#ngemilbaca Mata Penakluk

#ngemilbaca Mata Penakluk

Ceritanya pas adikku dan keluarganya yang tinggal di Sumatra berlibur tiga minggu di sini, kami jalan-jalan ke Semarang termasuk pergi ke toko Togamas yang menempati lokasi baru. Masing-masing beli buku kesukaannya sendiri-sendiri.

Aku? Ehem, cuma membelikan buku untuk kedua anakku karena buku baruku yang belum dibaca masih numpuk tuh di rumah. belum lagi yang kiriman dari teman-teman yang kuendorse, hadiah-hadiah dari penerbit dan buku barteran dengan teman-teman.

Syukurlah, meski hari itu aku absen tidak beli buku, tapi ibu ternyata justru beli novel biografi Gus Dur yang pastinya menarik dan bermanfaat.


Jadilah aku antri membaca setelah ibuku. Komentar-komentar ibu di sela-sela beliau membaca antara lain: (penting nich :D)
- oh ternyata gus dur itu juga yatim, ayahnya juga meninggal karena kecelakaan
- serasa membaca dialog-dialog gus dur sendiri

ada yang tidak dikatakan oleh ibu, tapi beliau pasti menangkap dalam cerita ini kalau gus dur sangat suka sastra. dan untuk hal ini, mungkin ibu jadi bisa semakin mendukungku. aih...aamiin...

well, sekarang apa cemilannya ketika akhirnya buku itu sampai di tanganku. 
di antaranya adalah aku dapat gambaran lebih jauh lagi, bagaimana semestinya novel dengan setting pesantren itu dituliskan. jangan ragu-ragu memasukkan istilah dan bahkan nama-nama kitab yang mungkin akan bikin kening orang awam berkerut. 

trus aku dapat gambaran lebih lengkap lagi tentang gus dur karena selama ini kan kita hanya mengetahui beliau sepotong-potong. apalagi untuk membaca biografi khusus yang tanpa ditulis dengan cara bercerita seperti novel, kerapkali kita agak enggan. 

kita jadi tahu bagaimana dia punya pemikiran dan sikap seperti semar. ternyata ada mbah wongso sebagai inspiratornya. 

bagaimana dia menjadi addakhil/penakluk, itu karena mencerap harapan sang ayah yang memberi nama. dst






0 komentar:

Posting Komentar