Yang Bangkit Dari Bangkrut #4: Bakmi Tebet

Yang Bangkit Dari Bangkrut #4: Bakmi Tebet


pendiri jaringan gerai Bakmi Tebet dan Bakmi Langgara, Wahyu Saidi, juga mengalami hal yang sama. Awal tahun 1998 ia masih jadi manajer proyek pembangunan jalan tol Pondok Indah-Jagorawi dan jalan tol Kalimalang Jakarta. Namun krisis membuat perusahaannya mengalami kesulitan. Ia pun memutuskan keluar dari perusahaan itu dan mencoba berbisnis. Tentunya tak langsung sukses. Dalam tiga tahun pertama ia sudah mencoba bisnis tanam cabe, buncis, peternakan ayam, dan rumah makan ikan patin. 

Kegagalan-kegagalan di usaha itu membuatnya terus berpikir. Yang ia tahu, bisnis makanan sangat menggiurkan karena keuntungannya bisa mencapai 100% dari bahan bakunya. Akhirnya ia menemukan bahwa bisnis makanan yang menguntungkan adalah yang bisa dimakan di pagi hari, siang, sore, serta malam dan bisa dimakan siapa saja (anak-anak dan dewasa). Restoran ikan patin yang pernah dicobanya tak mau lagi ia jalankan karena umumnya dimakan pada malam hari dan hanya orang dewasa yang memakannya karena harganya mahal. Setelah sekian daftar dicoret akhirnya Wahyu ketemu bakmi. 

Hanya saja ia tak langsung jualan bakmi ketika pilihan itu ia putuskan. Ia harus mencari resep yang enak dulu untuk memulai jualan bakmi. Nah, segala upaya ia jalankan untuk menemukan rasa bakmi seperti Bakmi GM, yang menurutnya paling enak. Konon, Wahyu harus mengeluarkan dana sampai Rp 200 juta untuk mendapatkan resep bakmi ala Bakmi GM itu. Upaya itu ternyata berhasil. Begitu Bakmi Langgara pertama kali ia buka di Menara Kadin langsung laris. Tak lama buka cabang di RS Persahabatan Jakarta Timur. Setelah itu cabang-cabang baru bermunculan dengan nama Bakmi Langgara dan Bakmi Tebet. Apalagi ia mencoba mengadopsi konsep franchise, maka dalam tempo kurang tiga tahun (April 2004) jumlah cabangnya sudah mencapai 50. Sekarang jaringan Bakmi Tebet dan Langgara merupakan jaringan restoran bakmi salah satu yang terbesar di Indonesia dengan 100-an cabang.

Sebenarnya, pada awalnya berbisnis Wahyu mengaku masih tergoda untuk jadi karyawan. Bahkan ketika Bakmi Tebet (Langgara) sudah beroperasi godaan itu masih ada. “Waktu cabang masih satu, jika ada yang menawari pekerjaan pasti saya ambil. Ketika cabang sudah tiga, saya masih terpikirkan untuk bekerja (jadi karyawan). Namun ketika cabang sudah sepuluh ditawari jabatan direktur pun saya tak akan mau,” ujarnya dalam suatu seminar. Pernyataan itu ia tulis juga dalam bukunya (Doktor ‘Gila’ Jualan Bakmi Tebet).

sumber: http://inspirasi-wiraswasta-online.blogspot.com/2011/01/kebangkitan-pengusaha-kelas-dunia-dari.html

0 komentar:

Posting Komentar