Sketch Drawing Book For Son

Sketch Drawing Book For Son

Anak laki-lakiku selain sakit, akhir-akhir ini uring-uringan banget. Lalu beberapa kali dalam beberapa waktu yang berbeda, dia menanyakan mimpi basah itu apa mi? Gludak!

Oh mom, oh mom, be calm ya, stay  calm.

Mau tak mau anak-anak akan tumbuh dan mengalami banyak hal. Siap nggak siap, sebagai ibu memang kita harus siap.

Dalam keadaan yang agak turbulence ini, kemudian aku ndilalah melihat temanku dulu di kampus arsitektur mengunggah foto komik-komik manga dan anime karya anak perempuannya. Lalu aku jadi teringat kebiasaan-kebiasaan sulungku yang beberapa waktu terakhir ini memang jadi jarang dia kerjakan lagi. Sketching, doodling. Sebab dia memang lebih banyak nonton TV dan main game. Hiks

Kurasa itu akan menjadi terapi yang baik baginya, (selain dia juga sudah mulai menulis diary dan jurnal harian)

jadi mungkin aku harus menyiapkan Sketch Drawing Book  untuknya.

Ada yang mau kasih aku kado di hari ultahku dengan item ini mungkin?
 *halagh, malah malak:D

.Maestro Eksistensialis


.Maestro Eksistensialis

Mengikuti jejaknya pak Budi Darma yang kalau mengisi pelatihan nulis bukannya memberi tips-tips dan teknik langsung, tetapi dengan cara memberikan cerita dan kisah para penulis kenamaan, maka demikianlah catatan-catatan ini akan hadir.

Dan karena  pak Ahmad Tohari pernah khusus berpesan padaku agar aku terus menulis novel eksistensialis, maka dalam kesempatan pertama ini yuk kita tilik perjalanan sang maestro eksistensialis. Satre..


