Ngemil Baca The Lady In Red


Ngemil Baca The Lady In Red
Review by Dian Nafi



Senang sekali saat ada kurir menekan bel rumah dan mengantarkan novel terbaru terbitan Gramedia Pustaka Utama berjudul The Lady In Red ini. Dikirim langsung oleh Arleen, sang penulisnya, sehingga ada tangannya juga dalam novel ini. Covernya keren sekali, perpaduan hitam dengan merah. Bagian siluet wajah perempuannya dibuat flip bisa digunakan sebagai pembatas buku, meski ada juga pembatas bukunya lagi yang asli. 
Kebetulan sekali aku baru saja menyelesaikan Queen Of Dreams yang ditulis Divakaruni (terbitan Gramedia Pustaka Utama juga) Ternyata pertemuan  dan  pertentangan timur barat sebagaimana di #QOD (india) ternyata juga menjadi tema di #TheLadyInRed Kalau di #TLIR  ini karakternya memiliki darah asal keturunan Tiongkok.
Kesan pertama aku langsung jatuh hati. Kayak membaca terjemahan ya, cara penceritaannya itu lho. Apalagi settingnya juga di Amerika. Mengalir dengan hook-hook di akhir bab-babnya. Humor touch makes it fresh. Misal bagaimana sang ayah musti menggunakan skateboard untuk bisa mengikuti petunjuk feng shui dan semacamnya yang mensyaratkan seseorang harus berjalan ke arah barat dulu pada hari tertentu saat mau kerja, padahal rumah mereka menghadap timur. Ahaha. Lucu banget dan kreatif. Di beberapa tempat, bahkan penulisnya menceritakan sesuatu yang lucu tapi seolah-olah dia menyampaikannya dengan tidak tertawa, polos gitu. Menjadikannya semakin menggelitik.
Karakter-karakter ditampilkan di awal, dengan latar belakang, sifat, hobi, habit, fear, goal, dream.  Lalu kita bisa menemukan kalimat-kalimat pendek yang tertulis di cover belakangnya itu di dalam paragraph dalam cerita. Kemudian tahu-tahu kita jadi kenal banget dengan tokoh-tokoh ini, menaruh simpati pada mereka. When Betty dan Robert crush each other, we can feel love in the air.
Sedari awal kita langsung bisa menebak konflik yang akan terjadi, antara budaya timur dan barat. Tapi tak membuat kita terhenti, karena penasaran akan seperti apa detailnya. Apalagi ada banyak quote-quote yang terasa kena di hati. Ini di antaranya:
Terkadang dalam diam ada lebih banyak yang kau dengar dan mengerti, terutama jika mengetahui bahwa dengan dirinya berada di sana saja, itu sudah cukup bagimu.

Pacing-nya juga pas, ada yang lambat, cepat, sesuai kebutuhan. Sehingga tidak berkesan membosankan. Gimmick-gimmick menjadi benang merah dan membuatnya real, nyata dan connect, terhubung.
Bety dan Robert di wotton farm, Jery dan Wanda di Stephen farm. Ada interlude sebelum masuk cerita yang utama. Ada tips-tips gaet pasangan diselipkan di sini.
Ada pohon keluarga berikut ktrgnnya,membuat kita lebih mudah memahami hbgn antar karakter.Antar cucu buyut ini cerita terangkai, dan ada serigala.
Greg, cucu buyut burk si pelayan dan  rhonda, cucu buyut betty, menjadi tokoh sentral. Cinta antar kasta berbeda. Tema klise tapi apik eksekusinya
Interlude lagi, si topi merah menjadi metafora #TLIR justru membuat kita bertanya-tanya dan penasaran, apa maksudnya, gimana kelanjutan ceritanya, ada apa setelah ini?
Hidden feeling, rasa cinta yang rhonda dan Greg sembunyikan dalam diri masing-masing, pengharapan-pengharapan kosongnya jadi mengingatkan kita pada AADC deh:D
Kadang-kadang cerita suka di-cut alias dipotong di tengah jalan, dibelokkan. sehingga bikin penasaran, ada apa sih. Contohnya saat sempat menyinggung tentang Peter ex pacar rhonda di high school, tapi tidak langsung dibahas karena saat itu Rhonda lagi concern mau ke acara pameran lukisannya.
Interlude si topi merah itu bikin kita menebak-nebak terus kira-kira di manakah rhonda akan tersesat. Mungkin ini nih, gitu pikiran kita pas menemukan sesuatu yang mencurigakan. Pas  ternyata bukan dan kemudian Rhonda baik-baik saja, kita curiga lagi di adegan berikutnya, mungkin ini nih dan seterusnya.
Alur flashback membawa kita memahami alas an-alasan atas apa yang terjadi. Dengan twist-twistnya yang boleh jadi klise tapi tetap menarik karena gaya penceritaan yang bagus
Detailnya TLIR itu lho yang jempol banget. Misal nih, meskipun hanya satu galery yang jadi setting cerita, tapi gallery-galery lain yang ada dan berikut lokasinya dijelaskan secara singkat to convince that it's real.
Aku langsung menebak-nebak mungkin Brandon yang belakangan rhonda kenal adalah cucu buyut serigala yang pernah dibocorkan sedikit di interlude depan tadi. Apa tuh istilahnya? Procrastinating ya?
Apalagi waktu Brandon menggunakan strategi sama yang digunakan oleh Kakek buyutnya Fredy untuk menjebak wanita. However mungkin akan ada twist, begitu dugaanku.
Pengetahuan tentang detail peternakan,seni lukis,dunia saham menjadikan cerita ini punya kedalaman, keluasan. Detail-detailnya menambah banyak wawasan baru
Kematian Henry makin mengarahkan kita mencurigai Brandon sebagai serigala yang hendak menuntut balas itu. Interlude berikutnya tentang pemotong kayu.
Berbagai pertemuan yang seperti kebetulan tapi membawa Greg pd kesadaran-kesadaran tampaknya dirancang sedemikian rupa sehingga plausibel. Pertemuan dengan Peter, pihak Bank dan seterusnya
Kekuatan #TLIR ada pada gaya penceritaan, plausibel, dan juga detail-detailnya. Termasuk tentang liquid x yang dipakai untuk meracun Henry dan Nana. Ah ya, caranya menyampaikan pesan dan hikmah juga sangat implicit dan instrinsik sehingga sama sekali tidak terasa menggurui. Antara lain bahwa  dendam bisa sedemikian sangat mengerikannya.
Cerita ditutup dengan adegan saat Rhonda bercerita pada anak-anaknya tentang si topi merah, yang oleh karena permintaan mereka, dia modifikasi dengan hadirnya spiderman. Mungkin untuk menunjukkan keberadaan cerita itu benar di masa kini.
Most of all, this is such a good story. Bravo!


