3 Musketeers Go To UWRF (bagian 9)

3 Musketeers Go To UWRF (bagian 9)

DAY SIX
17 Oktober


Aku bangun jam tiga dinihari seperti biasa. Tetapi hari ini istimewa karena hari ini hari Raya Idul Adha. Kubangunkan anak-anak untuk sholat subuh dan mandi serta bersiap pergi sholat Id.
Setengah enam pagi kami dan teman-teman volunteer yang juga tinggal di Kabera sama-sama pergi ke Museum Puri Lukisan. Mas Ali, pegawai museum yang asli Banjar Kalimantan itu sudah menunggu kami di sana. Pagi-pagi benar kami berombongan naik boncengan motor sepanjang 12 km menuju Gianyar untuk sholat Idul Adha. Wuoaaaah…kebayang kan jauhnya masjid.
Alhamdulillah. Senang rasanya bisa melaksanakan ibadah istimewa di hari istimewa di tempat istimewa. Campakkan jauh-jauh kesombongan, begitu pesan khutbah Idul Adha di Gianyar.

Pulang dariu sholat Ied, tetangga kami menyapa. Mrs Ana ini aslinya dari New Zealand, sudah beberapa kali ikut UWRF. Meskipun usianya sudah tua tapi masih asyik dan suka seseruan keliling dunia. Utamanya dia suka sekali berkunjung ke Indonesia. Bahkan beberapa minggu sebelum ke Ubud ini, dia melancong ke Semarang, Demak, Kudus, Jepara dan sekitarnya. Kalau lihat gayanya memakai kerudung gitu, aku jadi kepikiran jangan-jangan bu Ana ini tertarik menjadi muslimah. Yach, kalau usia makin  tua memang kedamaian yang dicari. Dan mungkin dia menemukannya dalam Islam, siapa tahu?

Bersama Mrs Ana, kita merayakan Idul Adha pagi ini. Beliau banyak cerita perjalanannya. Dan anak-anakku serasa menemukan kembaran neneknya J
Usai sarapan, kami segera berangkat ke Casa Luna lagi. Dengan shuttle menuju sesi di venue utama. Aku ikut panel Fighters Vs Healers. Sedikit catatannya:
    • What you show is what you read. What you do is back to you
    • Everyone has song/tune. If disharmony with mother's tone (earth) so there will be trouble.


**
Ada juga panel Reflections of Afghanistan’ yang dimoderasi oleh penulis yang berpengalaman di Asia Tenggara – Michael Vatikiotis, menghadirkan Agustinus Wibowo dan Ben Quilty – penulis perjalanan dan artist yang telah mengembara ke Afghanistan dan berbagi pengalaman mereka di negeri tersebut melalui lensa masing-masing.
Kemudian kami menuju Panel Sisterhood, dengan Dewi Lestari sebagai pemateri tunggalnya. Berikut beberapa catatannya:
From 1998 til now, female authors become phenomenon #dee #uwrf
The number is increasing, lot of female writers make more achieving. #dee #uwrf
Masculine and female energy should be balanced in ours. #dee #uwrf so she write about Diva in supernova
Strongfemale characters itself create prospective and inspire readers. Tanpa harus bicara feminism, gender etc. #dee #uwrf
Approach : Story driven character. Character support the plot. Serve the story #dee #uwrf
The power of feminine energy is receiver. Inner search, finding true identity. #dee #uwrf
Budi Darma review dee 's work : always talk about finding true identity
Science is approach as outward looking. All character in supernova fascinated with science, uncomfort zone. For balancing #dee #uwrf
I came from nowhere, just like alien. Bukan dari utan kayu, flp atau komunitas kpnlsn lain. Melihat banyak klik antar komunitas2 itu #dee #uwrf
Yang sekarang terjadi, situasi berubah. The focus is not about the genre anymore. But how to package etc. Yang ada, fiksi dan non fiksi. #dee #uwrf
Now, the struggle and fight changes a lot. #dee #uwrf
Indonesia tidak sj tentang mslh politik dst. Real problem : Facing reality that children now expert in writing, speaking in English. #dee #uwrf
The best of me is to sharing. #dee #uwrf
Never stop expressing our selves, as pak Sapardi still productive. #dee #uwrf
Nowadays, the challenge is how to write with excellent. #dee #uwrf
A male author doesn't face the same challenge with female one, who cook for family, pregnant etc. #dee #uwrf
Writing in English for dee is same with writing in Indonesian. But deeper feelingdanunderstanding she got if writing in Indonesian. #uwrf
Dee wrote the characters from true story.
whanya we always talk mandanwoman if we talk about love. So dee wrote about gay couple. Not writing about gay in purpose,but bout true love
Spirituality, science, alien, non fiction etc books : pilihan bacaan dee, to get information. #uwrf
Sebastian Folks etc do good research. Dee spend more time for research than the writing. Ex. For "Particle", Dee took photography course
Dee just want to feel confidence to write. Not to alike smarter, etc. #uwrf not about giving information,but to be confidence how use them.
Akupun tak melewatkan kesempatan ini untuk mengabadikan pertemuan dengan Kadek Purnami, tangan kanan Janet Deneefe. Ibu Debra Yatim, seorang aktifis, pejabat dan pengusaha serta pegiat literasi. Seorang cantik asli Bali yang juga emerging writer. Dan Benzbara yang selama ini hanya tahu dari twitternya.





