What Is Your Muse?

What Is Your Muse?


Kadang ada masa-masa stuck juga di dalam perjalanan kita berkarya dan menulis. Banyak PR di depan mata tapi ada saja gangguannya. Yang ragu-ragu lah, yang malas lah, yang nggak mood lah dan sebagainya.

Saat-saat seperti itulah kita membutuhkan 'muse' yang bisa menggugah semangat kita.

Sebagian orang tergerak setelah melihat film, atau membaca, atau jalan-jalan, atau habis menghadiri seminar, atau karena kantong bokek dan butuh uang. ahaha...

Kali ini my muse datang ketika bel rumah berbunyi, pak pos di depan pintu, mengantarkan bukti terbit buku baru, Bidadari Surga Pun Cemburu terbitan Tiga Serangkai. Yeay!!! Alhamdulillah, seneng banget dan langsung semangat nulis lagi.

Buku Bidadari Surga Pun Cemburu bisa didapatkan di toko buku Gramedia, Togamas dll. juga toko buku online. Go grab it ya :)


*ssstt....ada giveawaynya juga nih >> http://diannafi.blogspot.com/2015/07/giveaway-bidadari-surga-pun-cemburu.html


What's your muse?
yuk share di sini ^_^

Seminar Ekspedisi Zheng Ho Dan Islam Nusantara


Seminar Ekspedisi Zheng Ho Dan Islam Nusantara


Pengen banget datang ke gelaran pesta muktamar NU ke-33 di Jombang 1-5 Agustus 2015 ini, tapi badan sedang nggak fit. Eh alhamdulillah dapat undangan pre-event atau satelit event-nya di dekat rumah. Berlangsung di Hotel Amantis Demak, Nahdlatul Ulama (NU) menggelar Seminar Nasional Ekspedisi Zheng Ho dan Islam Nusantara.


Seminar Nasional tersebut menghadirkan ahli sejarah dari Cina.  Prof Fan Jin Min dan Prof Xia Weizhong dari Nainjing, RRC.
Keduanya mengulas tentang perjalanan Islam dari Cina ke Indonesia melalui perjalanan Jendral Zheng Ho, yang terkenal dengan klentengnya Sam Poo Kong di Semarang.
Kedutaan Besar Republik Rakyat Tiongkok, PBNU, Metro TV, Unwahas dan RSI NU menjadi sponsor utama acara.  


Penyelenggaraan ini merupakan amanat PBNU demi menyosialisasikan Islam Nusantara dengan konsep dasar Aswaja seperti tasamuh, tawasuth, tawazun, dan i’tidal termasuk ajaran Wali Songo dan laksamana Cheng Ho melalui peradaban dan budaya.

Dua narasumber ini juga datang ke Demak dengan membawa rombongan satu bus muslim Tiongkok. Mereka juga melakukan napak tilas perjalanan Laksamana Cheng Ho dalam mengembangkan agama Islam di bumi Nusantara seperti Gunung Batu Semarang dan Raja Bintor yang juga keturunan Tiongkok yakni Sultan Fattah di kompleks Masjid Agung Demak.

Kehadiran para ahli sejarah dari negara Tiongkok ini, bukan hanya memperkaya wawasan Islam dan Cina yang mungkin selama ini baru setengah-setengah mengetahuinya, namun juga mempererat hubungan antar etnis di Indonesia.

Seminar dihadiri 250 peserta yang terdiri dari pengurus PBNU, PWNU, PCNU, lembaga, banom, MWCNU sekabupaten Demak, Unwahas, guru besar dan mahasiswa.

Kami terpaksa memakai alat ini untuk bisa mendengar translator yang menerjemahkan narasumber. Karena keduanya menggunakan bahasa Mandarin. ahaha :D


Tentang konten/isinya akan aku tulis dalam postingan berikutnya ya teman. Ada 21 halaman tulisan tangan sih, tapi ya gitu. pas aku mau ketik kok sulit baca tulisan sendiri ya. Hehe. Ceker eyem. 

But I'll try hard for you all :D


Ketika Bulik Yang Senasib Denganku Akan Nikah Lagi

Ketika Bulik Yang Senasib Denganku Akan Nikah Lagi


Kemarin di pertemuan halal bihalal keluarga besar, salah satu bulik jauhku yang menjanda setahun ini karena suaminya juga meninggal seperti aku, penuh senyum dan tampak berbunga-bunga.

Rupanya dia akan segera menikah lagi!

Sempat dia tanya sama aku, berapa tahun sejak aku ditinggal wafat suami. Tujuh tahun, bulik. Wow! Serunya dengan wajah sedikit malu. Tapi kemudian dia mafhum karena dua anakku masih kecil, sedangkan dua anaknya sudah besar, sudah lulus dan kerja. Sehingga dia sendirian di rumah, demikian pula dengan calon suaminya yang sudah menduda selama TUJUH BELAS tahun. Wah! Yang itu lebih wow lagi ya saudara-saudara. Setelah membesarkan ketiga anaknya hingga mandiri, barulah sekarang dia hendak menikah lagi.

Subhanallah.

Kita yang mendengar kabar ini turut gembira. Tentu saja.

Kulirik anak perempuanku yang duduk di pojok dan turut mengetahui kalau seorang perempuan yang senasib dengan ibunya akan segera memasuki etape baru. Dengan tatapan penuh arti dan kalimat yang tiba-tiba bijaksana, dia bilang, "ya sudah, kalau gitu Umi coba bilang sama Om yang kemarin katanya mau nyariin Abah buat aku."

Hahaha....jadi ketawa dengernya.

Jadi ceritanya pas kemarin kami sowan-sowan lebaran bareng adikku (pamannya anak-anak) anak perempuanku ini sempat rewel. Mungkin kecapekan atau gerah. Terus digoda ama adikku, kok rewel wae tho, opo njaluk bapak maneh? :D

Waktu itu dia seperti biasa responnya bilang enggak mau. Karena katanya abahnya yang paling oke sedunia. (padahal kenal aja belum. lha wong ayahnya meninggal waktu dia masih usia satu setengah tahun. hehe)

Eh kok kemarin dia jadi berubah pikiran ya? :D



Soko Tatal Sunan Kalijogo


Soko Tatal Sunan Kalijogo



Sudah padha dengar belum kalau Masjid Agung Demak dibangun hanya dalam waktu semalam?