Penulis dan filsuf eksistensialis itu usianya cukup melambung, mencapai 75 tahun (1905-1980). Novel “Muak“ (Der Ekel), yang lebih menyerupai catatan harian, adalah novel perdana Sartre yang ditulis tahun 1938. Isinya menyeret pembaca pada hiruk pikuk kehidupan borjuis yang kotor, kadang Sartre membubuhkan waktu atau hari di awal tulisan. Karya perdana biasanya sering berbentuk biografi. Sartre pun menceritakan tentang dirinya sendiri dengan bentuk “Aku-Pencerita.“ Mungkin lebih mudah bagi penulis pemula menceritakan dirinya. Setelah itu ia mulai menuliskan karya dari cerita orang lain atau lingkungannya. Buku ini mengingatkan saya pada “Buku Harian“ Anne Frank atau buku harian pada umumnya.
Awalnya Sartre sedikit saja tertarik politik. Apalagi ketika ia belajar di Berlin tahun 1933 tak pernah mempelajari politik. Melainkan ia mendalami karya Martin Heiddegger “Ada dan Waktu“ (Sein und Zeit) serta fenomenologi dari Edmund Husserl. Perkenalanannya dengan Simone de Beauvoir saat masih belajar filsafat tahun 1929 di Perancis telah tegas memisahkan antara filsafat dan politik. Sartre pernah mengajak kawin pasangan tetapnya ini, akan tetapi ditolak. Alasan Simone, tali perkawinan akan membuat tirani baru.
 Pada saat perang dunia II, Sartre hidup bergaya “Bohemian“ dan merasa terkoyak jiwanya. Apalagi setelah ia ditahan oleh Jerman. Ia mulai berpikir akan menjadi pemberontak. Di tengah pergolakan politik Eropa ia masih menyelesaikan buku gemuknya setebal 1156 halaman berjudul “Ada dan Tiada“ (Sein und das Nichts). Tak lama lagi ia selesaikan trilogi novelnya berjudul “Jalan Menuju Kebebasan“ (Die Wege der Freiheit). Dilanjutkan dengan karya dramanya berjudul “Lalat“ (Die Fliegen). Drama ini yang membawa kesuksesannya pertama kali di dunia panggung. Kemudian Sartre disibukkan dengan politik paska Nazi Jerman. Tema kebebasan dan tekanan menjadi titik sentralnya. Ia menulis karya berikutnya“Eksistensialisme adalah sebuah Humanisme“ (Der Existenzialismus ist ein Humanismus). Ia maksudkan, manusia terlempar ke dunia dapat dan harus mengurus dirinya sendiri. Sejak ia berkenalan dengan marxisme ada perubahan pikiran baru yakni, kebebasan individu dalam eksistensialisme itu harus diarahkan untuk kepentingan massa. Dan revolusi adalah satu-satunya cara menuju keadilan.
 Jejak Sartre selanjutnya mendirikan koran “Les Temps Modernes." Sebuah media yang melangsir pemikiran-pemikiran Sartre dengan berbagai polemiknya. Usai Perang Dunia II ia tak mau tahu lagi dengan filsafat Perancis tentang kebebasan. Ia lebih suka dekat dengan anak muda dan menjadi pelopor gerakan. Berbagai pergolakan di Indochina, Korea, Vietnam membuat Sartre lebih tertantang untuk mendukung pembebasan atas penindasan. Ia memutuskan untuk aktif di Partai Komunis Perancis. Antara tahun 1962 dan 1965 setiap tahunnya ia diundang ke Rusia untuk membicarakan isu perdamaian dan hubungan penulis Rusia dan Eropa. Pada bukunya “Intelektual sebagai orang Revolusioner“ (Der Intelellektuelle als Revolusionär) menyebutkan, pada usia 25 tahunan itu ideal sebagai intelektual muda, kalau orang sudah mencapai usia 70 tahun, kemana-mana harus dipapah dengan kursi lipat.
Tahun 1964 muncul lagi karyanya berjudul “Kata-Kata“ (Die Wörter). Sartre pada buku ini bernostalgia dengan masa kanak-kanaknya. Pada kumpulan esainya berjudul “Apa itu Sastra?“ (Was ist Literatur?) Sartre dengan tegas memisahkan antara prosa dan puisi. Prosa dianggap sebagai piranti khusus menyuarakan kebenaran, sedang puisi bersanding dengan musik, lukisan dan patung yang menghindari pemakaian bahasa. Sebab itu jurnal “Les Temps Modernes“ sangat sedikit memuat puisi. Terkait dengan buku di atas Adorno menuduh, Sartre telah mendudukkan karya seni berdampingan dengan bangunan panteon yang akan meruntuhkan komoditas budaya. Di antara karya-karya Sartre yang paling menandingi ketebalan novel Dostojewsky, “Bruder Karamasow,“ yakni berjudul “Keluarga Idiot“ (Der Idiot der Familie). Buku dengan ketebalan sekitar 2000 halaman ini berupa analisis terhadap karya dan kehidupan Flaubert.
Sartre Kecil Menulis