#NgemilBaca Queen Of Dreams by Divakaruni

#NgemilBaca Queen Of Dreams by Divakaruni



 novel jd mengingat2 kpn terakhir kali mimpi yg jelas,&mimpi ttg apa.Grateful that maybe i also hv that blessing and talent

Perempuan dari 3 generasi yg bertarung dg masalah,trauma,ketakutan&kekhawatirannya msg2, dihubungkn o/ talent bermimpi&menafsirknnya

Sblmnya rakhi menyangka bencana2 dlm hdpnya tjd sebab ketidakpedulian,sampai kemudian bencana kebkrn di kafe mengubah pandangannya tsb dan.

mengakui bhw alm ibunya benar saat mengatakan bhw malapetaka tjd agar kita bisa mengerti kepedulian

Main plot:rakhi yg jd bs bermimpi selepas ibunya 'pergi' Subplot:perceraian rakhi&Sonny,hubungan dg anaknya/Jona,bisnis kafe,

Disajikan bergantian antara jurnal mimpi sang ibu dg khdpn rakhi yg diceritakan kdg dlm pov 1, kdg pov 3

Midpoint tjd saat rakhi menemukn jurnal2 alm ibunya,yg disajikan bergantian dg ingatannya ktk ia berada di malam naas dg Sonny di klab

Kita dibuat penasarn dg bbrp misteri(shg ada byk kejutan)terutama ttg lelaki berbaju putih yg ada pd first image saat cerita ini dibuka

Feel related,krn hubgn cinta-benci antara orgtua-anak, suami-istri,juga kita alami. Saat rakhi akhirnya paham ibu&ayahnya,kita pun

Benang merah kdg sikap org2 dekat (ayah ibu, pasangan) yg seolah tdk memedulikan sebnrnya mrpkn cara mrk utk melindungi&mencintai.

Sense laps skill sgt terasa,hampir ada di setiap halaman sy highlight utk mudah dibaca lagi&belajar atau kutip as referensi

Kosong Dalam Kosong

Kosong Dalam Kosong


Kembali ke rumah, pulang, menemui lagi orang-orang yang berhati lembut, berjiwa baik dan tak kenal lelah melayani serta membahagiakan banyak orang. Betapa menakjubkan, bahwa di dalam rumah itu ada banyak sekali bahu yang bisa dibuat bersandar. Meski ada tanda tanya sempat mampir di kepala karena tak sempat melihat sang kepala suku, tapi tubuh terus beredar dari pojok ke pojok. Menyerap banyak energi yang tersaji di hampir semua sudut.

Sejak datang langsung bertemu sang ratu yang langsung tersipu ketika dipanggil bu Nyai. Menyerap kehangatan kembar. Dan terkejut oleh sapaan sang penakluk Rinjani. Saling mentransfer energi dengan deretan para punggawa yang semakin kompak dan terasa kekeluargannya. Lalu sempat tertahan si tomboy yang penasaran karena kehilangan sedikit ingatannya.

Datang terlambat ternyata membuatnya ketinggalan hal yang mungkin terpenting tahun ini. Tapi mungkin juga keberuntungannya, karena ia jadi tak sempat melow.

Menyimak tutur penyair dan keponakannya dari tanah Bugis, sampai si pemilik senja yang mengajak semua untuk bermain-main saja, memanjakan imajinasi.

Senandung penakluk rinjani hampir saja membuatnya larut, tapi ia tak ingin amygdala-nya dibajak lagi, jadi ia sebisa mungkin tetap menjejakkan diri pada ruang dan waktu dengan cara mengalihkan perhatian.

Semua menjadi berubah warna, ketika di penghujung waktu baru ia dengar kabar itu. Tentang tuan rumah yang entah. Lalu tanda tanya berubah menjadi lebih besar, tapi tak ia temukan jawabnya.

And guess what? Pada suatu waktu lalu, sebenarnya sempat kepikiran bahwa akan ada sesuatu yang terjadi. Sesuatu. Entahlah. Akhirnya hanya bisa mengiringi dengan doa bahwa semua akan baik-baik saja. Aamiin.







World Book Day

World Book Day

Nggak terasa setahun berlalu dengan cepat. tahu-tahu sudah sampai pada hari buku internasional lagi. Bertepatan dengan hari buku ini, apa buku yang sedang kamu baca akhir-akhir ini?

Kalau di mejaku sekarang, ada novel Queen of dreams by Divakaruni, seorang novelis best seller.

Oh ya, gimana ceritanya World Book Day ini ada? Ini nih kisahnya, cekidot

Perayaan Hari Buku ini diorganisir pertama kali oleh Badan PBB untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Budaya (UNESCO) di tahun 1995.

World Book Day yang dirancang oleh UNESCO adalah sebuah perayaan buku dan literasi yang diadakan setiap tahun di seluruh dunia. Indonesia pertama kali melaksanakannya di tahun 2006 dengan prakarsa Forum Indonesia Membaca yang didukung oleh berbagai pihak, baik itu pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas dan masyarakat umum. Pada awalnya adalah bagian dari perayaan Hari Saint George di wilayah Katalonia sejak abad pertengahan dimana para pria memberikan mawar kepada kekasihnya. Namun sejak tahun 1923 para pedagang buku memengaruhi tradisi ini untuk menghormati Miguel de Cervantes, seorang pengarang yang meninggal dunia pada 23 April.
Hingga itu sejak tahun 1925 para perempuan memberikan sebuah buku sebagai pengganti mawar yang diterimanya. Pada masa itu lebih dari 400.000 buku terjual dan ditukarkan dengan 4 juta mawar. Pada tahun 1995, Konferensi Umum UNESCO di Paris memutuskan tanggal 23 April sebagai World Book Day berdasar keberadaan Festival Katalonia serta pada tanggal tersebut, Shakespeare, Cervantes, Inca Garcilaso de la Vega dan Josep Pla meninggal dunia sedangkan Maurice Druon, Vladimir Nabokov, Manuel Mejía Vallejo and Halldór Laxness dilahirkan. Walaupun pada kasus Shakespeare dan Cervantes ada sedikit perbedaan karena masing–masing meninggal dihitung dengan sistem kalender yang berbeda dimana pada masa itu Inggris masih mempergunakan sistem Kalender Julian sedangkan Katalonia mempergunakan sistem Kalender Gregorian. Perayaan ini merupakan bentuk penghargaan dan kemitraan antara pengarang, penerbit, distributor, organisasi perbukuan serta komunitas–komunitas yang semuanya bekerja sama mempromosikan buku dan literasi sebagai bentuk pengayaan diri dan meningkatkan nilai–nilai sosial budaya kemanusiaan.

Diskusi Parenting Di Gedung Bina Praja


Diskusi Parenting Di Gedung Bina Praja


Menjadi orang tua ternyata peran yang tidak mudah dijalani. Dulu sewaktu kita akan menikah, kebanyakan mungkin tidak akan membayangkan betapa sulitnya peran yang akan kita emban ini. Seiring perjalanan kita membersamai anak-anak, barulah terasa bahwa bekal parenting kita mungkin sekali kurang. 

Oleh karena itu tiap kali mendapat kesempatan dan peluang untuk menambah ilmu dan ketrampilan skill parenting, aku juga selalu antusias. Termasuk ketika mendapat undangan dari GOW beberapa waktu lalu. 