Apa yang bisa kuceritakan tentang Bara? Ternyata dia muslim. Sama seperti aku, dia produktif menulis karena didorong oleh kematian yang merenggut orang terdekatnya, seperti sebuah peringatan bahwa waktu sangat singkat dan kita harus berbuat banyak selagi ada kesempatan. Dia ternyata juga fans Sheila On 7. Hmm..apalagi ya? Kebetulan face-nya mirip cowok pertamaku jaman SMP. *Halagh :D


Anak-anak bermain dan juga membaca serta menulis di taman baca selagi aku mengikuti sesi Sisterhood. Kemudian kami lanjut dengan makan bakso dan gado-gado.

**

Bagian yang tak kalah seru di UWRF adalah saat ketemu sebagian besar emerging writers.  Tiga di antara mereka adalah penulis alias kontributor buku-buku hasfa lho. Selain juga ada contributor buku Hasfa yang jadi emerging writers pada UWRF tahun lalu. Keren ya. Kupikir-pikir lagi, hebat juga kurator hasfa karena dengan vision-nya lahir banyak penulis keren.

Ini nih beberapa catatan dari panel The Character :
    • Try to write characters from different perspective to sharpen the characters
    • Acknowledengane connection between privileges of different culture.
    • It's the readers that can see, make reflection.
    • Single mom/parent makes influence in writing.

**

Dari banyak panel di UWRF, aku belajar bahwa seorang panelis/narasumber mestilah ‘kaya’. Agar dia tidak mengulangi lagi apa yang sudah dia sampaikan di panel sebelumnya. Bisa membosankan.
Pelajaran lainnya adalah ternyata ketika seorang penulis yang juga bagus dalam public speaking akan membuat audience tertarik dengan bukunya. Itulah salah satu manfaat even off-line/kopi darat.
Ada sebuah panel dengan panelis tunggal yang tampak lebih menarik dibandingkan panel lain yang terdiri 3-4 panelis duduk dalam satu sesi. Kekuatannya kukira adalah karena panelis tunggal ini menguasai benar materinya. Dan dia tahu bagaimana mempengaruhi audience.
Meski begitu ada juga panel yang jadi keren, heboh dan hidup karena 3-4 panelisnya sama-sama canggih, menguasai materi dan mereka menghidupkan diskusi bersama-sama host acaranya.
Jadi kadang terbersit pikiran, duh seandainya pilih yang panel sebelah mungkin lebih oke ya? Hehe. Beneran dilemma deh. Apatah lagi di semesta luas dengan beragam pilihannya ini. Di even yang pilihan-pilihannya sudah ter-schedule rapi saja kita bisa merasa salah pilih acara, mispriority dan sebagainya.
Saking banyak dan beragamnya panel serta pemateri-pematerinya yang bagus-bagus, rasa-rasanya ingin ikut semua. Tidak ingin ada yang terlewatkan.  Kalau saja punya ilmu membelah atau meng-copy diri jadi banyak, pasti akan berguna di UWRF. Sehingga bisa ikut banyak panel sekaligus yang schedule-nya barengan :D

saat mbak Dee minta pindah schedule dr jam 2siang mjadi 10pagi demi untuk bs sgera balik ke Jkt karena anaknya sakit,that's an example of SQ/EQ/IQ
Alhamdulillah. Ubud, sawah, padi dan bersama orang-orang hebat yang humble, yang semakin berisi justru semakin menunduk. What's a great lesson, great week.
Mayoritas diskusi panel sangat baik, terorganisir, chair alias moderator proaktif, panelis yang tampil pun komprehensif dan alur diskusi sejalan dengan tema. Tetapi beberapa sesi diskusi masih perlu perbaikan, baik dari segi tema maupun panelis yang berpartisipasi.