 Setelah kematian ayahnya ia diasuh oleh kakek dan nenek serta ibunya. Kakeknya punya perpustakaan pribadi dan banyak karya sastra klasik. Sartre kecil berkutat dengan buku-buku tersebut. Pada usia 10 tahun ia berikrar ingin menjadi penulis. Paman Sartre, Emile menghadiahi mesin ketik kecil untuk Sartre. Tapi Sartre tak menggunakannya. Kemudian Madame Picard membelikan peta dunia, agar Sartre tak salah mempelajari geografi. Ketika Sartre sudah mulai menulis, komentar ibunya Anne-Marie, “…itu lebih baik, setidaknya ia tak membuat gaduh.“ Saat awal-awal bisa menulis ia akui dirinya bukan penulis terkenal, tapi ketika ia menulis seperti kena kram, pensilnya tak bisa berhenti, mengalir terus. Namun sering tak sampai akhir. Dalam benaknya berpikir, untuk apa sebuah cerita harus berakhir, kalau sejak awal sudah kehilangan jejak.
 Sartre pertama kali kagum dengan penulis Jules Verne, utamanya cerita petualangannya. Ia mengakui novelnya berisi cerita yang rumit. Teknik menulis Sartre dengan cara memasukkan semua bahan yang baik maupun yang jelek, dicampur menjadi satu. Lalu di sana-sini ia menyusupkan gagasan orang lain atau sebagai plagiator. Sartre punya kebiasaan tidak mau membaca ulang hasil karyanya. Biasanya tokoh bikinan Sartre seorang pahlawan yang melawan tirani. Ia berpendapat, ketika aku dalam kehidupan riel, aku memimpikan berlatih menulis terus, ketakutanku kalau saja talentaku tak ada gunanya.
Kakeknya bernama Karl menasihati, “…tak cukup hanya punya mata, tapi harus belajar bagaimana menggunakan, seperti Flaubert menganalisis karya Maupassant. Suatu saat Sartre menuju di bawah pohon. Di situ selama dua jam ia menulis khusus tentang pohon. Ia disiplin dalam menulis dan berujar, “Kalau sehari saja aku tidak menulis, lukaku makin menganga, tapi kalau aku menulis ringan, terbakar juga lukaku.“ Sartre suka menyitir ucapan dari Chateaubriand, “Aku sadari, kalau aku hanyalah sebagai mesin pembuat buku.“
Pernah Sartre jatuh sakit dan ketika mulai bisa menulis lagi, ia ingin menulis dengan tema laut dan pegunungan. Tapi tak ada penerbit yang mau menerima. Namun ketika ia menulis pada sebuah koran, banyak orang mencibirnya, bahkan penjual di warung yang membaca tulisannya tidak mau melayani. Nyaris ia sebagai musuh rakyat. Ketika usia makin merangkak, tepatnya di usia 50 tahun, ia menulis buku dan diterbitkan oleh penerbit terkenal Arthene Fayard. Buku itu berhasil dengan gemilang. 10.000 eksemplar habis dalam waktu dua hari. Akibatnya ratusan wartawan mencarinya, tapi ia tak ditemukan. Sartre membaca di koran, kalau dirinya dianggap penulis bertopeng, penyanyi dari Aurillac, penulis lautan. Sartre minggat tak jelas, bahkan penerbitnya juga tak diberi tahu alamatnya yang pasti.
Seluruh karya Sartre kalau dikumpulkan ada 25 buku, 18.000 teks esai, dan 300 ilustrasi gambar. Ia merasa seperti lahir kembali sebagai manusia utuh, berpikir, berbicara, bernyanyi, meledak. Ia merasa hidup ini tidak untuk dinikmati saja, tapi harus diseimbangkan. Lebih esktrem ia menganggap, masa depan lebih riel dari pada masa kini. Bila orang harus mati, maka kebenaran adalah jalan awalnya. Menulis adalah kebiasaannya, pensil ia anggap sebagai pedangnya. Kadang ia juga menyisipkan tulisan lamanya ke dalam bukunya, ia anggap sebagai aksi menyelundupan. Satu hal yang menarik, ia bilang, “Dalam menulis aku harus ada kemajuan, serius dan secara teratur ada kemajuan.“
Sartre merasa malu membaca karya Cervantes “Don Quijote." Sebaliknya ia memahami karya Voltaire, Rousseau yang saat itu memerangi tirani. Orang sering menghubungkan masa kecil Jean Sartre mirip dengan Jean Rousseau. Ia juga kagum dengan Magelan dan Vasco da Gama, Dumas dan Karl May. Pada usia senjanya, ia pikir, sudah tak produktif seperti sebelumnya.
Pada Oktober 1964 ia termasuk dalam daftar calon peraih nobel sastra. Sartre mengirimkan surat kepada lembaga nobel pada 14 Oktober untuk dikeluarkan dari daftar. Alasan Sartre, ia tidak mau dinobatkan sebagai penulis terkenal dari lembaga kebudayaan barat yang akan memisahkan antara budaya barat dan timur. Namun surat itu tidak dibaca oleh panitia nobel. Akhirnya terlanjur diumumkan pada 22 Oktober 1964, tapi tetap saja ia menolaknya. Pada 15 April 1980 ia meninggal di Paris. Kepergian sang maestro eksistensialis itu dihadiri lebih dari 50.000 pelayat. Sampai akhir hayatnya ia tak memiliki rumah, istri dan anak
sumber: web serat kata

