10 Wisata Religi Dan Spiritual Di Indonesia


10 Wisata Religi Dan Spiritual Di Indonesia

Walaupun reliji dan spiritual berbeda, tetapi ada juga tempat wisata di Indonesia yang sekaligus menawarkan keduanya. Apa saja tuh? Yuk kita kunjungi satu per satu.

1. Masjid Agung Demak

Sudah pasti nomor satunya Demak, tanah tumpah kelahiranku dan juga nenek moyangku.
Ya kan?  Cukup tiga puluh menit dari kota Semarang (kalau nggak macet), kita bisa sampai ke Masjid Agung Demak. (yang letaknya hanya sepelemparan batu dari rumahku)

Sudah padha tahu kan ya? Demak adalah kerajaan Islam pertama di Jawa. Dan masjid Agung ini adalah salah satu peninggalannya yang tersisa. Dengan arsitekturnya yang sederhana dan njawani justru masjid ini sangat merbowo alias berwibawa. Ada banyak orang yang mengaku merasakan kedamaian dan kekhusyukan luar biasa saat sholat dan berdoa dalam masjid Agung ini. Subhanallah.
Di sekitaran kompleks masjid, terdapat makam raja-raja dan auliya. Termasuk Sultan Fatah Sayyidin Panatagama, raja pertama kerajaan Demak.





2. Makam Sunan Kalijaga

Agak ke timur kota Demak, sekitar sepuluh menit perjalanan, kita akan sampai ke Makam Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga diperkirakan lahir pada tahun 1450 dengan nama Raden Said. Putra adipati Tuban yang bernama Tumenggung Wilatikta atau Raden Sahur ini punya gelar  antara lain Lokajaya, Syekh Malaya, Pangeran Tuban, dan Raden Abdurrahman. Ada satu versi masyarakat Cirebon yang menyampaikan bahwa nama Kalijaga berasal dari Desa Kalijaga di Cirebon. Pada saat Sunan Kalijaga berdiam di sana, dia sering berendam di sungai (kali), atau jaga kali. Sunan Kalijaga  menikah dengan Dewi Saroh binti Maulana Ishak, dan mempunyai tiga orang putra: R. Umar Said (Sunan Muria), Dewi Rakayuh dan Dewi  Sofiah.





3. Masjid Menara Kudus Dan Makam Sunan Kudus
Nah, lebih ke timur lagi dari kota Demak, kita akan sampai di  Masjid Menara Kudus yang terletak di Desa Kauman, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus. Terdapat makam Sunan Kudus dan puluhan makam di kawasan itu, termasuk pula makam putra Sunan Kudus yaitu Pangeran Palembang. Makam Sunan Kudus sendiri terdapat di tengah-tengah bangunan induk berbentuk joglo.
Beliau lahir dengan nama Jaffar Shadiq. Merupakan putra Sunan Ngudung yang merupakan panglima perang Kesultanan Demak Bintoro, dan Syarifah, adik dari Sunan Bonang. Sunan Kudus diperkirakan wafat pada tahun 1550. Sunan Kudus pernah menjabat sebagai panglima perang untuk Kesultanan Demak,dan dalam masa pemerintahan Sunan Prawoto. Beliau juga menjadi penasihat bagi Arya Penangsang. Selain sebagai panglima perang untuk Kesultanan Demak, Sunan Kudus  menjabat sebagai hakim pengadilan bagi Kesultanan Demak.
Pada tahun 1530, Sunan Kudus mendirikan sebuah mesjid di desa Kerjasan, Kudus Kulon, yang kini terkenal dengan nama Masjid Agung Kudus. Arsitekturnya mengadaptasi bangunan Hindu sebagai bentuk akulturasi budaya sebagai cara dakwah beliau. Peninggalan lain dari Sunan Kudus adalah permintaannya kepada masyarakat untuk tidak memotong hewan kurban sapi dalam perayaan Idul Adha. Hal ini untuk menghormati masyarakat penganut agama Hindu. Sehingga kurban sapi diganti dengan memotong kurban kerbau. Pesan beliau ini masih banyak ditaati oleh masyarakat Kudus hingga saat ini.


