3 Musketeers Go To UWRF (bagian 7)



 3 Musketeers Go To UWRF (bagian 7)

Sesudah puas keliling Museum, kami bersiap untuk mengikuti writing workshop, dengan tema menulis untuk keliling dunia. Bersama bang Ahmad Fuadi, salah satu penulis favoritku yang sekarang jadi penulis favorit anak-anak juga.
Setelahnya sedikit menyesal kenapa melewatkan the secret of writing short stories yang di Campuhan College. Yang memang justru diperuntukkan bagi anak-anak. Sehingga aku bisa ke main program. Karena ternyata work shop Ahmad Fuadi ini sebenarnya untuk remaja.

**

Lepas dari workshop kami bergerak ke Museum Marketing. Letaknya di bagian depan kompleks Museum Puri Lukisan. Agak tersembunyi jalan masuknya tetapi dalamnya lumayan luas juga. Kami hendak menonton film Mirror Never Lies besutan mbak Kamila Andini.

Museum Marketing ini unik. Dari namanya saja sudah unik. Museum ini berbeda dengan museum lainnya di Indonesia, bahkan di dunia. Sebuah museum marketing pertama yang pernah ada. Museum Marketing 3.0 di Jl Raya Ubud. Museum ini merupakan perwujudan dari buku Hermawan Kertajaya bersama Philip Kotler "Marketing 3.0: From Products to Customers to the Human Spirit".


Marketing 3.0” adalah wujud dari marketing yang mencoba menyeimbangkan hubungan antara manusia, lingkungan, dan tuhan. Ini adalah perkembangan mutakhir dari “Marketing 1.0”  yang mementingkan penjualan dan “Marketing 2.0” yang menekankan kepuasan konsumen selain penjualan.
Anda yang akrab dengan dunia marketing? Layak untuk datang ke museum yang diresmikan oleh bapak marketing modern Philip Kotler pada 27 mei 2011 ini. Museum ini memiliki dua lantai dengan atmosfer modern terasa kental mengemuka di berbagai sudut museum baik lewat interior ruangan yang minimalis maupun penggunaan peranti elektronik canggihnya.


 
Di lantai pertama berisikan suguhan materi marketing modern 3.0 dengan teknologi modern berikut dengan TV layar sentuh yang menampilkan perusahaan-perusahaan yang dianggap telah mempraktekkan teori “Marketing 3.0”, misalnya perusahaan Grameen Bank milik peraih nobel Muhammad Yunus dan Mayo Clinic di Amerika Serikat.
Museum ini pun memuat contoh pemasaran berbasis spirit kemanusiaan dari belasan perusahaan mendunia, seperti Walt Disney, The Body Shop, termasuk Puri Saren Ubud yang mampu mengelola Ubud sehingga menjadi tujuan wisata mendunia.

Selain itu hhusus di lantai 1, disediakan juga sofa empuk nan nyaman untuk istirahat pengunjung. Ada pula ruang bioskop yang memutar film-film mengenai tehnik pemasaran yang telah berhasil mengubah dunia. Lalu di lantai 2 di isi oleh berbagai lukisan, patung dan benda seni lainnya dari Ubud.


**

Di dalam Museum Marketing, kami sempat mengikuti sesi Master Tales. Master Tales adalah pendekatan bercerita berbasis kartun untuk belajar. Artis berpengalaman, pendongeng dan pendidik, Khan Wilson, menunjukkan cara menggambar karakter dan membuat storyboard, serta cara menyenangkan menceritakan dan bertindak cerita. Peserta diajak menggunakan imajinasi untuk membuat ceritanya sendiri berikut karakternya. Menampilkan teman dan terinspirasi olehnya sehingga cerita kita akan menjadi hit.

Tidak lupa berfoto bersama sang mentor usai sesi selesai. Dia memberikan alamat emailnya untuk kami bisa berdiskusi lebih lanjut tentang apapun.
**

Kami memasuki ruang studio untuk siap menonton Mirror never lies. Aku sempat bertemu dan bersalaman dengan pak Hermawan Kartawijaya. Tapi tentu saja tidak sempat berfoto bersama karena ruangan sudah gelap-gelapan. Semua penonton duduk manis hendak menonton Mirror Never Lies :-)


Pulang ke bungalow Kabera rasanya badan lelah, tubuh begitu pekat lekat oleh keringat. Hari ini rasanya senang tetapi juga capek. Dan masih ada juga terselip penyesalan melewatkan beberapa acara yang berbenturan dengan sesi lainnya. Dan yang lebih mabuk lagi karena aku harus atur jadual juga buat anak-anak, biar dapat semuanya. Wuih, tapi UWRF memang seru abis.

**

Malam harinya kami dikejutkan dengan kabar duka. Inna lillahi wa innaa ilaihi roojiuun. Seorang kyai karismatik Romo KH. Harir Muhammad Al Hafid meninggal dunia. Mendadak tanpa sakit sebelumnya. Aku bisa membayangkan betapa bersedihnya kota kecil kami kehilangan satu lagi kyai-nya. Karena kyai di Demak memang sudah tinggal sedikit kalau tidak bisa dibilang tidak ada lagi yang besar. Allahummagfir lahu warham hu wa 'afihi wa fu'anhu.

Kehilangan yi harir sekarang rasanya seperti waktu aku dengar kabar yi muyazzin sedo pas aku berada di Madinah waktu itu (2009).
Tentang Yi Harir, padahal baru saja kami perbincangkan 16 September kemarin dengan bapaknya temanku. Kota kecil kami tinggal punya beliau. Ternyata saat itupun sudah masuk 40 hari sebelum kepergian beliau selama-lamanya.
Saat kyai sedo, mau tak mau di jaman seperti ini dengan kapasitas penerus yang tak mungkin sama dengan abahnya, kerjasama yang baik putra-putra dan menantu-menantu adalah niscaya.
Mungkin memang eranya sinergi, kolaborasi, sehingga perlahan-lahan ketokohan dan sentralistik pada sosok tertentu dikondisikanNya hilang, dengan diangkatnya para Yai. That's just another point of view about current situation. Tentu saja tetap tak lepas rasa pedih kehilangan Yai yang kami cintai dan hormati.
Selain itu peristiwa ini menjadi pelajaran. Bahwa kematian adalah niscaya. Tapi apa yang kita tinggalkan, seberapa persen labet/kontribusi kita untuk umat. Apalagi jika dibandingkan dengan apa yang Yai telah lakukan dengan tulus.
Jadi membayangkan kelangsungan pesantren BUQ Betengan sepeninggal beliau. Apakah haflah wisuda tahfidz di sana masih akan seramai dan semeriah sebelumnya.  Haflah ini sebenarnya mirip festival juga. Dan demak sebenarnya juga punya festival lainnya. Yang sudah berjalan dari jaman Sunan Kalijaga, Grebeg Besar. Aku menulisnya juga di sebuah cerpen yang memenangkan lomba menulis beberapa waktu lalu. PR nya adalah bagaimana membuat festival di Demak itu jadi berskala nasional dan bahkan internasional seperti UWRF. Tapi tentu saja butuh effort sangat besar untuk perhelatan seistimewa ini.

0 komentar:

Posting Komentar