Sudah padha tahu juga kan kalau empat soko guru utama Masjid Agung Demak adalah sumbangan dari Sunan Bonang, Sunan Gunung Jati, Sunan Ampel.


Tiang ini harus segera ditemukan dengan tinggi yang pas dalam waktu singkat, karena pembangunan masjid hanya akan berlangsung dalam semalam. So, mereka berempat ini bergegas pergi ke berbagai pelosok untuk mendapatkan tiang dengan spesifikasi yang dimaksud. Diameter dan  tinggi yang sama.

Sunan Bonang, Sunan Gunung Jati dan Sunan Ampel sudah mendapatkan balok kayu sesuai spek yang bisa dijadikan tiang masjid. 
Sedangkan Sunan Kalijaga yang tadinya sudah pergi ke Jepara untuk memotong pohon untuk tugas tersebut, tidak berhasil sebab si penunggunya konon tidak berkenan. Jadilah Sunan Kalijaga berbalik arah yang tadinya ke utara, kini ke selatan. Ke daerah Gunung Pati Semarang tepatnya. 

Sampailah beliau di hutan yang sekarang dikenal sebagai alas gua kreo. Sebenarnya batang pohon dengan spesifikasi yang dimaksud sudah beliau dapatkan, tetapi monyet-monyet di hutan itu mengganduli pohon itu bagian depan belakangnya ketika Sunan Kalijaga sedang membopong batang kayu tersebut. Karena monyet-monyet itu tak mau juga turun dari batang pohon yang digendong itu, Sunan Kalijogo terpaksa memotong bagian yang ditumpangi, depan dan belakang, alias ujung dan pucuknya. Alhasil monyet-monyet itupun berjatuhan. Syukurlah Sunan Kalijogo dengan kesaktiannya berhasil membawa batang pohon itu ke lokasi akan didirikannya masjid Agung. Tapi sayangnya tentu saja tinggi bakal tiang itu sudah berkurang. Waktu sudah sedemikian sempit. Tak kurang akal, Sunan Kalijaga kemudian menyambung tiang itu hingga mencapai tinggi yang sesuai. Uniknya beliau menggunakan potongan dan serpihan  yang ada. Dan beliau mengikatnya menggunakan sabut kepala serta tentu saja 'lem' yang beliau buat dari ludahnya (ahay, konon lho:D) Karena terbuat dari berbagai serpihan kayu yang disambung jadi satu, maka tiang itu dikenal dengan sebutan soko tatal.

Soko tatal dari kumpulan kayu itu kemudian dimaknai juha  sebagai lambang persatuan. Ternyata dari kecil yang banyak itu kalau dikumpulkan jadi satu kekuatan. Demikian jugalah Nusantara ini, meski berbeda-beda dan terdiri dari banyak elemen yang kecil, namun jika bersatu tentulah akan menjadi sebuah kekuatan yang berdaya. 

Setelah jadi, keempat soko guru termasuk soko tatal diletakkan di bagian tengah masjid. Tiang Sunan Bonang ditaruh di sebelah barat laut, di barat daya milik Sunan Gunung Jati, di tenggara milik Sunan Ampel dan di sebelah timur laut diletakkan soko tatal Sunan Kalijaga.


Simbol Dalam Novel-Novel DN

Simbol Dalam Novel-Novel DN


What memorable stories have you read that gained their strength from symbols? How have you used symbols in your own stories?

1. Mayasmara

Dua jemari yang hampir bertaut. Yang satunya nyata, satunya maya. Simbol yang menggambarkan ceritanya. Ya kan?

2. Dualapan

Hamparan mawar mewah yang membentuk siluet simbol cinta.

3. Bumi Tiga Matahari


Tiga Matahari Dengan Latar Kuning Oranye. Bisa rasakan panasnya?
4. Lelaki Pertama

5. Segitiga


6. Lelaki Kutunggu Lelakumu

7. LUV


8. Ayah, Lelaki Itu Mengkhianatiku

9. Sarvatraesa



10. Miss Backpacker Naik Haji
Simbolnya si Miss yang cantik supaya orang tertarik beli bukunya, dan ka'bah sebagai latar.

11. Mesir Suatu Waktu


simbolnya unta dan piramida tentu saja, karena perjalanan belajar maupun jalan-jalan di novel ini di Mesir sana :D

12. Xali

Kenapa simbolnya orang yang tenggelam. Selain metafora bagi narkoba yang tenggelam dalam adiksinya, juga ada scene si tokoh pemadat di dalam novel ini yang karena sedang fly jadi tercebur dan tenggelam dalam sungai.

13. Just In Love

Simbolnya buku-buku arsitektur, melambangkan tokohnya yang mahasiswi arsitektur (dan tengah magang, kenapa ya tempat magangnya nggak ditampilkan? he3)
dan siluet lambang cinta menggambarkan ada cerita cinta (penuh sabotase) di sana.

14. Gus

Menggunakan simbol pendopo yang sering ada di kawasan pesantren, yang digunakan untuk aula mengaji. Pendopo seperti ini pula yang ada di kawasan keraton. Mengisyaratkan pesantren sebagai kerajaan kecil dengan Gus sebagai penerus dinastinya.

15. Matahari Mata Hati
pohon dan burung-burung merupakan simbol pertumbuhan dan kehidupan yang akan terjadi jika kita terus menghidupkan matahari untuk senantiasa menyinari mata hati kita. 


