Tashwirul Afkar: Apalagi Nih?

Tashwirul Afkar: Apalagi Nih?

Masih dari laporan pandangan mata seputar kegiatanku menemani anak sulungku belajar dan memperbaiki jawaban test ulangan tengah semester seminggu kemarin. 
Siapa pendiri Tashwirul Afkar, mi? 
Hah? jawabku spontan. apa tuh? kok baru dengar namanya? 
Balik lagi, akhirnya mbah google andalan kami. Dan inilah yang kami dapatkan: 
Tashwirul Afkar adalah kelompok diskusi yang bermetamorfosis menjadi madrasah dan kursus, dibentuk oieh K.H. Abdul Wahab hasbullah setelah dia pulang dari Makkah pada tahun 1914. Markasnya ada di Surabaya. Setelah dia pulang ke Makkah itu, dia tinggal di Kertopaten, dan memulai rintisan mengadakan diskusi kecil-kecilan dengan para koleganya. Tujuannya untuk mencerdaskan kalangan santri dan kiai-kiai dengan cara melakukan diskusi dan perdebatan. Diskusi ini membesar sampai diperlukan madrasah untuk mendidik para kader.
Dia menghubungi koleganya, K.H. Ahmad Dahlan Kebondalem untuk bergiat dalam kelompok diskusi ini, dan meningkatkan statusnya menjadi Madrasah Tashwirul Afkar (MTA) pada tahun 1919. Madrasah ini bertempat di Ampel, dengan merekrut para murid di Surabaya bagian utara, sambil kegiatan-kegiatan diskusi terus berjalan. Kelompok diskusi ini anggotanya terdiri dari para kiai dan kiai-kiai muda. Ketuanya dipegang oleh K.H. Achmad Dahlan Kebondalem. Menurut Choirul Anam dalam buku Perkembangan dan Pertumbuhan Nahdlatul Ulama, Madrasah TA hingga kini masih ada, tetapi tempatnya berpindah ke pinggiran Surabaya.
Situasi di tanah air yang mendorong dibentuknya TA adalah adanya perdebatan masalah-masalah khilafiyah dan serangan kalangan yang terpengaruh Wahabi terhadap ulama bermadzhab Ahlussunah wal Jama’ah, yang harus dihadapi kalangan pesantren; dan adanya penjajahan yang membuat rakyat semakin miskin dan terbelakang. Dengan adanya TA, kiai-kiai muda di daerahnya masing-masing sudah bisa dan sanggup meladeni perdebatan dan diskusi yang menantang mereka, dan siap maju dalam gerakan kebangsaan.
Tentu saja, K.H. Abdul Wahab Hasbullah tidak bisa menghadapi serangan-serangan kaum anti-madzhab Ahlussunnah wal jama’ah secara sendirian. Sebab itu, pada tahun 1924, TA ditingkatkan lagi kegiatannya dengan membuka kursus persoalan-persoalan keagamaan guna memberdayakan pengetahuan para kiai muda untuk mempertahankan madzhab Ahlussunnah wal Jama’ah, bukan hanya diskusi dan membuat madrasah.
Kegiatan ini dipusatkan di Madrasah Nahdlatul Wathan, yang juga didirikan K.H. Abdul Wahab Hasbullah dan para koleganya, yang diselenggarakan 3 kali seminggu. Pesertanya tak terbatas dari Jawa Timur, tetapi juga dari Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Madura. Jumlah peserta kursus sebanyak 65 orang. Karena pesertanya banyak, K.H. Abdul Wahab Hasbullah meminta teman-temannya untuk ikut membantu, diantaranya K.H. Bisri Syansuri, K.H. Mas Alwi, K.H. Abdul Halim Leuwimunding Majalengka, K.H. Ridwan Abdullah dari Surabaya, K.H. Maksum Lasem, dan K.H. Khalil Lasem.
Mereka yang membantu dari kalangan muda adalah Abdullah Ubaid, Thahir Bakri, Abdul Hakim Petukangan Surabaya, Hasan, dan Nawawi dari Surabaya. Dengan dibuatnya kursus-kursus ini, K.H. Abdul Wahab hasbullah telah mempersiapkan pertahanan ampuh bagi kiai-kiai muda di daerah untuk langsung bisa berhadapan dan meladeni perdebatan yang dilancarkan kaum anti madzhab Ahlussunah wal Jama’ah sekaligus ikut memikirkan nasib bangsa yang sedang terjajah.
Meski begitu, K.H. Abdul Wahab Hasbullah masih belum yakin usaha tersebut bisa massif membentengi kaum Ahlussunah wal Jama’ah dan melibatkannya dalam gerakan kebangsaan. Untuk itu, ia meminta restu pada Hadratusy Syekh Hasim Asy’ari untuk boleh mendirikan jam’iyah. Sampai akhirnya tahun 1926 jam’iyah ini bisa dibentuk dengan nama Nahdlatul Ulama.
Sumber: Ensiklopedia Nahdlatul Ulama
See? Bahkan dulu mbah Wahab yang pendiri NU itu kawan dekat Ahmad Dahlan yang pendiri MUhammadiyah. Jadi nggak seharusnya pengikut-pengikutnya sekarang padha berhadap-hadapan, bermusuhan.Iya kan? 

0 komentar:

Posting Komentar