Sekali Dayung, Dua Tiga Pulau Terlampaui

Sekali Dayung, Dua Tiga Pulau Terlampaui


Review Novel Gus  oleh Indra Muhardiman

Mafazi, Gus di sebuah pesantren yang digadang-gadang sebagai calon pemimpin pesantren, sama sekali tidak berambisi untuk memegang tampuk kepemimpinan. Ia sebisa mungkin berupaya untuk tak sering-sering berada di pesantren dan menggunakan waktu kuliahnya sebagai alasan untuk melarikan diri. Sama sekali tak pernah ia bayangkan, tiba-tiba Umminya sakit dan meninggal. Lalu Mafazi dihadapkan pada pilihan yang tidak ia sukai; mau tidak mau ia harus bertanggung jawab atas posisinya sebagai anak laki-laki satu-satunya. Satu persatu, masalah datang menghampirinya; Abahnya yang menikah lagi serta datangnya seorang putra dari istri Abahnya yang bisa mengancam kedudukannya sebagai "pangeran" di pesanten itu. Mafazi pun cemburu, apalagi ternyata Harun, putra tiri Abahnya itu tak hanya cakap tetapi juga memiliki pengetahuan agama yang mumpuni dan berpotensi menjadi pesaingnya sebagai putra mahkota dan pesaing dalam memperebutkan hati seorang gadis.

***

"Gus", sebuah novel karya seorang "pecinta purnama, penikmat hujan", yaitu Dian Nafi. Novel ini dilihat dari covernya sangat unik berwarna hitam, tidak banyak tulisan-tulisan, hanya judulnya dan pengarangnya saja. Terlihat siluet dua buah bangunan seperti bangunan pesantren. Perpaduan warna hitam dengan sedikit warna hijau sangat pas sekali, tetapi sedikit menimbulkan kesan seram bagi saya :D .

Masalah yang terjadi pada novel ini membuat novel ini tidak monoton, sehingga pembaca tidak akan merasa bosan untuk membaca berlama-lama. Masalah yang pertama yatu terbakarnya pondok pesantren, lalu meninggalnya Laili (ibunya). Tetapi masalah yang paling saya suka ketika perdebatan antara Sahlan(ayahnya) dan saudara iparnya dengan anak-anak Sahlan yaitu Nurul, Wahdah, dan Mafazi mengenai keinginan Sahlan untuk mempunyai istri baru yang bernama Safina. Perdebatannya sangat mempengaruhi emosi saya, saya tidak bisa membayangkan jika saya berada di posisi  mereka.

Tokoh Mafazi, menjadi tokoh sentral dalam novel ini, Mafazi digambarkan sebagai anak bungsu dari pemilik pesantren, yang dimanjakan oleh kedua orang tuanya. Sehingga, akibat dari perlakuan manja itu menjadikan Mafazi seorang yang berkepribadian malas. Sifat malas Mafazi berbanding terbalik dengan saudara tirinya, Harun. Harun yang pandai, pintar agamanya, dan sabar ini selalu mendapat perhatian lebih dari orang-orang di sekitarnya, termasuk ayah Mafazi sendiri. Hal itu menimbulkan kecemburuan Mafazi terhadap Harun, sehingga apapun yang diperbuat Harun selalu mendapat bentakan dari Mafazi. Namun Harun tetap sabar menghadapinya. Seiring berjalannya waktu, Mafazi mulai menerima kehadiran Harun dalam lingkungan keluarganya. Begitulah gambaran kisah Mafazi dalam novel "Gus" ini.

Dalam novel ini terdapat kutipan yang sangat menarik hati saya, kutipan tersebut yaitu:"Tanamlah padi, maka akan tumbuh padi, bahkan rumput juga tumbuh. Kalau menanam rumput, jangan harap akan tumbuh padi juga" (hal. 57-58). Maksudnya, jika kita berbuat sesuatu untuk tujuan akhirat, maka tidak saja akhirat yang kita dapat, tetapi duniawinya juga. Tetapi, jika kita bertujuan untuk duniawi, maka jangan harapkan akan mendapat balasan ukhrowinya.

Novel ini bukan hanya sebagai buku yang menghibur pembacanya saja, tetapi juga sebagai buku yang sarat pendidikan agama, seperti yang terdapat pada halaman 138 sampai halaman 145. Jadi, jika membeli novel ini, "seru"-nya dapat, ilmunya juga dapat, sebagaimana peribahasa: "Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui."

Unsur "Bahasa Jawa" pada novel ini sangat kental sekali, hal tersebut sedikit membingungkan saya, karena saya tidak paham Bahasa Jawa. Selain itu, alur ceritanya sedikit terlalu cepat. Tokoh Mia seharusnya sedikit diceritakan di awal atau di tengah cerita, tidak langsung di akhir. Namun, kekurangan tersebut tidak mengurangi keluarbiasaan novel ini.

Buku ini sangat cocok bagi semua kalangan untuk dibaca di waktu senggang. Buku ini juga cocok untuk mengobati mood yang sedang down.

sumber :https://www.facebook.com/notes/indra-muhardiman/review-novel-gus/708995665889049

0 komentar:

Posting Komentar