggu pertama; penuh, shaffnya ampe dempet-dempetan bahkan ada yang kebagian sajadah. Saya sering ngalamin ini, biasanya kebagian paling belakang. Minggu kedua agak longgaran bisa napas. Minggu ketiga makin longgar. Minggu keempat bagian belakang bisa buat koprol anak-anak kecil, ibu-ibu biasanya udah pada kelelahan buat kue passiang hari, terus yang muda-muda sibuk acara buka puasa di sana, buka puasa di sini, yang padahal juga belum tentu puasa juga sih, cuma senang ikutan buka puasanya aja. Kok gitu? Iya, siang hari sering liat anak sekolah makan di warung-warung pas Ramadhan tanpa malu. Aku mah apa atuh, pas zaman kuliah aja kalo pas lagi nggak puasa karena ‘jatah libur’ aja malu kalo mau beli makan di luar, itupun kalo makan di kosan juga enggak enak ama anak kosan x)


Itu tadi tiga bahasan favorit dalam buku ini. bukunya mungil, bisa dimasukin saku. Ukurannya unyu, bisa menjadi pilihan bacaan di waktu senggang ;)



Karena Petitah sudah tidak bisa ditemukan lagi di Gramedia dll, sila langsung pesan via 085701591957 atau email hasfriends57@gmail.com

Resensi Novel Gus

Resensi Novel Gus

Terima kasih ya teman-teman yang  sudah membeli dan membaca novel Gus :)
Berikut salah satu resensi dari teman yang sudah membaca novel Gus.

**

Peresensi : Luckty

Mafazi bukanlah mahasiswa biasa. Diumurnya yang harusnya menikmati masa muda yang menyenangkan dengan teman-temannya untuk dihabiskan bersenang-senang, ada beban yang dipikulnya; menjadi penerus abahnya untuk memimpin pondok pesantren. Dia adalah anak laki satu-satunya, kakak-kakaknya perempuan semua.

Mulanya Mafazi enggan dan cenderung berontak. Hingga tibalah suatu hari, uminya meninggalkan mereka selama-lamanya karena sakit akibat down memikirkan pesantren yang habis terbakar. Dari sinilah kehidupan Mafazi berubah. Abahnya menikah lagi tak lama setelah ditinggalkan Umi. Dan yang lebih bikin Mafazi sesak adalah istri baru abahnya ini memiliki anak yang lebih segalanya dari dia, yang otomatis serasa tidak langsung mengancam kedudukan Mafazi sebagai penerus pemimpin pesantren.

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

1. Hal yang paling jauh dari kita adalah waktu, yang paling dekat adalah kematian, yang paling berat adalah amanah. (hlm. 5)

2. Hati-hati dalam apapun. (hlm. 31)

3. Tanamlah padi akan tumbuh padi, bahkan rumput juga tumbuh. Kalau menanam rumput, jangan harap akan tumbuh padi juga. (hlm. 57-58)

4. Jika kita berbuat sesuatu untuk Allah, untuk tujuan akhirat maka tidak saja akhirat yang kita dapat tetapi juga duniawinya. Tetapi jika kita bertujuan untuk dunia maka jangan harapkan akan mendapat balasan ukhrowinya. (hlm. 58)

5. Menikah bukan perkara sembarangan. Harus mantap dan tidak main-main. (hlm. 104)

6. Ternyata seru juga berinteraksi dengan masyarakat. (hlm. 169)

Banyak selipan sindiran halus dalam buku ini:

1. Kamu tuh laki-laki, bakal jadi imam, bakal mimpin pesantren. Mustinya lebih rajin. (hlm. 6)

2. Apa salahnya jadi kyai? Ya, memang jadi kyai nggak enak karena harus selalu menjaga sikap. Tapi kan malah terjaga jadinya. Tidak berani aneh-aneh, takut melanggar dan mencoreng nama baik. (hlm. 6)

3. Apa seharga itu kedudukan kyai dan nyai? Ditukar dengan materi dan kemewahan? (hlm. 7)

4. Selalu ada yang mengintai di balik suatu keberhasilan. Apapun itu. Tidak memandang apakah berangkatnya dari dasar ketulusan atau kasih. Tidak memandang apakah benderanya berwarna religiusitas dan menegakkan kalimah Tuhan. Tidak pandang bulu. Sesuatu yang mengintai itu kadang-kadang datang tanpa disadari. (hlm. 47)

5. Kemiskinan dan kefakiran mendekatkan seseorang kepada kekefuran dan kekafiran. Dan kiranya jika kemiskinan itu dientaskan, mereka menjadi lebih tegak berdiri dan keyakinannya kembali. (hlm. 56)

6. Kamu anak laki-laki tapi malah tidak tegas tho. (hlm. 84)

7. Jadi kamu lebih peduli dengan apa yang dikatakan orang luar daripada peduli dengan keselamatan dan kesehatan abahmu? (hlm. 91)

8. Ya kalo guyon yang bermutu, yang berkualitas, ah. (hlm. 103)

9. Yang lapang dan longgar ya. Peran dan tugas itu kan tampak dari luarnya saja seperti kehormatan, status dan jabatan penting. Tapi sejatinya kan itu pelayanan kepada umat. Jangan merasa tidak enak hati. (hlm. 108)

10. Tidak semestinya menjadi kolokan, cengeng, dan patah hati jika tidak disukai orang yang diinginkan untuk menyukainya. (hlm. 111)

11. Jangan sambil berdiri gitu minumnya. (hlm. 122)

12. Jangan kebanyakan main. (hlm. 125)

13. Betapapun tak mudah menerima begitu saja seseorang yang menyinggung harga diri. (hlm. 147)

14. Betapa susahnya menyembunyikan rasa cinta. (hlm. 195)

Dibandingkan sosok Mafazi, cenderung menyukai sosok Harun dan juga ibunya, Safina. Meski Safina ini merupakan istri kedua, sosoknya malah lebih bersahaja ketimbang sosok Laila, yang merupakan Nyai dari Kyai Sahlan. Menurut saya, Laila ini semasa hidupnya malah terkesan ambisius dalam membangun pesantren dan suaminya malah cenderung kalah dibandingkan dengan istrinya ini. dilihat di halaman 7 ketika mengobrol dengan anaknya, Mafazi yang menceritakan tentang betapa enaknya menjadi seorang Nyai yang bisa memiliki mobil, rumah yang besar, dan ada santri-santri yang siap setiap saat meladeni. Juga di halaman 61-62 ketika beberapa orang kasak-kusuk ketika melihat emas-emasan yang dipakai Laila, Nyai dari pesantren ini. Bagi sebagian orang menganggapnya wajar mengingat perjuangannya. Meski mungkin bagi sebagian yang lain dianggap sebagai kemewahan.