Kali ini pembicaranya adalah putra daerah yang sudah pernah belajar di Australia dan tinggal di sana bersama keluarganya beberapa tahun. 

Satu lagi nara sumbernya adalah teman akrab ibuku sendiri, Yang karena usia dan senioritasnya, membuat beliau memiliki kapasitas dan kepantasan duduk di depan audience dari berbagai organisasi, lembaga dan institusi ini.  Utamanya karena beliau telah membuktikan bahwa kelima putra putrinya kini telah berhasil menjadi orang sukses, baik ditinjau dari segi kemapanan, finansial, status sosial, intelektualitas maupun relijiusitas. 

Poin-poin yang paling tertangkap meskipun kelihatannya klise antara lain perlunya orang tua memberikan perhatian penuh pada kesehatan mental serta pengembangan jiwanya. Pendekatan yang penuh kasih sayang akan lebih efektif dibandingkan jika kita emosional dan terlalu menggunakan logika serta cara-cara yang terlalu teknik. 

Intinya parenting itu juga butuh seni. 




Kebahagiaan Memberi



Kebahagiaan Memberi

Hari ini ketika peringatan hari Kartini datang lagi. Aku teringat akan ibu NH. Dini. Tak ayal lagi beliau adalah salah satu Kartini masa kini. Bagaimana tidak? Di usianya yang sekarang lebih dari delapan puluh tahun,  beliau masih sehat, semangat dan terus berkarya. 

Saat berjumpa dalam peringatan ulang tahunnya yang ke-80 pada beberapa waktu lalu, kelihatan  sekali energi beliau masih besar. Dan kata-kata serta kalimat-kalimatnya lantang. Bahwa semua yang beliau lakukan adalah wujud dari  hasratnya untuk terus berbagi. Karena beliau mendapatkan kebahagiaan saat memberi. 

Aku jadi teringat pada ujaran kakak iparku suatu ketika. Saat itu kami membincangkan adik perempuanku yang dengan sabar membimbing salah satu muridnya di sekolah yang mengalami dislexia dan semacamnya. Secara privat, adikku mengajarinya di rumah kami, tanpa bayaran. Kata kakak iparku, sikap dan sifat dermawan serta tulus adikku inilah yang akan membawa keberuntungan baginya. Suatu saat dia akan bisa menjadi orang besar. 

Memang kalau dilihat dengan seksama, orang-orang besar yang ada sejak dulu sampai kini pun adalah mereka yang berjiwa besar, dermawan, tulus dan suka berbagi. Sebab semakin bahagia mereka setelah memberi, makin besar energinya. Dan lagi makin banyak orang mendoakan karena berhutang kebaikan kepadanya. 

Semoga kita menjadi orang yang demikian ini. Meski mungkin  perjuangan, pengorbanan dan tantangannya akan berat karena melawan egoisme, nafsu, apriori, prasangka dll. Semoga kebahagiaan memberi  juga akan menjadi bagian dari diri kita. Aamiin. 


Jika Dua Maestro Bersua


Jika Dua Maestro Bertemu


Siapa yang tidak kenal pak Ahmad Tohari? Siapa yang tak kenal pak Taufik Ismail?

Bagaimana rasanya jika bersua kedua maestro tersebut dalam satu sesi?

Yups, it so wonderful. Dan yang lebih mengesankan adalah saat tak sengaja menemukan momen ketika dua maestro ini bertemu. Saat saya juga hadir dalam Malam Sastra Sedekah Budaya bersama teman-teman penulis dan sastrawan lainnya.


Kedua sastrawan gaek ini meskipun sama-sama senior dan kharismatik tapi sama-sama tetap bersahaja. Sebuah paduan antara prestasi dan  attitude yang sangat indah dan menginspirasi. 

Inilah contoh-contoh  bagaimana semakin hebat, justru semakin tawadlu, rendah hati. Menghargai orang lain, respek dan penuh cinta.  Semakin tinggi, justru semakin merendah. Low profile. 

Pak Ahmad Tohari tak ayal merupakan salah satu pengarang favorit saya dan kalimat-kalimat langsung beliau kepada saya pulalah waktu di Jogja dulu yang  menggetarkan dan menggelorakan semangat saya untuk terus menulis dan mewujudkan harapannya. 

Momen itu terus saya ingat sebagai salah satu pelecut agar tak kendor di jalan kepenulisan ini. 

Sedangkan siapa yang tak kenal dengan pak Taufik Ismail. Kami sekeluarga di rumah menikmati karya-karya gubahannya yang dimusikalisasi oleh  grup musik Bimbo. Rasa ketuhanan, relijiusitas sedemikian kental dan terasa sampai ke sungsum  tulang. Membawa kita, para pendengar dan penikmatnya ini, menjadi trans. 

Subhanallah. Betapa indahnya jika sebuah tulisan bisa menjadi jalan tasawuf bagi penulisnya sendiri maupun penikmatnya. 




Teknik Meraih Simpati

Teknik Meraih Simpati

Ada dua postingan dari dua teman yang berbeda, dishare dalam  media yang berbeda, yang cukup menggelitikku untuk menuliskan ini. Yang ternyata jika memutar lagi memori di kepala, aku juga pernah menemukan fenomena ini di beberapa kesempatan lalu. orang-orang yang berbeda lagi.

Entah sengaja atau tidak, atau justru karena mereka tahu strategi mereka itu akan berhasil, jadi mereka mengungkapkan kepedihan/kesedihan/kemalangan mereka dulu sebelum akhirnya membagikan kabar bahagianya. Dus, demikianlah  kemudian mereka meraih simpati dan pujian.

Meskipun sekarang jadi lebih memahami ternyata begitu salah satu tekniknya, namun sepertinya diri tidak tergoda untuk mencoba memakainya. Karena di sana pun ada banyak orang yang biasa dan sederhana saja menyampaikan kabar bahagia/gembiranya tanpa musti didahului dengan prolog untuk bisa meraih lebih banyak simpati.

Hmmm...atau mungkin kapan-kapan coba ya? Test ombak aja gitu. Pengen tahu apakah teori/simpulan ini benar bisa bekerja dengan baik atau tidak.
Hehe


Dari Makasar Untuk Negeri Dan Dunia

Dari Makasar Untuk Negeri Dan Dunia

Kalau diminta menyebutkan daerah yang paling ingin saya kunjungi, salah satu jawabannya adalah Makasar. Bagaimana tidak? Dari daerah eksotis ini telah lahir banyak tokoh di negeri ini. Yang tidak saja menjadi pemimpin nasional macam pak Jusuf Kalla, tetapi juga terkenal seantero dunia macam pak BJ Habibie. 


Di Makasar inilah sebuah universitas telah berdiri selama puluhan tahun. 11 Juni mendatang Universitas Hasanuddin aka UNHAS ini akan merayakan ulang tahunnya yang ke-60. Wow! Sebuah pencapaian yang sangat luar biasa.
Tak ayal lagi UNHAS selalu menjadi pilihan para calon mahasiswa daerah dan luar daerah dan terus berupaya untuk menjadi universitas terbaik bagi masyarakat.

