Imlek, Gus Dur Dan Negeri Compang Camping

Imlek,  Gus Dur Dan Negeri Compang Camping


Eh tahu-tahu  sudah mau Imlek lagi ya:)

Entah kenapa kalau ngomongin Imlek sering keingat Gus Dur ya? Mungkin karena beliau lah yang menjadikan Imlek ini bisa diperingati dengan resmi di negeri kita tercinta ini.

Jadi inget saat  kemarin Haul Gus Dur juga baru saja diperingati. Waktunya berdempetan tuh. tanggal 24 Desember Maulid Nabi Muhammad, tanggal 25 Desember Natal dan tanggal 26 Desembernya Haul Gus Dur. Dan netizen pun ramai seperti biasanya.

Gus Dur lagi-lagi disebut waktu netizen pro kontra masalah LGBT (Lesbian Gay Biseksual Transgender)

Memang beliau ini fenomenal sekali. Aku pernah baca buku biografi tentang beliau berjudul MATA PENAKLUK. Jadi tahu kalau beliau yatim juga seperti anak-anakku, seperti pak Habibie juga.

Keluasan wawasan, ilmu dan kebijaksanaannya lah yang membuat beliau tidak cupet dan sempit serta sesat pikir. Meski sebagai manusia biasa, tetaplah beliau memiliki kekurangan-kekurangan  juga.

Negeri kita Nusantara yang besar dan luas serta berbhinneka ini memang butuh lebih banyak lagi sosok macam Gus Dur yang bisa  diterima banyak kalangan. (Walaupun ada  juga kalangan yang tidak saja tidak respek  pada beliau, namun juga mencemooh dan memojokkan)


Menurutmu, sosok siapa yang kiranya bisa seperti semacam beliau di tengah morat-maritnya Negeri kita yang compang camping sekarang ini?








Lima Langkah Untuk Menulis Lebih Cepat Dan Lebih Menyenangkan

Lima Langkah Untuk Menulis Lebih Cepat Dan Lebih Menyenangkan

Buntu? Bumpet? Myumet?
Ahaha...kadang-kadang memang melanda kita. Jangan khawatir ada cara dan jalan keluarnya supaya tetap lancar nulis dan akhirnya bisa launching lagi :)
Mari yuk coba resep dan tips berikut supaya menulis dengan lebih cepat dan lebih menyenangkan. Dan tentu saja lebih bahagia :D


1. tetapkan  tujuan/target sepenuhnya dalam diri kita dan lakukan itu selama seminggu. Full. 


Misal nih, target awalnya adalah 50 kata per hari. Mungkin malam pertama karena sangar dan bersemangat justru  bisa dapat lebih dari 50 kata. Malam kedua dan ketiga bahkan bisa 200 kata. 


Empat malam berikutnya 1000 kata bisa didapat semudah kita bernafas, tanpa sadar kita telah membentuk kebiasaan. 

Tujuh  hari tidaklah lama. Kita dapat berhenti, atau mengubah jumlah waktu atau apapun setelah tujuh hari itu. Punya hasil yang tampak di depan mata membuatnya lebih mudah bagi otak. Tetapkan target rendah dulu. Dan kemudian kita bisa menambahnya kemudian. Buat sesuatu itu mudah (dulu) dan kita dengan sendirinya akan melakukannya. 
Make it easy and you'll do it.2. Perhatikan baik-baik aspek lingkungan yang mendorong kita untuk beraksi


Beri saya topik atau fokus dan saya akan menuliskannya. Beri saya secuil bahan dan saya akan menulis lebih banyak. Mengetahui bahwa saya akan mengirimkan ini untuk orang yang kita sayangi, membuat kita menulisnya sepenuh hati.

Apa yang membuatmu menulis? Temukan dan gunakan itu. Uang? Popularitas? Kecengan? Pacar? Kebebasan? Cari ya!^_^



3. Setelah tiga minggu biasanya kita kembali pada kebiasaan lama yang buruk




Jangan terkejut jika keluarga kita punya masalah, komputer kena virus menambah beban pekerjaan kita. 


Setelah dua puluh satu hari kita berhasil mengubah paradigma dan hasilnya dunia sekitar kita menyesuaikan pola baru kita.

Namun tak ada yang akan terus suka kalau kita memegang kendali. Artinya mereka akan berubah juga. 

Jadi dapatkan kekuatan dukungan di tempat kita berada.


4. Setiap tiga minggu, tinjau kembali tujuan kita, sesuaikan dengan perubahan di luar sana dan tetaplah bertahan padanya. 



hanya karena kita bertemu halangan, kita tak semestinya terhenti. Ini artinya kita hanya harus meng-update rencana kita.

Jangan biarkan kehidupan kita mencegah kita dari menulis. 

Jadikan program dan aktifitas menulis kita ini masuk dan sesuai dengan kehidupan kita.


5. Susun tujuan tiga bulan-an dan jangan berpikir lebih jauh.



tak ada seorang pun yang sungguh-sungguh bisa merencanakan setahun ke depan.

sesuatu terjadi. tujuan berubah. kebutuhan bervariasi. kehidupan mengalir. Masih, kita butuh kerja terus ke depannya atau semuanya akan menjadi tak berarti dan bermakna. 


Jadi apa rencana dan targetmu tiga bulan ke depan?


 

Kita Tak Selalu Kita Sampai Pada Yang Kita Tuju

Kita Tak Selalu Kita Sampai Pada Yang Kita Tuju

Kalau boleh berterus terang, sejujurnya dulu aku turut ikut dan bergiat di berbagai komunitas sebenarnya punya misi untuk memperluas jaringan sehingga menambah prospect client bagi konsultan desain arsitektur ku.

Namun dalam perjalanannya aku justru larut dan menikmati jalan yang agak menyimpang dari jalur karir kearsitekturanku yang terlebih dulu kutekuni. Dus, semakin lama semakin cinta dan terlanjur basah hingga aku akhirnya mengambil pilihan-pilihan yang justru membawaku ke titik yang sekarang ini.

Begitulah, kita tak selalu sampai pada yang kita tuju. Entah karena memang Tuhan menskenariokan yang demikian ini atau sepenuhnya ini tadinya pilihan bebas dan kita memilihnya setelah kita merasakan nyaman di dalamnya. Sebagaimana cinta yang lain, cinta pada pekerjaan dan karir ini sepertinya juga termasuk misteri ya?:D

ngemilbaca KELAS

ngemilbaca KELAS

Senang sekali akhirnya bisa ketemu mbak Ainun aka pasarsapi, mendengar langsung penuturannya, dapat buku  ini dan tanda tangannya pula serta foto bersama.

Buku Kelas ciamik sekali. Saat kita baca, terlihat kalau dikonsep dengan sangat bagus. (aku langsung membayangkan bagaimana mind mapping-nya dibuat serta seperti apa brainstorming antara mbak Ai dengan editor Gagas dll)

Setiap bab-nya merupakan elemen penting yang mendukung hingga lahir sampai dengan berkembangnya Akber ini. Namun juga sebenarnya punya korelasi dengan pendidikan, kepemimpinan, juga kehidupan pada umumnya.