Hal yang menarik dari kisah Mafazi ini bukan saat konfliknya dengan Harun, tapi jutru di saat dilematis ketika abah mereka akan menikah lagi dengan pengasuh mereka ketika kecil. Memang berat menerima keluarga baru dalam hidup kita, apalagi dibandingkan dengan ibu yang melahirkan kita. Saya bisa merasakan dengan apa yang dirasakan Mafazi dan kakak-kakaknya, karena saya juga pernah mengalaminya. Bedanya, Mafazi lebih beruntung karena justru saudara-saudaranya seperti bulik-buliknya mendukung keputusan abahnya untuk menikah lagi, saya dulu merasakan lebih berat karena tidak didukung oleh saudara-saudara. Tapi semua sudah berlalu. Hanya butuh waktu untuk bisa menerima orang baru dalam kehidupan kita ;)


**

terima kasih buat resensinya ya.
teman-teman yang ingin beli novel Gus, silakan langsung ke toko buku Gramedia dan Togamas dll.
Atau bisa beli online via inez@prenada.com

#ngemilbaca Mata Penakluk

#ngemilbaca Mata Penakluk

Ceritanya pas adikku dan keluarganya yang tinggal di Sumatra berlibur tiga minggu di sini, kami jalan-jalan ke Semarang termasuk pergi ke toko Togamas yang menempati lokasi baru. Masing-masing beli buku kesukaannya sendiri-sendiri.

Aku? Ehem, cuma membelikan buku untuk kedua anakku karena buku baruku yang belum dibaca masih numpuk tuh di rumah. belum lagi yang kiriman dari teman-teman yang kuendorse, hadiah-hadiah dari penerbit dan buku barteran dengan teman-teman.

Syukurlah, meski hari itu aku absen tidak beli buku, tapi ibu ternyata justru beli novel biografi Gus Dur yang pastinya menarik dan bermanfaat.


Jadilah aku antri membaca setelah ibuku. Komentar-komentar ibu di sela-sela beliau membaca antara lain: (penting nich :D)
- oh ternyata gus dur itu juga yatim, ayahnya juga meninggal karena kecelakaan
- serasa membaca dialog-dialog gus dur sendiri

ada yang tidak dikatakan oleh ibu, tapi beliau pasti menangkap dalam cerita ini kalau gus dur sangat suka sastra. dan untuk hal ini, mungkin ibu jadi bisa semakin mendukungku. aih...aamiin...

well, sekarang apa cemilannya ketika akhirnya buku itu sampai di tanganku. 
di antaranya adalah aku dapat gambaran lebih jauh lagi, bagaimana semestinya novel dengan setting pesantren itu dituliskan. jangan ragu-ragu memasukkan istilah dan bahkan nama-nama kitab yang mungkin akan bikin kening orang awam berkerut. 

trus aku dapat gambaran lebih lengkap lagi tentang gus dur karena selama ini kan kita hanya mengetahui beliau sepotong-potong. apalagi untuk membaca biografi khusus yang tanpa ditulis dengan cara bercerita seperti novel, kerapkali kita agak enggan. 

kita jadi tahu bagaimana dia punya pemikiran dan sikap seperti semar. ternyata ada mbah wongso sebagai inspiratornya. 

bagaimana dia menjadi addakhil/penakluk, itu karena mencerap harapan sang ayah yang memberi nama. dst






Yeay! Akhirnya Adikku Bikin Blog

Yeay! Akhirnya Adikku Bikin Blog

Tahu kan adikku yang nulis novel Mesir Suatu Waktu terbitan Grasindo bareng aku waktu itu. Kami jadi salah satu pemenang PSA 1. Sepulang dari Mesir, dia sibuk kuliah lagi S2 dan sekarang sedang berkutat dengan tesisnya.

Pas tadi aku sibuk bikin postingan untuk lomba Samsung, dia jadi tertarik ikutan juga. Dus, harus punya blog dong. So, bergegaslah dia membuat blog hari ini.
Yeay!!

Aku bilang, hati-hati ya ntar ketagihan.......kayak aku :D
Sementara saking asyiknya dia dengan tesis aja sampai sekarang belum juga ketemu jodohnya. Ada yang mau? Sini sini...*mak comblang mode on*

Bagian terbaik dari ngeblog-nya adikku berarti dia siap go out menaklukkan dunia. Siap-siap dengan buku barunya ya, yang mungkin diambil dari tesis yang sekarang sedang susah payah dia kerjakan.
Go go my sister! You can!

nih dia penampakan adikku yang pakai biru muda :))

Sementara ini teman-teman bisa baca tulisannya di novel Mesir Suatu Waktu ya.
Mungkin sudah tidak edar lagi di toko buku, jadi langsung saja beli ke Grasindo atau via toko buku online. Go grab it!

Samsung Galaxy Note Edge Impian

Samsung Galaxy Note Edge Impian


TAK SENGAJA BELI
Aku sudah pernah punya Tab Samsung. Waktu itu tidak sengaja beli karena mengantar adikku yang pulang kampung pas lebaran. Dia biasa tugas di Medan dan ceritanya honor lebarannya buat beli Tab Samsung S2. Karena waktu itu aku pas punya uang dan belum punya tab, aku akhirnya beli juga. Persis sama.
Tujuanku supaya aku bisa menulis di mana saja meski sedang tidak di depan laptop. Maklum kadang-kadang aku harus bepergian untuk ikut menghadiri ataupun mengisi pelatihan kepenulisan, seminar pendidikan, parenting, kewanitaan dan semacamnya. Kadang ke Bandung, Jakarta, Bekasi, Bali, Banyuwangi, Mojokerto, Surabaya, Semarang, Ungaran, Salatiga, Magelang, Kudus dan lain-lain.
Perjalanan jauh dengan kereta atau bis akan sangat bermanfaat kalau disambi menulis di tab, dan tentunya lebih nyaman tinimbang memangku laptop.