Usaha yang tak kenal lelah ini terbayar ketika pada 22 Juli 2015 Universitas Hasanuddin telah ditetapkan oleh Presiden RI menjadi Perguruan Tinggi Badan Hukum (disingkat PTNBH).
UNHAS kini memiliki entitas hukum mandiri, meski masih dalam lingkup Kemendikbud. PTNBH memiliki otonomi yang lebih besar dalam mengelola organisasi dan dalam proses pengelolaan keuangan. Juga memiliki kewenangan mandiri baik akademik maupun non akademik. 


Dengan kedudukan baru ini UNHAS bisa semakin  membawa para mahasiswanya untuk  memiliki kemampuan yang adaptif dan lentur/luwes, mempunyai kemampuan belajar sepanjang hayat, kritis, inovatif, kreatif dan mampu bekerja sama. Jika di tinjau dari maksud PTN-BH sendiri, para mahasiswa, calon lulusan, dan alumni UNHAS harus berbangga. Karena perguruan tinggi yang ia miliki mampu mendapatkan gelar sebagai Universitas berbadan hukum. Yang mana saran dan inovasi dari mahasiswa, alumni, maupun dosen, dapat dijadikan sebagai kurikulum di universitas tersebut .

Prestasi  Universitas Hasanudin atau UNHAS antara lain adalah  memberikan fasilitas terbaik bagi para mahasiswa dalam proses mengajar baik dari akademik ataupun non akademik. UNHAS juga menyiapkan lulusan yang unggul dalam bidangnya, dan salah satu tujuan utama adalah sebagai Pusat Unggulan Dalam Pengembangan Insani, ini artinya menjadikan manusia yang unggul dalam segala bidang yang ditekuni.

Ketangguhan dan  kesiapan alumni UNHAS ini jelas dibutuhkan dalam era MEA atau Masyarakat Ekonomi Asean sekarang ini. 

Dengan adanya MEA, semua orang yang ada dalam lingkup ASEAN dapat dengan bebas memilih pekerjaan di bidang keahliannya, jadi lapangan pekerjaan semakin luas tidak untuk negara sendiri tetapi untuk negara lain juga. Akan banyak peluang pekerjaan baru yang akan bisa dikerjakan. Namun tentu saja   harus berani bersaing dengan orang-orang luar negeri untuk mendapatkan pekerjaan tersebut, Jika alumni UNHAS tidak memiliki keahlian yang lebih unggul maka tidak akan mampu bersaing dengan pekerja dari negara lain.

So, meskipun UNHAS telah mengupayakan sedemikian rupa agar keunggulan bisa dimiliki para mahasiswanya, para alumni musti tetap menjaga kualitasnya. Tingkatkan skill, ketrampilan dan kemampuan. Terus kreatif dan inovatif serta mampu melakukan terobosan-terobosan.

Alumni semestinya selalu membawa nama baik universitasnya dan terus menjadi pembelajar yang tak kenal lelah. Membuka peluang usaha dan menciptakan lapangan pekerjaan tentulah  akan menjadi salah satu pilihan yang baik bagi alumni. Sehingga dia tidak terpaku harus menjadi pegawai atau karyawan saja, tetapi lebih daripada itu.

Selamat ulang tahun Universitas Hasanudin ! Semoga terus menghasilkan para alumni yang mumpuni dan bersama  IKA UNHAS memenangkan persaingan di era MEA serta terus  mengharumkan nama Indonesia dikancah Internasional. 

Proses Kreatif Penulisan Novel H

Proses Kreatif Penulisan Novel H


Terguncang oleh sebuah kejadian yang membuat sedikit gempar lingkungan terdekat, saya jadi terinspirasi untuk menuliskannya. Dalam rangka memotret, mengamati, mengkritik, juga mencari tahu apa yang keliru dan kemungkinan-kemungkinan perbaikannya.

Penulisannya lumayan cepat karena bahan-bahannya ada di sekitar, sebagian sudah mengendap lama dalam pikiran saya. Sehingga seperti yang banyak mentor/guru sampaikan, kehamilan karya itu tinggal menunggu lahirannya saja. Atau kalau kata Ray Bradburry yang menulis Fahrenheit 541, kisah itu menuliskan dan menyelesaikan dirinya sendiri.

Semuanya mengalir setelah saya membuat plotnya dan di beberapa bagian saya dikejutkan oleh twist-nya sendiri yang tercipta karena saya membiarkan karakternya bermain, berbicara dan menentukan sendiri lakon dan perjalanannya.

Alhamdulillah sebuah penerbit menerima naskah ini dan insya Allah sedang dalam penggodokan. Doakan prosesnya lancar hingga segera sampai ke tangan teman-teman pembaca sekalian.

Bercerita tentang benturan tradisi lama yang berbenturan dengan jiwa pemberontakan yang menginginkan gaya baru, semoga cerita ini menginspirasi.




Dengan Prinsip Gotong Royong, BPJS Sehatkan Indonesia

Dengan Prinsip Gotong Royong, BPJS Sehatkan Indonesia


Sore  ini selepas hadir di opening beauty clinique dan Singapura Seru Bareng Travel Fair di Paragon Mall, aku meluncur ke Noormans Hotel untuk live broadcast dan talk show BPJS Kesehatan.  Acara sore ini disiarkan langsung via  radio Trax FM Semarang. Ruangan Restoran De Combrang yang ada di bagian paling depan bangunan hotel Noormans ini pun full penuh audience yang siap menyimak sembari menikmati kopi dan cemilan lezat. 







Dalam kesempatan ini BPJS Kesehatan menyampaikan pentingnya serta manfaat dan benefit jika kita ikut JKN. Dan sekaligus juga melakukan sosialisasi PP No. 19 tahun 2016 yang merevisi jumlah iuran dalam rangka memberikan pelayanan yang lebih baik bagi masyarakat. 

BENEFIT

Beberapa manfaat bagi masyarakat yang sudah memegang kartu BPJS Kesehatan antara lain bisa berobat gratis di klinik atau rumah sakit yang  sudah bekerjasama dengan BPJS Kesehatan. 
Sistem rujukan pelayanan kesehatan dilaksanakan secara berjenjang sesuai dengan kebutuhan medis. Pada pelayanan kesehatan tingkat pertama, peserta program BPJS Kesehatan dapat berobat ke fasilitas kesehatan primer seperti puskesmas, klinik, atau dokter keluarga.
Apabila pasien memerlukan pelayanan lanjutan oleh dokter spesialis, maka peserta dapat dirujuk ke fasilitas kesehatan tingkat kedua atau fasilitas kesehatan sekunder. Pelayanan kesehatan di tingkat kedua hanya bisa diberikan jika peserta BPJS Kesehatan mendapat rujukan dari pelayanan kesehatan tingkat pertama.


SUBSIDI  PEMERINTAH
Semua rakyat miskin Penerima Bantuan Iuran (PBI) ditanggung kesehatannya oleh pemerintah. Sehingga tidak ada alasan lagi bagi rakyat miskin untuk memeriksakan penyakitnya ke fasilitas kesehatan.
Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan itu sendiri sebelumnya merupakan perusahaan asuransi yang dikenal sebagai PT Askes.  Sesuai Undang-undang Nomor 40/  2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN).

