Asap, Kebakaran Hutan Dan Tanggung Jawab Kita Sebagai Pembeli Yang Baik



Asap, Kebakaran Hutan Dan Tanggung Jawab Kita Sebagai Pembeli Yang Baik


Sedih banget lihat asap yang terus mengepung saudara-saudara kita di Sumatera, Kalimantan dan sekitarnya. Bahkan kenalan-kenalan kita di Malaysia dan Singapura. Bencana dan musibah ini sudah jelas akibat dari tangan kita sendiri. Yang selama ini memang berlumuran darah, sampah, limbah, dan berbagai kekotoran lainnya, disebabkan oleh keserakahan manusia sendiri.

Sebagai warga negara yang baik dan bertanggung jawab, sudah semestinya kita turut ambil bagian dalam solusi masalah di negeri kita ini. Dengan berbagai cara. Ada yang langsung datang ke sana untuk turut memadamkan api dan mengirim bantuan masker, oksigen serta hal-hal lain yang diperlukan. Ada yang mentransfer lewat beberapa kanal bantuan seperti ACT, PMI dsb. 

Nah, semestinya sebagai konsumen dan pembeli produk yang menggunakan sawit sebagai salah satu bahannya, kita pun mulai sekarang sudah harus lebih waspada. 

Perhatikan dengan baik dan cari tahu. Apakah kita tahu jika minyak sawit yang terkandung dalam produk yang kita pakai ramah lingkungan? 

Karena produsen yang baik seharusnya menjaga sustainable, kesinambungan dan kebaikan lingkungan kita. Tidak mengeruk saja, tapi juga menumbuhkan kembali. 

Kalau kita tidak menjadi pembeli yang bijak, apakah artinya selama ini kita bisa saja terlibat atas makin buruknya kondisi lingkungan?




  1. Memproduksi minyak sawit secara sustainable penting bagi Indonesia untuk memenuhi permintaan nasional dan internasional. Dengan demikian  teknik produksi yang sustainable perlu diterapkan.
  2. Beberapa tujuan konservasi berimplikasi terhadap biaya yang sangat besar bagi negara penghasil. Misalnya, konservasi hutan dengan HCV atau dengan high carbon stock bisa dilihat sebagai kehilangan kesempatan mendapatkan keuntungan (opportunity costs ) pada lahan yang dikonservasi tersebut. HCV dan  konservasi karbon pada umumnya merupakan public goods. Dengan demikian konservasi karbon dan HCV seharusnya menjadi tanggungan masyarakat global. Namun selama tidak mempengaruhi produksi dan pembangunan ekonomi secara signifikan, maka konservasi  hutan HCV seyogiyanya mendapat perhatian.
  3. Indonesia sudah mengeluarkan Permentan 29/2011 tentang Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO). Perlu ditegaskan apakah Indonesia akan mengeluarkan suatu sertifikasi di bawah ISPO (CISPO) sebagai bagian dari usaha untuk mencapai sustainble palm oil bersama-sama dengan RSPO. Juga perlu di eksplorasi potensi pasar untuk CISPO.
Dengan meningkatnya permintaan akan minyak kelapa sawit baik untuk makanan maupun bukan makanan, produksi dan penggunaan minyak kelapa sawit perlu dilaksanakan dengan cara yang baik dan bijak. Jadi, semua bagian dari rantai pasokan minyak kelapa sawit, mulai dari perkebunan hingga ke pengecer, perlu bekerja dengan cara yang berkesinambungan dan bertanggung-jawab secara sosial.

dari berbagai sumber

0 komentar:

Posting Komentar