Karena kemungkinan kami tidak akan bertemu Mrs Linda, volunteer dalam Children Programme, kami menyempatkan untuk berbincang banyak sekali lagi dan say goodbye to Mrs. Linda. Dan tentu saja berpose bersama lagi J

**

Dari Left Bank kami naik shuttle sampai pasar seni karena kendaraan gratis ini tidak sampai ke Hubud, destinasi kami selanjutnya. Dekat pasar seni, kami bergantian berpose di depan baliho UWRF yang super besar.
Dan mungkin sepuluh tahun lagi, Hasan ataupun Fatimah diundang ke UWRF sebagai panelis? Siapa tahu?
(Yang jelas sepulang dari UWRF mereka berdua sangat produktif. Membuat banyak gambar dengan berbagai cerita. Mau tak mau saya bisa melihat bagaimana UWRF memantikkan kreatifitas dan keberanian mereka untuk berekspresi)

**

Dari pertigaan pasar Seni Ubud, kami tengak-tengok mencari kendaraan yang bisa mengantar kami ke Hubud. Ada angkotan sih, tapi sepertinya akan lama sampainya karena pasti berhent-berhenti. Kami mencegat taksi, tapi semua taksi yang lewat ada penumpangnya.
“Apa kita jalan saja yuk,” ajakku sembari memperlihatkan GPS pada kedua anakku.
“Jauh nggak, mi?” Fatimah menyeka keningnya.
Dia tampak kelelahan dan duduk di buk beton pinggir  trotoar.
“Lumayan sih. Sekitar 1,5 km-an,” aku meringis ke arahnya.
“Ayolah, jalan. Tapi beli kipas itu dulu, mi,” pinta Fatimah sembari menunjuk keranjang milik penjual keliling yang sedang sama-sama istirahat seperti kami.
“Wah, jauh ya. Aku capek,” sahut Hasan dengan bibir mengerucut.
“Sambil jalan saja kita lihat siapa tahu ada taksi yang kosong,” putusku.
Kami lalu menawar tiga kipas kain berangka kayu pada perempuan Bali penjual souvenir itu. Dan lumayanlah, dua puluh ribu dapat tiga kipas. Huray!
Saat kami menyusuri jalan, tetiba anakku Fatimah berseru, “Mi. itu kayak pak Ketut ya?” tangannya menunjuk seorang pria yang duduk di pinggir trotoar.
“Ah, itu memang pak Ketut. Kebetulan nih,” seruku langsung mendekati pemilik bungalow tempat kami menginap.
Kutanyakan rute dan alternatif kendaraan menuju Hubud dekat Ubud Monkey Forest. Pak Ketut langsung minta teman yang duduk di sebelahnya untuk mengantar kami. Rupanya orang-orang yang sedang duduk bersama pak Ketut ini juga berprofesi sebagai tukang ojek.
Jadilah kami naik ojek menuju Hubud dengan merogoh kocek dua puluh ribu rupiah. Sepanjang perjalanan kami menikmati toko-toko souvenir yang ada di pinggir kanan kiri jalan. Lumayan jauh juga ternyata, kebayang capeknya deh kalau jadi jalan kaki.
Jadilah kami bersama orang tua dan anak-anak lainnya mengikuti SESI Film Making Workshop For Kids And Their Parents. Dalam workshop ini, kami belajar dari Peter Wall, pendiri Hubud - ruang co-kerja berbasis di Ubud - tentang cara men-shoot dan mengedit film pendek yang dibintangi & disutradarai oleh anak-anak kami. Tidak ada pengalaman sebelumnya diperlukan pembuatan film.

Sementara anak-anak menonton film yang artisnya adalah anak-anak Peter sendiri di lantai tiga, sehingga mereka punya bayangan bagaimana seharusnya berakting atau melakukan adegan, para orang tua ditatar di lantai dua. Kemudian kami dipertemukan dalam tim untuk mulai membuat film. Merancang bersama konsepnya, kemudian anak-anak memakai kostum yang mereka pilih sendiri, lalu action!

**

Peter Wall adalah pembangun masyarakat, wartawan, dan sutradara film. Beberapa tahun yang lalu, ia mendapat ide membuat film pendek dengan anak-anaknya saat bepergian. " Kami mulai dengan trailer , dan pergi dari sana , menggunakan apa tempat yang indah kita berada di sebagai latar belakang . Anak-anak tidak pernah bosan mengunjungi kuil atau tempat terkenal jika mereka pementasan film. 'Berbicara TedXUbud baru Petrus untuk membuat film dengan anak-anaknya dapat dilihat di YouTube .