Dapatkan novel-novel ini di toko buku Gramedia, Togamas dll. atau toko buku online.
Bisa juga pesan via sms 085701591957. Tulis nama/alamat/judul buku

SOCIOTEENPRENEUR (Upcoming Book) & GiveAway

SOCIOTEENPRENEUR (Upcoming Book)

yeay! Alhmdlh dpt kabar kalau buku Socioteenpreneurship sudah naik cetak. 
Doakan semuanya lancar, berkah dan manfaat ya. 
Kita sama-sama nantikan hadirnya di toko-toko buku kesayangan kita:)



sebagai wujud syukur, menyambut hadirnya saya mengadakan berhadiah 1 buku .

Simak ketentuannya ya:
1/follow  
2/Potensi apa yg bisa diangkat dr lingkunganmu 
3/ajak teman-temanmu  untuk ikut kuis ini
4/hestek  
5/DL malam ini alias 25 Juli 2015 23.59 WIB

Yuk diantos! :D

Good News Di Hari Raya

Good News Di Hari Raya


Di tengah kegalauan dan kekecewaan menghadapi ketidakberdayaan novelis  tetiba kemarin mendapat cerita dan kabar yang cukup membahagiakan dari sepupuku. Kupikir ini anak kenapa tiba-tiba ngebet minta foto bareng yang katanya mau di-upload di akun fesbuknya.
Ternyata dia ternyata barusan bertemu dengan seseorang yang dulu pernah ikut sesi sharing kepenulisanku. Dan dia cerita kalau sejak itu kepercayaan dirinya tumbuh, lalu berani menulis LKS dan salah satu hasilnya adalah dia bisa membeli motor.

Wah, subhanallah wal hamdulillah, aku juga turut senang mendengar ceritanya.

Jadi meskipun kadang kerisauan itu hadir, sebenarnya kita masih harus terus berjalan. Karena kadang kita tak tahu di mana lilin yang kita nyalakan itu akan bersinar terang.

Thanks ya sepupu buat kabar baiknya :D

Tolikara, Kepedulian Dan Toleransi Kita

Tolikara, Kepedulian Dan Toleransi Kita


Ketika kasus Tolikara mengemuka, aku langsung ingat novel yang pernah ku-endorse bareng mas Seno Gumira Ajidarma. Judulnya Cinta Putih Di Bumi Papua. Tapi demikianlah novel, ia seolah tidak punya daya di tengah kemriuk para oknum yang suka menggoreng dan membakar masyarakat kita.

Secara sepintas lalu sudah kelihatan sih sebenarnya kalau semua itu pastilah didalangi oleh para pembuat makar dengan segala kepentingannya. Karena sesungguhnya di bumi Papua yang asli, seluruh pemeluk agama yang berbeda sesungguhnya saling menghormati, saling menghargai dan bertoleransi.

Dengan adanya peristiwa ini, timeline twitter jadi ricuh banget. Bacanya sampai bingung. Dan akhirnya memilih tidak berkomentar apapun. Pada saat-saat seperti ini, tulisan para tokoh yang terpercaya sajalah yang akhirnya kita lirik. Sebab lihat saja apa yang dianalisa oleh salah satu lembaga pengamat media.

http://www.remotivi.or.id/kabar/161/Insiden-Media-di-Tolikara

Pak Faisal Basri merangkumkan untuk kita beberapa hal:
Sejauh ini agaknya pernyataan Menteri Agama dan Menteri Sosial yang "lempeng". Menteri Sosial lebih banyak berbut nyata dan cepat. Sedangkan lainnya: begitulah???? seperti terbaca di bawah ini.
5.  Datang ke Tolikara, Mendagri: Ini Bukan SARA, Tapi Masyarakat yang Emosihttp://news.detik.com/berita/2971924/datang-ke-tolikara-mendagri-ini-bukan-sara-tapi-masyarakat-yang-emosi


Oh MY!!!

Oh MY!!!

Berhubung aku sedang menulis novel tentang Rizal Armada  and the geng, jadi aku banyak riset nih. Dan menemukan bahwa ternyata para fans-nya itu sebegitu terobsesinya sehingga pacar mereka pun mirip-mirip dengan Rizal. Dari face-nya (meski nggak mirip-mirip banget tentu saja) gaya berpakaian hingga gaya tatanan rambutnya, juga sikap tubuhnya. Errrr...


Oh MY!!!

Dan kebanyakan dari mereka menambahkan nama Disandi di belakang nama mereka sendiri, demi untuk mengikuti Rizal Disandi. Errrr.....

Aku speechless.



Ketika Pulang Menjadi Hal Murah Yang Begitu Berharga

Ketika Pulang Menjadi Hal Murah Yang Begitu Berharga


Jiwa yang sempat oleng dan kesadaran yang buru-buru mengikuti, agaknya membuat lebaran kali ini terasa seperti berayun di ombak banyu. Sebentar-sebentar hati terguncang, sebentar-sebentar berusaha ikhlas, sebentar kemudian rasanya ingin pergi, sembunyi, lari. Lalu langkah kakipun sekedar mengikuti takdir.

Kami bertiga, three musketeers, yang biasanya menyembunyikan kesepian, kesedihan dan kesendirian kami di tengah keramaian, kali ini malah memilih 'pulang' ke tempat yang sunyi. ke tempat kelahiran anak-anak, ke pesantren yang sunyi sepi karena ditinggalkan para santrinya yang sedang mudik ke rumah mereka masing-masing.

Tanpa gadget dan wifi serta paket internet yang memadai, tanpa laptop yang musti menyala terus mengejar tenggat, tanpa kepikiran harus reuni sana sini, tanpa perasaan musti menghindari jiwa-jiwa yang lelah sehingga kadang suka berprasangka tidak baik, kami merebahkan jiwa.

Rasanya hanya damai. Diterima berarti dicintai. Dan itu rasanya cukup.