Writer Needs Authentic Smile

Writer Needs Authentic Smile


Wohoo...jadi ceritanya beberapa waktu lalu diriku pernah 'ngrasani' eh maksudnya 'mbatin' seseorang yang kuanggap ih senyumnya kok gitu sih. kayak nggak tulus, seperti ada kesan meremehkan orang lain. dan nggak tahu gimana, beberapa waktu setelah itu aku merasa 'senyum jelek' yang kubatin itu tiba-tiba ternyata seperti nular padaku. Pas aku lihat foto-fotoku, hati jadi kecut lho kok senyumku ikutan jelek kayak si itu, kesannya antara meremehkan orang lain campur tidak percaya diri. Hih, sebel. Sementara orang yang tadinya senyumnya jelek itu berangsur-angsur senyumnya malah membaik. Subhanallah. Gitu lho ternyata, jadi kita nggak seharusnya 'mbatin' atau 'menyidro' alias menganggap jelek suatu sikap orang lain meskipun hanya dalam hati. Kujadikan itu sebagai pelajaran, dan mulailah kuperbaiki lagi senyumku seperti sedia kala. 

Eh, ndilalah hari ini menemukan artikel pentingnya senyum bagi seorang penulis. Nih artikelnya, cekidot: 

It would be ideal if writing skill and talent were the only attributes a writer of novels or screenplays needs. However, in the real world some additional skills are vital. Some of these may strike you as unusual, but bear with me.
AN AUTHENTIC SMILE
(I did warn you these might strike you as unusual..) Part of success as a writer is making connections with agents, publishers, influential bloggers, etc. Many of these links are forged online, but it's also common to make such connections in pitch meetings, at conferences and conventions, and other live events. 
Research has shown that people make up their minds about you within the first few seconds, and that a genuine smile has a strong positive influence. It's sometimes called the "Duchene smile," one that involves upturned lips and crinkly eyes (fake smiles don't involve the eyes).
How do you create such a smile if looking at the agent or publisher doesn't genuinely fill you with positive emotions? Method acting. You think about something or someone you love and would smile at if they were in front of you. Or in your imagination you put the head of a baby or your favorite dog or cat on the body of the person you're meeting. Better not to burst out laughing, though. 

Jadi, iseng-iseng aku mengumpulkan beberapa fotoku dan mengecek, apakah aku punya senyuman otentik itu. *Halagh:D







Mana yang paling otentik menurutmu? :D


















Tapi kalau yang ini pasti jadi otentik sebab ketemu dua orang otentik yang istimewa



Seperti Cinta, Perjalanan Nasib Cerita Juga Berbeda-beda

Seperti Cinta, Perjalanan Nasib Cerita Juga Berbeda-beda


Begitulah kira-kira gambarannya atas perjalanan anak-anak yang lahir dari rahim ocehan dan tarian jemariku. Yang hadir dari percikan hasrat, uneg-uneg, dan juga sebagian besarnya hasil olahan curhat orang-orang yang ada di sekitarku.

Mayasmara misalnya, lahir dari cinta yang menggebu-gebu, hasrat yang bertalu-talu. Saking menggebunya dan mengejar momen UWRF waktu itu sehingga dia lahir dan mbrojol lewat terbitan sendiri. Dan sambutannya lumayan meriah dan memuaskan. Alhamdulillah.

Ayah, Lelaki Itu Mengkhianatiku; ia tadinya suara-suara cemas dalam kepala, juga keprihatinan. Menjadi berwujud ketika sebuah penawaran datang dari Diva untuk mengembangkannya menjadi tulisan panjang. Dalam 3-4 bulan pertama sejak kehadirannya, terjual sekitar delapan ratus eksemplar. Sebuah pencapaian yang sangat berarti bagiku. Alhamdulillah.


Lelaki Kutunggu Lelakumu; tak bisa kupungkiri hadir karena kegemasanku akan para lelaki yang seolah pasif dan menjadi pesimis cinta. Hei, para lelaki!, teriak kami (para perempuan), bola itu ada di tangan kalian. Gelindingkan, dan biarkan kami memilih untuk menangkap (atau melepaskannya). Semacam itulah.


Mesir Suatu Waktu; kepulangan adikku dari Al Azhar Mesir langsung kusambut dengan ajakan menulis novel duet. Kamipun berjibaku dengan banyak cerita yang mengalir, terutama saat-saat kerusuhan waktu itu. Naskahnya terdiam untuk beberapa saat. Dan lalu mendapat kesempatannya terbit ketika memenangkan PSA1 di Grasindo.


Segitiga, Ada Cerita Dalam Setiap Sudutnya; keinginan memadukan cerita cinta segitiga dengan segitiga konflik kepentingan LSM, pengusaha dan pejabat, lahirlah novela ini.


Just In Love; cerita ini datang dari pengalaman magang arsitekturku selama di Klaten. Dia tadinya adalah serpihan-serpihan yang jadi draft di NanoWrimo. Tapi kemudian  mewujud utuh untuk pertama kalinya sepulang aku dari ikut salah satu akademi menulis yang diadakan di Puncak Bogor. Tapi karena dianggap kurang remaja, alias lebih pas untuk Young Adult, jadi dia dilepaskan dari tujuan awalnya. Terkirimlah dia untuk PSA2 setelah beberapa kali revisi yang melelahkan, dan alhamdulillah terpilih kembali. Dan akhirnya hadir menemani pembaca.


Luv; kegelisahan-kegelisahan yang membungkah akhirnya pecah dalam novela ini. Tentang kelebihan energi dan hasrat. Tentang jerat masa lalu. Tentang lagi-lagi gesekan antara tradisi dan modernitas.


Miss Backpacker Naik Haji; tiada yang lebih menakjubkan kecuali menuliskan kembali pengalaman-pengalaman spiritual yang pernah singgah dalam kehidupan kita. Demikianlah dia mengalir bersama rindu akan haromain. Keinginan  untuk mengunjunginya lagi, suatu saat, entah kapan. Diterbitkan oleh grup Mizan membawaku bersinggungan dengan banyak orang di sana. Membawa pada pengalaman-pengalaman spiritual baru.


