Takut Meminta

Takut Meminta


Ada banyak kegelisahan di Ramadan kali ini. Sejujurnya.
Tetapi kegelisahan yang paling menonjol adalah kenapa setelah sampai lewat tujuh tahun, aku masih juga takut meminta. Padahal aku tahu kami butuh. Aku butuh pendamping dan teman hidup, tentu saja. Anak-anakku butuh pendidik, pemberi teladan dan pelindung.
Tapi kenapa aku takut dan tak juga kunjung punya keberanian meminta. Karena pengalaman mengatakan, Dia memberi sesuai permintaan kita. Maka jika permintaan kita kurang pas dan tepat, apa nanti tidak berabe? Sementara aku tidak kunjung tahu persis kriteria seperti apa yang kami butuhkan. Atau apa kami bisa melewatinya nanti jika ternyata setelah kami meminta kemudian kami diberi. Jangan-jangan kami tak akan sanggup. Jangan-jangan sendirian saja sudah cukup. Jangan-jangan bertiga saja sudah cukup.

Ramadan akan segera berakhir.
Waktu-waktu makbul untuk meminta akan segera berganti.
Dan aku masih berdiri di ujung ragu.
Apa yang hendak kupinta.
Bagaimana cara memintanya.
Redaksionalnya.
Apa aku siap. Apa kami siap.

Dan aku gagu.

Apa Dia tahu ketakutanku? Pasti Dia tahu.
Kalau aku tak memintanya secara khusus, tapi Dia tahu persisnya kebutuhanku, apa Dia akan otomatis berikan? Aku kurang tahu.

Apa aku cukup disayangNya sehingga diberi meski tanpa meminta?

Kegelisahanku yang menonjol berikutnya adalah aku takut aku akan sampai di akhir masaku tanpa kepuasan yang berarti. Padahal semestinya di ujung usia, seseorang mestinya rodhiyatan mardhiyyah. Dirinya puas, dan memuaskanNya.

Mediokre berarti belum optimal. mediokre berarti sesungguhnya belum sepenuhnya puas.

Ini Ramadan. Dan aku dicekam kebimbangan.

0 komentar:

Posting Komentar