Kolak pisang favorit saat ramadhan

Kolak pisang makanan favorit saat ramadhan 



Menjawab tantangan mbak ika dan mbak wati  aku mau berbagi cerita makanan favoritku saat ramadhan.
**
Ada masa -masa dia ingin sekali makan empek - empek atau minum es kolak. keduanya ini sudah seperti candu. semacam makanan eksotis yang menggugah keinginan mengkonsumsinya tiap kali dia mengalami masa reses. udara yang sangat gerah, panas, banyaknya pekerjaan ataupun stressing lainnya.
Jadilah senja itu dia sekenanya mengambil pisang dalam kulkas. Lalu mengolahnya menjadi kolak. Dia mengira akan merasa puas setelah kolak itu jadi dan bisa dinikmati. Menuntaskan keinginannya yang seperti orang ngidam.
Ouch. Oops. Tapi salah besar. Ternyata kolak itu rasanya tidak enak sama sekali. Bukan karena bumbu atau bahan yang menyertai pisangnya yang salah, tetapi pisang itulah yang tidak pas jika dipakai sebagai bahan membuat kolak.
Jadi memang ada pisang yang pas-nya untuk digoreng. Ada yang pasnya untuk dikolak. Ada yang pasnya untuk dimakan begitu saja tanpa diolah. Dan ada pisang yang enak untuk diolah jadi apa saja.
**
Kenapa kolak pisang ini jadi favoritku bukan hanya saat ramadhan tapi juga sepanjang masa karena ternyata oh ternyata dulu tiap kali pulang sekolah sd aku selalu mampir ke warung sekolah sebelah untuk makan es kolak pisang.

masih inget, tiap pulang sekolah. aku dan temen2 di sd 2,antara lain mb nana,mb dwi, novita, cs (ssstt..bahkan kita pernah bikin seven girls, macam geng) sering mampir ke warung dekat sekolah MI.
banyak jajan gorengan dan yang jadi favoritku, apalagi kalo bukan es kolak pisang.sambil jajan biasanya kita ngobrol dan diskusi ngalor ngidul. ceileeeee...diskusi...brainstorming juga.. kkkk..

(ternyata kebiasaan jajan es kolak tersebut membawa lidahku selalu ketagihan es kolak pisang sampai sekarang. beberapa bulan nggak minum es kolak pisang, langsung ngiter cari es kolak....)

ternyata bersamaan kami jajan itu, anak2 sd 5, mb entik, mb ayu, mb sari cs juga jajan.
mungkin krn kami berbeda sekolah, dua sekolah ini (sd 2 dan sd 5) yang selalu rival dalam berbagai pertandingan dan perlombaan, -dan kebetulan kami yg sama2 nangkring ini juga ternyata sama2 yg sering mewakili sekolah dalam berbagai perlombaan itu.-
jadilah ada rasa rival antara kami. kalo anak sd2 datang duluan, kita penuhi dulu warung tuh yang memang hanya ada satu dua bangku panjang. demikian juga sebaliknya.anak2 sd 5 penuhin tuh warung kalo mrk yg dtg duluan..
hahaha.....lucu kalo mengingat masa2 durung ndolor...hehe...

dan uniknya, ketika kita yg dr sd2 dan sd5 sama2 masuk smp2. kami yang tadinya seolah 'bermusuhan', ternyata malah menjadi kawan dekat. karena akhirnya kami menjadi satu tim dalam berbagai lomba menghadapi tim lain dari sekolah yang lain, bahkan dari kecamatan & kabupaten lain.
(mb dwi masuk smp1.meski rival an dg smp2, tp kan mb dwi sama2 alumni geng kami...hehe... jadi tetap teman dong..)
masuk sma1. kami bahkan berkumpul semua .persahabatan kami makin kental......
(kecuali satu temen, krn ortunya pindah dinas).
oooo... rival ternyata hanya masalah posisi...
sekarang, aneh saja kalo melihat sesama saudara yang bermusuhan, berhadap - hadapan, karena merasa bersaing satu sama lain.
entah itu memperebutkan yayasan, institusi, santri, umat, nama besar, pengaruh, pasar, uang, dll.
mungkin mereka lupa, rival/saingan/'musuh' ternyata hanya masalah posisi.
kalo saja mereka melihat 'musuh' yang sesungguhnya, kemusyrikan, kemiskinan, kedholiman, kejahililiyahan, kemaksiatan dll, sesungguhnya mereka yg 'bermusuhan' saat ini sebenarnya adalah satu tim.

10 komentar:

  1. Kolak memang tiada duanya ya mbak :D

    BalasHapus
  2. Lucu2 ya mbaa kisah masa kecil, musuhan trus baikan dgn mengaitkan jari kelingking hahaha

    BalasHapus
  3. Kolak pisang dikasih kolang kaling favoritku itu 😊

    BalasHapus
  4. Teteeeep, Mbak Dian kalau nulis ada selipan ilmunya.
    Hiks, jadi ingat ada permusuhan antara sesama Kyai pondok, padahal saudara, rebutan santri. Hadeh.

    Makasih ya, Mbak, sudah ikut meramaikan arisan blog yang kedua ini.

    BalasHapus