Rodat Atau Rodad?

Rodat Atau Rodad?

Hahaha...dasar emak-emak nemenin anak-anaknya belajar. Jadi malah belajar berkat mereka nih. Sebabnya apalagi kalau tidak bengong ketika mendengar pertanyaan mereka.

Mi...mi.... Angguk dan Kontulan itu termasuk dalam kesenian apa?
Blaik..apa ya?
Usut punya usut, lewat mbah Google jadi tahu bahwa itu termasuk dalam salah satu kesenian ‘langka’ dan berusia tua bernama kesenian Rodad. Salah satunya ada di Banyumas, khususnya di Desa Cikawung, Kecamatan Pekuncen.  Berusia tua karena sejak puluhan tahun lalu kesenian Rodad ini sudah ada dengan gerak dan iringan syair yang tidak berubah. 

Ada yang  menyatakan bahwa istilah RODAT (tulisan tsb menggunakan kata Rodat bukan Rodad) berasal dari katarodotan atau raudatan yang berarti taman atau kebun. Sedangkan asal kesenian tradisional RODAT konon katanya berasal dari daerah Bali, yaitu Kabupaten Badung. Dulunya, rodat merupakan salah satu pasukan perang dari Kampung Islam Kepaon, Kerajaan Badung, Bali. Nama rodat ini merupakan pemberian Cokorda Pemecutan saat membantu bertempur melawan kerajaan Mengwi dan perang Puputan Badung.M

Biasanya para pelaku menari sembari bersyair dengan musik rebana yang dinyanyikan secara bersama-sama (berjamaah). Dilakukan sambil leyeh (menari sambil duduk).

Dewasa ini, seni rodat nyaris tenggelam. Rodat merupakan salah satu kesenian tradisi di kalangan ummat Islam. Kesenian ini berkembang seiring dengan tradisi memperingati Maulid Nabi dan hari-hari besar Islam lainnya di kalangan umat Islam. Kesenian ini menggunakan syair atau syiiran berbahasa arab yang bersumber dari Kitab Al-Berzanji, sebuah kitab sastra yang masyhur di kalangan ummat Islam. Isi dari shalawat rodat adalah bacaan shalawat yang merupakan puji-pujian terhadap Nabi Muhammad SAW.

Rodat bisa kita temukan juga di daerah “kota santri” yaitu daerah Jejeran, Wonokromo, Bantul. Di sana ada kelompok seni rodat bernama “Lintang Songo” yang terkenal. Sedang di desa Makam, Kecamatan Rembang, Purbalingga ada “Rodat Ababil” 

Nah ini versi lain, konon rodat lahir pada tahun 1941. Saat itu Makam dan Panusupan, dua desa yang berada di bawah puncak Ardi Lawet, adalah desa-desa yang terisolir. Di antara penduduk kedua desa itu pun sulit mengadakan komunikasi, apalagi dengan dunia luar. Para tokoh ketika itu mencoba membuat wahana untuk berkomunikasi dengan pertunjukan yang mereka beri nama rodat. Dengan rodat itulah penduduk kedua desa menjadi ketemu, dan terjalinlah satu komunikasi yang akrab.

Versi lain juga asal bahasa/namanya, konon Rodat berasal dari kata Irodat, salah satu sifat Allah yang berarti berkehendak. Maksud pemberian nama itu adalah agar manusia selalu berkehendak untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ada lagi yang mengatakan ia berasal dari kata raudah, yaitu taman nabi yang terletak di masjid Nabawi, Madinnah. Ada yang berpendapat ia berasal dari nama alat yang dimainkan dalam kesenian ini. Alat musik tersebut berbentuk bundar yang dimainkan dengan cara dipukul yang disebutnya tar. Dengan demikian, maka rodat termasuk seni yang memiliki misi dakwah.

Pada zaman Jepang, kesenian rodat sangat berperan untuk menjaga persatuan di kalangan penduduk untuk bersama-sama melawan panjajah Jepang. Cara yang ditempuh antara lain dengan gerak dan lagu secara simbolis. Gerak yang ditampilkan adalah "konto", yakni semacam pencak silat, sebagai lambang perlawanan dan pembelaan diri. Di bagian lain, lagu-lagu yang dikumandangkan adalah lagu-lagu bernuansa dakwah Islam, sebagai penguat iman dan jati diri penduduk setempat yang memang penganut Islam taat.

Seni rodat adalah perpaduan dari musik, tari, dan bela diri. Musik yang dimainkan terdiri atas peralatan berupa empat buah genjring/rebana besar, kendang, bas, kecrek dan jidur/bedug masing-masing satu buah. Alat-alat sederhana tersebut dipukul untuk mengiringi lagu, tari maupun konto. Anggota grup rodat selain terdiri atas para penabuh alat musik masih ditambah dengan 2 orang wiraswara, 8 orang penari, dan 2 orang pemain konto, dan juga 2 orang badut/santri.

Pertunjukan rodat biasanya dilakukan pada malam hari, dari ba'da Isya sampai menjelang Subuh. Pada zaman dahulu, grup rodat banyak tampil di rumah-rumah penduduk yang hajatan, serta pada acara-acara yang diselenggarakan masyarakat. Penampilan rodat diawali dengan lagu pembuka yang berbahasa Arab. Lagu-lagu berikutnya selain berbahasa Arab, juga berbahasa Indonesia, bahkan ditampilkan pula lagu "ande-ande Lumut" untuk mengiringi konto.

Tampilan pemain rodat biasanya berganti-ganti, dari sekedar musik dengan wiraswara, disusul babak berikutnya dengan penari, bahkan dengan konto. Pada saat-saat rodat beristirahat, tampil pula badut yang akan membanyol dengan gaya mereka untuk menghibur penonton dengan dagelan yang berisi ajakan kebaikan. Tampilan mereka diakhiri dengan lagu penutup berbahasa Arab.

Dengan polanya yang seperti itu, ada yang beranggapan bahwa rodat merupakan gabungan antara burdah dan saman. Burdah adalah syair yang diiringi rebana, sedang saman adalah gerakan-gerakan yang diiringi zikir tanpa musik. Zikir saman memiliki tahapan. Tahapan pertama, biasanya menceritakan masalah haji. Tahap kedua, melakukan gerakan mirip askar (tentara). Gerakan ketiga, ungkapan kegembiraan. Dalam rodat biasanya yang dipakai adalah tahapan kedua.

Demikianlah kesenian rodat yang dulu sebenarnya pernah mengalami masa kejayaannya. Seiring waktu, seni ini pun redup karena tak kuasa melawan berbagai pertunjukkan seni lainnya yang mungkin lebih modern. Karena itu, sebenarnya, agar rodat tetap bisa bertahan dalam kondisi apapun, maka ramuannya harus lebih modern. Yang jelas, kita sendiri harus bisa menghargai peseni rodat dengan harga yang setimpal agar mereka pun tidak lari ke ladang yang lain.


Dari berbagai sumber:

0 komentar:

Posting Komentar