Semua dibahas secara mendetail namun  juga menyentuh serta menukik. Dan uniknya lagi, di bagian belakang setelah uraian mbak Ai dalam suatu  bab, dimasukkanlah perspektif dan pengalaman para relawan akber ataupun guru akber yang berkaitan dengan  judul bab tersebut.

Jadi punya gambaran bagaimana cara menulis buku non fiksi yang punya benang merah, ada pengalaman nyata yang berkorelasi dan secara keseluruhan  menginspirasi serta menggerakkan.

Salut!

Lima Hal Yang Harus Dipelajari Para Ekstrimis

Lima Hal Yang Harus Dipelajari Para Ekstrimis

Sedih, geram, bingung, jengkel dan gado-gado rasanya saat ada kejadian bom Sarinah tanggal 14 Januari 2016 kemarin ini. Pas baca beberapa spekulasi   tentang kemungkinan bahwa itu drama saja, makin bingung juga membaca dan sungguh tak tahu bagaimana merespon semua itu. Speechless. 

By the way, bahwa memang ada para ekstrimis di luar sana itu adalah benar adanya. Sebab musabab, jalur, alur bagaimana ceritanya sampai demikian, siapa di belakang siapa dan seterusnya sungguh susah dicari ujung pangkal dan sulit ditelisik kebenarannya yang asli. 

But, ada beberapa hal yang semestinya dipelajari para ekstrimis itu, supaya tentu saja mereka tidak terus menjadi ekstrimis. Karena ekstrimis itu tidak saja menyakiti dan membahayakan orang lain, namun sesungguhnya menyakiti serta membahayakan diri  si ekstrimis itu sendiri. Iya kan? 

Apa saja lima hal itu?
1. Semestinya para ekstrimis itu belajar arsitektur

Dalam arsitektur, kita tak bisa sembarang merencanakan dan membangun hunian atau gedung begitu saja di sebuah tapak. Tetapi kita harus memperhatikan TOR, merespon kondisi tapak dan lingkungannya dengan baik, dan melalui proses desain yang melibatkan riset, feedback dst. 

Seumpama arsitektur vernakular yang pas dan sesuai sekali untuk daerah tropis, demikianlah dulu wali songo beragama dan berdakah di bumi nusantara tercinta ini. 

2. Belajar Seni
Dibutuhkan kepekaan tinggi untuk bisa mencapai sebuah seni. Kebeningan jiwa, kelembutan rasa. Dengan belajar seni, seseorang akan menemukan harmoni, balance, keseimbangan. 

3. Belajar Enterpreneur

Jika memang bermaksud menjadi dan menegakkan khalifatul fir ardl, semestinya mengikuti saja jejak ustadz Yusuf Mansyur dengan kemandirian ekonomi berjamaahnya, para petinggi publishing yang bisa memberikan influence pada masyarakat lewat buku-bukunya juga gerakannya, para pengusaha yang memberi pekerjaan pada banyak orang dan mengentaskan kemiskinan, dst. 

4. Belajar Musik
Eh musik ini termasuk seni ding ya:D

Btw, ada sesuatu dengan musik (yang baik). So, more music less drama. gitchu deh. 

5. Belajar (Membaca dan) Menulis Novel

Kita tak bisa menulis novel tanpa hanyut larut menyatu menjiwai karakter-karakternya.  Ada perjalanan yang membawa  perubahan sikap, pandangan hidup, karakter tokoh dari yang negatif menuju positif (semestinya ya kan?) ataupun sebaliknya. Belajar menulis novel berarti belajar (ke)manusia(an) dan dengan demikian mengenali lebih dalam tentang manusia dengan segala kompleksitasnya sehingga menjadi ekstrimis berarti menyalahi (takdir) (ke)manusia(annya)

Itu beberapa hal yang harus dipelajari ekstrimis agar tak lagi ekstrimis. IMHO
Silakan menambahkan, teman-teman ^_^





Makanan Bernama Ontologis Dan Epistemologis

Makanan Bernama Ontologis Dan Epistemologis


Tiap kali adik lelakiku yang tinggal di luar kota datang ke rumah, pasti disambut dengan gembira oleh anak-anakku  yang memang kelihatan sekali butuh sosok figur lelaki dewasa dalam kehidupan mereka. Kalau kata simbah mereka, alias ibuku, wah iki dino bodho-mu cah. ini hari rayamu, anak-anak. 

Dan sebenarnya ketika dia datang, bukan saja anak-anakku yang senang tapi juga aku serta adik perempuanku bahagia tiada tara. Kami jarang sekali bertemu dan kalau bertemu seringnya langsung bicara yang berat-berat. Ahaha.

di antaranya kemarin ini kami bertiga jadi ngebahas apa sih makanan yang bernama ontologis dan epistemologis itu sebenarnya. Dan lucunya, kami punya jawaban sendiri-sendiri. Yang berbeda-beda. 

Adik lelakiku yang barusan lulus spesialis penyakit dalam, bilang kalau ontologis itu erat kaitannya dengan keilmuan, teori. Sedangkan epistemologis itu lebih ke praktik, pengalaman. 
Dia dengan pendekatan tali keledainya bilang onto itu unta, tuo alias tua, ilmu. *halagh :D*

Sedangkan adik perempuanku yang sedang berjuang menyelesaikan thesis S2 nya bilang kalau ontologis itu cenderung ke realita. Adapaun epistemologis itu erat kaitannya dengan filsafat. 

Dari yang kubaca dari mbah google dan wikipedia,
Ontologi merupakan salah satu kajian filsafat yang paling kuno dan berasal dari Yunani. Studi tersebut membahas keberadaan sesuatu yang bersifat konkret.

Epistemologi, (dari bahasa Yunani episteme (pengetahuan) dan logos (kata/pembicaraan/ilmu) adalah cabang filsafat yang berkaitan dengan asal, sifat, .karakter dan jenis pengetahuan. 



kalau menurutmu? 


Kita di lembah yang mana

Kita di lembah yang mana

SYEIKH Dr. Muhammad Hasan, semoga Allah menjaganya, berkata:

Aku berdiskusi dengan seorang pemuda yang keras (dalam ber-Islam):

Maka aku bertanya, “Apakah meledakkan Klub malam di suatu negara muslim halal atau haram?”

Dan dia menjawab, “Tentu saja halal, dan membunuh mereka pun diperbolehkan.”

Aku bertanya lagi, “Kalau kamu membunuh mereka yang bermaksiat ke mana mereka akan kembali?”

Dia menjawab, “Sudah pasti ke neraka.”

Lalu aku bertanya lagi, “Sedangkan ke mana tujuan syetan menggoda manusia?”

Dia menjawab, “Pasti ke neraka juga.”

Maka aku berkata padanya, “Berarti kalian bersekutu dengan syetan dalam satu tujuan yaitu menjerumuskan manusia ke dalam neraka!”

Dan aku berikan dia satu hadits Rasulullah SAW ketika ada jenazah orang Yahudi yang lewat di hadapannya kemudian Beliau menangis, maka para sahabat bertanya: “Apa yang membuatmu menangis ya Rasulallah?” Beliau menjawab: “Aku telah membiarkan satu orang masuk neraka…”

Maka aku berkata lagi pada pemuda itu, “Perhatikan perbedaan pola pikir kalian dengan Rasulullah SAW yang berusaha untuk memberikan hidayah kepada manusia dan menyelamatkannya dari siksa Api neraka.