MENANG LOMBA
Pada akhir tahun 2012, aku bersama adikku duet menulis novel dan menang di sebuah penerbit lini Gramedia. Hadiahnya tab Samsung S2 persis punyaku tapi berwarna putih. Karena kupikir aku sudah punya, jadi kuserahkan hadiah itu untuk adikku.
Sayangnya tab Samsungku itu kemudian rusak karena mungkin sering ku-charge terlalu lama sehingga soak. Lalu ketika ada trouble dengan chargernya, aku tidak segera mengganti. Sehingga lalu kena IC-nya. Setelah sempat sama sekali mati, dan terpaksa kureparasikan ke Samsung Centre, akhirnya kujual tab kesayangan yang telah menemaniku selama dua tahun. Sedih banget rasanya. Sekarang aku tidak punya tab, dan hanya bisa memandang lemah ke tab hadiah yang sekarang ada di tangan adikku. Tak mungkin aku memintanya memakai bergantian. Sebagai ganti dari tab yang rusak, aku untuk sementara hanya bisa membeli Samsung Young Duos. Yach, walaupun kecil tapi lumayanlah.

DIPAMERI IBU REKTOR
Suatu ketika salah seorang tetanggaku yang rector kampus di kotaku main ke rumah. Dia memintaku agar bisa mengisi sharing kepenulisan di kampusnya. Saat itu beliau sembari menunjukkan tab barunya yang keren banget. Aku kemudian tahu namanya Samsung Galaxy Note Edge. Dengan asyiknya beliau memperagakan bagaimana dengan gadget keren ini bisa menulis senyaman kita menulis dengan pena di atas kertas. Wow!!!
Kemudian aku tahu itu yang disebut dengan S Pen, yang  menawarkan pengalaman tulisan tangan digital, yang disempurnakan melalui sensitivitas tekanan yang ditingkatkan. Memperkaya tulisan kita dengan ekspresi yang lebih tepat.
Seketika aku membayangkan betapa akan bergunanya Samsung Galaxy Note Edge ini di tanganku karena aku seringkali butuh membuat sketsa untuk desain arsitektur bagi klien-klien konsultanku. Dan juga untuk membuat draft mind mapping yang berguna untuk membuat plot novelku. Wah! Anganku langsung melayang-layang.
Tapi aku hanya bisa membayangkan dan mengidamkan saja saat itu. Termasuk saat melihat bagaimana gadget keren ini punya multi-window,  sehingga penggunanya bisa mendapatkan keuntungan fleksibilitas dengan mengelola beberapa aplikasi sekaligus pada satu layar menggunakan gerakan sederhana. Whooaa, it’s really free flowing and natural multitasking. Aku membayangkan tugas-tugasku sebagai arsitek, novelis, penulis non fiksi, pengelola PAUD, pimpinan redaksi majalah digital, dan juga sebagai guru serta single parent (sejak kematian suamiku tujuh tahun lalu) bisa dihandle dengan baik berkat bantuan fitur Samsung Galaxy Note Edge ini.

Sepulang dari ibu rector yang baik hati dan cantik itu aku kembali ke dunia nyata. Kembali kepada kesibukanku yang tidak suka muluk-muluk berharap. Jadi ya kerja, kerja, kerja. Sehingga kemudian hari itu tiba, Ollie share tentang lomba ini di twitter dan aku tetiba ingat anganku waktu itu.
Segera aku berangkat melihat-lihat web Samsung dan melihat betapa memang seru dan kerennya gadget ini. Ada Personalized Design & Information Stream, di mana kita bisa mengawali hari dengan informasi langsung dan foto pribadi. Kita bisa menghiasinya dengan gambar yang keren dari Galeri dan gambar lainnya. Bahkan kita bisa tetap terhubung dengan topik yang berkaitan dengan diri, kegemaran, passion, karir dan kehidupan kita.
Seru banget ya?
Aku yang penggemar hujan pencinta purnama sudah pasti akan memasang gambar hujan dan payung di desktopnya. Bergantian dengan foto purnama yang cantik. Topic seputar buku, kepenulisan, filsafat, relijiusitas dan spiritual mungkin akan bersanding dengan topic bisnis, entrepreneurship, juga parenting. Ahay, jangan lupa juga mulai melirik-lirik topic fashion yang pasti berguna untuk menunjang penampilan jika harus berada dalam event-event.  Sehingga kalau difoto tidak kelihatan salah kostum.
Nah, ngomong-ngomong tentang foto jadi makin kesengsem dengan gadget ini. Bright and Clear images with Advanced Camera. Coba bayangkan, dengan gadget ini kita bisa memotret gambar menjadi lebih terang dan lebih jelas, baik menggunakan kamera belakang atau depan. GALAXY Note Edge punya  kamera depan 3.7 MP dan lensa F1.9 dan kamera belakang dengan 16 MP Smart OIS. Jadi  meski kondisi pencahayaan alam minim, tetap saja gambarnya bakal oke banget. Wuah! Ini banget-banget bisa mendukung tugasku yang menjadi salah satu contributor web agen dan travel. Tulisan-tulisanku bakalan lebih menarik lagi jika dilengkapi dengan foto-foto yang bagus dan keren abis.
Terus, ada lagi yang bikin aku benar-benar mengidamkan Samsung Galaxy Edge Note ini, karena Premium Screen-nya dengan Quad HD Super AMOLED Display. Sehingga saturasi warnanya bisa tepat dan kontras tinggi.  Warna-warna yang tampil akan  begitu tajam dan jelas seolah-olah kita melihatnya secara langsung. Cocok kan untuk kebutuhan arsitektur yang harus mendesain hunian dan bangunan dengan perpaduan warna yang nantinya ketika diaplikasikan ke bangunan aslinya, warnanya tidak akan terlalu jauh. Sebab tampilan di layar sudah berakurasi tinggi. Berbeda dengan layar lain yang seringkali bikin trouble, karena kurang tepatnya warna kadang klien sudah senang dengan warna yang ditampilkan saat presentasi, padahal dalam realitanya bukan warna itu yang kemudian tampil saat cat dikuaskan ke dinding. Beda. Duh.
Demi kepentingan pemilihan warna cover buku, ini juga akan sangat berguna. Sehingga warna yang kita pilih dan tampil layar, akan sama persis dengan hasil tampilannya nanti ketika dicetak. Tidak berbeda.
Resolusi tinggi gadget ini juga  menghadirkan pengalaman visual yang luar biasa. Begitu dioptimalkan untuk kegiatan web-browsing dan e-booking. Wah, cocok banget nih. Apalagi sekarang jaman digital. Seringkali aku mendapat ebook dan buku digital kiriman dari teman-temanku. Kadang-kadang tentang resep kepenulisan ataupun novel-novel dalam bahasa asing serta terjemahan. Dengan gadget ini, pastilah ebook kiriman teman-teman ini tidak lagi menganggur di desktopku. Karena dengan senang hati akan kubuka dan kubaca dengan nyaman menggunakan Samsung Galaxy Note Edge. Pun ketika penerbit mengirimkan naskah-naskah proof read yang harus kuperiksa ulang, pasti gadget ini sangat membantu.