4. Sunan Muria atau Raden Umar Said

Sekitar 30 kilometer arah utara dari KMMK (Kompleks Masjid Menara Kudus) kita bisa sampai ke makam Sunan Muria di Desa Colo, Kecamatan Dawe.
Sunan Muria dilahirkan dengan nama Raden Umar Said atau Raden Said. Beliau  adalah putra dari Sunan Kalijaga dan  Dewi Soejinah (putri Sunan Ngudung). Nama Sunan Muria sendiri diperkirakan berasal dari nama gunung (Gunung Muria), yang terletak di sebelah utara kota Kudus, Jawa Tengah, tempat beliau dimakamkan.


5. Maulana Malik Ibrahim.

Makamnya terdapat di desa Gapura Wetan, Gresik, Jawa Timur. Maulana Malik Ibrahim juga disebut sebagai Sunan Gresik, atau terkadang Syekh Maghribi dan Makdum Ibrahim As-Samarqandy. Maulana Malik Ibrahim diperkirakan lahir di Samarkand di Asia Tengah, pada paruh awal abad ke-14. Babad Tanah Jawi versi Meinsma menyebutnya Asmarakandi, mengikuti pengucapan lidah Jawa terhadap As-Samarqandy, berubah menjadi Asmarakandi.Sebagian cerita rakyat, ada pula yang menyebutnya dengan panggilan Kakek Bantal. Maulana Malik Ibrahim adalah wali pertama
yang membawakan Islam di tanah Jawa. Maulana Malik Ibrahim juga mengajarkan cara-cara baru bercocok tanam. Ia banyak merangkul rakyat kebanyakan, yaitu golongan yang tersisihkan dalam masyarakat Jawa di akhir kekuasaan Majapahit. Misinya ialah mencari tempat di hati masyarakat sekitar yang ketika itu tengah dilanda krisis ekonomi dan perang saudara. Pada tahun 1419, setelah selesai membangun dan menata pondokan tempat belajar agama di Leran, Maulana Malik Ibrahim wafat. Maulana Malik Ibrahim adalah sosok penyebar agama Islam di tanah Jawa dan merupakan wali tertua dari kesembilan wali. Bangunan  Makam Maulana Malik Ibrahim mempunyai kekhasan tersendiri, hal ini terlihat dari bahan batu nisan dan gaya tulisan Arab. Batu Nisan terbuat dari marmer dengan gaya Gujarat.


6 Sunan Ampel atau Raden Rahmat
Makam Sunan Ampel terletak di dalam komplek masjid Jami Ampel di Surabaya. Sunan Ampel bernama asli Raden Rahmat adalah putra Maulana Malik Ibrahim, Muballigh yang bertugas dakwah di Champa, dengan ibu putri Champa. Jadi, terdapat kemungkinan Sunan Ampel memiliki darah Uzbekistan dari ayahnya dan Champa dari ibunya. Sunan Ampel adalah tokoh utama penyebaran Islam di tanah Jawa. Di depan makam ada dua pintu gerbang besar bergaya Eropa. Makamnya terpisah dari makam lainnya dan diberi pagar teralis dari besi setinggi 110 cm. Di arah kaki (bagian selatan) ada pintu yang dapat dibuka dan ditutup yang dilengkapi dengan kunci gembok. Jiratnya disusun empat tingkat dan nisannya bagian atas berbentuk seperti daun teratai. Pada sisi  jirat bagian selatan dituliskan keterangan diri tentang Sunan Ampel dalam aksara Latin.

7. Sunan Bonang atau Raden Makhdum Ibrahim
Makam Sunan Bonang terletak di Bonang adalah desa di kecamatan Panyingkiran, Majalengka, Jawa Barat.  Sunan Bonang dilahirkan pada tahun 1465, dengan nama Raden Maulana Makdum Ibrahim. Dia adalah putra Sunan Ampel dan Nyai Ageng Manila. Bonang adalah sebuah desa di kabupaten Jepara. Sunan Bonang wafat pada tahun 1525 M, dan saat ini makam aslinya berada di Desa Bonang. Namun, yang sering diziarahi adalah makamnya di kota Tuban. Lokasi makam Sunan Bonang ada dua karena konon, saat beliau meninggal, kabar wafatnya beliau sampai pada seorang muridnya yang berasal dari Madura. Sang murid sangat mengagumi beliau sampai ingin membawa jenazah beliau ke Madura. Namun, murid tersebut tak dapat membawanya dan hanya dapat membawa kain kafan dan pakaian-pakaian beliau. Saat melewati Tuban, ada seorang murid Sunan Bonang yang berasal dari Tuban yang mendengar ada murid dari Madura yang membawa jenazah Sunan Bonang. Mereka memperebutkannya.