Kalian di satu lembah, sedangkan Rasulullah SAW dan Islam di lembah yang lain.”


Kalau Dokter Buka Resto

Kalau Dokter Buka Resto

Alhamdulillah. Senang sekali waktu tahu adikku akhirnya lulus sekolah spesialis internisnya.  Sama senangnya ketika tahu bahwa koleganya yang juga dokter membuka sebuah restauran di kota kecil kami.  Langsung saja resto baru ini  kami serbu. Terutama karena saat awal pembukaannya, semua kenalan diberi makan gratis. Alamaaak :D

tempat makan di demak
entrance rumah makan
Rumah makan  pak Dokter ini menyediakan  lebih dari tujuh puluh lima menu lho. Seru kan?!  Ada  ndas manyung menu andalan khas Demak, ada juga sambal goreng rambak dan banyak menu lainnya yang menggoda. 
tempat makan di demak
Kuliner favorit almarhum ayahku juga ada, nih  kikil alias kaki kambing yang mak krenyessss.
tempat makan di demak
Kalau yang tidak begitu suka dengan masakan berkuah dan pedas, bisa mengambil menu iwak manuk nih. Juga banyak bermacam goreng-gorengan lainnya.
tempat makan di demak
Kalau anak-anakku sudah jelas apa kesukaannya. Yups, betul,  ayam ala Ipin Upin nih. Semua daging ayamnya dikemas seperti paha ayam di film anak-anak asal Malaysia itu  lho. #Cemana :D
tempat makan di demak
Di rumah makan Safira (yang namanya juga dipakai untuk nama butik milik pak dokter) bisa makan sambil duduk kursi, ataupun lesehan. Tinggal pilih lokasi aja. 
tempat makan di demak
Area dengan meja putih dan kursi-kursi warna oranye menyala mendominasi ruang dalam rumah makan, baik di sisi barat ataupun timur.
tempat makan di demak
Di bagian belakang, ada area lesehan untuk mereka yang ingin makan sambil bersantai, menyelonjorkan kaki dan menyandarkan punggung ke dinding.
tempat makan di demak
Sekat alias partisinya  menggunakan aksen anyaman bambu dengan rangka kayu. Menjadikannya senada dan serasi dengan rumah makan yang hampir seluruhnya menggunakan material kayu ini, dari kerangka struktur, plafon, pintu, jendela hingga dindingnya.
tempat makan di demak
Untuk aksen  tirai di jendelanya, digunakan bahan kain blacu dengan aksen batik warna dominan coklat. Membuatnya tampak manis dan memperkuat konsep alami dan klasik rumah makan ini.
tempat makan di demak
Demikian pula halnya dengan pemilihan tembikar tanah liat sebagai wastafel yang terdapat di pojok ruang dalam rumah makan ini. Tentu tak lepas dari konsepnya yang membawa bahan alam kembali dekat dengan kita. Menjadi pemecah dan oase di tengah segala macam hal yang berbau instan, plastik dan sintetik.
tempat makan di demak
Sip ya, ada  konsep penyelamatan alias konservasi rumah kuno asli Jawa khususnya Demak, plus menyediakan alternatif wisata kuliner di kota Wali ini dan tentu saja perekruitan banyak karyawan alias membuka lapangan kerja.

tempat makan di demak
Sayangnya,  atap tambahan perpanjangan bagian  depan tidak menggunakan struktur kayu juga, tapi malah memakai struktur baja ringan yang memang lebih murah, enteng dan praktis.

However, yuk wiskul ke sini yuk!

#DutaWisataDemak
#BrandAmbassadorDemak

Bicara Tentang Pasif Income

Bicara Tentang Pasif Income



Jadi enterpreneur dan investor itu gampang-gampang susah.
Sesungguhnya tak ada yang sungguh-sungguh bisa disebut sebagai passive income, ya nggak sih?:D


Kebanyakan  pemasukan pasif masih membutuhkan kerja/upaya perawatan dan pemeliharaan. Penyewaan properti misalnya kost-kostan atau rumah kontrakan juga harus dikelola. Website juga harus dikelola, di-update. Upaya pemeliharaan harus dilakukan secara regular, biasanya mingguan atau bulanan dan ada konsekuensi jika kita tidak melakukannya. Kerja yang berkembang, di sisi lain, tidak punya orang lain kecuali kita. Pastikan bahwa kita tahu seberapa banyak upaya perawatan yang dibutuhkan beragam proyek pasif yang kita punya sehingga kita tahu berapa banyak waktu yang kita punya untuk proyek yang berkembang/aktif.

Bekerjalah pada satu proyek pada satu waktu saja, selesaikan sampai benar-benar bekerja. Ini adalah kuncinya. Jika sudah berjalan, barulah kita bisa beranjak memulai proyek lain. Dan biarkan proyek sebelumnya yang sudah kita pasang pondasinya, ada kolaborator/tandem/tim pelaksana, ada pelanggannya itu berjalan dengan tetap kita awasi.

Demikian seterusnya. Fokus satu dulu, sampai siap sempurna. Pindah, fokus yang lain sampai siap. Pindah yang lain, fokus. Dan tetap maintenance terus supaya tak sampai lepas.




when senior author use the same idiom with yours as the new book title

when senior  author use the same idiom with yours as the new book title


mungkin bukan idiomku sendiri sih ya, mungkin pikiran kami sama, atau ya mungkin itu sebenarnya idiom yang datang ke kepala banyak orang sekaligus. karena bagaimanapun keajaiban-keajaiban dalam kehidupan ini dialami oleh banyak orang juga. dan kita menerjemahkan, melahirkan dan membahasakannya ke dunia dengan idiom yang sama.

however, tak bisa ditampik bahwa ada banyak rasa yang hadir juga saat itu sebenarnya.

tapi sudah semestinya kita menganulir prasangka buruk dan perasaan tidak sopan yang tak sewajarnya. jadi yang tinggal hanya rasa bangga karena idiom ini akhirnya mewujud dalam buku seorang living legend. Meski ide dan outline naskah dengan  judul sama sudah lama tinggal dalam folder kita. Yach keduluan senior, enggak apa-apa lah. Ikhlas dan ikut senang, turut bahagia.





dian nafi dan pak sapardi djoko damono


Apa Yang Menyabotase Kita Dari Menulis

Apa Yang Menyabotase Kita Dari Menulis

Pernah mengalami stuck? Nggak bisa menulis berhari-hari?
Seperti yang dialami tokoh Raia dalam novel terbarunya Ika Natassa, The Architecture Of LOve yang sedang nge-hits via Poll Story di twitter?

Nah!
Kadang-kadang kita mengalaminya. Meskipun pernah kuposting kalau writers block itu ada kalanya karena terbawa rasa malas, ogah dan semacamnya sebenarnya.

Apa aja sih yang menyabotase kita dari menulis? Bisa panjang banget daftarnya kalau kita mau list, iya kan? Tapi ini ada beberapa yang mungkin terjadi, bisa menimpa siapa saja.