Aku mau Samsung Galaxy Note Edge!



artikel ini untuk diikutsertakan dalam lomba Samsung Galaxy Edge Note

Lomba Berhadiah Jalan-Jalan ke UK

Lomba Berhadiah Jalan-Jalan ke UK

Tulislah cerita/fiksi pendek bertema Creativity is GREAT dengan latar tempat kota-kota yang ada di UK (latar tempat boleh lebih dari satu kota). Deskripsikan dengan baik hal unik apa yang ada di kota tersebut (bisa model bangunannya, ikon kota, cuacanya, logat bicara penduduknya, klub sepakbolanya, sejarah kotanya, kuliner khasnya, apa saja yang menurutmu menjadi keunikan latar tempat yang kamu pilih). Panjang tulisan minimum 800 kata dan maksimum 1.000 kata atau dua halaman A4.
Sertakan kalimat Creativity is GREAT dalam judul dan/atau isi cerpenmu.
Tulislah karakter favoritmu dalam serial Game of Thrones beserta alasannya di bagian bawah cerpenmu (tidak lebih dari 4 kalimat).
Setelah ditulis terus apa?
Posting cerpenmu di blog pribadi atau akun Facebook pribadi melalui Facebook Note (harus bisa dilihat oleh publik). Kirim link-nya melalui inbox Facebook British Embassy Jakarta dan Fantasious lalu Tweet ke @UKinIndonesia dan @fantasiousID dengan menyertakan hastag #CreativityisGREAT.
Ajak teman-temanmu untuk membaca ceritamu dan memberikan komentar.
Jangan lupa LIKE Facebook Fantasious dan British Embassy Jakarta dan follow @fantasiousID dan @UKinIndonesia di Twitter.
Sertakan nama lengkap, alamat, nomor KTP/SIM, nomor paspor, nomor HP, email, dan akun twitter beserta foto bukti pembelian novel A Game of Thrones saat mengirimkan link melalui inbox Facebook British Embassy Jakarta dan Fantasious.
Setiap peserta maksimal mengirimkan satu tulisan saja.
Periode lomba 10-26 Maret 2015.
Batas waktu pengiriman inbox Facebook dan upload tulisan adalah tanggal 26 Maret 2015 pukul 23.59. Pemenang diumumkan di social media Fantasious tanggal 30 Maret 2015.
Peserta harus berusia 18 tahun ke atas dan memiliki paspor.
Peserta bersedia berangkat ke Inggris pada periode 25 April – 2 Mei 2015.
Sepulang dari Inggris, pemenang pertama harus posting pengalaman jalan-jalannya ke Inggris di blog post.

#ngemilbaca Bulan Nararya

#ngemilbaca Bulan Nararya



Judul : Bulan Nararya
Penulis : Sinta Yudisia
Editor : Mastris Radyamas
Penerbit : Indiva Media Kreasi
Tahun Terbit : Pertama, September 2014
Jumlah Halaman : 256 halaman
ISBN : 978-602-1614-33-4

Aku salah satu penggemar novel berlatar sejarah yang ditulis mbak Sinta. Dan ternyata novel psikologi yang ditulisnya sama menarik dan menakjubkanku.

Detail karakternya, dari para pemain utama, pemain pendamping sampai dengan para figuran digarap dengan apik. Caranya mengelupas satu persatu karakter juga unik. Bagaimana kita tahu tokoh utama kita ini bernama Nararya juga ditampilkan dengan bertahap dan bikin penasaran.

Si Yudhis berhati lembut yang suka melukis dan bercelana kaki dengan banyak kantong begitu melekat dalam visual kita kemudian. Moza yang cantik cemburuan. Angga playboy yang butuh pengakuan. Sausan yang berwibawa dan tegas. Diana yang mandiri. Weni yang bagai ayam melindungi anak-anaknya. Srikandhi yang egois dan tergantung dengan Weni.  Pak Bulan yang suka bulan dan tanaman. Sania yang traumatis dan beranjak remaja. Mama yang selalu siap menyediakan bahunya.
Dan Nararya sendiri yang mulia (sesuai makna namanya) dengan ide transpersonalnya, dan karena kegigihannya itulah dia menempuhi sepanjang jalur novel ini, dank arena itulah novel ini tercipta dan menjadi.

Detail settingnya juga apik. Secara makro, Surabaya yang panas dan tepi pantai. Klinik dan tempat rehabilitasi dengan empat bukit buatan di empat penjurunya dengan pavilion-paviliun. Benar-benar visual dan filmis, sehingga melekat dalam benak kita. Rumah Raya, rumah bu Weni, rumah Diana, pavilion pesantren di Madura, rumah Sausan. Semuanya tampil meyakinkan dan real.

Cerita langsung diawali dengan ketegangan antara Raya yang menginginkan uji coba transpersonal, dan Sausan yang menolaknya karena ia konvensional (kita menangkapnya demikian). Baginya tidak ada masalah dengan biaya, sebab  dia bisa mengusahakan dengan banyak donator dan pemasukan lain.

