Betapa Berbahayanya Berpikir

Betapa Berbahayanya Berpikir


Yang menjadikan kita kadang-kadang enggan share 'pemikiran' di sosmed antara lain karena khawatir disalahartikan atau dianggap lancang atau ngaco dsb.

Tapi tak ada salahnya juga kubagikan apa yang melintas dalam pikiran ini, tinggal nanti hapus aja sih kalau ada yang memberi kode bahwa  ini kontraproduktif dan semacamnya. Hahaha. Take it easy aja. 

Sejak salah seorang guruku mengimbau agar aku lebih banyak lagi berpikir untuk berpikir, terus terang ada banyak hal yang kemudian terlintas di pikiranku. Dan salah satunya menyembul begitu saja saat aku pulang dari acara seminar  parenting yang diramu bebas dengan diskusi creativepreneurship, juga di sela-sela  menyiapkan materi untuk expo future leader summit. 

Aku melihat kedua event ini sebagai keberhasilan dari pro bono movement (sebuah istilah yang kukenal sekitar empat tahunan lalu dan berbagai varian fenomenanya kutemukan terus mewabah)

dan hey! aku jadi ingat sebuah postingan tentang bagaimana pak Harto waktu itu menskenariokan sedemikian rupa sehingga  paham komunis dianggap atheis lalu halal dimusuhi dan dibunuh. di atas prasangka dan kebencian itu, paham komunis sosialis dihancurleburkan lalu kapitalisme-lah yang tumbuh dan akhirnya merusak negara ini. Wow wow. 

Waktu dulu sempat membaca itu, aku menyerapnya sebagai biasa saja. oh iya ya, mungkin ya. Sebab  pas kita nonton film G30SPKI waktu itu, almarhum bapak beberapa kali juga sempat bilang bahwa pak Harto yang sebenarnya dalangnya. 

Tapi  kemarin ini isi postingan itu menggelitikku lagi. OMG, kalau memang demikian adanya betapa teganya, betapa  gilanya. Meskipun memang kita tak bisa memungkiri bahwa peristiwa masa lalu itu sedemikian blundernya sehingga kita dibuat bingung dan masih bertanya-tanya. 

Seandainya paham  komunis sosialis (dalam hal-hal positifnya) waktu dulu itu diolah sedemikian rupa, disesuaikan dengan filosofi dan kepribadian negara serta masyarakat kita, mungkin kita sudah lebih makmur dan maju bersama. Untunglah saat ini fenomena pro bono movement, kerja bersama, kolaborasi, saling memajukan, saling meninggikan sudah mulai marak. Meski terlambat, mudah-mudahan ini menjadi pendorong bagi bangkitnya Indonesia lagi dari keterpurukan. Aamiin. 



We just can't blame our parents who we think they unconsciously educate&form us become transactional person. Because maybe they earn&learn it from their life. We now have other better choice. Our life teach us how generosity is more important. So we then just need to apply or improve it.



Menggelinding bak bola salju, mewabah seperti virus, meneror bawah sadar, mentransformasi diri tanpa disadari. kekuatan dr kehebatan laku. #GoBeyond. Mengolaborasi, menyukseskan org lain, memberi panggung utk semua orang, nguwongke, on behalf of pro bono movement #phenomenon











0 komentar:

Posting Komentar