- asyik liburan kelamaan, terus keasyikan libur terus, jadi mau nulis tuh rasanya...mau libur lagi aja.
siapa hayo yang ngalamin kayak gini? :D

- lihat lomba nulis, tergerak buat segera nulis dan men-stop gerakan malas akibat liburan. eh tapi selaginya mau angkat pena...eh maksudnya mau pijit tuts huruf-huruf di laptop, ternyata malah dihubungi panitianya buat jadi juri. yang artinya nggak boleh dong ikutan jadi peserta. Dus, akhirnya belum jadi nulis.

- motor-an di jalan, ngebut seperti biasanya, supaya dapat kecipratan ilham dari langit. dan alhamdulillah dapat. Pas pulang dan langsung nulis judulnya di note, eh dapat telpon dari penerbit yang minta stock naskah. Wah, pas banget nih buat pancing supaya ide yang barusan datang ini dituliskan hingga selesai. Terus inget kalau punya stock naskah di folder, dan pastinya lebih cepetan yang ada itu untuk disetor dong. Dus, akhirnya disetorlah stock yang ada. Tapinya ide yang baru tadi jadi mandeg belum jadi dikembangkan. Alias belum jadi nulis lagi :D


- bolak-balik lihat email, nunggu balasan dari narasumber yang kita kira kisah hidupnya akan menginspirasi banyak orang. eh tapi belum dibalas juga. padahal outline-nya sudah kita siapkan sejak lama. lanjut nulis nggak nih? apa lanjut aja dengan bahan yang kita punya tanpa ada tambahan dari narsumnya? atau mari kita lupakan saja dan nulis yang lain aja? Gojag gajig gini, malah nggak ke mana-mana, ya kan?

Ahahah...

Begitulah beberapa hal yang bisa menyabotase kita dari menulis. Belum lagi kenyataan bahwa jadi penulis itu belum tentu ada duitnya :D
Tapi apapun yang terjadi, jangan putus asa lah. Jangan bunuh diri. Meski di luar sana orang-orang padha rame ngomongin kalau jadi penulis itu rawan bunuh diri. Jangan dengarkan mereka.

Stay Calm And Keep Writing ^_^

Socioteenpreneur Mewabah Lagi


Socioteenpreneur Mewabah Lagi

Alhamdulillah sejak rilis Agustus kemarin,  virus Socioteenpreneur terus disebarkan.  Awalnya via Indonesia International Book Fair,  lalu  lomba potret wirausaha sosial, kemudian sharing socioteenpreneurship di Demak Book Fair, di SMK 3 Semarang, di kampus Teknik Arsitektur Undip, sharing Socioteenpreneur Oktober di  Medan, dilanjutkan November di Medan lagi dengan lokasi dan audience yang berbeda, di SMA Muhammadiyah Purwodadi. Dan Insya Allah virus socioteenpreneur juga akan kita tularkan via radio. 

Simak yuk acara Buka Buka Buku di Gajah Mada FM Semarang
hari Jumat tanggal 5 Februari 2015
mulai jam 7 malam sampai selesai

Ada bingkisan untuk para mitra pendengar. Stay tune ya^_^


Oh ya, buku Socioteenpreneur terbitan Erlangga bisa teman-teman dapatkan di toko buku Gramedia, Togamas,dll. Juga toko buku online ya :)


Info Beasiswa

Info Beasiswa

Informasi bagi teman2 atau saudara, keluarga dan pacar yg berminat S2-S3 gratis:

Australian Awards Scholarship
http://www.australiaawardsindonesia.org/
Deadline: 31 March 2016

25 PhD Scholarships, University of Warwick, UK
http://www2.warwick.ac.uk/…/types…/chancellorsinternational/
Deadline: 13 January 2016

20 PhD Studentships in Politics and International Studies (PAIS), University of Warwick, UK
http://www.jobs.ac.uk/…/up-to-20-funded-phd-studentships-i…/
Deadline: 13 January 2016

30 PhD Positions at Université Sorbonne Paris Cité (USPC), France
http://www.sorbonne-paris-cite.fr/…/recherche/doctorat/cofu…
Deadline: 15 January 2016

128 PhD Studentships in at University of Leeds, UK
http://www.leeds.ac.uk/…/leeds_anniversary_research_scholar…
Deadline: 15 January 2016

300 Master Scholarships from The Swedish Institute
https://eng.si.se/…/the-swedish-institute-study-scholarshi…/
Deadline: 20 January 2016

Beasiswa Magister dan Doktor – LPDP
http://www.lpdp.kemenkeu.go.id/be…/beasiswa-magister-doktor/
Deadline: 20 January 2016

Beasiswa Pendidikan Dokter Spesialis – LPDP
http://www.lpdp.kemenkeu.go.id/…/beasiswa-pendidikan-dokte…/
Deadline: 20 January 2016

Beasiswa Afirmasi – LPDP
http://www.lpdp.kemenkeu.go.id/beasiswa/beasiswa-afirmasi/
Deadline: 20 January 2016

Beasiswa Pendidikan Tesis dan Disertasi – LPDP
http://www.lpdp.kemenkeu.go.id/be…/beasiswa-tesis-disertasi/
Deadline: 20 January 2016

27 PhD Studentships at Newcastle University, UK
http://www.ncl.ac.uk/sage/study/postgrad/dta/
Deadline: 22 January 2016

30 PhD Studentships at Sheffield Hallam University, UK
http://www.shu.ac.uk/ad/studentships/
Deadline: 29 January 2016

100 PhD positions in Physics at Scotland, UK
http://apply.supa.ac.uk/
Deadline: 31 January 2016

International Postgraduate Research Scholarships and Adelaide Scholarships International, University of Adelaide, Australia
https://www.adelaide.edu.au/…/application-ro…/international/
Deadline: 31 January 2016

80 PhD Studentships at Queen Mary, University of London, UK
http://www.jobs.ac.uk/…/AMJ059/postgraduate-research-stude…/
Deadline: 31 January 2016

MSc/PhD Scholarships in Czech Republic
“Each applicant must have good knowledge of Czech language before arrival”
http://www.jcmm.cz/…/scholarship-for-foreign-university-stu…
Deadline: 31 January 2016

EXPERTS (Erasmus Mundus Action 2)
http://www.expertsasia.eu/index.asp?p=2365&a=2364
Deadline: 1 February 2016

MSc/PhD Scholarships from Government of Ireland
http://www.research.ie/…/government-ireland-postgraduate-sc…
Deadline: 3 February 2016

International Postgraduate Research Scholarship (IPRS), University of Queensland, Australia
http://scholarships.uq.edu.au/…/international-postgraduate-…
Deadline: 5 February 2016

130 Master Scholarships from CUD ARES, Belgium
http://www.ares-ac.be/csi-en
Deadline: 10 February 2016

International Postgraduate Research Scholarship (IPRS) at University of New South Wales, Australia
https://research.unsw.edu.au/postgraduate-research-scholars…
Deadline: 19 February 2016

MSc/PhD Scholarships at King Abdulaziz University, Saudi Arabia
http://www.kau.edu.sa/Content.aspx…
Deadline: 28 February 2016