Jakarta Book Fair 27 Juli - 3 Agustus 2015

Jakarta Book Fair 27 Juli - 3 Agustus 2015


Wah, sudah mau ada bookfair lagi nih.
Serbu yuuk


Oh ya,kalau kita beruntung, mungkin buku terbaruku Socioteenpreneurship terbitan Erlangga sudah bisa didapatkan di sini :))

Go grab it ya!
Btw, beli juga novel-novel terbaruku #Gus dan #MatahariMataHati di sana. Juga buku-bukuku lainnya yang mungkin masih ada stock dan dibawa ke pameran ini. Pastinya dengan diskon yang menarik :))

Giveaway Bidadari Surga Pun Cemburu

Giveaway Bidadari Surga Pun Cemburu


Alhamdulillah kita memasuki Ramadhan hari yang ke-23.
Bagaimana puasa dan ibadah Ramadannya teman-teman? Semoga lancar dan sukses.
Semoga amal ibadah kita diterima dan mendapatkan RidloNya. Aamiin.

Oh ya, menyambut bakal terbitnya buku Bidadari Surga Pun Cemburu, ada
 di goodreads, Ini link-nya >>   
Langsung klik aja ya. Semoga beruntung ^_^


Oh ya, Giveaway akan berakhir 21 hari lagi. Jadi buruan klik sebelum kelupaan :D
(DL July 30, 2015)

Tentang proses kreatif penulisannya teman-teman bisa baca di sini >> http://diannafi.blogspot.com/2015/02/proses-kreatif-penulisan-wps.html





#ngemilbaca Tambora

#ngemilbaca Tambora


Kayaknya novel Tambora ini agak telat rilisnya. Sebab peringatan dua abad meletusnya Tambora sebenarnya tanggal 10 April 2015 kemarin, tapi sayangnya novel ini baru terbit Juli ini. Sehingga pastinya momen yang mestinya bisa dimanfaatkan itu jadi kelewat. Iya kan?


Sebagaimana aku langsung relate dengan novel Titik Balik aku sempat merasa  relate juga  di awal-awal membaca novel ini  sebab sang profesor di sana ternyata juga ditinggal mati istrinya. Itu tahun ketujuh, persis aku kan ya? Hehe.

Dan perjalanan dalam novel ini dimulai ketika anak profesor itu menemukan sesuatu dalam museum ayahnya.

Berikut ini blurp novelnya:

Penemuan tengkorak kepala manusia dan kopiah emas menyeret langkah Lesly dan Jeff menuju Indonesia. Dua artefak tersebut dibawa Profesor Thomas, ayah Lesly, ke Amerika setelah ia menemukannya pada ekspedisi penggalian tanah di sekitar Tambora, gunung suci di Pulau Sumbawa yang meledak tahun 1815 dan mengubur tiga kesultanan di sana. Ketika Lesly memasang kopiah emas pada tengkorak tersebut, sosok misterius muncul di tengah cahaya kemilau dan berpesan kepadanya agar benda-benda itu dipulangkan ke tempat asalnya.
Dalam perjalanan menuju Tambora, ditemani Uma dan Wayan, mobil yang membawa mereka dari Bali mogok dan hujan lebat datang tiba-tiba. Sosok misterius itu muncul lagi, memandu mereka membelusuk lorong waktu menuju tahun 1815. Tanah Sumbawa membuka pintunya dan mengizinkan empat orang itu menjadi saksi meletusnya Tambora dan rahasia-rahasia yang menyelimutinya. Penderitaan rakyat Sumbawa di tengah kebun kopi yang subur, kekejaman Penjajah Belanda, dan perang saudara, terpampang nyata di hadapan mereka.
Novel ini mencoba menyatukan keping-keping kisah di seputar meletusnya Tambora yang mengguncang dunia dua ratus tahun silam, sebuah peristiwa alam mahadahsyat yang menggegerkan dunia.
———————————————-
Ukuran : 13,5 x 20 Cm
Halaman : 352 hlm. (Bookpaper)
Cover : SC, doft, spot uv. 
Penerbit: Exchange 
ISBN : 978-602-72024-8-1
Harga : Rp 65.000,-

Gaya tuturnya sih sederhana saja, lugas, jarang ada metaforanya. Namun kita bisa mengikuti perjalanan mereka ini karena ditulis dengan mengalir. Memadukan antara fiksi dan sejarah Tambora, dengan gaya imajiner menjelajah waktu, novel ini sepertinya hendak menyampaikan kepada kita cerita-cerita di masa lalu yang sering kita lewatkan. Karena umumnya kita jarang suka bacaan non fiksi terutama sejarah, kecuali tentu saja orang-orang tertentu. 
Khas terbitan Dolphin ya, yang memang suka menyajikan sejarah dalam bentuk bacaan novel sehingga terkesan lebih ringan, popular dan merakyat alias membumi. 



Pelajaran Baru Lagi Dari Rizal Armada


Pelajaran Baru Lagi Dari Rizal Armada



No matter what happened, the true beauty is ever long lasting.

Kesenggol juga pas Mai Armada nge-cuit:

semoga tuhan selalu melindungi kita..Amin

cinta akan menjelaskan sesuatu..M

jangan kejelekan seseorang di lebih2kan..sedangkan kelebihan seseorang di kurang2kan..M



Oh yes, memang semestinya adil dan jujur saja ketika melihat dan menilai seseorang. Dan iya sih, di balik kekhilafan&kekurangannya (sebagaimana kita semua juga) yang sebenarnya mas Rizal Armada ini bisa jadi role model yang baik.



Selain mindset dan sikapnya yang setia kawan, bijak dalam persahabatan dan bisnis, ternyata kita dapat pelajaran baru lagi. Dia ini family man banget. Sangat sayang kedua orang tuanya dan juga adiknya. Hubungan yang hangat dan harmonis di antara mereka sungguh menginspirasi. 
Oh ya, adiknya ini ternyata kuliah arsitektur juga kayak aku. what coincidence. 

Mungkin karena juga Carpicorn-nya itu yang membuatnya jadi family man, jadi ingat novel Lelaki Pertama. 

Pengen juga mengaplikasikan dan menerapkan kekompakan kakak beradik itu pada kedua anakku, yang kebetulan juga cowok cewek. Dan mungkin karena mereka masih kecil, jadi suka banyak berantemnya sih sekarang. Hehe. 

Jadi harus cari tahu caranya. Iya kan?