Di sisi lain, perceraian Raya dengan Angga karena sepuluh tahun tak kunjung juga punya anak, menjadi makin runyam karena Moza mengambil kesempatan itu dengan kembali dekat dengan Angga. Kita diberikan flashback bagaimana pertemuan mereka dulunya, di mana Angga sebenarnya naksir Moza tapi memilih Raya karena gadis itu kindhearted (bisa memahami kesukaan Angga menjadi idola para wanita dsb)—yang kemudian malah menjadi boomerang.

Di sini, hampir-hampir kita tak bisa memilah, mana yang sesungguhnya main plotnya? Raya dengan upayanya menggoalkan transpersonal? Atau Raya dengan upayanya mengembalikan kewarasannya setelah dibuat goncang dengan kisah segitiganya bersama Angga dan Moza? Atau dua-duanya main plot?

Kalau subplotnya antara lain ada Yudhis-Diana-Weni cs. Sania-ayah-Yudhis.  Raya-Farida-Sausan.
Triggernya itu mungkin ya pas di pesantren Madura, ketika akhirnya dengan tak sengaja Raya menemui fakta bahwa Moza  dan Angga ternyata sudah menikah. Secepat itu?
Quest –nya antara lain adalah saat Raya menemukan mawar dengan bercak darah di depan pintu ruang kerjanya. Yang membuatnya mengira kalau dia berhalusinasi. Kita dibuat tercekam dan penasaran dengan misteri ini.

Surprisenya setelah dirunut siapa saja yang minta mawar di kebun pak Bulan, lalu kita dibikin jalan dan gerak menyelidiki Randi, Lina, Yudhis dst, sampai akhirnya ketemu ternyata Sania. Meski masih penasaran juga apa latar belakangnya.

Sepanjang cerita kita dibawa menebak-nebak dan menerka-nerka bagaimana akhir dari hubungan Raya dengan Yudhis. Namun kita dibuat surprise (atau kecewa?) ternyata Yudhis dan Diana masih saling mencintai. Dan sebagai seorang yang mulia, Raya justru berupaya mempertemukan mereka kembali.

Suka banget gaya bercerita mbak Sinta yang berkelit kelindan dan tidak linear. Sehingga untuk mengurainya dalam story deconstruction pun aku kepayahan :p

Critical choice-nya adalah saat Sania ditemukan berusaha bunuh diri. Lalu inevitable (terjadi secara tak terhindarkan) Yudhis jadi berinteraksi dengan dunia luar saat mengantarnya ke rumah sakit bersama Raya dan yang lainnya. Dan tentu saja semua kena semprot bu Sausan.
Juga ketika tak jua ketemu solusi ke manakah Yudhis akan dipulangkan, mengingat Diana dan mertuanya-Weni-berada dalam posisi berseberangan. Lalu Raya berinisiatif agar Diana tinggal di pavilion bersama Yudhis untuk adaptasi.

Klimaksnya adalah saat Moza datang dan marah karena rumah tangganya kritis. Anjani datang marah-marah juga.

Farida pernah dihadirkan pas pertengahan, sehingga ketika dia ada ketika Sania butuh semacam yang memberinya nasihat dan pencerahan (insight) Farida tidak datang tiba-tiba. Mereka punya kesamaan, ditinggalkan suami dan punya trauma.

Pembalikan/reversalnya adalah ketika ternyata Sausan sekeras itu pada Raya dan memindahkannya ke bagian lain justru karena dia (tak punya anak yang bisa meneruskan kliniknya) ingin Raya kelak menggantikannya jika dia harus ke Palu membangun klinik Farida.

Resolusinya Raya malah menjadi konsultan untuk mengembalikan keutuhan rumah tangga Moza dan Angga. Diana dan Weni bersatu dalam rangka upaya kembalinya Yudhis ke masyarakat normal.
Whoaaaa…tahu-tahu habis, padahal aku aja baca novelnya sedikit-sedikit supaya bisa tahan lama. Hiks. Ini akan menjadi novel yang pastinya bisa kubaca berkali-kali, seperti Amba dan Rectoverso. 
Te o pe be ge te.

oh ya, aku suka gaya mbak Sinta memasukkan non fiksi psikologi ke cerita ini. so blend :)




Pengumuman #GiveAwayNovelGus

Pengumuman #GiveAway Novel Gus


Terima kasih teman-teman yang sudah mengikuti Pengumuman #GiveAwayNovelGus ya.

Berikut pengumuman nama-nama yang dapat hadiah paket buku :
1. Dias Shinta Dewi
2. Isnani Disa
3. Ulfa Marisa

Selamat yaaaa..

Silakan kirim nama/alamat/telpon ke 085701591957, untuk dikirim hadiahnya.



Teman-teman lain yang mau beli novel Gus bisa langsung ke toko buku Gramedia, Togamas dll. Atau hubungi 085701591957,.


Reviewnya bisa dilihat di sini ;.http://diannafi.blogspot.com/2015/02/review-generasi-copy-paste-dan-giveaway.html

FB page-nya bisa di klik; https://www.facebook.com/pages/GUS/1446273065593427

Insiden Pun Berguna

Insiden Pun Berguna


Umumnya dan kebanyakan orang pastilah tidak menyukai terjadinya accident dan insiden. Tapi yang sesungguhnya insiden terkadang ada gunanya juga. Karena dari kejadian yang tidak menyenangkan dan nyaman juga mungkin mengganggu itu justru bisa menguji ketahanan mental kita, kecepatan dan kecerdasan emosi dan jiwa kita dalam menanggapi serta mencari jalan keluar. dan lebih dari itu insiden menampakkan pada kita siapa-siapa yang sesungguhnya kawan yang tulus dan siapa-siapa yang mungkin sedang diuji ketulusannya.

Jadi, insiden pun sebenarnya berguna.

gitchu :))

Menjadi Yang Pertama

Menjadi Yang Pertama

Subhanallah walhamdulillah.
mungkin ini berkah nama yang diberikan orangtua padaku. kalau ingin tahu bagaimana kisah di balik namaku, teman-teman bisa beli buku untaian nama anak terbitan gradien (xixi...malah promosi)

oke deh, aku bocorin sedikit di sini ya. nama belakangku adalah Awaliyah, itu dari bahasa arab, yang artinya pertama.