International Postgraduate Research Scholarship (IPRS), University of Melbourne, Australia
https://studenteforms.app.unimelb.edu.au/apex/f…
Deadline: 29 February 2016

42 PhD Studentships at University of Hull, UK
http://www.jobs.ac.uk/employer/university-of-hull/phd
Deadline: 29 February 2016

30 Master Scholarships in Development Studies at University of Antwerpen, Belgium
https://www.uantwerpen.be/…/dev…/master-development-studies/

Master Scholarships from VLIR-UOS, Belgium
http://www.vliruos.be/scholarships

85 Scholarships for undergraduate and postgraduate studies in Romania
http://www.mae.ro/en/node/10251
Deadline: 15 March 2016

200 PhD Scholarships from CAS-TWAS President’s PhD Fellowship Programme, China
http://twas.org/…/cas-twas-presidents-phd-fellowship-progra…
Deadline: 31 March 2016

PhD Scholarships at Suranaree University of Technology, Thailand
http://web.sut.ac.th/asean/
Deadline: 31 March 2016

International Postgraduate Research Scholarships (IPRS), University of Newcastle, Australia
http://www.newcastle.edu.au/…/phd-and-research…/scholarships
Deadline: 31 March 2016

International Postgraduate Research Scholarships (IPRS), University of Western Australia
http://www.scholarships.uwa.edu.au/search?sc_view=1&id=454
Deadline: 31 March 2016

StuNed Scholarships, Netherlands
Deadline: 1 April 2016
http://www.nesoindonesia.or.id/beasiswa/stuned/stuned-master

Fulbright Scholarships 2016
http://www.aminef.or.id/index.php…
Deadline: 15 April 2016

15 MSc/PhD Scholarships in Business at Carlos III University of Madrid, Spain
http://www.uc3m.es/…/137120…/Master_in_Business_and_Finance…
Deadline: 30 April 2016

International Postgraduate Research Scholarships (IPRS), RMIT University, Australia
http://www1.rmit.edu.au/browse;ID=d7epp9e09vaw
Deadline: 2 May 2016

International Postgraduate Research Scholarships (IPRS), Monash University, Australia
http://www.monash.edu/…/fut…/support/international-students…
Deadline: 31 May 2016

100 Rotary Peace Fellowships
https://www.rotary.org/…/g…/exchange-ideas/peace-fellowships
Deadline: 31 May 2016

Festival Mahrajan Wali Jawi Di Demak



Festival Mahrajan Wali Jawi Di Demak


Ada banyak sekali Wisata Jawa Tengah yang menarik untuk dikunjungi. Salah satunya adalah Masjid Agung Demak peninggalan Wali Songo dan kerajaan Islam pertama di Jawa. Mengunjungi masjid berikut makam dan museumnya, mungkin sudah menjadi hal biasa bagi beberapa orang. Turut merasakan euphoria kegembiraan saat Grebeg Besar setiap bulan Dzulhijjah/ bulan haji mungkin juga sudah pernah. Nah, ini ada perayaan alias festival baru yang menarik dan sesungguhnya penting.

Berangkat dari keprihatinan bahwa ada wacana-wacana yang hendak menjadikan Wali Songo ini hanyalah mitos dan dongeng, maka Majma’ Buhuts An-Nahdliyyah bersama-sama dengan Pemangku-pemangku Makam Aulia yang tergabung di dalam Perhimpunan Pemangku Makam Aulia, Takmir Masjid Agung Demak, Pemerintah Daerah Kabupaten Demak, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Tengah bahu membahu melaksanakan seluruh rangkaian kegiatan Mahrajan Wali-wali Jawi.
Dan Demak pun  dipilih sebagai tempat pelaksanaan puncak Mahrajan Wali-wali Jawi untuk nunggak semi apa yang sudah dilakukan oleh para Wali. Maka festival yang berlangsung selama sepekan pun digelar dengan meriah.
Ada Pameran Peninggalan Para Wali dan Book Fair yang bertempat di halaman Masjid Agung Demak. Karena terbuka untuk umum dan berada di pusat kota, jadilah bookfair ini ramai dikunjungi setiap harinya. Tentu saja aku juga menggelar beberapa bukuku dan buku terbitanku di sana. :D


Lalu ada Sarasehan dan Silaturahmi Ulama dan Tokoh Masyarakat yang bertempat di Pendopo Kabupaten Demak. Para pembicara yang hadir antara lain: KH. A. Mustofa Bisri (Wakil Rois Am PBNU), Emha Ainun Najib (Budayawan), Agus Sunyoto (Sejarahwan), Katjung Maridjan (Dirjen Kebudayaan Kementrian Pendidikan Nasional). Acara ini juga  mengundang tiga ratusan  Kyai dan tokoh masyarakat dari Demak, Kudus, Semarang,  Grobogan dan sekitarnya.




Usai sarasehan digelar acara Kirab Budaya yang  mengambil rute hampir dua kilometer. Berawal dari depan Terminal Demak dan berakhir di Pasar Kota Demak. Ada banyak sekali atraksi di sana yang menggambarkan budaya apa saja yang dulu pernah ada di Demak tercinta ini. Tari jipin yang merupakan tari khas Demak ditampilkan beberapa kali oleh perwakilan dari komunitas ataupun sekolah. Juga ada atraksi drum band dari beberapa sekolah seperti kebanyakan karnaval lainnya. Yang unik ada arak-arakan kuda dengan penunggangnya menggunakan kostum yang menggambarkan sosok Sembilan wali alias Wali Songo.
Bahkan ada Barongsai dengan sosok boneka menggambarkan Laksamana Cheng Ho yang super besar, memakai pakaian cina. Sebagai pengingat bahwa Raden Fatah Sayyidin Panatagama yang mendirikan Demak ini moyangnya juga berasal dari Cina dari darah ibunya, sedang dari ayahnya berdarah Majapahit.

 
Malamnya diselenggarakan Mujahadah Mendoakan Indonesia di Lapangan Sekretariat Daerah. Mujahadah yang dihadiri ratusan orang ini dipimpin oleh KH. Munif Zuhri dari Mranggen. Adapun  Doa dipimpin oleh KH. Nafi’ Abdullah, KH. Asik dan Kyai-kyai sepuh serta Habaib.
 
Sebagai penutup serangkaian acara di festival Mahrajan Wali Jawi ini digelar Pentas Wayang Kulit. Acara tersebut dilaksanakan setelah Mujahadah selesai di tempat yang sama. Ki Enthus Susmono sebagai dalangnya dan lakon Petruk Dadi Ratu menjadi pertunjukan yang tidak saja memancing tawa, bahagia, tapi juga perenungan yang mendalam bagi semuanya.

BUKAN REMAJA BIASA (CERPEN PEMENANG FAVORIT LMCR ROHTO)

BUKAN REMAJA BIASA
By Dian Nafi

Aku bukan remaja biasa. Aku sadari penuh hal ini. Eyangku dan keluarga besarnya dari kalangan santri yang menjunjung tinggi tata krama dan berbagai aturan tak tertulis yang kental sekali dengan kesantrian. Ibuku meski bukan dari kalangan ningrat walaupun berasal dari Solo, sangat memegang erat aturan-aturan kuno berkenaan dengan sopan santun, tentang yang boleh dan tidak boleh dilakukan.
Jadi ini pemberontakanku yang tak biasa. Aku menyekapnya dalam rahasia lubuk hati, bagai api dalam sekam, yang siap menyambar jika suatu waktu badai angin mengilukannya dan membuat lukanya terjaga. 

