Bukan Bohong Tapi Imajinasi

Bukan Bohong Tapi Imajinasi






Kadang masih suka senyum dan ketawa sendiri kalau ingat masa-masa kecil dulu. Ada banyak kelucuan dan juga kewaguan yang kulakukan, entah sengaja ataupun tidak. Seringkali jika ada teman-teman yang sama kecilnya melakukan kewaguan yang serupa, mulut tak bisa terkendalikan untuk bilang, "ah, bohong tuh." Padahal diri sendiri juga melakukannya. Misalkan saja nih ada temanku yang bilang kalau tadi malam ada Rhoma Irama yang datang ke rumahnya. Terus yang lainnya lagi bilang, karena saking kurusnya sang ibu sampai kabur kalau tertiup angin besar. Hah?  Terbang bagaimana? Iya, kabur kayak kerupuk, katanya.
Baru kemudian hari, kelak setelah dewasa, kita tahu itulah yang namanya imajinasi.



Aku pun punya beberapa imajinasi semasa kecil. Jadi waktu itu saudara sepupuku mengalami gatal-gatal di tangannya. Dengan penuh percaya diri dan keyakinan, seolah-olah seorang tabib yang hebat, aku membawanya ke depan rumahku.
“Nih lihat. Ini ada daun-daunan yang bisa mengobati apa saja. Termasuk gatal-gatalmu itu,” dengan mantap aku memetikkan beberapa lembar daun dari pohon yang aku tak tahu namanya.

“Beneran?” sepupuku menatapku sangsi.
Dia menyembunyikan kedua tangannya di balik punggung, dengan pandangan menusuk padaku. Seolah dia khawatir aku akan meracuninya.
“Eeeh, nggak percaya? Ini beneran pohon ajaib. Dia bisa mengobati segala penyakit,” aku semakin menjadi-jadi. Seakan ditantang kredibilitas diriku, aku semakin tertantang menaklukkannya dan ingin membuktikan diriku benar.
Oh ya, kami sama-sama duduk di kelas dua sekolah dasar waktu itu.
“Jangan bohoooong...” cetusnya dengan gaya persis kalau aku sedang meragukan kejujuran teman-temanku yang suka cerita aneh-aneh di sekolah.
Sepupuku ini sekolah di tempat lain, meskipun waktu masih taman kanak-kanak kami suka naik becak bareng karena bersekolah di tempat yang sama.
“Aku nggak bohong. Beneran!” setengah membentak, aku meraih salah satu tangannya.
“Memangnya bagaimana cara pakainya?” dia sedikit melunak. Mungkin takut akan bentakanku.
“Kita robek-robek dulu daunnya, lalu kita tumbuk. Setelah itu kita oles-oleskan di bagian tanganmu yang gatal. Yuk,” nada suaraku berubah melirih melihat dia mulai menyerah dan manut.

Kami lalu sibuk mengolah daun-daun yang entah apa namanya itu dengan peralatan seadanya. Waktu itu segala batu dan apa-apa yang tersedia di sekitaran tampak bersih-bersih saja. Tidak kepikiran ada kuman, bakteri, debu dan segala tetek bengek yang mungkin justru malah memperparah kegatalan. Ahahaha...


Usai upacara sobek menyobek dan tumbuk menumbuk dedaunan selesai, aku pun mengoleskan ramuan obat-obatan itu dengan gaya seolah seoang tabib yang mumpuni.
“Kamu hebat ya. Pinter,” puji sepupuku dengan pandangan takjub kepadaku.
Aku, yang memang selalu haus segala pujian, senyam-senyum sambil terus mengoleskan ramuan ngawur buatanku.
“Tuh sudah. Tunggu beberapa jam ya,” kukembalikan tangan itu pada pemiliknya. (Memangnya tadinya kulepas begitu ya? Hiiii malah horor πŸ˜ƒ)
“Hmmm..ntar kalau aku mau mandi, bagaimana?”
“Ya, mandi saja. Sekalian dibilas,” jawabku setelah beberapa saat berpikir.
“Sudah pasti sembuh ya?”
“Insya Allah, mudah-mudahan ya,” aku menepuk-nepuk  beberapa kali tangan sepupuku yang kubalut ramuan.
“Kalau belum sembuh, bagaimana?” sepupuku tampak menahan jarinya yang lain dari keinginan menggaruk-garuk tangannya yang gatal. Dia takut merusak komposisi dan tatanan ramuanku yang sudah dengan cantik membalut tangannya.
“Kalau masih belum sembuh. Kamu ambil lagi daun ini, tumbuk dan oleskan lagi ke tanganmu,” dengan mantap aku memberi resep.