Dengan adanya JKN, maka seluruh masyarakat Indonesia akan dijamin kesehatannya. Kepesertaan juga  wajib, tidak terkecuali masyarakat tidak mampu karena metode pembiayaan kesehatan individu yang ditanggung pemerintah.

IURAN
Karyawan, PNS, TNI/POLRI, pedagang, investor, pemilik usaha atau perusahaan atau pihak yang bukan Penerima Bantuan Iuran juga wajib ikut program BPJS Kesehatan sebagaimana aturan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Pusat.

Adapun Iuran Jaminan Kesehatan bagi peserta Pekerja Penerima Upah (PNS, Anggota TNI/POLRI, Pejabat Negara, Pegawai pemerintah non pegawai negeri dan pegawai swasta) dibayar oleh Pemberi Kerja yang dipotong langsung dari gaji bulanan yang diterimanya. 
Sementara iuran kesehatan bagi Pekerja Bukan Penerima Upah (pekerja di luar hubungan kerja atau pekerja mandiri) dan Peserta bukan Pekerja (investor, perusahaan, penerima pensiun, veteran, perintis kemerdekaan, janda, duda, anak yatim piatu dari veteran atau perintis kemerdekaan) dibayar oleh Peserta yang bersangkutan. 

CARA IKUTAN BPJS

Pembayaran iuran dilakukan paling lambat tanggal 10 setiap bulan dan apabila ada keterlambatan dikenakan denda administratif sebesar 2 persen dari total iuran yang tertunggak paling banyak untuk waktu 3 (tiga) bulan

Utuk mendaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan tidak sulit. Masyarakat bisa datang ke kantor BPJS Kesehatan dengan membawa persyaratan, foto kopy KTP, KK dan pas foto 3X 4 warna sebanyak dua lembar. Kemudian mengisi formulir pendaftaran selanjutnya melakukan pembayaran premi.
Peserta  akan diberikan virtual account atau kode bank untuk pembayaran premi pertama yang bisa dilakukan melalui ATM atau bank terdekat yang sudah bekerjasama yaitu bank BRI, BNI dan Mandiri.
Setelah membayar premi, nantinya peserta  akan mendapat kartu BPJS Kesehatan yang menjadi bukti kepesertaan  JKN. Jika sebelumnya pemegang kartu BPJS Kesehatan langsung ditanggung berobat, sekarang tak demikian, harus tujuh hari.


SISTEM GOTONG ROYONG
Dua nara sumber talkshow sore ini menegaskan bahwa JKN dan BPJS Kesehatan ini sistemnya gotong royong. Mereka yang mampu akan bisa berkontribusi terhadap kesehatan rakyat yang kurang mampu. Dengan demikian, sudah semestinya kita tergerak untuk turut ambil bagian dalam BPJS ini demi Indonesia yang lebih sehat. 


ref: http://www.bpjs-kesehatan.go.id/bpjs/index.php/post/read/2014/285/BPJS-Kesehatan-Sosialisasikan-Manfaat-JKN/berita

Dialog Lintas Iman Dan Ekspedisi Islam Nusantara

Dialog Lintas Iman Dan Ekspedisi Islam Nusantara 




Alhamdulillah pada hari Selasa kemarin 6 April saya berkesempatan menghadiri undangan Dialog Lintas Iman yang diselenggarakan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dengan Pemda. 

Acara ini merupakan salah satu  bagian dari rangkaian Ekspedisi Islam Nusantara yang digelar di 40 kota kabupaten dan 20 Propinsi di Indonesia. 

Dialog Lintas Iman saat itu yang saya kultwit-kan, bisa teman-teman baca versi chirpstory-nya di sini:  http://chirpstory.com/li/310389


Kegiatan Ekspedisi Islam Nusantara yang diselenggarakan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama tersebut dilakukan selama dua bulan di puluhan tempat dari Aceh sampai Papua. Rute Ekspedisi Islam Nusantara tersebut meliputi Pulau Jawa, adalah Cirebon, Semarang, Demak, Kudus, Rembang, Tuban, Lamongan, Gresik, Surabaya, Lumajang, Jombang, Mojokerto, Kediri, Nganjuk, Yogyakarta, Tasikmalaya, dan Serang.
Kemudian Ekspedisi Islam Nusantara akan bertolak ke Pulau Sumatera yaitu ke Aceh, Medan, Langkat, Siak, Indragiri, Pariaman, Padangpanjang, Palembang. Lalu ke pulau Kalimantan dengan tujuan Kutaikartanegara dan Banjarmasin. Setelah itu ke Pulau Sulawesi, yakni ke Makassar, Gowa, Gorontalo, Manado.
Selanjutnya ke Maluku dengan tujuan Ternate, dan Tidore dilanjutkan ke Nusa Tanggara Barat dengan tujuan Lombok. Kemudian perjalanan terakhir ke Indonesia paling timur, yaitu Sorong dan Raja Ampat.






Ekspedisi Islam Nusantara ini melibatkan 30 orang yang dipimpin Wakil Sekretaris Jenderal PBNU. Tim tersebut terdiri dari wartawan media cetak, online, dan televisi, serta fotografer dan tim penulis khusus untuk kepentingan penyusunan buku.
Di tempat-tempat yang dikunjungi, mereka akan membidik di antaranya:
1. Toleransi dan Akulturasi Budaya
2. Kebhinekaan dan Solidaritas Sosial
3. Kemandirian Ekonomi, Kesehatan dan Keberlanjutan Kehidupan
4. Sufisme dan Kepercayaan Lokal
5. Spirit Keislaman, Kemanusiaan dan Kebangsaan
6. Infrastruktur dan Corak Arsitektur
7. Kesenian, Tata Busana dan Tradisi Lokal
8. Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Karya Tulis
9. Politik Keumatan, Hukum dan Kesultanan
10. Pelestarian Lingkungan dan Harmoni Alam


Untuk memperoleh data itu, mereka akan menonton pertunjukan seni, membaca naskah, mendatangi makam, masjid, keraton, museum, dan tempat-tempat bersejarah, bertemu dengan pelaku seni, budayawan, kiai, dan tokoh lain.

Dengan Internet Berjalan Menembus Batas

Dengan Internet Berjalan Menembus Batas


Aku bersyukur atas semua yang dianugerahkanNya kepadaku. Bersyukur saja tanpa kata tetapi. Karena bahkan keterbatasan-keterbatasan yang seolah menjadi paket dari kehidupan ini sejatinya adalah bagian dari karuniaNya. Seseorang menjadi semakin terasah lalu menemukan kekuatan-kekuatan baru yang bahkan tidak ia sadari sebelumnya

Keterbatasan cakupannya sangatlah luas. Bukan keterbatasan fisik saja yang bisa menghalangi. Namun keterbatasan akses, keterbatasan mobilitas adalah juga keterbatasan yang bisa menjadi alasan bagi seseorang untuk maju dan sukses. Apapun itu, keterbatasan harus dan musti dilalui dan ditembus. Karena dengan berjalan menembus batas saja, kita akan sampai meraih impian dan mewujudkan cita-cita.