Aku bukan remaja biasa. Aku terluka di masa lalu, dikerangkeng watak –watak keras dan arogan berbungkus wajah kealiman, tapi jeritan kebebasan memanggilku. Karena aku dilahirkan sebagai seorang Gemini. Di bawah rasinya, para pemimpin dilahirkan dan dibesarkan. Di dua mukanya, si kembar seakan bisa ke kanan dan ke kiri sekaligus. Ini awal paradoksku yang nyata. Aku dilahirkan sebagai pemberontak dan paradoks.

Aku bukan remaja biasa. Kemalangan dan keluhanku membungkus aku dalam wajah absurd dan penuh kemarahan yang tertahan. 
“Pulang ya nak,” bujuk ibu dari seberang telpon.
Aku tergugu, duduk di sudut kamar entah siapa dengan galau dan air mata yang telah mengering. 
“Ibu tidak marah padamu,” seperti bukan ibu yang kukenal selama ini. 
Ini tidak mungkin ibu. Ibu bukan seorang yang pengertian. Ibuku seorang penuntut dan ingin anak-anaknya sempurna, perfect. Ibu tidak menerima alasan apapun. Ibu tidak mau tahu. Jika ibu bermaksud memperdayaku, aku akan balik memperdayakannya. 
***
“Jangan menyalahkan ibumu, Dew, atas masa lalumu,” Yudhika membelaiku dengan kalimat lembutnya. Kami tidak pernah bertemu tapi ia dengan mantra dan keajaibannya selalu bisa meredakan amarah dan gelisahku. Mungkin Tuhan menciptakannya saat Dia jatuh cinta. Jadi sebenarnya ia bukan seorang manusia, tetapi sebuah hati yang bisa bicara dan tertawa.

“Berhenti menyalahkan dirimu sendiri dan ibumu,” ujarnya lagi dari seberang telpon.
“Oh ya?!!” pekikku. Hanya dalam hati, hanya didengar sendiri.
Ibu di sana! Melihatku dan kejadiannya. Tapi semua berlalu seperti tidak terjadi apa-apa. Bagaimana aku bisa memaafkan ibuku?!

“Meski demikian. Kamu masih bisa memaafkannya, Dewi,” Yudhika seperti membaca pikiranku. Ia telah tahu kisah ini sebelumnya. Ia orang pertama yang membuka kotak rahasiaku yang ini. Aku belum pernah menceritakannya pada siapapun, bahkan pada diriku sendiri. Aku tidak pernah berani menuliskannya. Meski hanya secuil kertas tissue untuk kurobek kembali tapi Yudhika dengan kepiawaiannya berhasil membuatku berkelopak membuka luka lama itu. Yang pada awalnya menyakitkan, tapi tak sempat membuatku menangis karena yang ada hanya perih membusuk. Kemudian perlahan seperti kanal, luka itu mengalir membuat torehan –torehannya dalam ingatan, dalam tulisan, dalam catatan, dalam gurauan, dalam mantra, tapi entah ini penyembuhan seperti yang dikatakan Yudhika sebelumnya. Atau justru kambuhan atas penyakit bernama dendam.
***
“Dewi! Jika kamu tidak pulang segera, ibu tahu harus berbuat apa!”
Nhah!! Ini baru ibuku, tukas pikiranku cepat. 
Tapi aku masih diam, menahan napas. Aku belum mau pulang. Aku tidak ingin membuat ibu terluka. Yudhika bilang ibuku sangat mencintai aku dan aku sangat mencintai ibuku, tetapi kami tidak tahu bagaimana cara mencintai satu sama lain.
***
“Tatap matanya tiga detik saja, Dew,” saran Yudhika suatu ketika.
Aku tiga detik juga terdiam mencernanya.
“Nggak berani ya?” tanya sahabat mayaku itu.
“Mungkin……nggak” jawabku akhirnya.
“Aku bahkan tidak sempat mengenal ibuku….”Yudhika menyahut lirih. 
Ibunya meninggal beberapa saat setelah melahirkannya. Kerinduan Yudhika akan sosok seorang ibu kemudian membuatku sadar aku seharusnya lebih bisa memaafkan ibuku dan belajar mencintainya.
**
Dan aku memutuskan pulang ke rumah.
“Dewi..” ibu memelukku erat. Masih ada gumpalan es di sana, di dadaku. Tapi aku perlahan membiarkannya mencair. 
“Maafkan Dewi, bu,” lirih, jujur, penuh pengharapan. Semoga Tuhan mendengar dan membantu hasratku untuk mulai belajar mencintai ibuku lagi. 
“Kamu boleh memilih sendiri apa yang menjadi keinginanmu, Dew,” doa pertama yang terjawab. Pemberian kebebasan oleh ibu tentu saja menumbuhkan respek di hatiku, salah satu benih cinta yang bisa dipupuk kemudian.
“Terimakasih, bu,” terasa pelukanku membalasnya erat, mencairkan lagi gumpalan es di sana, di dadaku. 
**
Aku mengenalnya melalui dunia maya. Seorang muda yang kiprahnya luar biasa. Niken. Aku yakin banyak orang sudah mengenal bahkan memakai layanan berbagai situs yang dimilikinya. Meski kecemburuan itu ada, tapi aku menepisnya. Seorang sukses seperti Niken tidak boleh berhenti untuk dicemburui saja, tetapi harus dikeruk berbagai kecerdasannya dalam menemukan, menginisiasi, merencanakan, menindaklanjuti dan mengembangkan sayap-sayap kebebasannya dalam berekspresi dan berkarya.

Meski kadang aku melihatnya berdiri seperti menara gading, tetapi dia tampaknya selalu berhasil menjadi air yang menghanyutkan banyak pihak, bahkan orang-orang yang baru ditemuinya, untuk bersama-sama dia mewujudkan mimpi-mimpinya. Perpaduan karakter yang unik sebenarnya dan tentu saja tak mudah untuk ditiru, terutama sekali oleh seorang peragu. Dan yang menarik, Niken tak segan membagi beberapa rumus yang ia dapatkan sepanjang perjalanan kesuksesannya itu bagi banyak orang. Dibayar maupun tidak. Walaupun ia seringkali mengkomunikasikannya dalam bahasa yang hanya sebagian orang tertentu sajalah yang dapat memahaminya. Yang cerdas dan berkeingin-tahuan tinggi.
Berangkat dari passion, kecintaannya pada sesuatu, ia menciptakan sendiri keberuntungannya. Demikian ia seringkali menyebutnya. Luck is when preparation meets opportunity. Dan keberanian untuk mengambil resiko yang lebih tinggi lagi yang membuatnya semakin berkibar dan melebar. Meski tak dapat dipungkiri, postur tubuhnya yang tinggi dan wajahnya yang menarik adalah satu poin tersendiri yang menjadi modal penting. Tapi ini bisa saja jadi boomerang jika seseorang dengan modal yang sama tidak memiliki keahlian untuk menampilkannya bersama paket kecerdasan dan kebijaksanaan.