Selamanya Novelis Hanyalah Seorang Pemimpi

Selamanya Novelis Hanyalah Seorang Pemimpi

Inilah yang paling menyedihkan dan sesungguhnya paling memuakkan dari kenyataan menjadi seorang penulis ataupun novelis. Royalti yang tak seberapa  dan persaingan yang makin ketat bukanlah hal yang menyenangkan untuk dilalui, tetapi ada yang lebih memprihatinkan daripada itu.

Yakni fakta bahwa penulis dan novelis hanyalah seorang pemimpi belaka.

Bagaimana tidak?
Si Zaky bahkan sudah terang-terangan mengisyaratkan dalam novelnya tempat di mana bandar narkoba dan gengnya tinggal. siapa-siapa saja yang menjadi backing-nya.
Tapi agaknya tidak serta merta gerombolan itu berikut oknumnya bisa ditangkap.

Si Erni sudah mengungkapkan siapa-siapa  yang ada di balik kerusuhan di Ambon dan sekitarnya. Dan para pejabat serta pengusaha yang menjadi otak besarnya, yang punya kepentingan dan bahkan berani berlumuran darah lewat para aparat juga preman yang disewa.
Tapi inipun tak ada atsar-nya. See? Orang-orang itu tetap berkeliaran di luar sana, menggoreng apa saja dan membuat semesta Indonesia saling menuding dan saling marah. Padahal dalangnya saja malah tenang-tenang dan adem ayem.




anggota tanpa kartu

anggota tanpa kartu

apa sih yang paling signifikan dan diharapkan datang dari anggota suatu lembaga atau komunitas?
Of course, rasa cinta, rasa ikut memiliki, dukungan terhadap lembaga dan kegiatannya, kontribusi dan semacamnya.

Bagaimana halnya jika kita menjadi simpatisan, fans, pecinta, pendukung, bahkan juga berkontribusi terhadap komunitas/lembaga tetapi tidak memiliki kartu anggota resmi?
Apakah ini sah?

Sebaliknya, belum tentu mereka yang memiliki kartu anggota memiliki cinta, handarbeni, kontribusi yang lebih besar atau sama besar dengan mereka yang tidak memiliki kartu anggota.

Begitulah.

Jadi ketika aku ini NU, Fatayat, FLP, IIDN, KF, PASMADA, dan lain sebagainya, tanpa kartu anggotapun aku adalah bagiannya.

Demikian :D




#ngemilbaca Titik Balik


#ngemilbaca Titik Balik


Seneng banget mendapat dua buah kiriman novel akhir Ramadan kemarin. Sedikit demi sedikit kubaca dan terus asyik larut dalam ceritanya.

Berikut blurp-nya:
Di rahim penciptaan, segala sesuatu saling berhubungan layaknya jejaring yang tak pernah diam. Di sana, getaran-getaran serupa akan saling menarik. Pikiran dan kesadaranmu harus diarahkan untuk bergetar dengan frekuensi yang selaras dengan getaran sesuatu yang kau inginkan. Itulah yang kau undang ke dalam hidupmu sebagai kenyataan. Segala hal di sekitarmu tak lain adalah pantulan-pantulan getaranmu sendiri.
Perjalanan Rani keliling Nusa Tenggara dan singgah di Pulau Kepaadalah perjalanan orang kota yang berniat mengambil jeda dari kecamuk batin yang dialaminya. Dia tidak mengira alam semesta mempunyai kehendak lain. Seorang lelaki misterius telah menunggunya di sana. Di antara debur ombak, padang sabana, dan terik matahari tropika, lelaki itu mengajarkan kembali berbagai teknik dan kearifan kuno tentang pencarian jati diri dan ketenangan batin, yang anehnya sudah pernah dipelajarinya di masa lalu. Pertemuan itu menjadi titik balik perjalanan Rani yang mengubah hidupnya selamanya.
————————————————–
Ukuran : 13,5 x 20 CmHalaman : 275 Hlm. (Bookpaper)Cover : SC, doft, spot uv.Penerbit: ExchangeISBN : 978-602-72024-4-3Harga : Rp 59.000,-
**

Aku langsung merasa  relate dengan 'Titik Balik' karena tokohnya (cewek) tumbuh tanpa ayah. Jadi inget anak-anakku sendiri, dan curious how this kind people can through their days of life.

Selain itu juga karena kehidupan jurnalis  selalu menarik untuk  diikuti.
Konflik sang tokoh utama dengan psikolog di kantornya pada halaman-halaman awal membuat novel ini jadi page turner, kita ingin membuka halaman berikutnya. 

Membaca pengantarnya dan bagaimana cerita ini bertutur, aku jadi kebayang bagaimana proses kreatif penulisannya. Bisa jadi cerita mbak Rani ini tadinya sepotong-potong, kemudian oleh editornya diberikan arahan supaya diramu menjadi cerita panjang yang berkesinambungan, antara lain terbantu dengan hadirnya avatar yang menemani selama di Kepa. 

Detail indah pemandangan Kepa ataupun daerah Kalimantan (tempat masa kecil sang tokoh) juga tempat-tempat lain yang disajikan sepanjang cerita, membuat aku jadi ingin mengunjungi langsung tempat-tempat tersebut. 

Konsep serendipity yang menjadi salah satu pesan dan tema dalam cerita ini terasa pas banget dengan apa yang selama ini juga kualami. Membuatku tak mau berhenti membaca demi menuntaskan rasa kepenasaran bagaimana sesungguhnya kebetulan itu terjadi. Bisakah kita menciptakannya. Bagaimana caranya.

Dipaparkan juga tentang dualitas atom dan teori kuantum serta bagaimana cara 'pulang' melalui meditasi. Semuanya dalam bentuk cerita yang bercerita, mengalir dan menarik. 