Sarvatraesa; kisah yang lahir tersebab cuitan-cuitan 140 karakter yang kubagikan di twitter, yang kudapatkan saat aku menemukan kembali dia yang sempat menghilang dari peredaran. Aku hampir mati saat mengerjakannya, karena ada pihak yang menekanku secara psikologis waktu itu. But alhamdulillah, i'm saved. Ada janji untuk menuliskan Sarva 2. Nanti. Setelah aku dapat cerita komplitnya sepanjang perjalanannya di Eropa. Wish me luck.


Gus; dia tadinya gagasan yang muncul jauh hari, tetapi kemudian mendapatkan pemicu untuk tumbuh dan berkembang saat bertemu mbak Gina S Noer. Dia yang mendorongku untuk meniti rel khusus, menulis cerita-cerita yang erat kaitannya dengan kepesantrenan. Saat itu Gus merupakan salah satu dari tiga outline yang kuajukan. Yang satunya kini sedang digodok di penerbit Jakarta. Satunya  lagi sedang digodok di penerbit Jogja. Nah yang satu ini Gus, memperoleh kesempatan pertamanya karena waktu itu aku dijawil penerbit Kaki Langit Kencana. Sehingga aku pun bergegas mengembangkan outline tersebut. Alhamdulillah, Gus pun mewarnai hutan literasi ini.


Matahari Mata Hati;  sempat singgah di tempat lain namun waktu itu memang kurang matang sehingga dia kembali ke folderku. Lalu kukirim untuk lomba novel di Tiga Serangkai. Dan meskipun tidak menang, tapi aku dihubungi penerbit yang tertarik untuk menerbitkannya. Dan jadilah hari ini MHMH ada di tengah kita semua. Alhamdulillah.

Whoaaah...serasa melahirkan kembali ketika aku menuliskan nasib perjalanan mereka ini. Lain hari aku akan cerita kisah buku-buku yang non fiksi ya. (Insya Allah)

Oh ya, beberapa cerita dalam bentuk novel yang kuceritakan barusan bisa menjadi pilihanmu untuk ber-selfie ria.(dan berkesempatan mendapatkan hadiah). Simak caranya di postingan tentang ketentuan kuis #Selfie  ya.




NB: Jika kesulitan mendapatkan buku-buku tersebut di toko buku terdekatmu, sila sms/wa ke 085701591957 . Insya Allah akan kami bantu :)

Lomba foto selfie

Hai, terima kasih ya teman-teman yang sudah membeli dan membaca tulisan dan buku-bukuku. Sebagai wujud terima kasih dan sekaligus menyambut ultahku, ini ada event foto selfie berhadiah total senilai  1 juta rupiah untuk 3 pemenang. 
Caranya gampang kok.
Kamu tinggal upload foto kamu dan bukuku di Blog atau Facebook atau twitter atau instagram.
Syarat dan ketentuannya  simpel aja. Simak ya....
1. Follow akun twitter dian nafi di @ummihasfa  atau Like FB page: Dian Nafi  atau follow instagram Dian Nafi
2. Beri testimoni buku yang kamu pakai buat selfie (atau boleh juga tulis quote yang kamu sukai).
Contoh: “Matahari Mata Hati, novelnya bikin aku nangis. Dapet banget pesan2nya. Quote2nya bikin semangat”

3. Foto diupload di Facebook dengan menandai akun FB Dian Nafi atau mention foto ke Twitter @ummihasfa atau mention ke instagram Dian Nafi dengan hastag #selfieDN
Deadline 15 Juni 2015
Hadiahnya paket buku senilai 1 juta rupiah untuk 3 pemenang.
Gimana? Asyik kan? 
Yuk ikutan!

  