Memiliki beberapa layanan online di berbagai bidang, buku-game-enterpreneurship-technologi, membawanya juga berkiprah di dunia off-line. Maka semakin terasahlah mutiaranya dan kesuksesan itu tak lagi maya namun juga terang benderang sampai membawanya menjadi model iklan segala. 
Ia tahu apa yang harus ia tuju dan apa yang harus dikerjakan. Sehingga ia memiliki banyak sekali waktu untuk jalan-jalan, dari sudut suatu negera ke negara lainnya, around the world. Yang tentu saja tak pernah lepas dari keseimbangan antara bersenang-senang dan melebarkan sayap bisnis serta networking. Semua lini usahanya tetap berjalan lancar meski tidak harus ia tunggui. Inilah sisi penting dan cermin nyata dari apa yang Robert T Kiyosaki gembar-gemborkan. Berada di kuadran kanan. Bebas waktu dan financial, pensiun dini. 

Menjadi kebiasaan kita untuk mencari tahu bagaimanakah kehidupannya di balik gemerlapnya kesuksesan itu. Ia bersuami, berarti kesuksesannya tidak kering. Ia menjalani kehidupan normal sebagaimana orang lain. Mungkin karena kesibukan atau memang tidak tertangkap kamera dan reportase, pasangan ini jarang tampak berdua. Namun tak tampak gelombang yang berarti di antara keduanya. Pencapaian-pencapaian mereka berdua sepertinya tidak mengganggu ego keduanya, dan mungkin sekali malah saling mendukung.

Mengenai buah hati, karena usianya masih muda sekali, agaknya belum hadirnya seorang anak tidak menjadi masalah. Toh ia banyak berkumpul juga dengan banyak anak-anak termasuk anak kecil yang menjadi bagian dari pelayanannya terhadap masyarakat. Dari caranya berkomunikasi dengan mereka, kemungkinan besar ia akan menjadi seorang ibu yang juga penuh kasih selain cerdas dalam mendidik generasi penerusnya. 

Sempurna. Ia juga menjaga hijabnya sebagai seorang muslimah. Tak tampak memiliki musuh ataupun lawan yang berjibaku meskipun hanya sindiran. Sepertinya kehidupannya damai dalam kesuksesan dan pencapaian-pencapaian. Ah ya, orang tuanya masih komplit dan mendukung sekali sepak terjangnya bersama adik-adiknya. Datang dari keluarga harmonis, terdidik dengan baik, merencanakan dan menciptakan keberuntungannya sendiri (dengan ridlo Tuhan, tentu saja). Bisa dikatakan ini yang disebut dengan kesuksesan. 

Penguasaannya akan teknologi dan bahasa asing mendukung dan melancarkan langkahnya meraih banyak hal. Persinggungannya dengan berbagai warna, corak, budaya dan berbagai macam orang bahkan dari berbagai negara, tidak mencerabutnya dari akar karakter diri yang asli. Energik namun tetap santun, menguasai teknologi namun tidak kaku bahkan sangat cair. Perpaduan unik karena umumnya kita mengenal orang-orang yang canggih teknologi, tidak punya kemampuan mumpuni untuk membawa diri dalam pergaulan. 

Ia juga bisa pergi ke manapun ke berbagai belahan dunia dan sudah dilakukannya, namun selalu menyempatkan umroh untuk keseimbangan spiritualitasnya. Meski tak ia ungkapkan dengan gamblang, pastilah sisi kuat spiritualitas dalam dirinya ini yang menjadi spirit utama bagi langkah-langkahnya meraih kesuksesan. Ia diberkati dan terbimbing.

Kesuksesan yang diraihnya menginspirasi banyak orang. Dan ia tampaknya menggali terus menerus ke dalam dirinya kemampuan terbaiknya sembari meneriakkan lantang ke khalayak umum, mengenai banyak hal yang harus mulai dikerjakan oleh banyak orang. Bersama-sama. Ia meniupkan keberanian, memberikan contoh nyata bagaimana memulai, melangkah dan berinovasi. Kesuksesannya adalah juga bagaimana mensukseskan orang lain, sebanyak – banyaknya. Sebagaimana juga kesuksesannya tak mungkin lepas dari dukungan banyak pihak yang menyertai ataupun di belakangnya. Yang ia sebut namanya dan pasti juga banyak yang bahkan tak sempat ia sebutkan. 
**
“Kamu pingin seperti dia?”tanya Yudhika sesaat setelah membacahttp://www.hybridwriterpreneur.com/2016/02/membaca-adalah-investasi.html tulisan yang kukirim ke emailnya. 
YUPS!, tulisku mantap di layar monitor.
“Go ahead!” balasnya dari ym. Kami bahkan bisa menggunakan ym dan facebook chat bersamaan untuk komunikasi di satu kali duduk. Kebiasaan aneh karena seperti kutu loncat. 
“Tapi aku juga mau jadi arsitek. Aku bahkan melalui acara kabur dari rumah dulu untuk bisa mendapatkan pilihanku itu direstui ibu. Kalau aku ingin seperti Niken, bukannya aku harus ambil IT sebagai pilihan jurusan ya?” tanyaku bodoh.
“Hmmmm….” agak lama Yudhika menggumam, mungkin dia sama bodohnya dengan aku sehingga butuh waktu lama untuk menjawab.
“Mungkin tidak harus persis seperti Niken, Dew. Mungkin tidak harus bidang IT atau dunia kepenulisan. Tetap saja jadi arsitek, tapi spirit Niken yang mandiri dan menginspirasi bisa diserap. Apa iya gitu atau nggak ya?”dia balik bertanya.
“Eleuh……hahaha…” aku tahu Yudhika yang ‘maha guru’ buatku itu hanya mengetest.
“Bukannya aku seharusnya bercermin dari sosok seorang arsitek ya? Tapi Hera Armand juga seorang penulis lho, Yudh” sambungku.
“Aih..aih..kesimpulannya kayaknya kamu condong ke kepenulisannya. Niken menulis, Hera menulis. Jadi kenapa tidak jadi penulis saja?” tanya Yudhika.
“Memangnya kalau penulis menulis aja? Nggak sekolah gitu? Niken sekolah IT, Hera arsitektur” tegasku. 
“Aku pernah kuliah psikologi, pindah ke komunikasi tapi sering magangnya malah desainer grafis dan advertising. Nhah lho!” katanya mengingatkanku akan pilihan dan pengalamannya. 
“Dan jadi event organizer” tambahku menambah daftar panjang petualangan Yudhika.
**
Malam itu aku bersujud panjang.
Tuhan, pilihkan untukku saja. 
Benar juga kata pak Mario Teguh. Seseorang dengan banyak kelebihan mungkin sekali bisa menjadi seseorang yang gagal dibandingkan dengan seseorang yang memiliki kelemahan namun focus pada satu kelebihan yang bisa ia segera kerjakan.
Jadi Tuhan, mana focus yang paling tepat untukku.
**
Ada debar lirih kala kuberjalan menyusuri terakota di bawah rimbun akasia yang berderet di kanan-kirinya. Hilda dengan ramah mengajakku keliling kampusnya pagi itu. Sembari menanti pengumuman PMDK, ibu membawaku ke pesantren dekat kampus. Di sanalah aku kenal Hilda dan melakukan rute kecil. Hembusan harapan berbalut doa sepanjang langkah kecilku. Kubaui aroma kampus sembari hati berbisik, ini calon kampusku. Semoga.