Jadilah novel ini semacam buku how to (selfhelp) yang disusun dalam cerita yang mengasyikkan dan menggugah kesadaran. 


semua artis sama saja

semua artis sama saja


apa aku sudah pernah cerita bagaimana dulu rasa nge-fans ku ke adipati dolken luntur?
yups. sebelum ketemu langsung, memang aku tidak pernah memperhatikan lebih jauh dan lebih dalam dia seperti apa. setelah ketemu dan mencari tahu, barulah paham pergaulan bebasnya dan langsung kekagumanku luntur dan bye bye.

yang sekarang pun, terjadi lagi, kekagumanku luntur. ternyata rizal armada sama juga kayaknya.  walaupun tidak separah adipati dolken tentu saja.

jadi lekas kuganti picture di wall paper maupun desktop dengan gambar lain.
bye bye ya.



semua artis sama saja. jadi baiknya kita ambil dan serap yang tauladan yang baik saja dari mereka. sisanya, yach semua manusia memang pada dasarnya sama saja. punya kelebihan kekurangan, dan khilaf-khilafnya.

btw, mungkin dia memang didatangkanNya untukku agar bisa lebih mudah bagiku melupakan dan meninggalkan kegilaanku sebelumnya. For that reason, thanks anyway bang Rizal.


Love Is God

Love Is God

Selalu ada banyak hal, bahkan hal baru yang kita dapatkan ketika kita bicara, mengalami, memikirkan dan menerjemahkan cinta. Sebenarnya apa yang kurasakan ini sudah cukup lama juga kuketahui sejak dulu. Tetapi dua pengalaman terakhir, baper-an dengan anak semester akhir dan ketemuan dadakan dengan vokalis band, semakin membuat kesimpulan itu menjadi makin nyata dan jelas. 

Bahwa hati kita ini serupa bejana. Yang ketika bejana itu kita isi penuh dengan sesuatu, tak mungkin ada sesuatu lain yang bisa memasukinya. Apalagi jika bentuknya sama, sehingga tak mungkin nyampur,  Yang terjadi adalah salah satu dari isinya meluber keluar, digantikan sesuatu yang baru masuk. Atau jika yang tadinya sudah ada di dalam yang lebih kuat, maka sesuatu baru yang akan masuk ini akan terpental keluar, alias tertolak. 

Meski mungkin pada sebagian orang bisa saja terjadi yang tidak demikian. Dua-duanya berada dalam bejana hati dengan berimbang dan adil. Nah, orang-orang seperti inilah yang mungkin diperbolehkan poligami. 

Nah, sekarang kaitannya dengan bejana yang memang segitu wadahnya berikut kemampuan dan kapasitas penyimpanannya. Bisa jadi ketika dia mewadahi sesuatu selain Ilah, yang menyebabkan Ilah menjadi tak punya ruang lagi dalam bejananya. Naudzubillah min dzalik. Karena itulah maka bisa terjadi lupa, oleng, linglung

Of course, tentu saja yang seharusnya terjadi adalah bejana hati ini untukNYA saja. Amiin

Love is not something God does; it is something God is. - Beth Moore

Yang Lucu Di Ramadan Kali Ini

Yang Lucu Di Ramadan Kali Ini

Duh, enaknya ceritain nggak ya? Soalnya kan malu atuh kalau orang-orang jadi baca. Apa nggak pencitraan selama ini bisa cacat karena cerita ini? Eh tapi ada baiknya juga diceritakan untuk ibroh dan bahan intropeksi ya. Hadeuh, kayaknya kepanjangan prolognya deh ini :D

Padahal sejatinya puasa itu musti bagaimana, kita juga sudah tahu. Tetapi ya gitu deh, ternyata memang tidak selalu mulus perjalanan kita untuk bisa mendapatkan predikat lulus dan menang. Bulan Ramadan kali ini sebenarnya kami sudah memulainya dengan cukup tertata dan baik. Sekeluarga nyantri posonan di pesantren dekat pegunungan. Ternyata segala sesuatu yang diawali dengan baik, tidak secara otomatis akan baik sendiri seterusnya.

Sudah tahu kalau puasa mestinya tahalli, untuk bisa takholli, dan kemudian tajalli. Jadi mengosongkan diri dari keburukan, mengisinya dengan kebaikan, untuk bisa mendekat dan bersatu denganNya yang Maha Agung.
Tapi di penghujung Ramadan tahun ini, malah ada event dan kerjaan yang menyebabkan aku bertemu salah seorang vokalis band yang sejak empat tahun lalu cukup membetot perhatianku. Tak ayal pertemuan dadakan ini, membuat sesuatu yang ada di dalam jiwaku oleng.

Selama beberapa hari setelah ketemu itu aku demam.....dan linglung.

Mosok pas mau jalan bayar rekening air, motorku melaju terus sampai kelewat gang yang seharusnya aku belok. Dhuar! What? Aku melamun? Melamun nih? Sampai lupa sekeliling? Ya Allah, aku jadi malu sendiri.

Terpaksa balik kanan untuk bisa kembali ke gang yang menuju PDAM. Usai membayar rekening air, seharusnya aku ke mobil depan kantor PDAM untuk bayar rekening listrik. Tapi ternyata lagi-lagi aku melamun, bok. Idih! Aku terpaksa balik kanan, eh pas sudah sampai ke dekat mobil yang biasa melayani pembayaran rekening listrik, ternyata tutup. Duh! Jadilah aku pergi ke kantor pos untuk tujuan ini.

Yang juga lucu adalah kayaknya aku jadi kurang konsen ngapain aja. Kayaknya sholat juga kurang khusyu', berdoa pun. Astaghfirullah. Sedih bangeeets...
Dan tahu-tahu ramadhan berakhir. Hiks.

Eh eh, kok bukannya cerita lucu, malah jadi cerita sedih ya?:D



Seseruan Di Acara Bedug Asyiiik Kota Wali


Seseruan Di Acara Bedug Asyiiik Kota Wali


Beruntung sekali Demak kembali terpilih menjadi salah satu kota tempat digelarnya kompetisi bedug asyiiik yang diselenggarakan oleh Sampoerna. Kali ini daku berkesempatan mengikuti seluruh rangkaian acaranya dari pagi hingga malam.