Grand Syekh Al-Azhar: Gerakan Aswaja NU Dibutuhkan Umat Islam Dunia

Grand Syekh Al-Azhar: Gerakan Aswaja NU Dibutuhkan Umat Islam Dunia


Jakarta, NU Online
Grand Syekh Al-Azhar melalui delegasinya Prof DR Abdul Mun’im Fuad mengapresiasi gerakan Aswaja yang digelorakan Nahdlatul Ulama. Prinsip-prinsip beragama NU yang terus bersambung hingga Rasulullah SAW itu, menurutnya, sangat kontekstual dengan kondisi dunia kekinian.
“Toleransi nilah yang dibutuhkan orang dunia sekarang ini. Inilah manhajul (jalan hidup) Islam sesungguhnya,” kata Mun’im Fuad menyampaikan salam Grand Syekh Al-Azhar dalam bahasa Arab di Jakarta, Rabu (27/5) siang.
Di hadapan pengurus lengkap harian Syuriyah danTanfidziyah PBNU, Mun’im Fuad yang memimpin rombongan Al-Azhar Mesir itu menegaskan bahwa Islam tidak mengajarkan tathorruf (ekstrem), irhab (teror), ifroth (berlebihan), tafrith (abai), dan tasyaddud (kekerasan).
Qimatuna (nilai keberagamaan kita) itu terletak pada wasuthuna (kemoderatan kita) itu sendiri. Singkat kata, Al-Azhar sepakat dan mendukung gerakan tawasuth NU yang terus mengglobal,” kata Mun’im Fuad menutup sambutannya.
Sementara Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj menyebutkan jumlah agama resmi, keragaman suku, dan sejumlah paham politik yang berkembang di Indonesia.
“NU sebagai ormas muslim terbesar di Indonesia akan terus mengawal keragaman dalam bingkai asas Pancasila dan persatuan NKRI,” kata Kang Said yang juga menggunakan bahasa Arab. (Alhafiz K)
Sumber: NU Online

Penulis Yang Tulisannya Membangkitkanmu Dari Dalam Kubur & Kebuntuan

Penulis Yang Tulisannya Membangkitkanmu Dari Dalam Kubur & Kebuntuan


Ada masa-masa di mana PR begitu banyak, dan kamu mencari bahan bacaan untuk membangkitkan mood-mu. Tapi tak juga kamu dapatkan dari banyak tumpukan buku. Kamu membacanya selintas dan berpikir duh klise. Kamu ambil buku lain dan memaksa diri untuk membaca, tetapi hati tak bisa berbohong that's also cliche.
Oh my.

Lalu saat hampir putus asa, tetiba sebuah pesan masuk dalam inbox emailmu. Sebuah postingan dari blog yang kamu ikuti. Penulis yang kamu miliki beberapa bukunya. Dan postingannya membuatmu kembali melengkungkan bibir. Tulisannya kali ini adalah cuplikan novelnya yang baru. Dari gaya tutur dan berceritanya, kamu mendapatkan suntikan semangat. Nih, ada kok yang nggak klise. Ada. Dan mentari kembali menyala di matamu. Hidup akan masih terus berlanjut.  Lalu jemari pun kembali menari.

Ada beberapa penulis Yang Tulisannya Membangkitkanmu Dari Dalam Kubur & Kebuntuan.
Aku punya mbak Dewi Lestari yang tulisannya tidak membosankan meski dibaca berulang kali. Aku juga suka gaya tuturnyaWindry. Dan masih ada beberapa penulis yang punya kualitas 'membangkitkan' ini.

Kalau kamu?
Siapa penulis yang seperti itu bagimu?

Share ya ^_^



Merkuri Masih Bekerja

Merkuri Masih Bekerja

setelah sebelumnya merkuri membuatnya menggelinjang
kemarin sore dia berhasil dibuat menjerit dalam kesedihan

antara fisik dan psikis yang lelah
anak-anaknya yang sakit bergantian
kisah cintanya kali ini yang hanya bisa stalkingan
rindu haromain yang segera terbersit saat melihat postingan umroh
deadline yang bertumpuk dan kepala yang penuh

tahu-tahu tiba-tiba dia menangis
(saat itu dia baru tahu bagaimana kemungkinan rasa seorang bipolar ketika mengalami momen-momennya)

Dia membiarkan ceruk hatinya yang kosong
tersentuh jeritan itu
membuatnya penuh dengan sesak haru
kecemasan
harapan
doa
asa

Dia membiarkan mata dan wajahnya basah
tersentuh tangisan itu
membuatnya vulnerable
luluh lantak
lebur
blur






Membayar Kepenasaranan

Membayar Kepenasaranan

Kalau saja aku bisa terbang gratis, ingin rasanya aku pergi ke Palembang. Untuk membayar kepenasaranan.

Dia, cewek yang sangat ingin kutemui ini, dulu pernah datang ke kota kecilku. Mencari aku. Kami bersahabat pena (belum ada medsos waktu itu) dan dia mengira aku cowok yang bisa dia jatuh cintai.
Dia kirim surat acak ke semua ketua kelas 1.1 SMA 1 di seluruh Indonesia, dan kebetulan aku salah satu penerimanya. Percakapan dan diskusi jarak jauh terasa begitu mengasyikkan, sampai akhirnya aku terhenyak saat menyadari bahwa dia mengira aku lelaki. Mungkin karena namaku memang bersifat androgini. Bahkan kebanyakan namaku dipakai oleh lelaki.