Tidak mudah menjalani peran sebagai orangtua tunggal sejak kematian suamiku dalam kecelakaan tiga tahun yang lalu. Apalagi dengan posisi di antara tarik menarik antara ibu kandungku dan ibu mertuaku. Mereka sama-sama menginginkan aku tinggal di rumah mereka bersama anak-anakku.

Setelah melalui banyak pertimbangan dan mendengarkan banyak masukan, akhirnya aku kembali ke rumah ibuku dan terpaksa meninggalkan banyak hal yang kurintis di kota suamiku. Konsultan arsitektur dan PAUD. Untunglah, hubunganku yang baik dengan keluarga mertua membawaku tak berlalu begitu saja. Aku masih memegang manajemen PAUD tersebut meski harus kukerjakan dari 25km, yang meski jaraknya kelihatannya dekat, tetapi sifat protektif ibuku membuatku tak bisa bergerak banyak keluar rumah.
“Tidak perlu berpikir karir dulu,” ujar ibu suatu ketika.
Agak aneh bagiku karena ibuku sendiri wanita karir yang berangkat ke kantor jam setengah enam pagi dan sampai rumah jam setengah enam sore, tetapi memintaku tinggal di rumah saja.
“Konsentrasikan dirimu untuk anak-anakmu,” tandas beliau.
Oh, oke.
Alhasil, aku banyak berdiam di dalam rumah, di depan laptop. Sambil tetap berusaha mencari peluang untuk membuka usaha di rumah, karena aku tetap harus memikirkan masa depan aku dan anak-anakku.
Membuka usaha konsultan arsitek di kota kecil tidak prospektif. Terpikir untuk membuka toko souvenir seperti yang dulu pernah kukerjakan saat masih belum lulus kuliah. Tetapi kini banyak sekali toko sejenis sudah dibuka di sekitar tempat tinggal kami namun konsumennya tidaklah banyak. Tidak mudah.

“Coba hubungi teman-teman ayahmu. Siapa tahu bisa ikut jadi pegawai di kantornya,” saran ibu suatu hari. Ahay! Beliau ternyata mulai terbuka juga pikirannya bahwa aku, mau tidak mau, harus tetap bekerja.
“Kalau kerja ikut orang harus disiplin lho, bu. Pagi –pagi harus sudah berangkat, pulangnya sesuai jadual. Belum lembur-lemburnya. Ibu nggak apa-apa aku akan banyak meninggalkan anak-anak?” aku berusaha memancing reaksi beliau sembari mengingatkannya bahwa menurutnya anak-anakku adalah prioritas utama. Dan utamanya sih aku sejak memiliki kantor konsultan arsitek sendiri dan mengelola PAUD, aku mulai menikmati cara kerja yang bebas, be a boss of my own
Meski tak cocok dengan ibuku dalam banyak hal, seiring kedewasaan dan tempaan kehidupan, aku memilih banyak diam. Meski pandangan kami banyak berbeda tetapi aku menaruh hormat padanya. Beliau banyak mengajarkan padaku kerja keras, kedisiplinan, kesungguhan. Dan meneladankan ketabahan dan kekuatan dengan mengentaskan empat putra-putrinya sendirian sejak ayahku meninggal.
Dan Tuhan ternyata menyayangiku, sungguh. Mungkin karena ada dua anak yatim yang berada di bahuku seorang diri sekarang. Dan mungkin juga ibuku mendoakan aku agar diberikan jalan. DibukakanNya pintu baru bagiku, dunia kepenulisan. Ternyata bakat menulis yang lama terpendam akhirnya muncul lagi seperti intan yang tersembul dari dalam lumpur. Dhul!
Di tengah kesibukan momong dua anakku, enam dan empat tahun, aku menulis dan mengirimkannya ke event-event penulisan via facebook. Tapi dengan sikap ibu yang tidak mendukungku, aku harus mencuri waktu untuk bisa menulis. Malam-malam saat semua orang terlelap, aku sengaja menahan kantuk agar bisa menulis. Ada waktu lumayan panjang juga yang lepas dari pengawasan beliau ketika ibu beraktifitas di kantor. Tetapi dua anakku sering sekali merecoki dan mengganggu.
Jika aku sedang tidak mempunyai kesempatan mencurahkan ideku langsung ke computer atau laptop, aku bergegas menuliskannya dengan pena ke buku yang sudah kusediakan. Khusus untuk menulis seluruh ide-ide yang kadang datang tak diundang, tiba-tiba dan semena-mena. Hehe. Sambil menemani anakku makan atau bermain.
Jika ibu tampak mendekat, aku langsung menyembunyikan buku spesialku itu ke balik sesuatu. Entah kursi, karpet atau barang apapun yang bisa menutupinya dari pandangan ibu. Demikian juga dengan buku yang kubaca karena kita membutuhkan banyak bacaan untuk bisa men-charge dan mengembangkan kemampuan menulis kita.
Termasuk saat menulis dan menyelesaikan novel pertamaku. Mencuri –curi waktu seperti ini rasanya tidak nyaman. Tetapi aku harus menembus batas, tidak ada alasan apapun untuk membiarkan cita-cita terhadang.
Alhamdulillah.
Kemudian buku-buku antologiku lahir. Sehingga tak terasa tujuhbelas buah buku antologiku terbit di berbagai penerbit. Kesuksesan kecil yang kita dapatkan senyata-nyatanya mendorong kita menemukan kesuksesan-kesuksesan berikutnya.
Seiring dengan itu, novel pertamaku selesai setelah hampir lima bulan mengerjakannya duet dengan seorang sahabat. Dia banyak memacuku untuk terus bersemangat meski aku seakan berada di dalam menara gading dan rumah salju. Karena kebekuan komunikasi terutama antara aku dan ibu.

“Keren. Kok bisa sih arsitek jadi penulis,” demikian komentar saudara dan teman-temanku. Meski sebagian teman dekat tak heran karena mereka mungkin telah melihat kiprahku dalam kepenulisan ketika memenangkan beberapa lomba menulis serta menjadi redaksi mading maupun bulletin di sekolah dan di kampus.