CULTURAL TRIP
MASJID AGUNG DEMAK, KOMPLEKS MAKAM DAN BERIBU PERTANYAAN
Langit cerah menyambut rombongan kami yang tiba di pelataran Masjid Agung Demak pagi itu untuk Cultural Trip. Beberapa orang dari kami bahkan baru pertama kali ini mengunjungi heritage kebanggaan ini. Dan sesungguhnya meskipun tinggal di sebelah masjid, setiap kali datang ke kawasan yang dulunya wingit dan sakral ini, selalu ada rasa baru yang menelisip. Terkadang tanya yang sungguh besar, benarkah masjid ini dibangun dalam semalam. Dan tanya yang banyak, apakah benar Syeikh Siti Jenar dibunuh para wali dan dikubur di bawah pengimaman masjid; Sungai manakah yang katanya dilompati Joko Tingkir dengan posisi mundur ke belakang saat Sang Sultan lewat; Bagaimana persis dan detail cerita yang katanya Sultan Raden Fatah tidak berkenan makamnya diberi cungkup. Benarkah mitos jodoh bagi mereka yang bertemu di teras masjid dengan delapan tiang dari Majapahit itu?


MUSEUM MAD DAN BERJUTA PERTANYAAN BERIKUTNYA
Siang makin beranjak. Usai sholat jamaah dhuhur di Masjid Agung, perjalanan dilanjutkan ke museum yang ada di sebelah utara masjid. Di sini kita bisa menyaksikan beberapa potongan tiang utama masjid yang dimuseumkan karena sudah rapuh. Empat tiang ini menjadi focal point museum yang langsung menyedot perhatian utama kita saat memasukinya. Terdapat batu-batu yang dulu ada di situs kolam wudhu bersejarah. Serat dan kitab-kitab yang ditulis para wali dan ulama disimpan dalam kotak-kotak kaca sehingga kita bisa melihat tanpa menyentuh dan merusaknya.
Berbagai foto dan gambar yang menggambarkan perubahan masjid dari masa ke masa menempel di dinding barat museum. Untuk bentuk tiga dimensi yang menunjukkan detail arsitektur masjidnya bisa kita nikmati melalui miniatur Masjid Agung Demak. Berbagai peninggalan lain yang asalnya dari Campa (daerah asal ibu Sultan Fatah) maupun Majapahit (daerah asal ayah Sultan Fatah) juga menjadi artefak penting yang disimpan di sini.

Dan...meskipun berkali-kali datang ke museum ini dalam berbagai kesempatan, selalu saja ada hal baru yang kudapatkan. Meski selalu juga ada banyak pertanyaan yang belum terjawab. Di antaranya adalah di manakah letak keraton Demak itu sendiri. Kan tidak mungkin sultan dan keluarganya, juga para wali tidur di masjid. Iya kan? Pasti ada tempat tersendiri, yang kalau di lokasi kerajaan lain disebut sebagai keraton atau istana. Di manakah gerangan lokasinya di kota wali ini? Kenapakah jejaknya tak ada lagi? Siapa yang menghilangkannya? Dengan tujuan apa?


SENTRA KERAJINAN BEDUG
Usai puas berkeliling di kawasan masjid Agung, kompleks makam dan museum, kami melanjutkan perjalanan ke Tanubayan, dekat pondok pesantren Betengan. Plang bertuliskan Mushtofa Tukang Terbang menjadi penanda di depan sentra kerajinan bedug yang kami datangi.
Seorang lelaki tengah baya menemui kami dengan menggunakan kaos putih dan keramahan meski wajahnya tak bisa menutupi kelelahan. Namun beliau dengan sabar menceritakan asal mula dan perjalanan usahanya yang turun temurun ini.
Beliau adalah generasi ketiga, yang belajar membuat bedug dan rebana sejak masih berusia sembilan tahun. Dimulai dari hanya dikerjakan oleh anggota keluarga, sampai kemudian akhirnya merekrut beberapa tetangga untuk membantu pengerjaan produksinya. Meskipun segala resep rahasianya tetap ada di tangan pak Mus sendiri, yang pastinya akan dia wariskan pada anak-anaknya yang akan melanjutkan usaha ini.
Pak Mus juga membagikan kepada kami apa saja yang menjadikan usahanya ini masih eksis setelah bertahun-tahun. Tips-nya adalah temen (sungguh-sungguh), tekun, jujur, sabar, nerimo,  dan ikhlas. Dan tentu saja satu lagi  resep pak mustofa adalah tirakat.

Pak Mus dengan senang hati menjawab pertanyaan-pertanyaan kami, meski dalam keadaan berpuasa. Bahkan beliau  juga berkenan mengantar kami melihat langsung proses produksi bedug dan rebana di bagian belakang rumah beliau dan rumah putranya.
Wah, ternyata rebana dan bedug itu pembuatannya tidak sesederhana yang kita duga. Kayu trembesi yang dijadikan bahan utamanya, musti dikeringkan dan disimpan dalam jangka waktu satu tahun sebelum bisa digunakan. Supaya kayu tidak mengalami penyusutan yang bisa menyebabkan rebana atau bedug tidak berfungsi dengan baik.





Kulit kerbau dipilih sebagai bahan penampang  bedug karena usia rebana ataupun bedugnya jadi bisa lebih panjang. yakni bisa awet sampai dengan  dua belas tahun. Sedangkan bedug yang menggunakan kulit sapi biasanya hanya bisa bertahan dalam lima tahun saja, selanjutnya apabila kulit bedugnya sobek atau berlubang , bisa direparasi juga di tempat pak Mus. Kekuatan kulit kerbau ini juga bisa kami saksikan langsung kemarin. Lihat saja bagaimana teman kami yang berat badannya lumayan mantap, bisa dengan santainya loncat-loncat di atas rebana ini.




Rebana atau terbang sendiri menggunakan kulit kambing karena penampangnya lebih pendek. Sedangkan kayunya, bisa menggunakan kayu jati, kayu nangka, duren ataupun kayu lainnya. Semua tergantung pesanan juga harganya.

Oh ya, by the way, baru kemarin ini kami tahu kalau istilah terbang untuk rebana, ternyata maksudnya jika memukulnya (rebana) dengan banTER (keras) maka akan aBANG (merah tangannya).Hihihi...