Pada bulan Maret tahun ini , Peter dan dua mitra membuka ' Hubud , ' pertama ruang co - bekerja Bali . Hubud adalah sebuah hub untuk kreativitas, produktivitas dan kolaborasi di Ubud . Petrus juga tuan rumah yang populer bulanan malam acara ' PechaKucha ' berbicara , diselenggarakan oleh Hubud dan diadakan di Betelnut .

Dari 2000-2010 , Peter bekerja untuk CBC sebagai video - jurnalis , yang berbasis di Toronto , Kanada . Sementara di CBC , Peter tertutup, antara lain , 9/11 di New York , tsunami di Aceh pada tahun 2005 , dan kampanye pemilu AS 2008 . Pada tahun 2006 , ceritanya ' Mission House ' , ditembak di Northern Ontario , dinominasikan untuk penghargaan Gemini sebagai Best majalah berita Segmen .
Pada tahun 2008 , Peter memenangkan CAJ / CIDA persekutuan dan melakukan perjalanan ke Kolombia. Pada tahun 2009 , ia pindah ke ' The National ' , CBC andalan acara berita , melakukan cerita di Kanada dan internasional . Pada musim gugur tahun 2010 , Peter pindah ke Bali , dan telah bekerja sebagai freelancer di lokasi di seluruh Indonesia , termasuk Papua , Sulawesi , Timor Timur, Muluku , dan sebuah pulau kecil Anda belum pernah mendengar yang disebut Yamdena . Dia memiliki gelar dari University of British Columbia dan Uskup University, Quebec , Kanada .
Ide dari Hubud adalah untuk memiliki sebuah tempat, ruang kreatif, untuk orang datang bersama-sama dan berkolaborasi serta bekerja bersama. Pada dasarnya tidak ada perusahaan besar di sini (selain beberapa jaringan hotel), jadi hampir semua yang ada di sini adalah pengusaha bisnis kecil atau freelancer independen. Pendirinya ingin menciptakan sebuah ruang untuk berbagai tipe orang ini agak bisa hadir, terkoneksi dan bekerja bersama, namun tetap independen.
Ruang pop-up  memiliki meja besar untuk bekerja, serta beberapa sudut serta area kecil untuk bekerja. Ada kopi, teh, dll. lalu printer yang bisa digunakan bersama. Ruang ini berupa gabungan dari beberapa ‘zona’ yang mendukung berbagai kegiatan, seperti perpustakaan/pusat teknologi, pod untuk konferensi dan sebagainya.









Ada banyak jenis kreativitas di sini, penulis, fotografer, artis, desainer, arsitek, pembuat film, namun menurut kami semua orang adalah kreatif. Pengusaha adalah kreatif. Pengusaha kecil adalah kreatif. Jadi idenya adalah menjadi tempat bagi siapapun yang ingin datang dan, seperti yang dikatakan oleh orang yang lebih pintar dari saya –  memungkinkan percepatan kebetulan untuk terjadi. Satu tema yang sudah kami antisipasi di Ubud adalah penemuan/penciptaan kembali –  secara umum ini adalah ruang kreatif dimana banyak orang ada di sini. Idenya adalah dengan membuat sistem keanggotaan, berdasarkan waktu perjam atau perbulan, atau pertahun. Atau bisa juga setengah hari/sehari penuh.  (sumber : web)
Dan serunya, arsitektur bangunannya keren banget. Menggunakan bahan alam bamboo dan batu alam, membuat Hubud jadi tempat yang nyaman, artistic dan eksotis.



**
Di hari terakhir ini ada pemutaran film dokumenter ‘Jalanan’. Merupakan satu dari beberapa program yang paling dinanti dan paling ramai pengunjung selama UWRF. Betapa tidak, lebih dari 4,000 penonton mancanegara menyesaki halaman Museum Antonio Blanco dan rela membawa sarung atau kain masing-masing sebagai alas tempat duduk untuk menikmati film berdurasi 107 menit ini. Jalanan mengisahkan kehidupan tiga orang pengamen di jalanan Jakarta, bagaimana perjuangan mereka menggapai kebaikan, percintaan dan kebahagiaan.
Daniel Ziv, produser sekaligus sutradara film Jalanan, telah mengumumkan jadwal pemutaran karyanya melalui social media sejak beberapa minggu sebelumnya, dan hasilnya sangat memuaskan. Bukan hanya karena jumlah penonton dan sambutan mereka saat pemutaran di UWRF, tetapi Jalanan juga meraih penghargaan sebagai film dokumenter terbaik di Busan International Film Festival. Daniel menyampaikan bahwa Jalanan akan diputar di bioskop Indonesia pada Januari-Februari 2014.

0 komentar:

Posting Komentar