Dan Alhamdulillah, keberanian –keberanianku muncul kembali setelah sebelumnya stagnan karena merasa beku di tengah kungkungan dan pingitan ibu. Lucu, bukan? Seharusnya janda seperti aku lebih bebas bergerak dan merdeka, tetapi malah dipingit melebihi masa-masa kegadisanku dulu. Ya, sudahlah.  Aku mengambil hikmahnya saja dari semua ini, pada akhirnya, setelah melalui pemberontakan-pemberontakan kecil dalam pikiran dan hatiku.
Untungnya dunia maya membebaskan kita bergerak ke mana saja, berhubungan dengan siapa saja dan akhirnya meluaskan apa saja. Termasuk pertemuanku dengan partner menulisku. Kami menulis novel Mayasmara bersama. Sebuah novel kebaruan karena konsepnya tak biasa, unik dan berbeda baik dari sudut konsep, ide cerita dan penceritaan. Menulis novel ini banyak menggali kemampuan menulisku.
“Kamu harus menjadi sesuatu. Untuk anak-anakmu,” pacu partner menulisku. Sahabat mayaku inilah yang terus menerus menghembuskan udara keberanian.
“Kamu punya potensi. Kamu punya visi. Dan kamu punya tugas. Ayo kamu bisa,” begitu terus dia mencecar telingaku dengan lecutan-lecutan. Seorang sahabat dengan ketulusan memang bisa membangkitkan tidur kita, menciptakan mimpi-mimpi baru dan membuat kita terjaga. Lalu meniti tangga kesuksesan dengan dukungan tanpa syarat.
Sehingga setelah istikhoroh, aku mengambil loncatan yang tak pernah kukira sebelumnya meski jauh di masa lalu impian ini pernah ada dalam memoriku.
“Hwooooaaaaaa……aku terjun bebas……”
Tulisku ke inbox nya di hari pertama aku mempublish novel kami.
Aku menerbitkan novelku sendiri. Langkah berani yang diambil seorang ibu muda dengan dua anak yang masih suka merajuk. Semua dikerjakan dari balik laptop di dalam kamar. Senang sekali rasanya akhirnya create something tanpa harus meninggalkan anak-anakku. 
Mereka juga  mulai turut menikmati peran baruku ini. Si sulung membuat gambar di kertas-kertas kemudian melipat dan menstaplesnya menjadi sebuah buku. Anak keduaku yang perempuan kadang-kadang bermain peran seolah-olah dia penulis terkenal.
“Mau ditanda tangani?” tanyanya padaku seolah aku penggemar buku-bukunya. Haha..
Bagian yang paling membahagiakan adalah mereka bersenang-senang dan bahagia bersamaku. Aku menikmati berkah ini.

Dan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya, kemudian seperti aliran sungai yang menyibakkan payau-payau di permukaannya, beberapa penulis lain mengajukan naskah untuk diterbitkan. Membantu mereka memulai langkah tak hanya membungakan harapan akan kemajuan dari penerbitan yang kurintis tapi juga seperti suatu panggilan jiwaku untuk membuat mereka bertambah semangat di jalan kepenulisan yang kini kutempuh.
Tapi lagi-lagi keterbatasan mobilitas menjadi kendala dalam menyelesaikan tugas-tugas baruku di bidang penerbitan. Aku akhirnya pontang-panting mencari cara bagaimana mencetak buku dengan harga yang terjangkau dan dapat kukerjakan dengan segala keterbatasanku.
Allah maha pemurah dan maha penyayang menunjukkan jalan padaku untuk kembali bertemu dengan mereka yang dulu ‘menjerumuskan’ aku ke dunia kepenulisan ini. Alhamdulillah mereka banyak membantuku, sehingga aku cukup bekerja di depan laptopku saja. Silaturahim, persaudaraan dan kepercayaan juga kerjasama senyata-nyatanya menjadi jalan yang ditunjukkanNya bagiku untuk terus berjalan menembus batas itu.
Tak ada yang tak mungkin. Tak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan. Meski tentu saja melalui berbagai ikhtiar-ikhtiar dhohir, batin dan juga tawakkal kepadaNya. Sejak dari awal melangkah, selama proses dan perjalanan sampai kadang tiba di titik jenuh.
“Bangunan yang kau kini bangun pun suatu ketika akan runtuh, Fi,” sahabatku mengingatkan. Benar juga pesannya, karena memang tak ada yang abadi di dunia.
“Jadi berbuatlah yang terbaik dimanapun dan apapun yang kau kerjakan,” tuturnya penuh kebijakan. Dia adalah salah satu orang yang selain sahabat baik juga guru bagiku.

Langkah kecil yang dimulai dengan kecintaan dan harapan tampaknya harus dilanjutkan. Meski tidak kecil resiko dan tidak sedikit kendala yang dilalui, juga peranku yang harus berbagi dengan kepengurusan PAUD dan momong anak-anak, bajaku harus terus diasah dan diasah.

“Nanti dimarahin boss-nya umi?”, pertanyaan anakku yang sering muncul jika aku terpaksa meninggalkan mereka untuk sebuah tugas di kantorku dulu, kini tak lagi kurisaukan.
“Tidak, nak. Kita bisa menjadi boss diri kita sendiri,” dalam hati kubisikkan itu padanya. Lebih dari semua itu, kami bahagia.

Ternyata kemampuan selalu seiring dengan tanggung jawabnya. Demikian kakek Peter Parker dalam film Spiderman berpesan, dalam kekuatan yang besar juga terdapat tanggung jawa yang besar. Benar saja, aku tidak bisa lepas begitu saja dari peran dan statusku sebagai arsitek. Teman-teman dan juga kolega masih menghubungiku untuk minta didesainkan rumah tinggal ataupun bangunan lainnya.
Dengan banyaknya beban pekerjaan dan fikiran serta minimnya waktu, aku kembali terkungkung keterbatasan dan mungkin bisa saja memilih excuse, beralasan. Tetapi dosen manajemenku di kampus arsitektur dulu, dosen yang sangat kukagumi, berpesan untuk tidak menolak rejeki. Pastikan bisa mengerjakan segala tugas apapun.

Bagaimana caranya?
Outsourcing. 
Kuterima berbagai order desain itu dan lagi-lagi Allah dengan segala kuasa dan kasihsayangNya, mempertemukan aku dengan arsitek yuniorku. Pertemuan yang telah diatur olehNya.
Teman lamaku membawa temannya ke rumah karena ingin dibuatkan otobiografinya. Temannya temanku ini ternyata mempunyai seorang keponakan perempuan yang juga anak arsitek UNDIP. Obrolan singkat dan terkesan lewat ini terekam dengan baik. Sehingga ketika aku membutuhkan bantuan, kuhubungi temannya temanku untuk menanyakan nomer telpon keponakannya itu. Alhamdulillah, kami cocok dan akhirnya bekerja sama.
Nyata senyata-nyatanya, silaturahim membawa kita berjalan menembus batas. Sebagaimana juga silaturahim dan networking ini yang akhirnya bisa membawa novelku ke beberapa Negara di belahan dunia ini. Selain menyebar di seluruh Indonesia, novel itu juga terbang ke Makkah, Mesir, England dan Hongkong.
Subhanallah. Cita-citaku yang lain adalah travelling ke beberapa Negara dan kalau bisa berkeliling dunia. Dan novel karyaku telah memulai perjalanannya terlebih dahulu. Semoga Allah mengabulkan cita-citaku. Aamiin.
Dia yang mengabulkan semua cita-cita. Dia yang mendengar segala keinginan. Syukur dan puji kepadaNya yang telah memperjalankanku ke Haromain, tanah suci Makkah dan Madinah untuk melaksanakan haji dan umroh beberapa tahun lalu. Dan bahkan dari perjalanan itu, beberapa ide cerita mengalir dalam naskah novel dan cerpen-cerpenku. Dia yang Maha Kaya, yang Maha Memampukan. Sampai kadang terlintas dalam benakku, It’s too good to be true, ini terlalu indah untuk menjadi kenyataan. Tetapi demikianlah Dia berkehendak, sehingga menjadikan kita semakin tertunduk malu di hadapanNya.
Betapa banyak karuniaNya meski seringkali kita lupa berterimakasih dan lebih banyak mengeluh daripada mengingat. Semua karunia ini yang sedang kukerjakan dalam keterbatasan mobilitasku, menulis dan mengelola penerbitan, mengelola PAUD, memulai lagi konsultan arsitektur, merintis usaha property di kota kecilku, sepatutnya disyukuri dan disyukuri. Bukan gurita, jika semua ini inginnya kukerjakan. Tetapi karena tidak ingin menyia-nyiakan potensi dan kesempatan yang Dia berikan. Semoga semuanya menjadi ajang pembelajaran bagiku untuk bisa menjadi sebesar-besarnya kemanfaatan bagi sesama. Aamiin.

