Resensi Novel Gus

Resensi Novel Gus

Terima kasih ya teman-teman yang  sudah membeli dan membaca novel Gus :)
Berikut salah satu resensi dari teman yang sudah membaca novel Gus.

**

Peresensi : Luckty

Mafazi bukanlah mahasiswa biasa. Diumurnya yang harusnya menikmati masa muda yang menyenangkan dengan teman-temannya untuk dihabiskan bersenang-senang, ada beban yang dipikulnya; menjadi penerus abahnya untuk memimpin pondok pesantren. Dia adalah anak laki satu-satunya, kakak-kakaknya perempuan semua.

Mulanya Mafazi enggan dan cenderung berontak. Hingga tibalah suatu hari, uminya meninggalkan mereka selama-lamanya karena sakit akibat down memikirkan pesantren yang habis terbakar. Dari sinilah kehidupan Mafazi berubah. Abahnya menikah lagi tak lama setelah ditinggalkan Umi. Dan yang lebih bikin Mafazi sesak adalah istri baru abahnya ini memiliki anak yang lebih segalanya dari dia, yang otomatis serasa tidak langsung mengancam kedudukan Mafazi sebagai penerus pemimpin pesantren.

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

1. Hal yang paling jauh dari kita adalah waktu, yang paling dekat adalah kematian, yang paling berat adalah amanah. (hlm. 5)

2. Hati-hati dalam apapun. (hlm. 31)

3. Tanamlah padi akan tumbuh padi, bahkan rumput juga tumbuh. Kalau menanam rumput, jangan harap akan tumbuh padi juga. (hlm. 57-58)

4. Jika kita berbuat sesuatu untuk Allah, untuk tujuan akhirat maka tidak saja akhirat yang kita dapat tetapi juga duniawinya. Tetapi jika kita bertujuan untuk dunia maka jangan harapkan akan mendapat balasan ukhrowinya. (hlm. 58)

5. Menikah bukan perkara sembarangan. Harus mantap dan tidak main-main. (hlm. 104)

6. Ternyata seru juga berinteraksi dengan masyarakat. (hlm. 169)

Banyak selipan sindiran halus dalam buku ini:

1. Kamu tuh laki-laki, bakal jadi imam, bakal mimpin pesantren. Mustinya lebih rajin. (hlm. 6)

2. Apa salahnya jadi kyai? Ya, memang jadi kyai nggak enak karena harus selalu menjaga sikap. Tapi kan malah terjaga jadinya. Tidak berani aneh-aneh, takut melanggar dan mencoreng nama baik. (hlm. 6)

3. Apa seharga itu kedudukan kyai dan nyai? Ditukar dengan materi dan kemewahan? (hlm. 7)

4. Selalu ada yang mengintai di balik suatu keberhasilan. Apapun itu. Tidak memandang apakah berangkatnya dari dasar ketulusan atau kasih. Tidak memandang apakah benderanya berwarna religiusitas dan menegakkan kalimah Tuhan. Tidak pandang bulu. Sesuatu yang mengintai itu kadang-kadang datang tanpa disadari. (hlm. 47)

5. Kemiskinan dan kefakiran mendekatkan seseorang kepada kekefuran dan kekafiran. Dan kiranya jika kemiskinan itu dientaskan, mereka menjadi lebih tegak berdiri dan keyakinannya kembali. (hlm. 56)

6. Kamu anak laki-laki tapi malah tidak tegas tho. (hlm. 84)

7. Jadi kamu lebih peduli dengan apa yang dikatakan orang luar daripada peduli dengan keselamatan dan kesehatan abahmu? (hlm. 91)

8. Ya kalo guyon yang bermutu, yang berkualitas, ah. (hlm. 103)

9. Yang lapang dan longgar ya. Peran dan tugas itu kan tampak dari luarnya saja seperti kehormatan, status dan jabatan penting. Tapi sejatinya kan itu pelayanan kepada umat. Jangan merasa tidak enak hati. (hlm. 108)

10. Tidak semestinya menjadi kolokan, cengeng, dan patah hati jika tidak disukai orang yang diinginkan untuk menyukainya. (hlm. 111)

11. Jangan sambil berdiri gitu minumnya. (hlm. 122)

12. Jangan kebanyakan main. (hlm. 125)

13. Betapapun tak mudah menerima begitu saja seseorang yang menyinggung harga diri. (hlm. 147)

14. Betapa susahnya menyembunyikan rasa cinta. (hlm. 195)

Dibandingkan sosok Mafazi, cenderung menyukai sosok Harun dan juga ibunya, Safina. Meski Safina ini merupakan istri kedua, sosoknya malah lebih bersahaja ketimbang sosok Laila, yang merupakan Nyai dari Kyai Sahlan. Menurut saya, Laila ini semasa hidupnya malah terkesan ambisius dalam membangun pesantren dan suaminya malah cenderung kalah dibandingkan dengan istrinya ini. dilihat di halaman 7 ketika mengobrol dengan anaknya, Mafazi yang menceritakan tentang betapa enaknya menjadi seorang Nyai yang bisa memiliki mobil, rumah yang besar, dan ada santri-santri yang siap setiap saat meladeni. Juga di halaman 61-62 ketika beberapa orang kasak-kusuk ketika melihat emas-emasan yang dipakai Laila, Nyai dari pesantren ini. Bagi sebagian orang menganggapnya wajar mengingat perjuangannya. Meski mungkin bagi sebagian yang lain dianggap sebagai kemewahan.


Hal yang menarik dari kisah Mafazi ini bukan saat konfliknya dengan Harun, tapi jutru di saat dilematis ketika abah mereka akan menikah lagi dengan pengasuh mereka ketika kecil. Memang berat menerima keluarga baru dalam hidup kita, apalagi dibandingkan dengan ibu yang melahirkan kita. Saya bisa merasakan dengan apa yang dirasakan Mafazi dan kakak-kakaknya, karena saya juga pernah mengalaminya. Bedanya, Mafazi lebih beruntung karena justru saudara-saudaranya seperti bulik-buliknya mendukung keputusan abahnya untuk menikah lagi, saya dulu merasakan lebih berat karena tidak didukung oleh saudara-saudara. Tapi semua sudah berlalu. Hanya butuh waktu untuk bisa menerima orang baru dalam kehidupan kita ;)


**

terima kasih buat resensinya ya.
teman-teman yang ingin beli novel Gus, silakan langsung ke toko buku Gramedia dan Togamas dll.
Atau bisa beli online via inez@prenada.com

0 komentar:

Posting Komentar