#ngemilbaca 4 Musim Cinta

#ngemilbaca 4 Musim Cinta


Covernya minimalis banget. Hanya polos putih seluruh bagiannya, depan dan belakang. Dengan hanya satu aksen bibir merah di tengah-tengah. Setelah membaca novelnya kita jadi  menebak-nebak, apakah ini bibir Gayatri (yang dilumat Pring di depan kamar hotel)  atau bibir Indah (yang menjadi ciuman pertamanya dan meminta Pring berjanji untuk tidak mencium cewek lain) atau itu bibir Dira (yang disukai oleh Arga ataupun Gafur)





By the way, ketika pertama kali membaca judulnya, terus terang aku ingat dengan judul yang sama tapi terbitan gagas.


Entah apakah isinya serupa atau tidak. Namun yang jelas di  4 Musim Cinta yang ditulis  Mandewi,  Gafur, Puguh  dan Pring ini menceritakan kisah cinta empat tokoh utamanya yang astaga! memakai nama asli mereka lho.

Duh, kalau aku jadi istri Pring, pasti bakal sangat cemburu membacanya. Karena di sini Pring dan Gayatri punya hubungan istimewa. (sementara keningku berkerut, benarkah seperti itu atau ini hanya fiksi? haha:D )

Mengenal dua penulis dari keempat penulis buku ini membuat aku jadi lebih mudah mendapatkan 'connection' terutama pada bab-bab awal pengenalan karakter dan konflik. Mungkin itu juga yang membuat cerita ini jadi lebih menarik. Aku jadi ingin tahu lebih jauh cerita mereka. Apalagi beberapa peristiwa atau momennya benar-benar terjadi di dunia nyata, seperti yang bisa kubaca dari time line di twitter. Antara lain workshop kepenulisan anak-anak Dinas Perbendaharaan ini bareng mas Ahmad Fuadi waktu itu. Juga kebetulan karena aku dan Gayatri duduk bersisian dan ngobrol bareng malam itu di Asean Literary Festival menunggu penampilan bang Remy Silado. Meski tidak sempat bertemu Pring karena dia harus ke Bandung dulu ketemu istrinya (Indah) yang juga diceritakan dalam novel ini. Wow banget kan mereka bisa membuat dunia nyata dan fiksi sedemikian berkelit kelindan sehingga sebagai pembaca bahkan aku tak bisa membedakan mana yang sungguhan dan mana yang rekaan. Ahaha.

Yang paling seru dari novel ini adalah bagaimana mereka berempat membuat tulisan mereka  nge-blend. Ini pasti hal yang tidak mudah. Aku jadi membayangkan bagaimana proses kreatif dan brainstorming mereka saat penulisan #4MC.

Saking nge-blend-nya sampai kita tidak menyangka bahwa ini ditulis empat orang. Tidak timpang sama sekali. Tidak ada yang lebih tinggi atau rendah di sana. Tidak nge-pop banget, juga tidak nyastra banget. Kurasa ada penulis yang mungkin musti rela menurunkan sedikit derajat kesastraannya demi bisa membuat harmoni ini tercapai. Mungkin.

Gaya bertuturnya juga apik. Mengalir dan cukup smooth. Flash back yang diselipkan dalam cerita sangat mengesankan. Tidak mengganggu sama sekali. Maju mundur cantik lah. Meski dalam beberapa bagian mungkin terasa seperti diulang-ulang.

Yang paling mencemburukan tentu saja karena keempat penulis ini punya latar belakang lahir dan tinggal di tempat-tempat eksotis. Sehingga wacana mereka tentang tempat-tempat indah, tradisi, mitos dan hal-hal unik lainnya merupakan material yang sangat berguna untuk menjadikan novel ini punya daya tarik.  Apalagi kesempatan mengunjungi tempat di belahan pelosok negeri sebagai PNS yang bertugas atau  dinas ke pulau-pulau yang jauh. However, tentu saja kemampuan menarasikan dan mendeskripsikanlah yang juga menjadi penunjang bagi keindahan-keindahan itu tersaji.

Selain tambahan pengetahuan akan tradisi dan mitos, kita juga mendapatkan beberapa pengetahuan sains macam apa beda katak dan kodok, dan seterusnya. Good point. Yang nyempil kecil-kecil itu membuat novel ini punya kedalaman juga dimensi.

Apalagi dengan dialog dan percakapan yang menyinggung soal hakikat dalam kehidupan. Yang meskipun sekilas tapi turut membuat kening kita berkerut dan hati berkedut. Ada juga yang bikin shock, kayak dugaan tentang kemungkinan bahwa manusia adalah alien yang tersesat di bumi. Oh my God!

Sebuah novel yang cukup page turner,  membuat kita ingin membuka halaman berikutnya. Meski tentu saja ini terjadi jika kita cukup mencebur dan drowning alias tenggelam dalam pembacaannya. Karena jika kita agak menjaga jarak, novel ini bisa juga dibaca skimming alias fast reading sebab ya memang bercerita tentang kisah cinta saja. Pertanyaan tentang kesetiaan, perselingkuhan, pernikahan, dan tetek bengek cinta. Mungkin ini yang disebut dengan novel menye-menye tapi nyastra. Ahaha.

Good job, teman-teman. Salah satu kalimat yang aku suka dari novel ini: Orang yang diselamatkan tidak akan memunggungi penyelamatnya.

Seolah itulah mantra yang tengah merantai kalian sehingga tetap 'mengabdi' dalam sebuah organisasi besar yang ah sudahlah.....


0 komentar:

Posting Komentar