Di antara kebingunganku mencari cara bagaimana menjelaskannya, tiba-tiba dia terbang dari Palembang ke kotaku. Mencari dan hendak menemuiku.

Ndilalah, waktu itu aku sedang liburan sekolah juga dan tengah pergi ke rumah saudaraku di luar kota. Jadi cewek itu hanya ketemu orang tuaku. Kalian bisa bayangkan bagaimana perasaannya ketika tahu bahwa 'cowok' yang selama ini mengisi hari-harinya dari jauh dan membuatnya jatuh hati ternyata 'cewek'

Duh.

Dan aku belum pernah berjumpa dengannya hingga hari ini. Kalau benar aku bisa terbang gratis ke Palembang, aku akan menemuinya. Dan mungkin berkenalan dengan suaminya, juga anak-anaknya. Kami harus jalan-jalan keliling Palembang, menikmati Jembatan dan Sungai Musi, juga tempat-tempat indah yang dia pernah ceritakan padaku via surat-surat panjang waktu itu.


Itinerary perjalanan
Mungkin aku akan memakai pesawat Citilink, berangkat 27 Juni dan pulang 28 Juni 2015.
Menginap di hotel yang murah saja lah, biar irit.

Nih dia screenshot halaman “Review Pemesanan” tiket Citilink dan hotel yang mau dipesan dari Traveloka App.





Kesan dan pesan menggunakan Traveloka App.
Caranya ternyata gampang banget. Simpel. tanpa harus tengok kanan kiri atau tanya sana sini. Semuanya tersaji informatif dan cukup membantu.
Dan ini yang paling penting, ringan alias tidak berat loadingnya.



Setidaknya

Setidaknya

Setidaknya kita pernah punya momen itu
meski (mungkin) tak abadi

tapi sebelum kamu pergi
ijinkan aku bertanya

kamu yakin tidak ingin merasakan
yang sedikit lebih jauh?

sesuatu yang bisa dijadikan bahan cerita
yang sedikit lebih panjang?

kamu yakin melepaskannya sekarang?





Yang Tren, Yang Njelehi

Yang Tren, Yang Njelehi


Barusan aku nge-cuit tentang seputar perempuan dan kecantikan.

Kutanyakan ke floor&folks: perempuan terlihat cantik jika.....
dan salah satu komentatornya mas Sahal menulis (perempuan) yang tidak suka akik dan tidak mencintai laki-laki yang pakai akik.

Eh lha kok ada yang nimbrung dengan mengupload foto akik gedhe-gedhe di seluruh jemari. OMG! Mengerikan ya?

Tadinya cukup lucu juga saat tahu ada tren akik. Meskipun sebenarnya ini bukan barang baru (bagiku) Setiap (alm) bapak pulang  haji dan umroh (beliau haji 9x) selalu pulang membawa oleh-oleh akik ini dari Arab. So, nggak begitu tertarik juga dengan per-akik-an, tapi cukup ketawa-ketawa karena lucu aja lihat sliwar-sliwer obrolan tentang akik ini di time line.

Tapi ketika sudah berlebihan, berasa jadi menyebalkan. Njelehi gitu lho.

Btw, sebenarnya tren (yang viral) ini  bisa datang dari dua arah. Dari konsumen yang butuh, atau dari produsen yang memang menciptakan pasar. Balik lagi industri dan kapitalisme yang menjadi biangnya. Dan entah bagaimana, meski kita juga butuh uang dan penghidupan, sepertinya industri dan kapitalisme ini seakan momok dan parasit yang menakutkan.

Bagaimana denganmu?
Bagaimana cara berdamai dengan pikiran-pikiran yang seolah salung berseberangan ini?
Di satu sisi kamu butuh, tapi di sisi lain kamu juga muak dengan hal-hal yang seolah 'menghalalkan segala cara', berbau topeng dan kemunafikan. How come?

Mana Yang Lebih Pelacur?

Mana Yang Lebih Pelacur?

kita kadang dengan mudahnya menyamakan sebuah tindakan sebagai pelacuran.

Apakah juga bisa disebut pelacur orang yang menulis berdasarkan pesanan, misalnya biografi tokoh yang hendak mencalonkan diri sebagai kepala daerah.

Apakah juga bisa disebut pelacur orang yang menulis review untuk blog atau web dan semacamnya dan seterusnya demi mendapatkan uang atau hadiah.

Dulu sekali, aku tak tertarik dan bahkan cenderung menghindar untuk menulis tentang kepesantrenan, dunia santri dan apalagi kepikiran roadshow di pesantren-pesantren. Karena waktu itu pikiranku bilang, hei! tidak selayaknya mereka menjadi komoditi. Sehingga untuk banyak bilangan tahun, aku sungguh-sungguh menghindar untuk menuliskannya.