Lha ndilalah alhamdulillah, aku mendapat kesempatan pertama di beberapa event workshop.
Dulu, di workshop cerpen kompas yang rangkaian acaranya bertepatan dengan ultah kompas. Dimentori bli Putu fajar Arcana dan mas Yanusa Nugroho.

terus aku juga masuk Noura Books Academy angkatan  pertama yang dimentori mas Tasaro dll.

terus yang barusan, alhamdulillah katut di  Coaching Clinic-nya mbak Dee Dewi  Lestari, yang juga adalah kelas yang pertama kali digelar.

terus yang barusan hangat ini, alhamdulillah aku terpilih  lagi dalam seleksi, kali ini kelas menulis yang pertama kali digelar oleh BEWF (Bali Emerging Writing Festival).
Yeay!!!

siap-siap dapat transformasi energi lagi. doakan semoga berkah manfaat ya. aamiin


Di Awang-awang

Di Awang-awang


Barusan aku membaca postingan dua cerpen milik seorang teman yang kedua-duanya dimuat pada hari yang sama di media berbeda. Yang satunya bersetting Jepang, dan satunya lagi bersetting Italia.

Oh iya betul cerpennya memang jadi berkesan eksotis, baru, tidak klise, tidak biasa, extra ordinary. Tapi ya sebenarnya kalau kita tidak sedang benar-benar in dan niat banget untuk membaca cerpennya, jadi berasa duh...nggak dekat dengan kita, kurang related, dan semacamnya.
Meskipun mungkin kalau kita sedang tidak capek, jadi malah penasaran...eh apa nih, jadi ingin baca terus sampai selesai meskipun harus agak-agak mikir keras pas bacanya.

Lalu aku sesaat kemudian menyadari sesuatu, hei....ini nih kayaknya memang gaya si bapak ini yang mirip-mirip dengan  gaya salah seorang mentorku yang suka ngomong 'nggak biasa' dan 'terasa berat banget' supaya ya....supaya ya nggak  biasa. gitu.

oh...,

persimpangan tak pernah usai

persimpangan tak pernah usai

Inginnya sih  akhir pekan ini aku juga ada di Jakarta untuk hadir di Asean Literary Festival seperti tahun lalu. 

Tapi apa daya, bahkan acara nonton bersama film PK yang diiringi workshop penulisan script di dekat sini saja aku juga urung datang. Lalu ada acara juga workshop nulis yang diadakan Kompas dan Unisula pun aku tidak bisa hadir. 

Sebab sebagai ibu yang baik, sudah seharusnya aku ada di samping anak-anakku yang menyiapkan diri untuk ulangan tengah semester sepanjang pekan depan. Iya kan?

Begitulah. 
Kita selalu ada dalam persimpangan-persimpangan, dan selalu harus memilih. Karena jika sudah tak ada persimpangan lagi, itu artinya sudah the end. 


Yang mana dulu nih?

 Yang mana dulu nih?


Wuah!
Alhamdulillah, seneng banget aku dapat hadiah dari mbak Yeni ini. Ada lima buah buku yang bisa kusantap selama sebulan ini. Ayeeeee....

ada novel mas Gol A Gong, mbak Azura, mbak Afifah, mbak Sinta, dan antologinya FLP. 
Sip kan?




Sembari menunggu pameran buku di Semarang April nanti, buku-buku ini yang akan menemani hari-hariku. Simak tanggal pamerannya nih.....





Dan seperti biasanya akan aku cicipin ke pembaca blog ini lewat #ngemilbaca. So don't miss it ya:))

Tapi yang mana dulu nih enaknya ya? 



Three In One Berkah

Three In One Berkah


Alhamdulillah kemarin seharian bisa kumpul lagi dengan teman-teman alias kopdaran. Yeay!

Kenapa Three In One Berkah?

Karena selain kopdar-an yang itu artinya juga jualan buku-buku (halagh:D) , ada sharing penerbitan, dan sorenya sekaligus diliput media koran.






Sebagai penulis, sudah pasti menjadi keharusannya bersama penerbit membaca kebutuhan pasar dan juga membaca tren. Sehingga karya yang dihasilkan dan nantinya dilempar ke pasar akan mendapatkan sambutan yang baik. 

Memang tugas penerbit itu ada dua. Di satu sisi harus bisa mengikuti tren, di sisi lain juga harus bisa menciptakan tren. lalu bagaimanakah dengan tren buku ke depan? 

Jadi ada beberapa tren yang sekarang sedang diminati pasar. Yang tak lekang oleh waktu adalah buku-buku yang bisa dan update dengan momentum. Misalnya berkenaan dengan tahun ajaran baru, bulan puasa, hari raya, bulan haji, hari Ibu, hari Kartini dan sebagainya. 

Buku pengembangan diri dan bisnis masih juga menjadi idola. Lalu kemudian buku anak, juga komik. Terus ada juga tren buku horor sekarang-sekarang ini. 

Kenapa sih horor juga menjadi tren 2015 kayaknya ya? 
Itu yang jadi salah satu  pertanyaan besar. 

Konon katanya sih karena horor merupakan tema abadi yang tak lekang ditelan masa. Dan perhatikan saja bagaimana anak-anak sekarang suka sekali dengan tontonan dan bacaan horor. Ini tak lepas juga dari pengaruh televisi. 

Duh, jadi kepikiran nulis buku horor islami :p

Pengumuman Pemenang Lomba Review Generasi Copy Paste

Pengumuman Pemenang Lomba Review Generasi Copy Paste


Terima kasih pada teman-teman yang sudah ikutan lomba menulis review Generasi Copy Paste ya.

Berikut mereka yang beruntung mendapatkan paket hadiahnya:
@muhhidayyat @ranydwi004 @Disanioo

Selamat!



Buat teman-teman yang belum tahu Generasi Copy Paste itu apa, silakan baca-baca reviewnya di blog ini juga.

#GenerasiCopyPaste berisi catatan sederhana ttg pelajaran kehidupan yg bisa dipetik dari kejadian atau kisah-kisah unik sehari-hari
&bgm menyikapi dg arif apapun yg dialami seseorg melalui cara yg Ihsan, salah satu tiang agama yg kurang diperhatikan
utk mrk yg ingin memperbaiki kualitas keislamannya.terutama yg ingin lbh bisa istiqomah&menjaga hubungan baik dg siapapun
Kekuatan buku ini dari sisi humanis, interaktif, mudah dicerna oleh siapapun, menyentuh kesadaran dan tidak menggurui


Buku Generasi Copy Paste  juga sudah beredar di toko buku Gramedia dll lho. Bisa juga dibeli online. Silakan PO by sms/wa 085701591957 harga 35rb. Tulis nama/alamat/jumlah/judul buku

Pengumuman Pemenang Lomba Review Mantra Asmara

Pengumuman Pemenang Lomba Review Mantra Asmara


Terima kasih pada teman-teman yang sudah ikutan lomba menulis review Mantra Asmara ya.