8.Sunan Drajat atau Raden Qasim
Makam Sunan Drajat dapat ditempuh dari surabaya maupun Tuban lewat Jalan Dandeles ( Anyer - Panarukan ), namun bila lewat Lamongan dapat ditempuh 30 menit dengan kendaran pribadi. Sunan Drajat diperkirakan lahir pada tahun 1470. Nama kecilnya adalah Raden Qasim, kemudian mendapat gelar Raden Syarifudin. Dia adalah putra dari Sunan Ampel, dan bersaudara dengan Sunan  Bonang.Ketika dewasa, Sunan Drajat mendirikan pesantren Dalem Duwur di desa Drajat, Paciran, Lamongan. Sunan Drajat yang mempunyai nama kecil Syarifudin atau raden Qosim putra Sunan Ampel dan terkenal dengan kecerdasannya. Setelah menguasai pelajaran islam beliau menyebarkan agama islam di desa Drajad sebagai tanah perdikan dikecamatan Paciran. Tempat ini diberikan oleh kerajaan Demak. Ia diberi gelar Sunan Mayang Madu oleh Raden Patah pada tahun saka 1442/1520 masehi.

9. Sunan Giri atau Raden Paku atau Ainul Yaqin
Beliau dimakamkan di desa Giri, Kebomas, Gresik. Sunan Giri adalah nama salah seorang Walisongo dan pendiri kerajaan Giri Kedaton, yang berkedudukan di daerah Gresik, Jawa Timur. Ia lahir di Blambangan tahun 1442. Sunan Giri memiliki beberapa nama panggilan, yaitu Raden Paku, Prabu Satmata, Sultan Abdul Faqih, Raden Ainul Yaqin dan Jaka Samudra.

10. Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah
Kawasan Perziarahan makam Sunan Gunung Jati  terletak di desa Astana kecamatan Cirebon Utara, sekitar 6 km dari Kota Cirebon yang di lintasi jalur Cirebon Indramayu. Kawasan ini telah di kenal luas,bahkan hingga ke mancanegara. kawasan ini potensial untuk di tingkatkan menjadi obyek wisata utama,dan tempat ziarah di Cirebon pada khususnya dan untuk pengunjung luar juga pada umumnya, di samping tetap melestarikan sebagai tempat peziarahan.
Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah adalah putra Syarif Abdullah putra Nurul Alam putra Syekh Jamaluddin Akbar. Di titik ini (Syekh Jamaluddin Akbar Gujarat) bertemulah garis nasab Sunan Ampel dan Sunan Gunung Jati. Ibunda Sunan Gunung Jati adalah Nyai Rara Santang, seorang putri keturunan keraton Pajajaran, anak dari Sri Baduga Maharaja, atau dikenal juga sebagai Prabu Siliwangi dari perkawinannya dengan Nyai Subang Larang. Makam dari Nyai Rara Santang bisa kita temui di dalam klenteng di Pasar Bogor, berdekatan dengan pintu masuk Kebun Raya.

Yuk, kita kunjungi semuanya dan  hirup aroma semerbak relijiusitas dan spiritualisme-nya!

Tulisan ini diikutsertakan dalam rangka blog competition yang diadakan oleh #TravelNBlog

3 komentar:

  1. lovely :3

    xoxo
    http://singingthumbelina.blogspot.com

    BalasHapus
  2. hm.. kalau tur kejawen seperti yang ada di Jogja, itu namanya wisata spiritual atau apa ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. wisata budaya&spiritual mungkin? he3

      Hapus