Apakah kemudian gatal-gatal di tangan sepupuku itu sembuh setelah kuoles dedaunan itu? Aku lupa. Hahaha.
Tapi, kelak kemudian aku tahu ternyata pohon yang kutunjuk dulu sebagai pohon obat segala penyakit itu bernama brotowali. Dan memang ternyata bisa jadi obat banyak penyakit.
Ya Allah.....it’s so much coincidence yach? Hehe kebetulan saja :D

34 komentar:

  1. Aku dulu ga bakat jadi tabib mbak. Hahaha..
    Imajinasinya keren

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahay... kayaknya anak-anak memang gitu ya

      Hapus
  2. Hihi, Mbak Dian mah bakat ya jadi dokter. Atau instingnya aja yang kuat, sampai2 ngawur eh ternyata emang pohonnya itu serbaguna beneran. Wkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihi dulu padahal ibuku pengen banget aku jadi dokter, tapi aku pilih jadi arsitek

      Hapus
  3. Keren bingit imajinasinya tepat sangat..

    BalasHapus
    Balasan
    1. kebetulan aja sich ituuu hehe

      Hapus
  4. Setiap anak memang selalu punya imajinasi ya mbak Dian. Dulu waktu masih SD, setiap melihat ke langit dan menemukan gumpalan awan putih bertumpuk-tumpuk (awan cumulus/nimbus? Entahlah apa namanya), saya selalu berimajinasi bahwa dibalik awan itu ada sebuah kerajaan yang indah dan disana tinggal putri-putri cantik dan pengeran-pangeran tampan :)

    Imajinasinya mbak Dian kok bisa tepat ya? Itu mungkin imajinasi yang dibarengi insting ya mbak :)

    Terima kasih linknya ya mbak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah sama yaaa suka berimajinasi juga ternyata

      Hapus
  5. Ncen sudah ada bakat mempengaruhi sejak kecil ya Mbak Dian.
    Sekarang makin madhep manteb mempengaruhi lewat2 jalinan kata-kata di berbagai buku mbak Dian.

    Teope begete..

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin aamiin ya robbal alamiin, makasih yaaa

      Hapus
  6. Hehe luar biasa deh mba dian kecil...

    BalasHapus
  7. Mbak dian jago berimajinasi pantesan buku novelnya banyak bener deh 😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. kullil hamdu lillah hatur nuhun yaaa

      Hapus
  8. Aku dulu si kecil paling imajinatif di rumah...sampai punya teman imaji 2 orang..haha...

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah jadi pengen tahu ceritanya

      Hapus
  9. Selain jago nulis juga piawai meracik obat herbal nih mbk Dian*bakat terpendam✌

    BalasHapus
    Balasan
    1. xixixi padahal herbal lagi hits loh sekarang ya

      Hapus
  10. Padahal waktu itu asal nyomot aja ya mba ga tau pohon apaan tuh πŸ˜‚πŸ˜‚

    BalasHapus
  11. untung daunnya bener ya. kalau salah dan daunnya malah bikin tambah gatal kan berabe. hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, alhamdulillah ya. itu juga yang bikin meringis sampai sekarang

      Hapus
  12. wah, jangan2 diam2 selain jadi penulis terkenal, mba dian berbakat pula jadi tabib trnama niiih... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahay.... mungkin mengobati hati yang terluka #eaaa

      Hapus
  13. Qiqiqiii, tabib kecil nih mba Dian

    BalasHapus
    Balasan
    1. eh jadi inget, dulu memang aku ikut jadi dokter kecil lho, bahkan menang lomba cerdas cermat dokter kecil juara satu tingkat Jateng dan Jogja

      Hapus
  14. Imajinasi yg berubah jd fakta ya, Mba Dian...berarti instingnjd tabibnya jalan lhoo itu...siapa tahu itu panggilan jiwamu yg lain,.Mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. uhuy....jadi tabib cinta kali yaaa #eaaa

      Hapus
  15. Ahahahhaha....untunglah yg dicomot emang daun yg berhasiat

    BalasHapus
  16. pas banget ya mbak ternyat brotowali
    kayaknya sembuh tuh gatal2nya hehehe

    BalasHapus
  17. Imajinasi liar tapi akurat :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. xixixi mari berimajinasi liar lagii

      Hapus