Berikut mereka yang beruntung mendapatkan paket hadiahnya:
 @disanioo ; @mhr_diman ;  @diasshinta


Selamat!



Buat teman-teman yang belum tahu Mantra Asmara itu apa, silakan baca-baca reviewnya di blog ini juga.

Berikut  tentang Mantra Asmara  & endorsmentnya:

Cinta adalah sumber tenaga yang tak henti melahirkan puisi, bahasa ajaib yang selalu memuncaki peradaban manusia. Begitu selalu, dari waktu ke waktu, cinta dan puisi seolah tak terpisah. “Mantra Asmara” Usman sekali lagi membuktikan kebenaran ungkapan ini. Meski jalan panjang masih harus ditempuh; namun, sebagai awal, kumpulan puisi yang terasa kuyup dengan kekelaman ini cukup menjanjikan dan layak diapresiasi.
--- Habib Anis Sholeh Ba'asyin, Ketua Orkes Puisi Sampak GusUran


 Usman menulis dengan kata hati ketika ia berpuisi. Membebaskan diri dari rumus berekspresi, dari kesederhanaannya hadir puisi yang prosaik dan prosa yang puitik.
--- Candra MalikSufi, Penulis Buku dan Lagu.

Penyair ini produktif menulis puisi. Usman hampir berhasil memilah sekaligus menempatkan diksi-diksi menjadi semacam medium kontemplasi . Puisi-puisinya sebagian besar menyentuh ruang-ruang percintaan. Tema yang memang digemari banyak orang. Namun, terlampau khusyuk mengumbar mutiara, seringkali dapat menjebak siapa saja. Menjerumuskan seseorang kehilangan daya kepekaan terhadap dinamika sosial dan kadangkala pula luput menyampaikan pesan substansial. Padahal, membedah ragam-tema cinta ke dalam puisi; semestinya juga mengasah sekaligus menajamkan panca  indera. Senjata penyair untuk membaca semesta.
--- Baequni Mohammad Hariri,  Pegiat Komunitas Seniman Santri


Usai membaca kumpulan puisi Usman  ini saya menemukan Jalal al-Din Rumi, Hafizh, al-Jami dan Sanai dalam Diwan-diwan mereka. Para Begawan dan sufi penyair itu bercerita tentang misteri manusia yang tak pernah henti dan selesai mencari diri dalam ruang dan waktunya masing-masing. Ia  adalah cinta, karena cinta adalah hasrat mencari kegembiraan dan keindahan bagi diri. Penulis adalah santri, dan saya selalu berharap banyak santri yang tekun seperti dia; menulis puisi dan sastra profetik  yang manis dan menggerakkan.
--- KH. Husein MuhammadPengasuh Pesantren di Cirebon
Buku Puisi Mantra Asmara juga sudah beredar di toko buku Gramedia dll lho. Bisa juga dibeli online. Silakan PO by sms/wa 085701591957 harga 35rb. Tulis nama/alamat/jumlah/judul buku

Siapa Membunuh Buku Dan Film Di Negeri Kita?

Siapa Membunuh Buku Dan Film Di Negeri Kita?


Prihatin banget ketika tahu toko buku Gramedia di jalan Pemuda Semarang dikepras dari dua lantai jadi satu lantai saja, dan itupun hanya separoh lantai alias ruangan yang dibuat pajangan buku. sisanya? alat tulis.

dan kita pun tahu kalau masa tayang buku sekarang di toko buku Gramedia hanya sekitar 3-4 bulan saja.

Prihatin lagi pas salah satu film yang diadaptasi dari buku salah seorang teman hanya sempat manggung di bioskop selama seminggu.

Duh. jadi Siapa sebenarnya yang Membunuh Buku Dan Film Di Negeri Kita?
mungkin kita sendiri, yang tidak membeli buku dan menonton film tersebut.

So, jangan sampai lewatkan 2 April 2015 jadual pertama kali tayang film Surga Di Rumahmu di bioskop. 9 April untuk Tjokro dan juga Filosofi Kopi.

Don't miss it!

Resensi Buku : Ayah, Lelaki Itu Menghianatiku Karya Dian Nafi


Resensi Buku : Ayah, Lelaki Itu Menghianatiku Karya Dian Nafi
Peresensi : Alif
Judul : Ayah,Lelaki Itu Mengkhianatiku
Penulis : Dian Nafi
Tebal : 208 halaman 
Tahun Terbit  : May 2013
Penerbit : Diva Press
Rate : 3/5

Sinopsis Buku :
Siapa yang bisa tenang dengan keadaan sepertiku? Susah payah merawat anak-anaknya, rumahnya, ayahnya, keluarga besarnya yang dari luar tampaknya terhormat tetapi sebenarnya kacau. Sedemikian besar pengorbananku, tapi inikah balasannya?
***
Ratri yang telah mengabdikan hidupnya untuk keluarga sang suami harus menerima kenyataan pahit ketika seorang wanita mengaku hamil karena telah berhubungan terlalu jauh dengan suaminya. Hancur hati Ratri mendengar itu. Segala pengorbanannya terasa sia-sia. 
Namun tak ada yang peduli pada luka yang tergores di hati Ratri. Keluarga besarnya seolah hanya peduli terhadap nama baiknya sebagai keluarga terhormat di masyarakat. 
Sebuah kisah yang mengajarkan arti kesetiaan, pengorbanan dan kesabaran dalam sebuah hubungan. Begitu menyentuh dan mengharukan.

Resensi Buku : 

Awalnya, pertama baca judulnya sudah tertebak apa yang bakal jadi inti masalah dalam novel ini. Ya, tentang perselingkuhan yang dilakukan oleh suami. Serupa artikel, novel dengan judul yang mudah memberikan clue masalah itu sebenarnya kurang saya sukai. Karena kerasa kurang greget aja pas bacanya. Tapi pendapat saya sedikit terpatahkan. Ada hal yang memang ingin disampaikan oleh penulisnya, tak sekadar sebuah novel yang membahas tema umum perselingkuhan, tapi lebih dari itu ada beberapa part yang saya suka.

