Apa Yang Ada Dalam Otak Penggubah Mantra Asmara?

Resensi by Dias Shinta

Judul: Mantra Asmara
Desain Sampul: Muhammad Hidayatullah
Produser: Adi Susanto
Tata Letak: Ahmed Ghosen A.
ISBN: 978-602-7693-10-4

Dilihat dari covernya, terlihat gambar wayang(Tidak tahu nama wayangnya) berwarna hitam dengan coklat. Font tulisan "Mantra Asmara"-nya sangat eye catching. Kalau bisa sih saya minta(font-nya). Dua jempol untuk sang desainer sampul, Muhammad Hidayatullah.

Pada halaman iii terdapat pendapat dari orang-orang terkenal dan berpengaruh seperti: Candra Malik(Sufi, Penulis Buku dan Lagu), Baequni Mohammad Hariri(Pegiat Komunitas Seniman Santri), Habib Anis Sholeh Ba'asyin(Ketua Orkes Puisi Sampak Gus Uran), dan KH. Husein Muhammad(Pengasuh Pesantren di Cirebon) terhadap buku "Mantra Asmara" ini dan Usman Arrumy sendiri. Pendapat-pendapat tersebut menjadi informasi kepada pembaca mengenai sosok Usman Arrumy dengan mahakarya "Mantra Asmara" yang apik.

Pada daftar isi terdapat Prolog, 70 puisi yang berurutan dari A-Z, dan Epilog. Terdapat beberapa istilah yang asing bagi saya. Namun itu bukan halangan untuk memberhentikan saya untuk membaca buku ini. Tetapi istilah-istilah asing tersebut membuat saya lebih tahu.
Pada halaman 1 terdapat prolog yang ditulis oleh Dr. Suwardi Endraswara, M.Hum. (Dosen Sastra Universitas Negeri Yogyakarta). Dalam halaman ini, dijelaskan mengenai maksud Mantra Asmara. Menurut saya, prolognya sangat indah sekali, sehingga membuat magnet tersendiri bagi pembaca. Pembaca akan lebih penasaran terhadap buku ini.

Saya sudah selesai membaca dan memahami hampir seluruh puisi yang ada dalam buku ini buku ini. Puisi-puisinya dirangkai dengan kata-kata yang begitu indah, tanpa cacat. Namun kata-katanya ada beberapa yang saya tidak mengerti. Pesan yang terkandung pun begitu dalam kepada pembaca. Apa sih yang ada di dalam otak Usman Arrumy? Bagaimana puisi-puisi indah itu tercipta? Usman Arrumy memang penyair yang hebat.

Puisi-puisi yang terbaik dalam buku ini menurut saya yaitu: "Kata Cinta". "Denyut Hari" juga bagus dan diksinya keren, namun saya belum mengerti maknanya. Alasan saya memilih puisi "Kata Cinta" sebagai puisi terbaik, karena romantis sekali dan terdapat kutipan:
"Air mata adalah kata-kata yang gagal diucap
tak ada yang lebih kasat dari kalimat
ketimbang kau yang terurai dalam hasrat"
Hati siapa yang tak tertusuk-tusuk ketika mendengarnya, saking indahnya.

Pada halaman 133 terdapat epilog yang ditulis oleh KH. Amin Budi Harjono(Pengasuh Pesantren Al-Ishlah, Penyair Sufi). Epilog ini menjelaskan kesan yang ditangkap oleh KH. Amin Budi Harjono setelah membaca buku ini. Saya sangat setuju terhadap apa yang diungkapkan oleh KH. Amin Budi Harjono.
Untuk Rating saya beri 5 bintang dari 5 bintang, karena buku ini adalah buku terindah bagi saya.
Terima Kasih untuk Mbak Dian Nafi yang memberikan buku luar biasa ini melalui #kuisDN. Terima Kasih :)

sumber : diasshintaiyas.wordpress.com/2015/02/04/res

bukunya  mungkin sudah tidak ada di Gramedia lagi, sila sms/wa 085701591957 for order ya:))

0 komentar:

Posting Komentar