Lalu tibalah masa di mana seorang mbak Gina S Noer justru memberikan pemicu dan pemacu, bahwa aku justru harus menyuarakan apa yang terkandung dan tersimpan dalam dunia yang tidak semua orang mungkin sempat mengalami apalagi memahaminya.

Jadilah kemudian tulisan-tulisanku mengalir tentang mereka yang memang merupakan duniaku, darah dagingku.

Namun untuk sejenak kadang mungkin aku harus menengok lagi, lalu mengintropeksi diri dan terutama menjernihkan kembali, agar bening seperti pada awalnya aku berangkat.

Semua aktifitas kita ini tergantung niatnya. Begitu yang diungkapkan dalam arbain nawawi.



Rohingya, Johar dan Ayah

Rohingya, Johar dan Ayah'


ketika kabar meninggalnya ayahnya ollie, aku jadi terlempar pada peristiwa empat belas tahun silam saat aku juga kehilangan ayahku. kata saudara-saudaraku, aku terlihat yang paling luluh lantak saat itu. Mungkin karena aku anak sulung dan yang jadi 'kinasih' oleh bapak, jadi kepergiannya membuatku 'hancur'. semoga ollie tabah dan diberi kesabaran. aamiin.

kehilangan tak ayal menjadi satu paket dengan segala sesuatu yang kita pernah merasa miliki. Meski sesungguhnya semua itu adalah titipan.

Lihat bagaimana para kaum Rohingya terusir dari negaranya dan terkatung-katung di lautan, bagaimana Johar yang legendaris kini porak poranda diserang api (yang entah disengaja atau tidak)

Kehilangan tak bisa...oh sudah, maaf, stop ya.
#rakkuat




Menulis (Bukan) Untuk Uang

Menulis (Bukan) Untuk Uang


Apakah yang menulis bukan untuk uang lebih mulia daripada  yang menulis bukan untuk uang?
Belum tentu.
Bisa jadi yang menulis untuk uang itu lebih mulia, karena dia memang butuh uangnya untuk menafkahi keluarganya.

Bisa jadi yang menulis dan dapat uang itu karena memang tulisannya bagus dan layak diberi imbalan yang sepadan. Tapi  yang menulis bukan untuk uang bukan berarti tulisannya tidak bagus. Karena banyak sekali kok tulisan-tulisan yang bagus yang tersebar gratis dibaca di banyak blog dan web.

Jadi untuk apa dong tulisan ini dibuat?
Halagh...ya nggak buat apa-apa. Cuma mau uneg-uneg aja.

Btw, yang sesungguhnya berputar-putar di kepala saya (berkaitan dengan uang) adalah bagaimana si bapak yang satu itu bisa umroh berkali-kali, mengadakan event-event tak berbayar bahkan ngasih makan peserta dan berkali-kali, roda perusahaannya terus berputar  di tengah himpitan sesak dan roller-coaster dunia literasi yang embuh ini. Apa sih amalannya? Gimana caranya menjadi demikian berkah? dst dst





XL Punya Gawe

XL Punya Gawe

XL punya gawe besar nih. Ingat postinganku tentang XL Future Leaders?
Nah, setelah beberapa waktu lalu XL sukses menggelar acara ini di beberapa kota, kali ini tibalah Semarang menjadi destinasi selanjutnya.

Para penggedhe dan pejabatnya XL dari pusat langsung turun ke sini. Btw, tentu saja tidak cuma dalam rangka kerjaan, tapi juga jalan-jalan. Ahaha...*hush*


 Kita patut mendukung program dan gerakan XL ini sebab mulia banget tujuannya. Mereka ingin bersama-sama semua aspek dan pihak, untuk melahirkan para pemimpin masa depan.

CSR alias program pelayanan perusahaan XL bagi masyarakat, ada dua bentuknya. Yakni via pendidikan dan juga via pengabdian masyarakat. 

Sukses ya buat XL dan program XL Future Leaders-nya.
Semoga berkah manfaat!

Novel Matahari Mata Hati Di Tangan Para Mata Hati

Novel Matahari Mata Hati Di Tangan Para Mata Hati



Hai!
Sudah tahu ada event #SelfieDN ?
Klik infonya nih http://diannafi.blogspot.com/2015/05/lomba-foto-selfiedn.html

Nah, ini dia beberapa jepretan novel terbaru Matahari Mata Hati bersama para mata hati :)






Yuk!
Kami tunggu foto selfie-mu :))