Seperti ketika Maria diskusi dengan Ratri saat membahas tentang 5 fase dalam hubungan pernikahan. Apa saja fase-fase tersebut? Baca aja di buku ini. Ya, jika orang awam seperti saya, apalagi belum menikah, pembahasan diskusi antara Ratri dan Maria ini bisa memberi wacana apa yang sebenarnya terjadi dalam hubungan rumah tangga. Kok ya sampe bisa gitu seorang suami bisa menjauh dari istrinya hingga sampai lalai dan abai, membuat kemaksiatan seperti yang dilakukan oleh Mas Ir?.

One night stand bukan hal baru dalam masyarakat. Ya penulisnya memotret kisah ini berdasarkan sisi yang sering kita lihat dan dengar. Gonjang ganjing rumah tangga tak melulu karena sang istri kurang memberi perhatian. Bisa jadi karena memang sang lelaki begitu polos dan yah... atas dasar rasa kasihan pada gadis yang dia temui membuat ia melakukan kesalahan fatal dalam hidupnya, juga hidup keluarganya. Ada juga pembahasan tentang tanda-tanda penyakit kelamin yang dialami pelakunya. Ini memberi saya informasi tentang apa dampak yang timbul dari tindakan asusila itu.

Sosok Ratri yang saya lihat tak mampu membuat saya simpatik, mungkin buat saya karena merasa, harusnya sih perempuan lebih tegas. Atau mungkin karena Ratri hidup dalam keluarga jawa yang nrimoan, sehingga apapun prahara dalam rumah tangganya hanya perlu disikapi dengan sabar dan sabar.

Ir, sebagai tokoh antagonis membuat gambaran laki-laki di mata saya jadi bias. Ini beneran laki-laki yang katanya cinta istrinya? Atau memang cinta itu serupa cinta platonis, cinta fisik saja? Ir memang menikah dengan Ratri ketika gadis itu sudah berumur cukup untuk menikah. Menikahnya pun dengan sepupu. Serasa membaca kisah di zaman nenek kita dulu ya, yang dijodohkan nurut saja. Bisa jadi memang benar cinta itu belum sepenuhnya tumbuh. Nah itu yang seharusnya jadi PR bagi sang istri, meski dijodohkan seharusnya tetap menjaga dan menumbuhkan cinta itu.

Dari novel ini saya belajar banyak tentang pernikahan. Pernikahan memang bukan sebuah perjanjian dua orang saja, tapi melibatkan keluarga kedua pihak. Sebuah perjanjian pernikahan yang goyah akan tetap terpaksa diperjuangkan untuk tetap seperti semula karena itu yang dibutuhkan kedua keluarga, meski harus mengorbankan rasa.

sumber : http://resensimbul.blogspot.com/2014/08/resensi-buku-ayah-lelaki-itu.html

Talkshow Komunitas Hasfriends di Sonora FM

Talkshow Komunitas Hasfriends di Sonora FM

Alhamdulillah sebagaimana yang sudah dijadwalkan, talkshow komunitas Hasfriends hari Minggu 15 Maret kemarin sukses digelar di Sonora FM. Berhubung aku sedang ada di Solo untuk ikutan coaching clinic bersama Dewi Lestari, penulis favoritku, jadi aku tidak bisa ikut hadir di Sonora FM. 

Tapi ada sie humas-Devi- dan sektretaris-Sikha- yang menemani penyiar dan para pendengar Sonora.  Kami membawa beberapa buku karya teman-teman Hasfriends. Antara lain: antologi Dear Love, antologi Undimensioned, duet novel Segitiga, duet novel Lelaki Kutunggu Lelakumu, buku puisi Mantra Asmara, dan buku gus Awy yang Bengkel Jiwa maupun Generasi Copy Paste, juga buku Petitah yang kebaruannya terasa bangets :))


Buku-buku tersebut mungkin tidak bisa lagi didapatkan di toko buku, tapi teman-teman bisa dapatkan via sms/wa 085701591957 atau email hasfriends57@gmail.com. 
Tulis nama/alamat/jumlah/judul buku yang dipesan

Terus rencana terdekat ini teman-teman hasfriends sedang menyiapkan antologi terkait dengan travelling, inspirasi dan kebaruan. Tunggu hadirnya ya. Doakan semoga proses dan juga hasilnya nanti lancar, sukses dan berkah manfaat. 


so, stay tune di fb page Hasfriends dan follow twitter @hasfriends ya:))

Perjalanan Berkah

Perjalanan  Berkah

Ada lebih banyak lagi yang kudapat dari perjalanan ke Solo kemarin selain mendapat ilmu yang banyak dari mbak Dewi Lestari lewat Coaching Clinic-nya.

Sehari sebelumnya aku juga dapat Coaching Clinic tentang bisnis dan penerbitan dari salah seorang teman, dulu sama-sama aktifis Rohis di Kampus. Banyak cerita yang membuka mata lebih lebar dan beberapa strategi yang mungkin bisa dicoba lagi.

Terus  dapat inspirasi juga dari om dan tanteku berkenaan dengan hidup sehat, dan semangat berpuasa sunnah lagi.

Di venue, di  sela-sela acara coaching dengan mbak Dee, dapat sharing dari teman yang dapat ilmu dari mas Prie GS tentang zona rejeki, dan membereskan hal-hal kecil yang ternyata bisa efektif untuk memperbaiki kehidupan.

Eh, pulangnya dari acara coaching, kami beneran mengalami apa yang di'isyarahkan' mas Prie GS. Saat kami legawa untuk tidak mengganggu mbak Dee lagi dan membiarkannya menarik nafas serta beristirahat, malah mbak Dee nya yang datengin kita pas kita berpose foto bersama di depan venue.

Ya Allah, itu lho kalau sudah rejeki.
Pas mau balik, dan mbak Dee salaman dengan rombongan kita, eh aku yang sudah salaman, diajak salaman lagi. Bisa kurasakan mata kamera penulisnya menatap dan merekamku. Aiihhh....