“Bekerja di mana sekarang?” seorang guruku masa SMA bertanya ketika suatu ketika kami bertemu di suatu tempat. Alhamdulillah beliau masih mengenaliku, secara mungkin karena aku pelajar dan lulusan terbaik di SMA masa itu.
“Di rumah, bu,” jawabku sambil tersenyum.
Beliau terdiam. Entahlah apa yang beliau pikirkan. Mungkin masygul karena mendengar seorang murid terbaiknya hanya di rumah saja.
Demikian juga jawabku jika ada yang bertanya dengan pertanyaan yang sama. Lha memang kenyataannya aku belajar di rumah. Jika tidak dikejar dengan pertanyaan berikutnya, aku biasanya juga tidak menjelaskan panjang lebar. Hehe…
Ternyata di rumahpun, dengan segala keterbatasan, kita bisa menembus segala batas. Dengan ijinNya, dengan karuniaNya. Alhamdulillah.

**

Lihatlah dengan internet kita bisa berjalan menembus batas. Apalagi jika pakai freedom combo kayak punya IM3 Ooredo :)


Ahmad Tohari, NU Dan Karisma




Ahmad Tohari, NU Dan Karisma

Bertemu lagi dengan penulis legendaris ini ternyata tetap tak menurunkan antusiasme saya. Ada kalanya kalau kita sudah pernah bertemu dengan orang terkenal, entah itu penulis terkenal atau artis, kita jadi kehilangan antusiasme untuk pertemuan berikutnya. 

Namun mungkin karena karisma beliau yang sejati, sebab tulisannya yang tak lekang oleh waktu, sebab kesederhanannya yang mewah, sebab kemisteriusannya di tengah keterbukaannya, sebab kepercayaan dirinya untuk mengaku dan selalu membawa identitas NU dengan bangga ke mana-mana. 
Mungkin itulah beberapa penyebabnya. 

Beliau mendapatkan banyak penghargaan dan pencapaian yang bisa memacu kita untuk terus semangat berkarya di dunia literasi ini. 

Selepas menempuh pendidikan formalnya di SMAN 2 Purwokerto, pria kelahiran Banyumas, 13 Juni 1948 ini pernah kuliah di beberapa fakultas. Namun, ia tidak menyelesaikan kuliahnya lantaran kendala non-akademik. Selain itu, ia pernah berprofesi sebagai tenaga honorer di Bank BNI 1946 selama setahun, antara tahun 1966 sampai 1967. Kang Tohari juga pernah berkecimpung dalam bidang jurnalistik di beberapa media cetak seperti harian Merdeka, majalah Keluarga dan Majalah Amanah yang kesemuanya berlokasi di Jakarta.
Dalam dunia kepengarangan, kemampuan Kang Tohari dalam meramu kata telah diakui secara luas baik di dalam maupun luar negeri. Novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk yang meliputi Ronggeng Dukuh Paruk (1982), Lintang Kemukus Dini Hari (1985), dan Jantera Bianglala (1986) telah diterjemahkan dan diterbitkan dalam bahasa Jepang, Jerman, Belanda, dan Inggris. Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk juga telah diadaptasi ke layar lebar oleh sutradara Ifa Irfansyah dengan judul Sang Penari.
Novel Ronggeng Dukuh Paruk yang diterbitkan di tahun 1982 ini bercerita tentang kehidupan Srintil, seorang penari tayub di sebuah dusun kecil, Dukuh Paruk dengan setting tahun 1965an. Isi dari novel tersebut yang dianggap kekiri-kirian oleh pemerintah Orde Baru membuat Ahmad Tohari diinterogasi selama berminggu-minggu. Agar bisa keluar dari segala tekanan yang dilakukan pemerintah Orde Baru, Kang Tohari meminta tolong kepada sahabatnya Gus Dur. Pada akhirnya, ia pun dapat bebas dari segala intimidasi dan ancaman hukum yang sempat membayangi kehidupannya. 


PENDIDIKAN
  • SMAN 2 Purwokerto (1966)
  • Fakultas Ilmu Kedokteran Ibnu Khaldun, Jakarta (1967-1970)
  • Fakultas Ekonomi Universitas Sudirman, Purwokerto (1974-1975)
  • Fakultas Sosial Politik Universitas Sudirman (1975-1976)
  • International Writing Program, Iowa, Amerika Serikat (1990)
KARIR
  • Penulis/Pengarang
  • Tenaga honorer di Bank BNI 1946 (1966-1967)
  • Redaktur harian Merdeka (1979-1981)
  • Staf redaksi majalah Keluarga (1981-1986)
  • Dewan redaksi majalah Amanah (1986-1993)
PENGHARGAAN
  • Cerpen Jasa-Jasa buat Sanwirya mendapat Hadiah Hiburan Sayembara Kincir Emas (1975) yang diselenggarakan Radio Nederlands Wereldomroep
  • Novel Kubah memenangkan hadiah Yayasan Buku Utama (1980)
  • Novel Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari, dan Jentera Bianglala meraih hadiah Yayasan Buku Utama (1986)
  • Novel Di Kaki Bukit Cibalak memenangkan hadiah Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta (1986)
  • The Fellow of The University of Iowa (1990)
  • Penghargaan Bhakti Upapradana Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk Pengembangan Seni Budaya (1995)
  • Southeast Asian Writers Award (1995)
  • Rancage Award 2007
  • Novel Kubah (1980)
  • Novel Ronggeng Dukuh Paruk (1982)
  • Novel Lintang Kemukus Dini Hari (1985)
  • Novel Jantera Bianglala (1986)
  • Novel Di Kaki Bukit Cibalak (1986)
  • Kumpulan Cerpen Senyum Karyamin (1989)
  • Novel Bekisar Merah (1993)
  • Novel Lingkar Tanah Air (1995)
  • Kumpulan Cerpen Nyanyian Malam (2000)
  • Novel Belantik (2001)
  • Novel Orang-Orang Proyek (2002)
  • Kumpulan Cerpen Rusmi Ingin Pulang (2004)
  • Novel Ronggeng Dukuh Paruk Banyumasan (2006)