Proses pengeprasan kulit ke badan atau frame kayu juga tidak sembarangan. Semuanya dilakukan secara manual. Sebab ini membutuhkan feeling of tone dari para pembuat bedug dan rebana. Mereka  harus menge-test suara yang dihasilkan alat musik ini. Nada dan bunyi yang dihasilkan mustilah  sama di tiga titiknya.

Dan juga musti selaras dengan seperangkat alat yang sama dalam satu paketnya. Sehingga tentu saja  tidak bisa sembarangan. Oleh sebab itulah meski beberapa pegawai yang sudah keluar dan mereka ini mencoba untuk  juga membuka usaha yang sama, namun nada yang dihasilkan rebana mereka  tidak bisa semerdu rebana produk pak Mus.

memang tidak mudah untuk menjadi peniru. iya kan?


Untuk bedug, karena penampangnya sangat  lebar maka dibutuhkan dua orang untuk melakukan pelubangan pada kulitnya. Jarak antara dua  lubangnya dikira-kira saja,  sehingga bentuknya bisa sesuai dengan penampang kayunya.

Melihat betapa unik dan tidak mudahnya pembuatan bedug, juga mahal bahannya, maka tak heran jika harga satu buah bedug saja bisa sampai seharga satu kali pergi haji. Tiga puluh tujuh juta rupiah untuk bedug dengan diameter penampang seratus dua puluh sentimeter.

Sedangkan harga untuk satu paket alat rebana/terbang yang terdiri dari dua belas perangkat adalah lima sampai enam juta rupiah.
Kita tahu ada  banyak aneka perangkat musik rebana seperti Hadroh /Terbang, Marawis / Keplak, Tam, Segala macam Bass, Doumbok / Tumbuk, Ketipung dll dalam berbagai ukuran dan bentuknya.


KOMPETISI BEDUG ASYIIIK
Setelah puas melihat-lihat sentra kerajinan bedug, kami pun meluncur ke lapangan Jogoloyo. Sore yang cerah itu kami menikmati penampilan enam finalis kompetisi bedug asyiiik. Mereka terpilih dari ratusan peserta lainnya. Masing-masing komunitas menyajikan penampilan terbaiknya. Ada dua komunitas yang menggunakan kostum cukup unik sehingga menunjang performance mereka.

Asyik dan seru juga ya ide Sampoerna untuk tidak saja menghidupkan dan melestarikan keberadaan alat musik tradisional bedug, tetapi juga mendorong anak-anak muda ini untuk bersama-sama teman-temannya semakin intens bertemu untuk berlatih, mengaransemen dan memadukan alat musik rebana serta akustik dengan bedug.
Sesuai banget dengan tagline-nya Sampoerna Kretek: teman yang asyik mengubah yang cekcok menjadi cocok.

Masing-masing komunitas membawakan dua lagu. Satu lagu wajib adalah jingle-nya Sampoerna Kretek. Satu lagu lagi tentu saja lagunya band Armada yang menjadi bintang tamu tahun ini.

Malamnya bakda sholat maghrib, juri akhirnya mendapatkan siapa pemenang tahun ini. Bersama pemenang tahun lalu dan mas Joko S Gombloh (pakar etnomusikologi), pemenang tahun ini pun duduk bersama dalam sesi ngobrol asyiiik.
Mas Gombloh banyak menguraikan tentang peran bedug di masa lalu, sekarang dan juga masa depan. Dia tidak saja menjadi alat yang menjadi penanda masuknya waktu beribadah, tetapi kemudian dikembangkan sebagai media untuk menyatukan dan mempererat pertemanan, mengatasi perbedaan dalam ranah kebhinekaan.


KONSER, SINERGI DAN LAILATUL QODAR
Malam makin menghangat ketika mas Gombloh unjuk kebolehannya dengan menyajikan sinergi antara grup rampak temu roso dengan komunitas yang memenangkan kompetisi bedug asyiiik tahun ini dan pemenang tahun lalu.
Gila men! Mas Gombloh cuma memberikan coaching singkat dekat tenda media, tanpa latihan bareng sebelumnya, dan taraaaa.....perpaduan musik mereka semua meski pada awalnya sempat harus menyelaraskan dulu, tetapi ternyata beberapa waktu kemudian musik mereka sedemikian harmonis, rampak dan bikin kita menjadi trance. Whooaaaa...merindiiing.

Suara sindennya melengking tinggi.
Ojo podho lali ngaji
Takon marang kyai


pertemanan baru pun bisa bikin sajian yang asyiiik
Waktu di bawah panggung usai tampil, kutanyakan resep dan mantra apa yang mas Gombloh punya sehingga sedemikian saktinya membuat tampilan dadakan yang bagus banget padahal dengan beberapa pendukung baru tanpa latihan. Mas Gombloh bocorkan rahasianya padaku. Ahay:D

Konser berikutnya diisi Via Fallen yang kali ini memakai baju tertutup dan penampilan yang relijius dibandingkan biasanya. Salut deh mbak.

Sebelas ribu-an penonton konser malam itu pun makin seru  dengan kehadiran band Armada. Pas banget memang kalau Armada dipilih menjadi guest star. Karena dari mereka, kita mendapat  banyak pelajaran berharga, tentang kesetiakawanan,bagaimana mereka  memanage pertemanan dan bisnis dengan bijak, how to relate with fans.

Rizal Armada sempat menggoda penonton karena setelah nyanyi tiga lagu, dia bilang 'udahan ya,cukup ya',   karena dia kan datang ke Demak sebenarnya juga mau itikaf.
Tapi dia baik kok, jadi dia nyanyi lagi untuk memuaskan penonton gelaran bedug asyiiiik. Itu mungkin caranya untuk mendapatkan lailatul qodar, dengan menghibur orang-orang. Who knows? 



dan akhirnya bedug asyiiik pun makin bertalu-talu di hatiku
saat sang petualang memegang novel Sarvatraesa Sang Petualang (photo courtesy by Rizal Armada)