Berurai air mataku di dekat kaki ibu. Aku menolak untuk sekolah kedokteran karena aku sudah jatuh cinta dengan arsitektur. Itulah pemberontakanku yang pertama. Ibu terus membujukku tapi tak berhasil. Cintaku terlalu kuat meski saat itu Ibu terus menakut-nakuti aku. Tak ada sejarah dalam keluarga besar kami, ada yang menjadi arsitek. Kami ada di kota kecil jadi arsitektur mungkin tidak berguna dan seterusnya.

Karena aku bersikukuh, hingga pelarianku itu terjadi. akhirnya ibu menyerah melihatku mencontreng pilihan arsitektur pada formulir PMDK ke universitas ternama di Semarang. 
“Ya sudah. Semoga diterima,” ujar ibu,semoga tulus.
Malam-malam Ramadhan terutama sepuluh hari terakhirnya menjadi saksi atas kemauanku yang keras ini. Dengan garis bawah di sana, aku akan melanjutkan misi dakwahku selama ini sampai ke kampus yang kuimpikan itu. 

Suatu senja saat melewati jalan dekat pasar, kutemukan sebuah gambar desain masjid. Untuk pertama kalinya aku memegang blue print. Meski sudah lecek karena sebenarnya itu sampah, aku merapikannya kembali dan menempelkannya di pintu kamarku. Di bagian tengah bawahnya kububuhkan impianku. Kutulis, bismillah arsitektur Undip. Kembali saat-saat mendebarkan dan doa melangit bersamaan. 
“Wah. Selamat ya.”
Semua teman memberikan selamat setelah tersebar kabar diriku diterima PMDK di jurusan yang kugandrungi.
“Eih. Jangan terlalu gembira dulu. Belum tentu juga lulus SMA-nya” teman-temanku menggoda. 
Yudhika apalagi, dia paling senang mendengar suara risauku. Membaca note dan status – status gelisahku. Jadi dia juga membakar gelisahku via maya. Ugh!

Memang pengumuman PMDK itu datang sebelum pengumuman kelulusan. Meski aku selalu rangking satu, digembosi demikian ternyata membuatku risau. Ah, lagi-lagi doa dipanjatkan. Karena kuyakin semua nikmat itu karuniaNya, termasuk kelulusan. Alhamdulillah, aku lulus dengan NEM tertinggi sekabupaten. Langkahku lapang menuju kampus idaman. 

“Akhirnya kamu memilih kan?” retorika Yudhika menyudutkanku.
“Tuhan memilihkannya untukku. Aku memintaNya melakukannya untukku” debatku seru. Senang sekali bersilat lidah dengan Yudhika. Dia salah satu hiburanku yang nyata, meski hanya bisa bertemu di dunia maya. 
**
Tangan kecilku membuat coretan di tanah dengan kayu, mirip sketsa gambar denah ruang- ruang dalam rumah yang sedang dibangun, yang menaungi seorang Dewi kecil. Ibu dengan seluruh pengorbanannya mencoba mewujudkan mimpi dan rengekanku akan sebuah rumah sendiri. Bukan rumah bersama eyang atau kost bersama banyak orang.
** 
“Jadi sekarang akur sama ibumu dong?! Rumah es itu akhirnya mencair” dia mengkorek sesuatu dariku lebih jauh. 
Kalau saja dia melihat wajahku bersungut-sungut, Yudhika mungkin tidak kuasa melanjutkan ledekannya. Aku tidak pernah menangis, tidak juga berkaca-kaca. Hanya perih.
**
Perih sekali. Aku tak mau menyebut namanya. Lelaki yang seharusnya melindungiku, memasukkan sebuah pensil ke sebuah lubang dari bagian tubuhku yang seharusnya dilindungi. Ibu melihatku. Aku yakin. Beliau baru saja pulang kantor dan menyaksikan lelaki itu menindihku di kamar depan. 
Tapi tidak ada yang dilakukan beliau. Lelaki itu bebas. Aku yang tercengkram trauma. Sepanjang hidupku. 
**
“Menulis akan menyembuhkan luka,” entah dari mana aku mendengar atau membacanya. Lalu aku menulis, menulis, menulis. 
“Alangkah bijaksananya jika seseorang bisa memaafkan kesalahan orang lain,” entah dari mana aku mendengar atau membacanya. Lalu aku berusaha memaafkan, berusaha melupakan. Menjadi seorang santun dan santri, meski menahan sekam di dalam dada. Sulitnya membakar dan mengabukan trauma. 
**
Lalu aku mengenal maya. Aku bisa jadi siapa saja yang kuinginkan di sana. Aku bisa meneriakkan apa saja. Tanpa ibu, eyang, oom, tante, pakdhe, budhe, saudara-saudaraku tahu. Aku bisa menjadi alim di satu akun. Aku bisa menjadi liar di akun lainnya. Aku bisa menggeliatkan sastra di akun lainnya lagi. Aku bisa mengeksplorasi ide dan mimpi arsitekturku di akun lainnya lain. Paradoks entah yang keberapa. 
Duniaku menjadi tak terbatas. Lalu aku mengenal Niken, yang menjadi dirinya sendiri meski malang melintang di dunia maya. 
Dan mengenal Yudhika, sesama petualang yang terus mengembangkan resah demi menemukan keresahan-keresahan baru. Tapi dia hanya punya satu akun. 
“Jadi aku terhindar dari multiple personality,” sindirnya. 
“Oh ya..iya..” jawabku tersindir. 
Dan dia mengasihi ibunya meski belum sempat mengenalnya. Dia tumbuh menjadi seorang yang kuat dan kokoh kepribadiannya justru karena keluarganya berantakan dan meninggalkannya tumbuh sendirian.
Aku?
Well groomed, terawat dengan baik. Tapi pingitan. 
Alim, santri dan santun. Tapi meledak-ledak di dalam.
**
“Dewi ya?” tidak menyangka jika akhirnya bertemu muka dengan Niken dan dia mengenaliku. Surprise juga.
“Iya. Bagaimana Niken tahu?’ tanyaku balik.
“Nih!” ia menarik mesra tangan seorang pria. Aku mengenalnya. Ada foto profilnya kusimpan di laptopku. Aku mengambil itu dari album foto facebook-nya.
“Dewi ya?” tanyanya menggoda. 
Aku tidak tahu persis seperti apa raut wajahku. Tapi jelas terlintas di kepalaku, adegan dalam cerpen Julian-teman arsitek Avianti Armand yang juga seorang penulis- adegan seorang wanita yang membeli sebuah almari untuk menyimpan kekasihnya. 
Harusnya Yudhika tahu. Harusnya Yudhika tahu. Harusnya Yudhika tahu.
Aku bukan remaja biasa.http://www.hybridwriterpreneur.com/2016/02/membaca-adalah-investasi.html